
Kakek Ganta hanya tersenyum mendengar penuturan dari Arsy, sedangkan Arsy bingung dibuatnya. Sedangkan Raska hanya menyangga dagunya dengan tangan kirinya sambil memperhatikan kakek Ganta dan Arsy yang sedang sibuk berbicara.
"Cucu kakek namanya Raska Gantara, dia tinggal di rumah ini. Dan ini adalah rumahnya, kedua orang tuanya sudah meninggal diwaktu Raska masih masuk kuliah. Dan disaat itu juga kakek meninggalkannya, karena waktu itu kondisi kakek sangatlah buruk. Kakek berusaha untuk sembuh, meski harus meninggalkan Raska bertahun tahun. Agar kelak Dewasa, Raska menjadi sosok yang kuat dan tegar. Dan yang pastinya sosok yang bisa membuat kakek bangga." Ucap sang kakek menjelaskan.
Arsy yang mendengarkannya pun ikut teriris hatinya, apa yang dirasakan Raska tidak beda jauh dengan Arsy. Yang dimana sama sama kehilangan kedua orang tuanya.
"Rupanya masih ada cucu kakek yang juga senasib dengan Arsy. Tetapi... cucu kakek masih memiliki saudara, sedangkan Arsy sendiri tidak tahu dimana dan siapa saudara Arsy. Arsy hanya anak pungut, kek..." jawab Arsy bersedih. Yang dimana dirinya hanya memiliki seorang kakak, itupun entah dimana keberadaannya.
"Kamu yang sabar, ya... semua butuh proses untuk mendapatkan kebahagiaan." Ucap sang kakek meyakinkan. Arsy pun mengangguk dan tersenyum.
"Bagaimana keadaan kamu, nak? kakek dengar kamu mengidap penyakit kanker rahim, benarkah?" tanya sang kakek dengan tatapan yang sangat serius.
Arsy yang mendapati pertanyaan dari sang kakek seakan terpojok, dan dirinya bingung untuk menjawabnya.
"Benar kek, Arsy sudah divonis oleh Dokter. Bahwa penyakit Arsy tidak dapat disembuhkan dan harapan untuk sembuh sangatlah tipis, kek..." jawab Arsy dan dirinya teringat akan masa lalunya ketika saat mendapatkan surat yang berisi hasil tes kesehatannya. Tiba tiba Arsy tertunduk bersedih dan menitikan air matanya, Arsy merasa bahwa dirinya sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk mendapatkan suami.
"Menangislah jika kamu merasa berat untuk menerimanya, dan tersenyumlah jika kamu siap untuk menerimanya." Ucap sang kakek sambil menepuk nepuk punggung Arsy.
"Maksud kakek? tanya Arsy semakin bingung atas ucapan dari sang kakek.
" Kakek tidak memiliki maksud lain, kakek hanya menasehati kamu. Jika kamu berat menerima sebuah ujian, maka menangislah jika menangis itu membuatmu tersalurkan dalam meluapkan kesedihanmu. Dan jika kamu memang sudah siap untuk menerima sebuah ujian, maka tersenyumlah. Agar setiap orang yang melihatmu akan malu sendiri, karena ketegaranmu yang akan menutupi lukamu." Jawab sang kakek menjelaskan. Sedangkan Arsy bingung harus berkata apa lagi, agar dirinya tidak merasa terlihat gelisah.
__ADS_1
"Darma dan kedua orang tuanya seharusnya beruntung mendapatkan kamu sebagai istri dan menantu. Tetapi sayangnya, anak dan menantuku hatinya dipenuhi ambisi. Maafkan kakek atas semua kesalahan anak dan cucuku kakek yang sudah banyak menyakiti kamu." Ucap sang kakek meminta maaf.
"Arsy sudah memaafkan mereka, kek.. mungkin memang sudah jalan kehidupan Arsy yang harus kuat dan juga sabar." Jawab Arsy berusaha meyakinkan.
"Terimakasih ya, Nak... kamu benar benar wanita baik baik. Sayangnya, kamu tidak berjodoh dengan Darma. Semoga kamu berjodoh dengan laki laki yang benar benar tulus dan bertanggung jawab denganmu." Ucap sang kakek tersenyum.
"Aamiin... terimakasih kek, atas doanya. Arsy hanya bisa berharap dan berusaha, kek.." jawab Arsy lalu menunduk lesu.
"Kamu jangan patah semangat, akan ada waktunya kamu mendapatkan kebahagiaan. Hanya kesabaran kamu yang akan membawamu menuju kebahagianmu, bersabarlah." Ucap sang kakek sambil menepuk nepuk punggung Arsy pelan dan tersenyum.
Arsy yang mendengarkannya pun terasa lebih tenang akan pikirannya. Arsy sendiri merasa tidak memiliki siapa siapa, bahkan dirinya kini hanya sebatang kara. Ingin pergi jauh pun tidak memiliki tujuan, Arsy pasrah akan nasib selanjutnya. Entah kenapa, sejak Arsy bertemu dengan kakek Ganta terasa memiliki keluarga.
Raska yang sedari tadi memperhatikan Arsy dan kakek Ganta tiba tiba sudah pergi meninggal ruang keluarga.
Kemana lagi sih itu orang, apa jangan jangan sudah pulang. Lalu.... aku ditinggal sendirian di rumah kakek? sungguh terlalu. Gumamnya berdecak kesal.
"Kamu gelisah? tenang saja, Raska tidak kemana mana. Mungkin sedang berada di ruang kerjanya, atau mungkin sedang istirahat dikamarnya." Ucap sang kakek membuyarkan lamunan Arsy.
"Kakek ingin bertanya denganmu, apakah kamu mau memenuhi permintaan kakek?" tanya sang kakek dengan serius. Arsy sendiri bertambah gugup saat sang kakek bertanya meminta permintaan dengan dirinya. Dengan pelan, Arsy mengatur pernafasannya. Agar dihindarkan dari rasa gugup dan cemas.
"Permintaan? permintaan apa, kek?" jawab Arsy bertanya.
__ADS_1
"Kakek minta sama kamu, jadilah istri Raska cucu kakek. Kamu bersedia, kan?" pinta sang kakek dan memberi pertanyaan.
Seketika itu juga, Denyut nadi Arsy seakan terhenti, tubuhnya terasa lemas. Bagaimana tidak, ucapan sang kakek yang disangkanya hanya senda gurau kini benar benar diucapkannya kembali.
"Kenapa diam, apakah kamu keberatan?" tanya sang kakek lagi.
"Kek... bagaimana mungkin Arsy menikah dengan laki laki yang tidak mencintai Arsy." Jawab Arsy lesu.
"Kakek yakin, Raska pasti akan jatuh cinta dengan kamu. Kakek mohon dengan sangat, mungkin umur kakek sudah tidak lama lagi. Kakek hanya ada satu permintaan untuk kamu, menikahlah dengan cucu kakek yaitu Raska. Hanya kamu yang mampu menahan kesabarannya, kakek mohon menikahlah dengannya. Kakek tidak ingin Raska terpukul lebih berat lagi, jika kakek meninggalkannya diwaktu yang begitu cepat. Kakek tidak ingin masa lalunya terulang kembali tanpa penyemangat hidupnya." Ucap sang kakek memohon.
Arsy yang mendengarkannya pun terasa tersayat, dirinya teringat bagaimana nasib buruknya sebelum bertemu Raska. Air matanya pun jatuh membasahi pipinya.
"Maafkan kakek, jika ucapan kakek menyakiti perasaan kamu." Ucap sang kakek merasa bersalah. Tiba tiba sang kakek teringat, bahwa Arsy tidak kalah sedihnya atas nasib buruk yang tengah menimpanya.
"Tidak kek, Arsy hanya rindu dengan kedua orang tua Arsy." Jawab Arsy singkat, karena dirinya tidak ingin mengupas kesedihannya dimasa itu. Arsy berusaha menyembunyikan kesedihannya, demi bisa terlihat baik baik saja dan tanpa ada yang mengkhawatirkannya.
"Kalau begitu, kamu mau menerima permintaan kakek, kan?" tanya sang kakek meminta jawaban.
"Jawaban ada pada cucu kakek, jika cucu kakek bersedia maka Arsy pun bersedia melakukan permintaan dari kakek." Jawab Arsy tanpa ada senyum. Sedangkan kakek Ganta tersenyum mengembang mendengar jawaban dari Arsy.
"Terimakasih ya, nak.. kakek sangat bahagia mendengarnya. Kakek akan segera mengurus perceraian kamu, agar lebih cepat lebih baik. Dan setelah masa idahmu selesai, secepatnya pernikahan kamu akan disegerakan. Kakek takut, sebelum kalian berdua menikah kakek sudah pergi meninggalkan kalian untuk selama lamanya." Ucap sang kakek sebisa mungkin terlihat baik baik saja.
__ADS_1
"Kakek tidak perlu berterimakasih kepada Arsy. Karena kalau bukan cucu kakek yang memberikan tempat tinggal untuk Arsy, mungkin saja nasib Arsy akan jauh lebih buruk dari nasib Arsy saat itu, kek.." jawab Arsy berusaha bersikap tenang.