
Berkas milik Vina pun sudah berada di dalam ruangan sekretaris, setelah semua berkas dari sekian yang mendaftar terkumpul. Sekretaris pun segera masuk kedalam ruangan pemegang perusahaan.
Tok tok tok suara ketukan pintu terdengar dari dalam ruangan dengan cepat, pintu pun terbuka. Sekretaris tersebut segera masuk kedalam ruangan sambil membawa banyak berkas pendaftaran.
"Selamat pagi Pak ..." sapanya seramah mungkin.
"Ada apa Rik? apa yang kamu bawa." Tanyanya penuh keheranan.
"Berkas pendaftaran sekretaris baru, Pak."
"Sekretaris baru? maksud kamu?"
"Maksudnya begini Pak, sebenarnya saya mau dipindahkan ke Perusahaan satunya. Yang tidak lain dibawah kendali Tuan Nugraha, dan semua ini atas rencana Tuan Nugraha. Hari ini sudah dibuka pendaftaran untuk sekretaris baru, dan semua yang mendaftar sudah menunggu di ruangan khusus. Kami akan memanggilnya satu satu untuk diseleksi dan dilakukan tes. Semua Pak Darma sendiri yang menentukan, begitulah pesan dari Tuan Nugraha."
"Apa? jadi kamu benar benar akan pindah? tidak boleh, aku akan menghubungi papa untuk membatalkan pendaftaran sekretaris baru. Aku tidak butuh sekretaris baru, Rik."
"Maaf Pak, sepertinya rencana Tuan Nugraha tidak bisa diganggu gugat."
"Terserah kamu, aku malas melakukan interview atau apalah. Aku serahkan semuanya kepada kamu, dan ingat! pilih laki laki. Aku tidak mau sekretaris perempuan, semua hanya penggoda. Apalagi akan satu ruangan denganku, aku tidak sudi."
"Baik, Pak. Tapi sepertinya perempuan semua deh, Pak .."
"Pilih yang paling jelek, penampilan paling buruk, tidak suka dandan dan satu lagi, bila perlu burikan, bahkan ancur sekalipun aku sangat senang." Ucapnya dengan kesal, sedangkan kedua bola mata sekretaris Riko melotot dan menelan salivanya susah payah.
"Yang benar saja, Pak. Apa saya tidak salah dengar?"
"Tidak! ini berkas berkasnya, aku tidak butuh. Kamu cukup pandangi dengan jeli itu wanita wanita yang ingin jadi sekretarisku. Sudah sana kamu periksa satu satu, kalau sudah dapat bawa kesini itu sekretaris baru."
__ADS_1
"Baik, Pak. Saya permisi ..."
"Ingat! yang paling jelek, sampai orang orang tidak suka dengan penampilannya." Ucapnya lagi memberi peringatan.
"Baik, Pak ..." Jawabnya langsung keluar, karena tidak ingin ikut gila seprti Tuannya.
"Yang benar saja itu, Pak. Minta dicariin sekretaris yang paling jelek dan yang burikan. Mana ada wanita seperti itu, aku rasa semua cantik cantik. Ada ada saja, Pak Darma. Apa karena sudah menduda dua kali apa, ya? aaah! kenapa aku yang pusing."
Didalam ruangan kerja, Darma didalam ruangan tertawa lepas, dirinya teringat saat memberi tugas kepada sekretarisnya untuk mencari sekretaris paling jelek dan burikan.
"Riko Riko .... kamu tidak bakalan dapat wanita yang aku inginkan. Aku yakin, semua yang mendaftar untuk menjadi sekretarisku semua seksi seksi dan menor menor." Ucapnya sambil tertawa lepas.
Sedangkan sekretaris Riko kini sedang dilema karena perintah dari Bosnya. Berkali kali mencerna ucapan dari Darma, tetap saja tidak mendapatkan jawaban.
"Sekretaris Riko, ada masalah apa kamu? kok kelihatannya kamu prustasi gitu. Bukannya kamu senang akan dipindahkan, kok seperti kehilangan kehormatan saja."
"Kamu tahu? Pak Darma memberi pekerjaan untukku benar benar sangat konyol."
"Hari ini adalah hari penyeleksian mencari sekretaris baru, dan aku yang harus bertanggung jawab."
"Bagus dong, berarti kamu masih dipercaya. Kenapa kamu yang bingung, santai saja."
"Bagaimana aku tidak bingung? Pak Darma memintaku untuk mencarikan sekretaris yang paling jelek, penampilan buruk, dan burikan. Apa tidak gile itu sih Pak Darma."
"Apa? sekretaris yang jelek? penampilan buruk? burikan? yang benar saja Rik? kamu tidak lagi ngaco 'kan?"
"Makanya, aku setres sendiri untuk menyeleksi. Mana ada, orang mau daftar dengan penampilan buruk. Yang ada juga seksi dan cantik cantik dan penampilan sempurna."
__ADS_1
"Tinggal diperiksa satu satu, dan kamu nilai sendiri. Kamu pilih yang kiranya standar standar saja, terus kamu bawa ke ruangan Tuan Darma."
"Mau bagaimana lagi, kalau memang itu cara yang bisa aku lakukan. Aku pergi dulu, aku mau menyelesaikan tugasku. Aku tidak mau tambah pusing lagi, lama lama aku setres." Ucapnya kemudian segera menuju ke ruangan khusus untuk pendaftaran sekretaris baru.
Dengan keringat dingin, Riko memasuki ruangan yang dipenuhi wanita wanita cantik dan seksi. Berkali kali Riko mengusap kasar wajah tampannya.
'Tenang Riko, kamu harus tenang. Ini tugas kamu yang terakhir jadi sekretaris di Kantor ini, sedangkan besok sudah waktunya hengkang dari Kantor ini.' Batinnya berusaha untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau karena tugas yang sangat konyol untuk dicerna dengan pikiran warasnya.
"Selamat pagi semuanya? hari ini akan ada seleksi dari pemegang perusahaan ini. Saya minta untuk tenang, siapapun yang dipilih harus siap menjadi sekretaris baru untuk Pak Darma. Semuanya mengerti?" ucap sekretaris Riko sedikit tegang, karena yang dihadapinya semua para wanita cantik dan seksi seksi. Semua menjawab serempak, dan kembali duduk pada tempatnya masing masing.
Setelah itu, sekretaris Riko segera memanggilnya satu persatu sesuai nomor urut antrian.
Sedangkan Vina yang sedang duduk paling belakang, kini dirinya sedang mengumpulkan mental untuk maju kedepan, dikarenakan Vina baru pertama kalinya menginjakkan kakinya di Kantor besar. Detak jantungnya pun berdegup sangat kencang, pikirannya sedikit kacau. Ditambah lagi, saingannya benar benar jauh beda dengan dirinya.
'Aku yakin, pasti aku tidak bakalan terpilih untuk menjadi sekretaris. Lihatlah, semua yang ada didalam ruangan ini sangat cantik cantik dan seksi seksi. Penampilannya sangat sempurna, berbeda jauh dengan diriku. Sedangkan aku yang terlihat anak kuliahan yang apa adanya, aku sadar diri saja.' Batinnya sambil pasrah.
"Urutan yang terakhir. Vina Raya, silahkan untuk maju kedepan." Panggilnya sedikit keras, sedangkan Vina sendiri masih dengan lamunannya, hingga tidak sadarkan diri sudah pada urutan yang terakhir.
"Sekali lagi saya panggil, Vina Raya."
"Iya, saya Pak." Jawab Vina dengan reflek karena kaget, dan langsung maju ke depan. Semua yang melihat penampilan Vina pun terpenganga, semua tidak menyangka dengan penampilan Vina yang beraninya mendaftarkan diri untuk menjadi sekretaris. Semua berbisik membicarakan penampilan Vina, namun Vina tidak mamperdulikannya. Baginya, nasib baik tidak ada yang tahu.
Tidak hanya itu, sekretaris Riko pun ikut tercengang saat melihat penampilan Vina. Dari nomor urut ke satu sampai urut ke empat puluh
sembilan tidak ada yang berpenampilan sederhana seperti Vina.
'Apakah wanita seperti ini yang dicari Pak Darma? yang benar saja. Cantik sih kalau dipoles, burikan juga tidak. Hanya saja penampilannya yang seperti preman, memang ancur sih menurutku.' Batinnya penuh yakin.
__ADS_1
"Kamu, saya terima untuk menjadi sekretaris Pak Darma. Jangan banyak bicara dan jangan banyak protes, sekarang ikut saya untuk menemui Pak Darma." Ucap sekretaris Riko tegas.
"Saya umumkan, bahwa yang akan menjadi sekretaris Pak Darma adalah Vina Raya. Saya minta untuk berlapang dada menerima keputusan dari saya. Jika kalian tidak ada yang terima, silahkan membuat laporan sendiri." Ucapnya tegas, semua wanita yang sudah bersusah payah berdecak kesal. Semua tidak menyangka, sosok Vina yang diterima menjadi sekretaris Pak Darma. Padahal, penampilannya tidak ada yang sepadan dengan wanita wanita cantik lainnya.