
Setelah selesai melakukan ritual panjangnya, Arsy maupun Raska segera membersihkan diri di kamar mandi. Sambil menunggu sang istri selesai mandi, Raska menyibukkan dirinya dengan laptopnya.
Tidak lama kemudian, Arsy segera keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambutnya. Sedari tadi Raska memperhatikan langkah kaki Arsy yang terlihat menahan rasa sakit pada bagian inti*mnya.
"Sayang, kamu kenapa? sakit?" tanya Raska curiga.
"Iya, sakit." Jawab Arsy malu malu.
"Istirahatlah jika sakit, jangan paksakan untuk beraktivitas." Terangnya.
"Tidak apa apa, mungkin rasa sakitnya besok pagi ketika bangun pagi. Kalau untuk saat ini tidak begitu sakit, tapi tidak tahu juga setelah ini." Jawabnya sambil berusaha untuk tersenyum.
"Iya sudah, kalau begitu aku mau mandi." Ucap Raska sambil meletakkan laptopnya.
"Setelah ini, aku mau menyiapkan makan siang untuk anak anak. Boleh, kan? aku sudah kangen sama suasana di dapur asrama ini." Ucap Arsy meminta izin.
"Tidak usah masak, aku akan mengajakmu makan sianh di Restoran Tirta sahabatku. Dan aku sudah memesan makan siang untuk anak anak. Sekarang bersiap siaplah, dan sebentar lagi ada pengiriman barang berupa pakaian lengkap kamu. Hari ini akan ada pertemuan penting dengan rekan bisnis, dan aku akan memperkenalkan kamu dengan rekan bisnisku. Aku tidak ingin orang orang masih mengira aku masih sendiri." Jawab Raska dan menjelaskan.
"Baik lah, tapi... bukankah hari ini hari libur? ini kan hari minggu." Jawab Arsy mencoba mengingatkan.
"Iya memang hari ini hari minggu, memang kenapa? ini hanya pertemuan biasa yang merayakan keberhasilan. Bukan membahas tentang pekerjaan, tetapi makan bersama." Ucapnya menjelaskan.
"Aku kira ada pembahasan penting soal pekerjaan. Baiklah, aku akan bersiap siap." Jawabnya yang kemudian bersiap siap untuk menemani sang suami dalam acara pertemuan dengan rekan bisnisnya.
Tok tok tok.. suara ketukan pintu mengagetkan Arsy yang sedang sibuk bercermin.
Ceklek, Arsy membuka pintu kamarnya.
"Maaf Nona, ada pesanan datang untuk Nona." Ucap pelayan di Asrama sambil menyerahkan barang tersebut.
"Terimakasih mbak," jawabnya sambil menerima barang.
__ADS_1
Setelah itu, Arsy kembali menutup pintu dan menguncinya. Arsy segera membukanya, dan dilihatnya pakaian yang sangat anggun dan sangat cantik warna bajunya sesuai dengan warna kulit Arsy.
Tanpa pikir panjang, Arsy langsung memakai pakaiannya. Setelah itu dirinya berdiri lalu bercermin sambil berputar, Arsy tersenyum mengambang. Tatkala melihat dirinya merasa terlihat sangat cantik dan juga anggun.
"Ehem ehem.. ternyata istriku ini sangatlah cantik, pantas saja aku tidak bisa menolak." Ucap Raska mengagetkan dari belakang dan meledek. Sedangkan Arsy membalikkan badannya dan tersenyum mengembang.
Keduanya saling beradu pandang, Raska segera mendekatkan wajahnya ke istrinya. Dengan lembut Raska mencium kening Arsy dan merangkulnya.
Begitu bahagianya perasaan Arsy, yang dimana dirinya telah memenangkan cinta dari suaminya. Arsy tidak pernah menyangkanya, jika sang suami begitu menyayanginya.
Aku berharap, kebahagiaan ini tidak akan pernah pudar sedikitpun. Aku takut, jika sewaktu waktu aku akan kehilangan orang yang aku sayangi dan yang aku cintai. Entah kenapa, aku masih merasa takut. Gumamnya yang masih pada posisinya.
"Kenapa kamu melamun, aku janji tidak akan membuatmu terluka. Aku akan selalu menjagamu dan tidak akan prenah meninggalkan kamu." Ucapnya meyakinkan sangat istri.
"Benarkah? janji." Jawabnya, kemudian wajahnya mendongak keatas dan menetap wajah suaminya. Raska segera mengecup bi*bir ranum milik Arsy.
"Jangan menggodaku yang kedua kalinya disiang bolong, nanti malam aku akan menagihnya lagi." Ucapnya, lalu segera mengenakan pakaiannya.
Didalam perjalanan, Arsy menyandarkan kepalanya ke jendela kaca mobil dan fokus pandangannya keluar jendela untuk menghilangkan kejenuhan. Sedangkan Raska fokus pada setir mobilnya.
"Sayang, kenapa kamu tidak pakai gelang kamu. Bukankah itu salah satu identitas kamu, kenapa tidak dipakai?" tanya sang suami yang memperhatikan pergelangan tangan milik Arsy.
"Aku takut, aku takut tidak sesuai harapanku. Aku takut akan ada yang memanfaatkan aku, sungguh aku tidak menginginkan hal itu." Jawabnya beralasan.
"Kenapa kamu mesti takut, bukankah kamu sudah bersuami? lantas bagaimana kamu bisa menemukan identitas kamu." Ucapnya terus mengingatkan.
"Kamu yakin, kalau aku akan baik baik saja setelah aku memakai gelangku?" jawab Arsy dan bertanya dengan ragu.
"Kenapa tidak, aku yakin akan hal itu. Kamu tidak perlu takut untuk memakainya, sekarang kamu sudah dewasa dan kamu berhak untuk mengetahui kebenarannya." Jawab Raska yang masih terus meyakinkan.
"Baiklah, jika menurutmu aku akan baik baik saja, dan tidak akan ada sesuatu apapun hal buruk tentangku. Aku akan memakainya, dan aku berharap semoga aku dipertemukan dengan keluargaku. Tapi... kedua orang tuaku sudah tiada, lantas untuk apa?" Ucap Arsy yang tiba tiba teringat, bahwa dirinya sudah tidak memiliki kedua orang tua kandung.
__ADS_1
"Sudahlah, ayo pakai gelang kamu." Perintah Raska yang masih fokus pada setir mobilnya.
"Baiklah, aku akan memakainya. Semoga apa yang kamu katakan ada benarnya." Jawab Arsy sambil membuka tas nya dan juga segera memakainya.
"Na... begitu dong. Jadi terlihat lebih cantik sekarang, dan gelang itu sangat cocok denganmu." Ucapnya memuji.
"Iya lah, cantik. Terimakasih sayang, aku semakin yakin untuk bertemu dengan keluargaku. Aku berharap, sebagian keluargaku masih mau mengakuiku sebagai keluarga.
"Semoga disegerakan, tetap bersabar dan tidak patah semangat." Ucapnya meyakinkan sang istri.
Tidak lama kemudian, keduanya kini telah sampai di Restoran Tirta sahabatnya. Arsy dan Raska sudah masuk kedalam Restoran, dan mencari sosok beberapa orang yang dikenalnya. Setelah berkali kali celingukan, Kedua mata Raska tengah menangkap sosok laki laki yang tidak asing baginya.
"Sayang, ayo kita kesana." Ajaknya dan menggandeng tangan sang istri.
"Selamat siang tuan Angga dan tuan Robi dan juga tuan Farhan.. maaf jika saya telat datang." Sapa Raska dengan ramah.
"Selamat siang juga, tuan Raska. Senang bertemu dengan kamu." Jawab ketiganya.
"Paman Robi.." ucap Arsy lirih dan kaget, dengan perasaan kesal tentunya. Arsy teringat saat dirinya diusir dari rumah, dan dia harus menghadapi kenyataan yang pahit saat dirinya dengan kondisi yang sangat rapuh. Sedangkan tuan Robi hanya diam tidak bisa berbicara apa apa.
"Paman?" tanya Raska penasaran.
"Bukan, aku hanya salah orang. Maaf, Aku mengira tuan adalah paman saya." Jawab Arsy dan meminta maaf sambil membungkuk.
"Jangan memikirkan yang aneh aneh, kamu pasti kepikiran siapa keluarga kamu karena gelang yang kamu pakai itu." Ucap Raska lirih didekat sang istri. Sedangkan Arsy hanya tersenyum getir.
"Tidak apa apa, mungkin wajah saya ini wajah pasaran. Jadi.. wajarlah jika istri tuan salah orang." Ucap tuan Robi yang juga beralasan, dan dengan tatapan yang cukup takut. Karena Arsy datang bersama lelaki yang bukan sembarang orang.
"Maaf sebelumnya, perkenalkan wanita yang ada disamping saya ini adalah istri sah saya yang bernama Arsyla putri dari tuan Kesuma." Ucap Raska memperkenalkan istrinya.
Apa....! Arsy adalah istri Raska Gantara, yang benar saja. Bukankah Arsy istri Darma Nugraha? apa aku tidak salah dengar dan tidak salah lihat? tidak! tidak mungkin. Aku harus mencari tahunya, apapun itu." Gumam tuan Robi sambil mengingat ingat suami Arsy.
__ADS_1