Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Ditawari pekerjaan


__ADS_3

Di suatu tempat yang terdapat rumah sangat sederhana, rumah yang dihuni hanya dengan seorang adik laki laki. Siapa lagi kalau bukan Vina, yang pernah bertemu Darma dikala malam hari.


Tok tok tok "Dik.. buka pintunya, kakak sudah pulang." Seru Vina memanggil sang adik sambil mengetuk ngetuk pintu depan.


"Sebentar, kak ..." jawabnya dari dalam.


Ceklek, sang adik membuka pintunya. Vina pun langsung masuk kedalam, dan sang adik segera menutup dan menguncinya kembali.


"Kakak, kenapa baru pulang?"


"Tadi ada kemacetan di jalan." Jawabnya beralasan.


"Ooh! kakak benar nih, mau berhenti dari kernet."


"Tidak tahu, kakak masih bingung. Mau ganti pekerjaan, tapi kerja apaan? kakak tidak mempunyai kemampuan. Oh iya, kamu sudah makan belum. Ini, tadi kakak beli jajanan untuk kamu."


"Aku sudah makan, tadi goreng telor. Kenapa kakak tidak coba aja kerja di kantoran, siapa tahu keterima. Bukankah kakak juga pernah kuliah, sayang jika dianggurin ilmunya."


"Ilmu apaan, ilmu tendangan? ppkoknya kakak tidak mau bekerja di kantoran. Kakak merasa tidak pantas, ibu dan bapak sudah tiada Dik. Untuk apa kakak kerja di kantoran, untuk siapa? ibu dan bapak tidak bisa menikmatinya." Jawab Vina dengan lesu.


"Untuk kakak lah, memangnya untuk siapa? untuk aku? tidak! aku juga punya cita cita sendiri. Kelak setelah selesai sekolah, aku akan bekerja sambil kuliah. Agar semua impianku tergapai, meski tidak ada ibu dan bapak. Setidaknya aku harus bisa membuktikannya." Ucap sang adik penuh semangat.


"Terserah kamu, kakak banyak kenangan sama bapak dan ibu. Bapak yang selalu bangun pagi untuk bekerja, demi kita dan demi kakak bisa kuliah. Tapi ... saat kakak menyelesaikan pendidikan kakak, bapak dan ibu pergi selamanya secara bersamaan. Kakak sangat terpukul, Dik ...."


"Setidaknya kakak lakukan untuk aku, kak. Tapi kita berjuang bersama. Sebentar lagi aku akan selesai mengenyam pendidikan di bangku SMA, berarti aku sudah mulai bisa mengembangkan cita citaku."


"Kakak pikir pikir lagi, sekarang kakak mau mandi. Tubuh kakak sangat gerah, dan sangat lengket tentunya."


Vina langsung masuk ke kamarnya, kemudian segera mengambil handuk dan baju ganti. Sebelum mandi, Vina menatap lekat wajahnya didepan cermin.

__ADS_1


'Kenapa aku tidak ikuti saja yang dikatakan Diki, seharusnya aku harus bersemangat. Demi adikku untuk bisa meneruskan pendidikannya, meski ibu dan bapak sudah tidak ada lagi.' Batinnya sambil menatap wajahnya dengan lekat.


Karena sudah terasa sangat gerah, Vina segera masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sudah tidak bisa menahan gerah.


Setelah memyegarkan badannya dengan cara mandi, Vina kembali masuk kedalam kamarnya. Dengan cepat, Vina menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan terlentang.


Ditatapnya langit langit kamarnya yang terbilang sangat sederhana. Vina mencoba untuk memejamkan kedua matanya agar segera terlelap dari tidurnya. Namun, tetap saja tidak bisa tidur. Tiba tiba Vina teringat dengan sosok laki laki yang yang sudah membuatnya kesal, dan juga sudah dremas sangat kuat jari jemarinya karena merasa sangat kesal.


"Laki laki itu, kira kira masih merasakan sakit tidak, ya? aku sudah begitu kasar dengannya. Tapi, itu kan salah dia yang sudah menumpahkan makananku." Gerutu Vina merasa kasihan, namun tiba tiba berubah menjadi kekesalan.


"Semoga saja, besok aku tidak bertemu dengannya lagi." Gerutunya lagi, sedangkan besok dirinya harus bangun pagi. Bisa tidak bisa, Vina harus segera memejamkan kedua matanya agar bisa beristirahat dengan cukup.


*****


Dipagi hari yang begitu cerah, namun tidak secerah harapan dari gadis sederhana yang bernama Vina. Rasa putus asanya pun selalu menghantui pikirannya, meski awalnya bersemangat. Namun, tiba tiba semangatnya pun hilang.


"Kak Vina, aku berangkat sekolah. Tadi aku sudah buatkan kakak nasi goreng, tapi maaf telornya hanya separo." Ucap sang adik berpamitan, sedangkan Vina masih bermalas malasan untuk bangun. Hari ini Vina sengaja tidak untuk berangkat bekerja, karena pikirannya yang kacau dan membuatnya tidak bersemangat. Alih alih dirinya segera bangun, dan menuju kemeja makan. Dilihatnya nasi goreng buatan adiknya tengah menggugah selera makannya, ditambah lagi perut yang sudah keroncongan.


Ceklek, Vina membuka pintu rumahnya dengan keadaan yang masih bangun dari tidurnya.


"Ampun dah nih anak, kamu baru bangun tidur?"


"Iya, kenapa? ganggu saja orang lagi makan."


"Ini, aku ada lowongan pekerjaan untuk kamu. Mau tidak?"


"Lowongan pekerjaan? kerja apa? tumben kamu menawari aku pekerjaan." Jawabnya sedikit malas.


"Boleh masuk tidak nih, tenang aku tidak nakal. Palingan juga godain kamu, tidak tidak ...."

__ADS_1


"Tidak! adikku sedang tidak ada, aku melarang tamu laki laki untuk masuk tanpa ada pihak kedua."


"Kaya siapa saja aku ini, yang tadi aku tawarin kamu mau tidak?"


"Aku lagi males bahas pekerjaan, aku ingin istirahat total."


"Serius? tidak percaya aku, palingan habis ini kamu juga ngernet lagi. Kalau kamu mau, aku daftarkan kamu. Biar kamu cepat diterimanya, dan besok kamu bisa langsung bekerja."


"Memangnya kerja apaan?"


"Jadi Sekretaris, Vina ...."


"Apa .... sekretaris? yang benar saja, kamu meledek aku. Kamu lupa, aku ini orang pinggiran. Mana bisa aku jadi sekretarisnya Bos, mimpi! Bro."


"Aku yakin, kamu bisa. Kamu itu cantik, dan juga pintar. Bukankah kamu pernah kuliah bareng aku, dan kamu selalu menjadi mahasiswi kebanggaan di Kampus."


"Aku tidak mau mengingatnya, Hen."


"Kenapa sih! gara gara kedua orang tua kamu telah berpulang, kamu menjadi lemah begini. Seharusnya kamu itu menjadi lebih kuat dan semangat buat nunjukkin kemampuan kamu. Meski kedua orang tua kamu tidak ada lagi, kamu masih mempunyai masa depan."


Seketika itu juga, Vina langsung duduk di teras rumah. Dirinya tertunduk sedih dan juga dengan perasaan yang sulit untuk diartikan.


"Sudahlah, Vin. Kamu harus bisa merubah diri kamu jauh lebih baik lagi, kalau kamu terus seperti ini hari hari kamu. Lantas, kapan kamu akan mendapatkan cita cita kamu. Apa kamu tidak ingin menikah? memiliki keluarga kecil? pikirkan Vin."


"Entahlah, Hen. Aku tidak tahu, sekarang aku mau menenangkan pikiranku dulu. Jika aku berminat, aku akan menghubungi kamu. Sekarang kamu pergilah, nanti kamu terlambat berangkat kerjanya. Dan bisa bisa kamu dipecat lagi, kan sayang dengan penampilan kamu."


"Baiklah, aku beri waktu satu hari. Kalau kamu tidak juga menghubungiku, berarti kamu menolaknya. Karena banyak yang mendaftar jadi sekretarisnya Pak Bos, tau sendiri perusahaan besar. Semua menginginkan untuk duduk di kursi sekretaris, dan siapa tahu saja nasib baik kamu."


"Kamu tenang saja, aku akan hubungi kamu jika aku berminat."

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat kerja. Buruan mandi, biar o*tak kamu jadi jernih."


"Iya iya iya! sana sana sana pergi." Usir Vina yang sudah tidak bisa menahan rasa lapar.


__ADS_2