Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Ucapan yang pedas


__ADS_3

Vina yang mendapati berbagai pertanyaan, secepat mungkin untuk segera pergi dari warung Ibu Sari.


"Bu, berapa total semuanya?" tanya Vina yang sudah tidak sabar.


"Lima puluh ribu, Neng ..."


"Ini Bu, uangnya." ucapnya sambil memberikan uang pas.


"Terimakasih ya, Neng."


"Sama sama, Bu ... permisi ..."


Vina pun akhirnya merasa sangat lega, karena dirinya bila lepas dari berbagai pertanyaan.


Sesampainya di depan rumah, Vina dikagetkan adanya mobil mewah yang sudah berada didepan rumahnya. Terlihat ada sepasang suami istri yang sangat serasi, dan dengan sosok gadis kecil yang begitu akrab dengannya.


"Kak Vina ..." seru gadis kecil memanggilnya.


"Hanum ..." panggilnya dengan lirih. Hanum pun langsung mendekati Vina dan memeluknya.


"Kak, ayo aku kenalin dengan kakak aku juga." Ajak Hanum, kemudian menarik tangan Vina.


"Hai ... perkenalkan, aku Arsyla. Aku yang pernah di tolong oleh Hanum, dan ini suamiku Raska Gantara sekaligus pemilik Asrama anak anak." Ucap Arsy memperkenalkan diri.


"Aku Vina, salam kenal kembali. Aku pun sama, aku pernah di tolong Hanum saat aku sedang kesusahan." Jawabnya sedikit lesu.


'Beruntung sekali wanita ini, berjodoh dengan lelaki yang sangat tampan dan juga sepertinya sangat tajir. Terlihat dari sebuah mobilnya, aku rasa bukan orang main main. Kapan aku bisa seperti wanita ini, sepertinya wanita ini wanita baik baik.'


"Kak Vina, kita tidak dipersilahkan masuk nih .. kita sudah dari tadi menunggu kakak. Kita juga penuh perjuangan mencari rumah kakak, eeeh ternyata alamat yang kakak beri tidak salah." Ucap Hanum menjelaskan.


"Maaf, kakak lupa. Baiklah, ayo kita masuk.. Kak Arsy, dan kak Raska. Mari ..." ajak Vina sambil melangkah menuju pintu rumahnya untuk dibuka kuncinya.


Dengan gugup, Vina membuka kunci pintunya dengan sedikit tangannya gemetar.

__ADS_1


'Aduh .... rumahku tidak ada bagus bagusnya lagi, mereka berdua pasti sangat tidak nyaman.' Batin Vina merasa cemas.


Ceklek, Vina membuka pintu dan segera masuk dan membenarkan tempat duduknya yang bisa dibilang sudah sangat tua. Sedangkan Raska sambil menenteng beberapa belanjaan untuknya.


"Silahkan duduk, Kak ... maaf, jika tempat tinggal kami tidak sebagus milik kakak. Tapi aku merasa nyaman, meski dengan kondisi seperti ini. Ucapnya, sedangkan Arsy dan Raska maupun Hanum segera duduk.


"Tidak masalah, kakak pun pernah menjadi sebatang kara di jalanan. Tidak mempunyai siapa siapa kala itu, dan Hanumlah yang menolong kakak untuk tinggal bersama di Asrama. Oh iya, ini ada sedikit belanjaan untuk kebutuhan kamu dan adik kamu. Terimalah, jangan menolaknya."


"Terimakasih, Kak .. tapi ini kebanyakan.


"Tidak apa apa, terimalah."


"Iya kak, itu untuk Kak Vina." Ucap Hanum ikut menimpali.


"Terimakasih banyak buat Kak Arsy dan Kak Raska. Semoga Kakak berdua dilimpahkan kebahagian dan kesehatan. Kalau begitu, aku mau ambil minuman dulu sebentar." Ucapnya, sedangkan Arsy mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama kemudian, Vina keluar dari belakang membawa tiga gelas air minum.


"Maaf Kak, hanya ini yang aku punya."


"Oh iya, Hanum dan Kak Arsy datang kemari ada apa, ya?" tanya Vina penasaran.


"Hanum hanya ingin main saja, sekalian ingin bertemu dengan kakak." Jawab Hanum polos.


"Kalau begitu, aku dan suami dan juga Hanum pamit pulang. Lain ada waktu, Kakak dan Hanum akan datang kembali. Hari ini kakak sedikit lelah karena dari tadi menemani anak anak untuk berbagi di tempat dimana dulu mereka tinggal." Ucap Arsy berpamitan.


"Iya Kak, tidak apa apa. Hati hati diperjalanan, salam buat anak anak yang lainnya ya, Hanum ..." jawab Vina dan tersenyum.


Kini, Arsy dan suami dan juga Hanum segera pulang. Namun, tiba tiba langkahnya terhenti saat ada seorang ibu paruh baya mendatangi rumah Vina.


"Heh! gadis miskin, keluar kamu." Seru Ibu Paruh baya memanggil dengan suara kerasnya. Sedangkan Arsy dan Raska maupun Hanum segera mengumpat dibelakang.


"Ibu Reni .."

__ADS_1


"Wah wah wah ... rupanya kamu sudah punya laki laki tajir, sampai sampai kamu menyembunyikannya. Pasti kamu wanita yang tidak benar, memasukkan laki laki kedalam rumah kamu."


"Ibu jangan asal menuduh saya, dong. Saya tidak seperti yang ibu pikirkan, dan saya masih mempunyai harga diri."


"Harga diri, harga diri dijual mahal, begitu maksud kamu." Ucapnya asal bicara, Vina hanya diam. Baginya percuma berdebat dengan seorang ibu ibu bermulut pedas.


"Aku peringatkan, ya! jauhi putraku. Aku tidak sudi menjadikan kamu menantuku, bisa hancur nama baik keluarga Putraku.


"Saya sendiri tidak pernah merasa mendekati putra Ibu, dari dulu itu Hendi yang selalu mendekati saya. Maaf ya, Ibu terhormat dan terkaya di desa ini. Saya tekankan, saya sama sekali tidak menyukai anak Ibu. Saya lebih memilih menikah dengan laki laki paling miskin, dari pada saya menikah dengan anak orang kaya seperti Ibu. Tetapi tidak memiliki hati sedikitpun." Jawab Vina yang sudah sangat geram dan emosi tentunya.


"Das*ar wanita tidak tahu diri." Plak!!!! Ibunya Hendi dengan kuat telah menampar pipi milik Vina hingga memerah.


"Cukup!!" Ucap Raska dengan keras. Sedangkan Arsy dan Hanum mencoba untuk tetap bersembunyi.


Ibunya Hendi pun terbelalak saat melihat sosok Raska yang terlihat tampan dan juga terlihat sangat tajir.


"Oooh! laki laki ini rupanya yang kamu sembunyikan. Rupanya kamu sudah pintar ya, sekarang. Aku peringatkan sama kamu, hati hati dengan wanita ini. Dia sangat licik, bahkan apapun akan dia lakukan demi mendapatkan laki laki tajir. Gara gara Wanita ini, putraku memilihnya untuk dijadikan istrinya. Tidak sudi aku memiliki menantu seperti Dia, bisanya hanya memeras laki laki tajir." Ucapnya panjang lebar kali panjang.


Raska yang mendengarnya hanya tersenyum, bahkan senyumnya serasa ingin menelannya hidup hidup.


"Ibu, cukup! apa yang Ibu lakukan di rumah Vina, Bu?"


"Bos Raska ...." ucap Hendi kaget. Dirinya benar benar tidak menyangka jika Raska berada di rumah Vina. Sedangkan Vina maupun ibunya Hendi kaget bukan main.


"Hendi, ya? apakah ini Ibu kamu?"


"Iya, Bos ..."


"Oooh! ajarkan Ibu kamu dengan kesopanan terhadap orang lain. Terutama mulutnya, bila perlu akan aku belikan lakban bergulung gulung." Ucap Raska yang kemudian langsng pergi ke belakang untuk memanggil istrinya untuk diajaknya pulang..


"Sayang, ayo kita pulang." Ajaknya berusaha tenang, sedangkan Hanum mengikutinya dari belakang.


"Vina, kita pulang dulu. Lain waktu, kita datang kembali." Ucapnya berpamitan, Ibunya Hendi kini merasa malu saat berhadapan dengan Raska maupun Arsy.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Kak Arsy dan Kak Raska dan juga Hanum. Hati hati diperjalanan, dan sampai dirumah dengan selamat. Salam untuk anak anak Asrama ya, Hanum ..."


"Iya, Kak ..." jawab Hanum, kemudian Raska sambil menggandeng tangan milik istrinya dengan cuek langsung pergi keluar dan segera pulang.


__ADS_2