Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Pingsan


__ADS_3

Setelah sang Dokter memeriksakan keadaan Arsy, Darma segera menghampirinya.


"Maaf Dok, bagaimana kondisi istri saya saat ini?" tanya Darma cemas.


"Istri Tuan baik baik saja. Hanya saja jangan sampai banyak fikiran, karena kesehatannya menurun. Banyak banyaklah untuk menghiburnya, dan temani selalu istri Tuan." Jawab Sang Dokter.


"Baik Dok, terimakasih." Ucap Darma.


"Kalau begitu saya permisi untuk pamit, karena masih banyak pasien yang meminta untuk ditangani. Oh iya, obatnya sudah saya kasihkan ke pelayan Tuan." Jawab sang Dokter.


"Terimakasih banyak, Dok..." ucap Darma.


Dokter pun segera pergi dari rumah Arsy, setelah itu Darma mendekati istrinya. Menemami Sang istri yang sedang berbaring, Dilihatnya wajah istrinya yang penuh kesedihan. Darma yang melihatnya pun benar benar tidak tega, yang dimana Arsy harus menerima kenyataan yang sangat pahit.


Sungguh aku dilema, sayang... aku benar benar tidak sanggup untuk melihat kesedihanmu. Mungkinkah, aku akan sabar menghadapinya. Apa aku mampu untuk menjagamu, dan apakah aku bisa memperlakukanmu dengan baik. Batin Darma sambil duduk dan menemani istrinya yang sedang berbaring ditempat tidur.


Tidak lama kemudian, Jenazah Tuan Kesuma dan Nyonya Heninda telah tiba dirumah Duka. Semua sudah dipersiapkan oleh orang orang yang sudah datang lebih awal.


Arsy yang sedang berbaring ditempat tidur, dengan pelan Arsy mencoba membuka kedua matanya. Dan dilihat sekelilingnya tidak ada seseorang, Arsy tidak menyadari bahwa sang suami sudah berada didekatnya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya sang suami.


"Mama... Papa.... aku harus menemuinya." Ucap Arsy yang langsung bangun dari tidurnya, namun Darma segera mencegahnya.

__ADS_1


"Iya, sayang... nanti kita menemui Papa dan Mama. Sekarang tenangkan fikiran kamu, biarkan orang orang diluar yang mengurusnya." Ucap Darma menahannya, lalu segera memeluk istrinya untuk menenangkan pikirannya yang sedang dirundung kesedihan.


"Sayang... bersabarlah. Semua juga akan menyusul, hanya saja kita tidak tahu jadwal kita. Kasihan dengan kesehatan kamu, sudah... jangan menangis. Ikhlaskan, kamu tidak sendirian. Kamu masih punya aku yang akan selalu menemani kamu, ada aku yang akan menjaga kamu." Ucap Darma menenangkannya.


Arsy yang masih berdiam tanpa suara, nafasnya pun sesak. Air matanya pun membanjiri kedua pipinya, Arsy masih dalam pelukan suaminya. Dunia Arsy seakan gelap gulita, yang dimana dirinya sudah berpenyakitan ditambah harus kehilangan kedua orang tua yang dicintainya. Arsy benar benar shok harus menerima kenyataan pahit.


Darma segera melepas pelukannya, kemudian menghapus air mata istrinya.


"Sayang, kamu pasti kuat dan bisa untuk menghadapi semua ini. Aku yakin, kamu bisa melewatinya. Sekarang kuatkan hatimu, ada aku disampingmu. Tidak hanya kamu saja yang bersedih, akupun ikut bersedih." Ucap Darma lagi untuk menenangkan perasaan sang istri.


Tok tok tok suara ketukan tengah mengagetkan Arsy dan juga Darma.


"Masuklah.." ucap Darma, dan seseorang tersebut segera masuk.


"Maaf Tuan, sebentar lagi akan berangkat ke pemakaman. Tuan dan Nona diharapkan untuk segera bersiap siap." Jawab salah satu pelayan dirumah.


"Baik, Tuan..." jawabnya sambil membungkukkan punggungnya, lalu keluar dari kamar.


Darma segera mengajak istrinya untuk bersiap siap berangkat ke pemakaman.


"Sayang, kamu yakin mau ikut ke pemakaman?" tanya sang suami.


"Benar Mas, aku ingin melihat Papa dan Mama yang terakhir kalinya. Tapi.... apa aku sanggup menerima kenyataan ini." Jawab Arsy dan menitikan air matanya kembali, Darma pun segera menghapusnya.

__ADS_1


"Jika kamu tidak sanggup, tidak apa apa. Kamu jangan memaksakan kondisi kamu saat ini. Kamu bisa mendatangi makam Papa dan Mama hari depan, sayang..." ucap Darma menenangkan sang istri.


"Aku yakin, aku kuat. Aku tetap akan ikut ke pemakaman." Jawab Arya penuh yakin.


"Baiklah, jika memang kamu menginginkannya. Aku tidak akan melarangmu, aku akan selalu berada di sampingmu." Ucap Darma meyakinkan.


"Terimakasih, sayang... maafkan aku yang sudah merepotkan kamu." Jawabnya.


"Kamu ini istriku, semua tanggung jawab sepenuhnya ya aku suami kamu." Ucap Darma kemudian mengecup kening istrinya lembut. Arsy pun merasa nyaman dan yakin, bahwa suaminya tidak akan pernah meninggalkannya. Pikir Arsy dalam lamunannya.


"Aku sangat beruntung memiliki suami seperti kamu. Meski aku kekurangan dalam kesehatanku, kamu masih menyayangiku. Aku berharap maaf Darma akan terus seperti ini denganku, selalu ada buatku dan selalu menyayangiku." Jawab Arsy dengan menitikan air mata bahagia dan juga air mata duka.


Lagi dan lagi, Darma memeluk istrinya erat. Seakan tidak ingin melukai sang istri dan takut jika menyakiti hati istrinya.


"Ayo kita keluar, sebentar lagi akan berangkat." Ajak Darma, lalu menggandeng tangan sang istri sambil menuntunnya. Darma takut sewaktu waktu Arsy akan pingsan.


Setelah sudah keluar dari kamarnya, Darma mengajak istrinya untuk lewat ke pintu samping. Darma takut jika sang istri akan menangis histeris, sebisa mungkin Darma mengalihkan pandangan sang istri.


Kini Darma dan Arsy sedang dalam perjalanan ke pemakaman kedua orang tuanya. Diperjalanan Arsy hanya berdiam diri sambil menyandarkan tubuhnya ke suaminya. Pikirannya benar benar sangat tidak karuan, yang dimana seperti mimpi.


Ma... Pa... kenapa secepat ini kalian berdua meninggalkan Arsy, hidup Arsy terasa tidak ada gunanya. Arsy yang penyakitan, apa bisa Arsy bertahan lama untuk hidup di dunia ini. Arsy takut Ma.. Pa... Arsy tidak yakin, jika Arsy akan sembuh. Kenapa Mama dan Papa yang pulang lebih duluan, seharusnya Arsy yang sakit sakitan. Batin Arsy dalam lamunannya, tidak terasa air matanya pun membasahi kedua pipinya. Darma yang mendengar nafas istrinya terdengar sesak, Darma segera melihat wajah istrinya.


"Kamu kenapa menangis? simpanlah air mata ini, kasihan Mama dan Papa jika kamu terus terusan bersedih. Kamu harus merelakan kepergian Papa dan Mama, agar tenang dialam sana. Lebih baik kamu mendoakan Beliau jauh lebih baik, sayang... dari pada kamu menangisi kepergiannya. Kamu mengerti kan, sayang?" Ucap Darma menenangkan.

__ADS_1


"Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini, dengan kondisiku yang begitu memprihatinkan ditambah lagi aku harus kehilangan kedua orang tua sekaligus bersamaan. Seharusnya aku yang pergi duluan, karena aku penyakitan. Kamu sudah tahu sendiri, kan? bahwa hidupku sudah diujung tanduk. Aku yang masih bisa hidup seperti ini, mungkin saja nanti atau besok akan pergi selama lamanya." Jawab Arsy dan menangis, Darma pun segera merangkulnya.


"Kamu lupa, bahwa umur seseorang sudah ada catatannya masing masing. Bisa saja umur kamu jauh lebih panjang dari pada aku. Tuhan yang memberi penyakit, dan Tuhan pun yang akan menyembuhkannya. Kamu hanya perlu ikhlas dan sabar, itu kuncinya. Kamu harus percaya dengan kekuasaan Tuhan, yang dimana semua yang terjadi adalah atas kehendakNya." Ucap Darma mengingatkan, sedangkan Arsy hanya terdiam.


__ADS_2