
Didalam perjalanan, dengan fokus pandangan Arsy lurus kedepan. Begitu juga dengan Darma, hanya berdiam diri duduk dibelakang. Sedangkan Arsy duduk didepan bersama Raska.
Beginikah rasanya cemburu, beginikah rasanya sakit yang Arsy rasakan. Aku rasa tidak! rasa sakit yang aku rasakan sekarang, dan rasa cemburu yang aku rasakan saat ini belum ada separuhnya dengan rasa sakit yang Arsy rasakan. Sungguh aku gagal menjadi seorang suami. Aku gagal menjaganya, dan aku gagal memenangkan hatinya. Gumam Darma sambil melamun.
Sedangkan Arsy merasa jenuh dengan situasi yang begitu sangat tegang. Tidak ada satupun yang mencoba membuka suara di kesunyian pagi hari.
"Ayo turun," ajak Raska membuyarkan lamunan Arsy dan juga Darma.
"Mau ngapain?" tanya Arsy penasaran. Sedangkan Darma hanya diam, karena tidak ingin mengganggu Raska.
"Aku lapar." Jawab Raska yang kemudian segera turun. Lagi dan lagi, Arsy kesusahan untuk membuka sabuk pengamannya. Raska yang hendak turun, namun tiba tiba kedua matanya tertuju Arsy yang sedang kesusahan membuka sabuk pengaman.
Raska tidak perduli dengan sosok Darma yang masih duduk dibelakang. Raska langsung segera membantu Arsy untuk membukakannya. Kedua mata Arsy dan Raska saling beradu pandang. Keduanya hampir terhanyut ke dalam suasana mabuk asmaranya. Raska pun sadar akan setatusnya yang belum ada ikatan pernikahan dengan Arsy. Andai saja sudah sah menjadi suami istri, mungkin saja Raska sudah menyambarnya.
Darma yang melihatnya pun terasa sakit, namun segera ia mengingat kesalahannya sendiri. Yang dimana Arsy melihat dengan mata telanjangnya saat sang suami sedang melakukan aksinya.
Lagi dan lagi, Darma segera menepis emosinya. Dirinya berusaha kuat untuk menjalani sebuah kesalahan yang dijadikan pelajaran.
Karena tidak ingin mengganggu suasana Raska dan Arsy, dengan sigap Darma segera turun dari mobil tanpa Raska perdulikan. Sedangkan Raska masih sibuk dengan Arsy.
"Lain kali kamu tidak perlu memakai sabuk pengaman, tapi pakailah ikat pinggang. Sepertinya lebih cocok untuk kamu, dan kamu tidak perlu bingung untuk mencari ikat pinggangnya, di kamarku ada banyak macam ikat pinggang." Ucap Raska sambil meninggikkan satu alisnya.
Arsy yang mendengarkannya hanya memasang wajah masamnya. Tidak pakai lama, Arsy langsung turun dan keluar. Begitu juga dengan Raska yang juga langsung keluar.
"Ayo kita masuk," ajak Raska dan diikuti Darma juga Arsy dibelakangnya.
Setelah sudah berada didalam Restoran, ketiganya segera duduk ditempat yang dimana Raska pilih.
__ADS_1
Arsy duduk didepan Raska, sedangkan Darma duduk disebelah Raska. Tiba tiba Darma merasa tidak enak duduk berhadapan dengan Arsy, kemudian Darma sedikit menggeser posisinya agar tidak menghadap kearah Arsy.
Raska yang memang sikapnya dingin, sedari tadi dirinya tidak mengatakan sepatah katapun didepan Arsy maupun Darma. Namun tidak ada yang merasa heran akan sikap Raska yang begitu dingin. Darma dan Arsy pun hanya terdiam sampai pesanannya datang.
Setelah pesanannya datang, ketiganya menikmati makanannya. Tidak ada satupun yang membuka suara, suasana pun hening. Hanya suara sendok yang saling beradu diantara ketiganya.
Raska yang melihat disudut bibir Arsy ada sisa makanan yang tertinggal. Tanpa malu dan ragu, Raska segera membersihkannya dengan ibu jari. Arsy pun kaget atas perlakuan dari Raska, rasanya malu dan juga tidak enak hati didepan Darma. Yang dimana pernah menjadi suaminya, dan tidur bersama. Meski tidak melakukan hal yang menjurus. Namun perlakuan Raska seperti sengatan yang lebih kuat arusnya. Detak jantungnya pun berdegup sangat kuat. Arsy berusaha mengatur pernafasannya tanpa sepengetahuan dari Darma dan Raska. Lagi dan lagi, Darma yang melihatnya pun sangat cemburu. Nafas dalamnya menjadi panas, rasanya ingin memberontak. Namun apa daya dari Darma, hanya bisa pasrah.
Raska pun masih tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk Arsy. Kemudian Raska langsung melanjutkan makanannya hingga bersih tersapu.
Darma yang masih terasa sesak nafasnya, tanpa pikir panjang Darma langsung menyambar gelas dan meneguk air minum didepannya.
Uhuk uhuk... Darma pun batuk karena nafasnya terasa sesak yang dipaksa untuk minum.
"Kalau mau makan minumlah terlebih dahulu, kasihan tuh tenggorokan kamu menjadi panas akibat sambal yang kamu makan." Ucap Raska mengingatkan, sedangkan Arsy hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Karena dirinya takut akan menyinggung perasaan Raska.
Arsy benar benar berada dalam keadaan yang sangat sulit, yang dimana disalah keduanya orang yang pernah dekat dan satunya akan menjadi suaminya.
"Anak anak dirumah, bagaimana? tidak ada yang memasaknya." Jawab Arsy dan bertanya.
"Sudah ada yang mengurusnya, kamu tidak perlu khawatir. Bukankah kamu sudah sering mengajarinya memasak, bukan? jadi kamu tidak perlu takut mereka akan kelaparan. Semua persediaan di dapur tidak ada yang kurang." Jawab Raska langsung bergegas pergi menuju kasir.
Sedangkan Darma dan Arsy masih pada posisi duduknya. Karena takut disalah sangka yang tidak tidak keduanya segera bergegas bangun dari tempat duduknya dan menunggu Raska di pintu keluar.
"Raska, setelah ini kita mau kemana?" tanya Darma penasaran.
"Ke tempat biasa." Jawab Raska singkat dan langsung masuk kedalam mobil. Darma maupun Arsy nurut apa yang dikatan Raska, keduanya segera masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Saat Arsy mau memakai sabuk pengaman, lagi lagi Arsy teringat akan kejadian yang sudah kedua kalinya hampir terjadi adegan yang memabukkan.
"Kenapa? tidak bisa memakainya?" ejek Raska tanpa ada senyum. Arsy yang mendengarnya pun terasa geram, dirinya serasa ingin meremas remas bibir Raska yang seksinya tidak ketulungan jika mengejeknya.
Apa aku bisa menjalani pernikahan dengannya, sedangkan dirinya saja begitu dingin. Sangat berbeda dengan mas Darma, yang dimana perhatiannya disertai ucapannya yang banyak bicara. Jadi.. tidak membuatku bosan. Meski kenyataannya menyakitiku. Batin Arsy yang semakin risau akan sikap Raska yang begitu dingin.
Aku yakin, hanya Arsy yang mampu membuat Raska bahagia. Sangat terlihat jelas akan perhatiannya, hanya saja Arsy baru mengenal sikap dinginnya. Mungkin setelah menikah nanti, Arsy baru menyadari sikap Raska yang tidak akan membuatnya merasa bosan. Gumam Darma sambil mengamati Arsy yang terlihat gusar dan salah tingkah.
Wajar saja jika Arsy merasa gusar dan salah tingkah. Orang yang ada di dekatnya adalah orang pernah dicintainya dan yang satunya akan mencoba untuk menerimanya.
Pikiran Arsy semakin tidak karuan akan perasaannya. Dirinya berusaha untuk bersikap biasa biasa saja agar tidak menggoreskan perasaan diantara keduanya.
Setelah memakan waktu yang lumayan cukup lama, Raska menghentikan mobilnya didepan rumah tua. Yang dimana dijadikan tempat membuka masalah ataupun memecahkan masalah. Meski rumah tersebut terlihat seram dan seperti tidak terawat, namun didalamnya terlihat sangat mewah bersih dan rajin. Didalamnya juga seperti rumah pada umumnya.
"Ini rumah angker?" tanya Arsy bergidik ngeri saat melihat kondisi rumah yang sudah terlihat sangat tua.
"Iya, kenapa? takut? jangan ikut. Kembalilah ke mobil jika kamu takut." Jawab Raska datar.
Sedangkan Arsy tidak memperdulikan ucapan dari Raska. Justru dirinya dengan reflek langsung menggandeng tangan Raska tanpa ia sadari.
Raska yang menyadarinya pun tidak melepaskan tangan Arsy yang sedang menggandeng tangannya. Darma yang melihatnya pun tidak meresponnya, yang dibutuhkan Darma hanya sebuah berita penting untuknya.
Setelah sampai didalam rumah tua, Arsy menatapnya dengan takjub disekelilingnya. Arsy benar benar tidak menyangka jika rumah yang terlihat tidak terawat ternyata terlihat mewah.
"Duduklah," perintah Raska.
Arsy dan Darma segera duduk, kemudian menunggu Raska mengambilkan sesuatu. Yang tidak lain adalah sebuah laptop.
__ADS_1
Dengan pelan, Raska membuka laptopnya. Arsy maupun Darma menatap lekat dengan apa yang dilihatnya.
"Lihatlah rekaman ini dengan seksama. Kalian berdua tenangkan pikiran dan emosi kalian berdua. Aku berharap setelah ini kalian tetap pada pendirian kalian berdua saat ini." Ucap Raska sambil mencari rekaman yang sudah disimpannya.