
Setelah pak RT pulang, Vina dan Darma menikmati malamnya diteras rumah sembari menikmati kopi hangatnya.
"Sayang, di Desa rupanya benar benar adem. Tapi ... apakah kita akan berlama lama tinggal disini? sebenarnya rencana kakek Gantara apa sih, sayang?" Tanya Vina yang masih penasaran dengan tujuan berlibur di kampung.
"Kita akan berbulan madu disini, dan juga kita akan menikmati pengantin baru tanpa ada yang mengganggunya." Jawab Darma dengan tatapan menggoda.
"Mulai nih, Jaka sembung." Kata Vina sambil melirik kearah suaminya.
"Kita masuk kedalam, yuk. Badanku terasa capek, aku ingin istirahat. Besok pagi kita jalan jalan di sekitaran sini, nah! sekarang kita istirahat. Biar besok pagi kita bersemangat keliling jalan desa." Ajak Darma yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya, Vina sendiri pun juga tidak dapat memungkirinya. Dirinya pun sudah terasa sangat capek dan juga lesu, Vina maupun Darma pun akhirnya memilih untuk beristirahat.
Tanpa pikir panjang, Darma langsung menggendong istrinya sampai didalam kamar. Sesampainya didalam kamar, Darma menurunkan istrinya dengan sangat hati hati. Kemudian, keduanya memposisikan tidurnya masing masing hingga tertidur pulas.
***
Masih sangat pagi, embun pun tengah membasahi dedaunan maupun rerumputan. Cuaca yang terasa dingin dan juga udara yang segar membuat bersemangat untuk beraktivitas jalan jalan pagi.
Vina dan juga Darma kini tengah bersiap siap untuk jalan jalan disekitaran rumah yang dihuninya.
"Sayang, yakin nih? kalau kita mau jalan jalan pagi. Nanti, apa kata orang? kita ini pendatang yang sedang liburan. Kita saja belum lapor ke kantor kelurahan, aku takut akan mendapatkan komentar buruk." Ujar Vina yang sedikit cemas.
"Kamu tenang saja, semua akan baik baik seperti yang kamu harapkan. sudah lah, ayo kita jalan jalan. Lihat lah diluaran sana, embun nya begitu tebal. Namun, tidak sedingin yang kita bayangkan." Jawab Darma mencoba meyakinkan istrinya, agar tidak mudah berpikiran buruk.
"Iya, sayang. Aku percaya sama kok, sayang ... baiklah kalau begitu, ayo kita jalan jalan." Ucap Vina, kemudian menarik tangan milik suaminya sampai didepan rumah.
Setelah berada di halaman rumahnya, kini Darma yang menggandeng tangan milik istrinya. Vina pun tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan yang sangat baik oleh suaminya, meski berawal seperti Tommy dan Jerry. Darma dan Vina dapat menyatukan ikatan cintanya secara perlahan, hingga keduanya kini sama sama saling mencintai.
Bahkan, Vina sendiri tidak memperdulikan masa lalu Darma yang begitu kelam. Penuh perjuangan meski banyak godaan yang tengah menghancurkan nama baiknya, tetapi kini semua telah berubah jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.
__ADS_1
Darma benar benar sangat bahagia dan juga sangat beruntung, Darma sangat bersyukur dapat dipertemukan dengan sosok wanita yang kuat dan juga tegar.
Darma masih terus menggandeng istrinya sembari jalan jalan pagi, semua warga yang melihatnya pun ikut kagum akan kemesraan pada keduanya yang begitu terlihat jelas.
"Sayang, lepasin tangannya. Lihatlah, semua yang ada didepan rumah terlihat sangat jeli memperhatikan kita. Apa kamu tidak menyadarinya? aku sedikit malu." Ucap Vina dengan lirih, ia tidak ingin suaranya terdengar oleh orang orang yang tengah memperhatikannya.
"Kita ini suami istri, tidak masalah. Kita masih di atas kewajaran, kita tidak lagi berciuman seperti drama drama di media sosial. Kita tidak perlu malu, justru seperti inilah kamu akan merasa nyaman. Jika kamu melepaskannya, maka akan banyak yang menggodamu." Jawab Darma mencoba menjelaskannya pada sang istri, berharap tidak terlalu berlebihan saat menilai sesuatunya.
Selagi masih dibatas kewajaran, maka akan sah sah saja. Dan tidak perlu risau atau was was yang berlebihan, pikir Darma.
Setelah melewati beberapa rumah, tiba tiba Vina dikagetkan dengan suara yang tidak begitu asing didalam perutnya. Darma pun menahan tawanya ketika mendengar suara bunyi yang begitu unik.
"Kamu lapar?" tanya Darma sambil tersenyum.
"Iya, tiba tiba perutku berbunyi. Sungguh memalukan sekali, untung didepan suamiku. Jadi, aku tidak begitu risau saat mendengarkannya." Jawabnya tersipu malu.
Vina dan Darma akhirnya berbalik arah sekalian untuk pulang, dan berharap akan bertemu penjual makanan.
Sesampainya dipertengahan jalan, senyum mengembang terlihat jelas di kedua sudut bibir milik Vina.
"Sayang, lihatlah. Sepertinya itu penjual bubur, ayo kita kesana." Ucap Vina sambil menunjuk ke arah yang ia maksudkan.
"Mana, sayang. Apakah itu?" tanya Darma yang juga ikut menunjuk kearah yang dimaksudkan istrinya.
"Iya, sayang. Lihatlah, banyak ibu ibu yang membelinya." Jawab Vina penuh harap untuk membelinya.
"Baiklah, ayo kita kesana. Semoga saja masih ada sisa, aku pun juga sudah lapar." Ucapnya, kemudian keduanya segera menghampiri penjual bubur yang dimaksudkan.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang dituju, Darma maupun Vina segera mendekati si penjual bubur.
"Maaf Pak, apakah bubur ayamnya masih ada?" tanya Darma.
"Masih, mau beli berapa?" tanya balik si penjual bubur.
"Empat porsi saja, Pak." Jawab Darma sambil menghitung jumlah orang yang ada di rumahnya.
"Sebentar, ya. Tidak lama kok, setelah ini giliran kamu." Ucapnya sambil membungkukkan bubur ayamnya.
Sedangkan Vina masih berdiri disamping suaminya, ia sedikit canggung bertemu dengan para warga sekitar.
"Maaf sebelumnya, mbaknya warga baru disini, ya?" tanya salah satu ibu ibu yang sedang mengantri.
"Iya, Bu. Saya warga baru disini, tepatnya rumah yang berpagar kuning emas." Jawab Vina sambil mengingat warna cat pagernya. Sedangkan untuk warna cat rumahnya pun ia sendiri belum mengingatnya.
"Oooh, bekas rumah kakek Gantara?" ucap Ibu ibu disebelahnya ikut menimpali.
"Iya, benar. Rumah yang kami tempati adalah rumah milik kakek Gantara, kebetulan beliau sekarang ingin menghabiskan masa hidupnya bersama putrinya." Jawab Darma ikut menimpali.
"Oooh, begitu. Memangnya, kakek Gantara rumahnya ada dimana? dengar dengar sekarang sudah tinggal di kota? benarkah?" jawabnya yang penasaran dengan sosok kakek Gantara yang terkenal misterius.
"Iya, kakek Gantara sekarang tinggal di Kota. Berharap, dapat menikmati hari tuanya bersama anak dan cucunya." Jawabnya sebaik mungkin.
"Kamu tahu? kakek Gantara sangat royal dengan warga, dan setiap panen apapun selalu berbagi bagi dengan warga sekitar. Apalagi yang ekonominya kecil, kakek Gantara selalu menomorsatukan untuk mengubah ekonominya kembali membaik. Namun, sejak kakek Gantara tidak ada di Desa, jarang jarang mendapatkan bantuan." Ucap salah satu ibu ibu yang mengutarakan unek uneknya.
Darma yang mendengarkannya pun sedikit geram, dan ia sendiri mengerti akan permintaan sang kakek untuk tinggal di Desa.
__ADS_1