
Setelah menikmati sarapan paginya, Arsy maupun Raska kini segera melakukan ritual mandinya. Dikarenakan, Arsy ingin berbagi dengan anak anak Asrama. Sudah lama dirinya tidak mengunjunginya, dan pastinya ingin sekali bertemu Hanum. Arsy sudah menganggapnya seorang adik, namun sang suami melarangnya untuk tinggal bersama.
Raska sengaja tidak mengajak Hanum untuk tinggal bersamanya, karena akan ada amanah untuk Hanum kelak dirinya besar nanti. Yang tidak lain adalah menjadi pemilik Asrama yang ditempatinya.
Raska berharap, tempat Asrama akan terus terjaga dan dihuni untuk anak anak yang tidak memiliki tempat tinggal maupun orang tua yang tidak mampu. Dan dapat menitipkan anaknya di Asrama miliknya tanpa dimintai biaya sepeserpun. Sepenuhnya akan ditanggung dari pihak keluarga Gantara yang akan menanggung semua kebutuhan anak anak hingga menjadi sukses.
Harapan Raska tidak muluk muluk, cukup menjadikan anak anak asuhnya menjadi orang yang berguna dan bermanfaat untuk yang lainnya.
Setelah keduanya melakukan ritual mandinya, kini keduanya tengah bersiap siap mengenakan pakaiannya masing masing.
Arsy yang telah rapi dengan panampilannya, kini dirinya duduk didepan cermin sambil menyisir rambutnya yang cukup panjang.
Raska duduk dibelakangnya, tepatnya duduk di atas tempat tidur sambil memandangi wajah cantik milik sang istri.
Karena merasa tidak sabar melihat sang istri yang tidak kunjung selesai menyisir rambutnya langsung mengambil alih dan menyambar sisir rambut yang berada ditangan istrinya.
"Sayang, balikin sini sisir rambutnya. Kamu jangan jahil dong, sayang ..." pinta Arsy sambil mencoba meraih sisir yang berada pada tangan sang suaminya.
"Aku yang akan menyisiri rambutmu, aku rasa kamu kurang cekatan untuk menyisiri rambutmu. Sekarang, kamu nurut saja denganku. Biar cepat selesai, karena waktu kita tidak akan lama." Jawab Raska sambil menyisir rambut milik istrinya.
Dilihatnya sudah rapi rambut panjang milik istrinya, Raska segera menyisir rambutnya sendiri.
Arsy segera bangkit dari posisi duduknya untuk nengambil tas dan memakainya.
"Sudah siap?" tanya sang suami sambil memperhatikan penampilan Arsy dari atas hingga sampai bawah. Raska benar benar fokus dengan istrinya, takut jika penampilan Arsy dirasa kurang nyaman untuk dikenakan.
"Sudah, aku sudah siap." Jawabnya melebarkan senyumnya didepan sang suami.
"Ayo, kita berangkat." Ajak Raska pada istrinya sambil menggandeng tangan milik Arsy.
__ADS_1
Didalam perjalanan, Arsy menyandarkan kepalanya pada jendela kaca mobil. Sedangkan Raska sendiri fokus pada serinya.
Sambil bersandar, Arsy sambil memperhatikan orang orang lalu lalang. Kemudian dirinya menoleh kesamping, tepatnya kearah suaminya.
"Sayang, aku ingin belanja jajanan. Aku ingin berbagi dengan anak anak di Asrama, boleh 'kan?" tanya Arsy sambil merayu.
"Biar aku yang pesan, nanti biar diantar sama pak sopir." Jawab Raska sambil menatap wajah istrinya, Arsy pun langsung memasang muka masamnya. Tidak hanya itu saja, Arsy memperlihatkan ekspresi cemberutnya.
"Sayang, aku tidak ingin waktu kita terbuang sia sia. Selagi ada yang mudah, kenapa kita menyulitkannya.
"Percaya deh sama aku, meski yang kita nawa tidak seberapa. Di hati kecil anak anak sangat menyukainya, dari pada kita datang dengan tangan kosong. Mereka akan kecewa melihatnya, dan terasa tidak ada yang spesial.
"Baiklah, aku akan menurutimu. Jika memang itu yang membuat anak anak di Asrama menyukai cara seperti itu, aku tidak melarangmu." Jawab Raska dan tersenyum.
Setelah menemukan market kecil, Arsy mencoba untuk meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya.
"Sayang! kenapa kamu mengagetkanku. Apa kamu tidak takut, jika aku hilang kendali saat menghentikan mobil ini. Lain kali jangan diulangi, aku masih ingin hidup bersamamu, sayang ...."
"Maaf, aku reflek menghentikannya. Maafkan aku ya, sayang ..." ucap Arsy merasa bersalah dan meminta maaf.
"Iya, aku maafkan. Dan, ingat! kamu jangan mengulanginya lagi. Hampir saja jantungku mau copot." Jawab Raska mengingatkan.
"Iya, sayang ... aku minta maaf. Sekarang, ayo turun. Temani aku untuk berbelanja, tidak mungkin aku belanja sendirian. Apa kata orang orang yang melihatku membawa barang belanjaan sendirian, sedangkan suaminya santai santai di dalam mobil." Rayu Arsy sambil bergelayut manja dilengan suaminya.
"Baik, sayang ... ayo, kita segera turun." Jawab Raska yang kemudian melepas sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Arsy yang ikut melepaskan sabuk pengamannya.
Raska segera menggandeng istrinya, didinya takut jika ada laki laki yang menggodanya. Arsy yang mendapat perlakuan dari suaminya hanya tersenyum tipis.
Dan benar saja, semua mata tertuju dengan Arsy yang sedang berjalan beriringan dengan suami. Raska masih menggengam erat tangan milik istrinya.
__ADS_1
Raska menemani istrinya berkeliling didalam mini market untuk mencari jajanan yang cocok untuk anak anak pada umumnya.
"Sayang, apa kamu tidak ingin membelikan ice cream untuk anak anak? bukankah segala usia sangat menyukai ice cream. Percayalah, semua pasti menyukainya."
"Iya, termasuk kamu." Ledek Arsy sambil menunjuk didada bidang suaminya dengan telunjuk jarinya.
"Tahu saja, kamu. Aku kira kamu tidak mengetahuinya, jika aku sangat menyukai ice cream."
"Aku masih ingat, saat kamu pamer denganku menikmati ice creamnya."
"Rupanya kamu masih mengingatnya, kenapa dulu kamu tidak mau menunjukkan sosok dirimu. Apakah kamu takut, jika aku ini jelek?"
"Tidak! aku hanya merasa nyaman saja saat mendengar kamu berbicara." Jawabnya meyakinkan. Sedangkan Raska tidak mungkin meminta bukti, yang ada sang istri akan membuka masa lalunya dengan mantan suaminya.
'Kalau kamu nyaman dengan suaraku, kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan Darma? mungkinkah sejatinya kamu mencintai Darma? dan kamu menerimaku karena statusmu yang sendirian.' Batin Raska yang tiba tiba ingin mengetahui seberapa besar rasa cinta sang istri terhadapnya.
"Kenapa kamu bengong, sayang ... ini minimarket, tidak baik untuk membicarakan hal pribadi." Ucap Arsy sambil melambaikan tangannya.
"Ah! iya, aku sampai lupa. Cepetan belanjanya, kasihan anak anak sudah menunggu kita lama."
"Iya, sayang. Sebentar ya! tidak lama kok, sebentar lagi selesai belanjanya. Aku mau mengambil beberapa ice creamnya, kamu tunggu saja dekat kasir." Jawab Arsy, kemudian segera mengambil beberapa ice cream. Sedangkan Raska masih terus mengikuti istrinya dari belakang. Dirinya tidak ingin ada sesuatu hal buruk terjadi pada istri tercintanya.
'Nanti malam kamu akan dipertemukan lagi dengan Darma. Aku merasa tidak rela, jika kamu dipertemukan dengan Darma. Meski kalian berdua sudah berpisah, Darma pasti masih memiliki rasa denganmu. Aaaah!! kenapa sejak Darma pulang pikiranku selalu kacau, terkadang aku berprasangka buruk pada keduanya.' Gumam Raska yang semakin kacau dengan pikirannya sendiri.
"Aku sudah selesai belanjanya." Ucap Arsy sambil menunjukkan belanjaannya, berharap sang suami langsung mengambilnya dari tangan istrinya. Namun, kenyataannya Raska masih bengong.
"Sayang, kamu dari ngelamunin siapa sih!" ucapnya lagi dan berdecak kesal melihat suaminya banyak melamun tidak jelas. Arsy pun langsung pergi menuju kasir dan meninggalkan Raska begitu saja.
Raska pun tersadar dari lamunannya, dirinya segera membalikkan badannya dan menghampiri istrinya yang sudah berada di kasir.
__ADS_1