
Raska langsung menghampiri istrinya yang sudah berdiri didekat kasir. Afna menunggu totalan belanjaan yang sedang dihitung.
"Kenapa kamu kemari, bukankah kamu sedang sibuk melamun? hem!" Ucap Arsy yang masih sedikit kesal dengan sikap suaminya yang tiba tiba banyak melamun.
"Maaf, sayang ... aku hanya sedang membayangkan jika aku mempunyai anak perempuan secantik kamu." Jawabnya beralasan dan tersenyum.
"Hem!" jawabnya tanpa berucap.
"Sayang, bayarin. Aku duluan ya, sayang ...." ucap Arsy lalu melenggang kangkung keluar dari mini market.
'Seharusnya aku yang kesal, kenapa dia yang kesal. Apa seperti itu mood wanita hamil? yang benar saja.' Batin Raska sambil jalan untuk keluar dari mini market.
Raska pun segera masuk kedalam mobil tanpa memperhatikan istrinya yang duduk disebelahnya.
"Sayang, ice creamnya sangat lembut. Kamu mau?" ucap Arsy mengagetkan sambil menikmati ice creamnya.
"Ice cream? yang benar saja. Kenapa kamu sudah menikmatinya, nanti anak anak ada yang tidak kebagian loh."
"Tenang, aku menbelinya dia kali lipat jumlah anak anak yang ada di Asrama."
"Terserah kamu saja, yang terpenting kamu tidak jajan sembarangan. Tapi, jangan terlalu banyak menikmati ice creamnya. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik." Ujar Raska mengingatkan.
"Tenang saja, apa yang sudah dikatakan Dokter akan aku ingat. Nih, aku suapin kamu." Jawab Arsy sambil menyuapi suaminya yang sedang fokus dengan setirnya. Raska pun ikut menikmati ice cream yang menjadi kesukaannya.
Tidak lama kemudian, Arsy dan Raska kini telah sampai di Asrama anak anak. Yang dulunya pernah menjadi tempat singgah Arsy, tatkala dirinya menjadi seorang sebatang kara.
Arsy dan Raska langsung melepas sabuk pengamannya, kamudian segera keluar dari mobil. Keduanya menentang belanjaan dari mini market.
__ADS_1
Saat sudah keluar dari mobil, anak anak yang berada didalam ruangan pun berhamburan berlari dengan riang.
Anak anak laki-laki berlarian dan memeluk Raska dengan pelukan hangat. Begitu juga dengan anak anak perempuan juga ikut menghamburkan pelukannya pada Arsy.
Arsy dan Raska sudah dianggap seperti orang tua sendiri pada anak anak asuhnya.
Hanya sosok gadis kecil yang berdiri dari kejauhan, entah kenapa tidak ikut berlarian untuk memeluk Arsy.
Kedua mata Arsy pun tertuju pada sosok gadis kecil yang sangat akrab dengannya.
Arsy melepaskan pelukan dari anak anak dan memberikan belanjaan dari mini market kepada anak anak asuhnya. Dengan langkahnya yang gesit, Arsy segera menghampiri gadis kecil.
Raska sendiri memperhatikan pemandangan yang begitu mengharukan. Kemudian, Arsy merentangkan kedua tangannya ingin memeluk gadis kecil yang sudah dianggapnya adiknya sendiri.
"Hanum .... kemarilah, kakak sangat merindukanmu. Bagaimana kabar kamu, Hanum?" ucap Arsy langsung mendekati dan memeluk Hanum yang masih berdiri dihadapannya.
"Hanum ... maafkan kakak ya, sayang ... kakak tidak lagi menemanimu seperti dulu. Seandainya kak Arsy memiliki hak yang lebih. Kakak akan mengajakmu tinggal bersama kakak, tetapi ... kak Raska menginginkan kamu untuk menjadi sosok wanita yang kuat. Kelak dewasa kamu akan sukses, dan kamu harus bisa menjadi contoh untuk teman teman kamu. Percayalah sama kakak, bahwa kak Raska tidak seburuk yang kita lihat. Kelak kamu besar nanti, kamu akan mengetahui alasan dari kak Raska."
"Benarkah? maafin Hanum ya, kak. Hanum janji, tidak akan membuat kak Arsy dan kak Raska kecewa." Jawab Hanum kembali tersenyum, tanpa disadari oleh keduanya bahwa Raska sudah berdiri tegak didekat Arsy dan juga Hanum.
"Hanum ... kemarilah." Seru Raska memanggil Hanum dengan merentangkan kedua tangannya.
Hanum segera mendekat, Raska pun memeluk gadis kecil yang ada dihadapannya.
"Kamu jangan bersedih, kakak tetap sayang sama kamu dan juga anak anak yang lainnya. Tapi kamu yang spesial bagi kakak, maafkan kak Raska yang sudah membuat Hanum bersedih. Percayalah dengan kakak, suatu saat nanti kamu akan mengerti." Ucap Raska meyakinkan.
"Maafkan Hanum ya, kak. Hanum tidak akan mengulanginya lagi, Hanum akan terus belajar. Hanum ingin seperti kak Arsy, yang cantik dan baik." Jawab Hanum dengan polos.
__ADS_1
Setelah merasa sudah cukup, Arsy dan Raska menikmati kebersamaan bersama anak anak asuhnya. Tanpa terasa, waktu pun sudah hampir petang. Tiba tiba Raska teringat akan ajakan makan malam bersama keluarga pamannya.
"Sayang, sudah mau gelap. Bagaimana, ini? kita belum mandi. Bagaimana kalau kita mandi di Asrama ini, kita tidak punya pilihan lain." Ucap Raska mengingatkan.
"Oh iya, bukankan kita ada ajakan untuk makan malam di rumah orang tua mas Darma." Jawab Arsy yang tanpa sadar telah mengingatkan suaminya.
Raska pun sedikit memasang muka masaknya saat istrinya yang juga ingat dengan ajakan dari Darma.
'Kenapa ingatan Arsy tajam sekali soal Darma, mungkinkah masih ada rasa pada keduanya. Oooh! no! tidak akan aku biarkan itu terjadi, sampai aku lihat keduanya bermain pandang. Aku tidak segan segan menghukumnya, awas! kalian berdua.' Batin Raska yang tiba tiba cemburu buta.
"Tuh! kan .... melamun, lagi. Kamu kenapa sih, sayang .... kenapa dari tadi kamu itu banyak melamun? ada masalah?" tanya Arsy semakin heran dengan sikap suaminya yang sering banyak melamun.
"Perasaan kamu saja, mungkin. Aku tidak merasa banyak melamun, aku biasa biasa saja. Justru kamulah yang banyak melamun, dan kamu juga sering bersikap aneh." Jawab Raska membalikkan fakta.
"Aaah! sudahlah, aku mau mandi. Badanku sudah terasa gerah dan juga terasa sangat lengket. Kalau begitu aku mandi dulu ya, sayang ..." ucap Arsy kemudian pergi meninggalkan suaminya yang masih duduk santai sambil memperhatikan anak anak lainnya yang sedang bermain.
"Aku ikut, aku mau mandi bersamamu. Aku tidak suka menunggu, lebih cepat lebih baik." Jawab Raska sambil mengekori istrinya dari belakang.
Arsy sendiri pasrah, jika suaminya sudah bertindak. Maka, apapun yang diucapkan oleh Arsy tidak akan pernah berhasil. Raska jauh lebih pintar jika mencari alasan, ditambah lagi dengan tenaganya yang kiat. Arsy lebih memilih untuk menyerah dan pasrah.
Setelah keduanya melakukan ritual panjangnya, Arsy maupun Raska segera mengganti pakaiannya masing masing. Namun, entah kenapa Arsy merasa tidak nyaman mengenakan pakaian yang ada di Asrama.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Raska yang juga masih sibuk dengan pakaiannya sendiri.
"Aku merasa tidak nyaman mengenakan pakaian ini, baju ini terasa gerah dan pastinya aku tidak nyaman untuk memakainya. Aku harus bagaimana?" jawab Arsy sambil melepas kembali pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian santai.
"Kenapa kamu bingung, aku akan mengantarkan kamu di butik untuk menyulap kamu agar terlihat lebih cantik. Apa kata orang lain, jika melihat istri seorang Raska tidak terurus penampilannya." Ucap Raska sambil mengedipkan matanya yang sebelah. Arsy yang melihatnya pun hanya bergidik ngeri.
__ADS_1