
Tubuh Aldan seketika itu juga panas dingin, yang dimana dirinya benar benar tidak menyangka akan dipertemukan dengan sosok wanita yang sudah bertahun tahun tidak pernah bertemu.
Aldan membalikkan badannya, keduanya saling menatap satu sama lain. Raska yang melihatnya pun sudah habis kesabarannya. Rahangnya yang sudah mengeras, giginya saling bergesekan menahan amarahnya. Kedua tangannya sudah mengepal, seakan ingin melayangkan tinjuannya kearah Aldan.
Aku yakin, Arsy adalah orang yang disukai Aldan. Tidak salah lagi, Aldan pernah mengatakannya padaku. Bahwa dirinya sedang menanti seorang wanita sampai ketemu. Siapa lagi kalau bukan Arsy, lihat saja Aldan, aku tidak akan membiarkan kamu kembali dengan Arsy. Gumamnya penuh emosi.
Tanpa pikir panjang, Raska langsung menghampiri Arsy dan Aldan.
BUG..!!! Raska melayangkan tinjuannya ke arah Aldan.
"Aw!! gila! kamu, Raska." Ucap Aldan keras penuh kesal.
Arsy langsung merentangkan kedua tangannya di depan Aldan untuk menghentikan amarah Raska.
"Iya, aku Gila. Puas!" jawabnya dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu salah paham, sayang." Ucap Arsy reflek dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kamu masih bisa manggil aku sayang, setelah kamu memeluknya. Hah!" jawab Raska dengan sinis.
"Raska, dia Ella adikku." Ucap Aldan dengan tegas.
"Aku tidak percaya. Kamu mencoba bohongi aku saja Iya, kan!" jawab Raska yang masih kesal. Sorot matanya yang tajam masih tertuju ke arah Aldan, kemudian pindah ke arah Arsy. Keduanya bingung untuk menjelaskannya.
"Aku masih menyimpan bukti itu. Aku masih menyimpannya didalam tasku. Kalian berdua tunggulah disini, aku akan mengambilnya." Ucap Arsy dengan perasaan takut.
__ADS_1
"Tunggu! aku tidak percaya dengan kamu. Biarkan aku yang mengambilnya, bisa saja kamu membuat bukti dengan cepat." Ucap Raska menghentikan langkah kaki Arsy.
"Baiklah, bukti itu di tas yang dimana aku selalu memakainya." Jawab Arsy dengan cemas.
"Bukti apa, memang kamu mempunyai bukti." tanya Aldan penasaran.
"Mama menulis wasiat untukku. Aku menemukan kotak rahasia itu sebelum aku diusir oleh paman. Aku tidak menyangka, jika paman akan mengusirku. Saat pernikahanku yang pertama hancur, aku pulang dengan seorang diri. Sesampai didepan rumah, paman mengusirku, dan mengatakan bahwa paman telah membuang kakak dijalanan dan saat itu kakak lupa ingatan. Aku hanya seorang diri saat itu, aku bertemu dengan seorang gadis kecil yang tidak lain adalah anak asuh Raska. Aku diajaknya untuk tinggal di asrama anak anak. Kemudian, ada seorang kakek datang di asrama dan menemukanku. Disaat itu, kakek memintaku untuk menjadi istri Raska. Karena aku merasa sudah diselamatkan dari keterpurukanku. Aku menerima permintaan dari sang kakek, aku pun ingin menyelamatkan statusku sebagai janda. Setidaknya aku mempunyai suami, meski kenyataannya aku tidak mengetahui perasaan suamiku sendiri." Jawab Arsy dengan menunduk dan menitikan air matanya, yang dimana dirinya teringat saat dirinya hanya sebatang kara kala itu.
Raska yang mendengarkan penjelasan dari Arsy langsung memeluknya.
"Maafkan kakak, Ella.. maafkan kakak yang tidak berusaha mencarimu. Seharusnya kamu tidak mengalami semua itu, kakak benar benar minta maaf." Ucapnya sambil mengusap usap punggung milik Arsy.
Raska yang sudah mendapati bukti yang sebenarnya, tiba tiba merasa malu dan merasa sangat bersalah terhadap sahabatnya. Dengan langkah kakinya yang pelan Raska mendekati Aldan.
Aldan segera melepaskan Arsy, dirinya takut jika Raska akan melakukan hal yang lebih buruk dari sebelumnya. Aldan menyadari akan sifat Raska yang bisa berubah menjadi arogan kapanpun dia kambuh.
"Maafkan aku, Aldan. Aku sudah salah sangka terhadapmu, aku terbawa emosi. Sekali lagi maafkan kamu, dan kamu berhak melepas rasa rindumu terhadap adik kesayangan kamu." Ucap Raska meminta maaf dan kemudian melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, istriku. Kalian berdua berhak untuk saling melepas rindu." Ucapnya lagi.
"Tidak apa apa, wajar jika kamu curiga. Karena kamu tidak mengetahuinya, bisa saja aku pun akan seperti kamu. Jika istriku memeluk lelaki yang menurutku asing dimata istriku." Jawab Aldan dan kemudian tersenyum mengembang. Begitu juga dengan Arsy, dirinya sudah sangat lega dan bahagia tentunya.
"Rupanya kalian berdua kakak beradik, syukurlah kalau sudah dipertemukan. Kakek ikut bahagia melihatnya, semoga tidak akan ada perpisahan lagi untuk kalian." Ucap sang kakek dan tersenyum.
"Iya kek, aku sangat bahagia bisa dipertemukan kembali dengan Ella adikku. Dulu Ella masih berusia tiga tahun, dan saat kecelakaan hebat itu membuat aku berpisah dengan kedua orang tuaku dan adik kesayanganku." Jawab Aldan.
__ADS_1
"Sudah waktunya untuk sarapan pagi, kamu jangan pulang dulu. Kita sarapan pagi bersama, kapan lagi kalau bukan sekarang. Ditambah lagi, ada adik kamu yang sudah lama terpisah." Ajak sang kakek.
"Baik, kek. Aldan akan ikut sarapan pagi di rumah kakek." Jawab Aldan dan tersenyum.
"Aku ke kamar dulu, ya. Aku mau cuci muka sebentar, aku tidak ingin terlihat wajahku terlihat kusam karena hujan deras di kedua pelupuk mataku." Ucap Arsy pamit pergi.
"Iya, gadis kecilku.." jawab Aldan mengingat panggilan untuk Arsy adik kesayangannya. Raska pun sangat kagum dengan sosok Aldan yang begitu menyayangi adiknya. Raska merasa tersentuh jika harus menyakiti Arsy. Bagaimana Raska akan menyakiti Arsy, kasih sayang dari seorang kakaknya pun tidak ada bandingannya dengan sikapnya terhadap istrinya. Raska merasa malu sendiri, yang dimana dirinya teringat akan sikap acuhnya dan sikap dinginnya dan selalu menakuti Arsy dengan ancamannya.
"Bro, aku masuk ke kamar dulu." Ucap Raska pamitan.
"Mau ngapain?" tanya Aldan heran.
"Mau ganti baju, aku merasa gerah memakai baju ini." Jawabnya.
"Jangan kebablasan ganti bajunya, aku akan mendobrak pintu kamar kamu jika kamu kelamaan mengganti bajunya." Ucap Aldan mengancam.
"Kamu tahu, Raska sedang jatuh cinta." Ucap sang kakek tertawa kecil.
"Aku sangat bersyukur kek, ternyata adikku menjadi bagian keluarga kakek. Yang dimana kakek dan Raska menyayangi adikku. Terimakasih atas semua kebaikan kakek dan Raska yang sudah menyelamatkan keterpurukannya." Jawab Aldan berterimakasih.
"Bumi ini bagaikan daun kelor, sejauh melangkah akan bertemu pada satu titik. Sebenarnya Arsy adalah mantan istri Darma, namun karena nafsu kedua orang tua Darma hingga rela untuk memisahkan Arsy." Ucap sang kakek. Aldan yang mendengar nama Darma tiba tiba kaget dan shok.
"Darma?" jawab Aldan tidak percaya.
"Kamu mengenalnya?" tanya sang kakek.
__ADS_1
"Kita berteman kek, tapi tidak sedekat aku dan Raska. Sebelum aku pulang dari Korea, aku sempat bertemu dengannya. Darma hanya bercerita, bahwa dirinya ingin menenangkan diri. Tapi dia tidak menceritakan permasalahannya." Jawab Aldan menjelaskan.
"Itu masalah pribadi Arsy, kakek tidak mau mengungkitnya. Cukup dijadikan pelajaran untuk kedepannya, agar bisa lebih berhati hati. Dan kamu, jika kamu mencintai seseorang dan wanita itu mencintai kamu dengan hormat. Maka pertahankanlah, dan jangan sampai ada Arsy selanjutnya." Ucap sang kakek menasehati.