
Arsy sudah tidak lagi terlihat batang hidungnya, hati Darma semakin sakit tatkala dirinya sudah mentalak istrinya. Nafasnya pun terasa panas, detak jantungnya pun bergemuruh hebat. Cinta yang sudah lama dijaga, kini hancur berkeping-keping tidak tersisa.
"Sekarang kamu puas, melihat Arsy yang sedang sakit dan juga harus menerima kenyataan pahit ini. Puas! kamu. Hah!" ucap Darma membentak.
"Ini kan keinginan kedua orang tua kamu mas, yang menginginkan keturunan. Lagian harta warisan juga akan jatuh ke tangan kamu. Siapa lagi? Yona? tidak mungkin." Jawab Zelyn dengan enteng.
"Terserah kamu, aku sudah muak." Ucap Darma langsung masuk kedalam gedung dan segera mengurus perceraiannya. Sedangkan Zelyn tersenyum puas, apa yang diinginkannya sudah dapat diraih dengan mudah.
Sedangkan Arsy sedang menyusuri jalanan sambil melamar pekerjaan. Apapun itu, Arsy berusaha mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
Arsy melihat toko yang lumayan cukup besar, Arsy mencoba mendatanginya toko tersebut. Berharap dirinya diterima untuk bekerja.
"Permisi, Pak..." ucap Arsy dengan santun.
"Iya, ada apa?" jawab bapak bapak yang sedang duduk di depan toko dan bertanya.
"Apakah toko bapak membutuhkan pekerja?" tanya Arsy sedikit gugup.
"Maaf, toko bapak sudah tidak membutuhkan karyawan. Karena karyawan disini sudah cukup." Jawabnya menolak.
"Tidak apa apa, pak.. kalau begitu saya permisi." Ucap Arsy kemudian segera pergi dan mencari tempat lain yang bisa menerimanya untuk bekerja.
Langkah demi langkah, Arsy berusaha untuk kuat dan sabar. Arsy tidak patah semangat untuk mendapatkan pekerjaan.
Tubuhnya yang dipenuhi keringat dan juga langkah kakinya yang semakin membuatnya lelah. Arsy pun merasakan tenggorokannya semakin kering, bagaimana tidak. Arsy yang sedari tadi berjalan dipinggiran jalan menyusuri toko toko maupun yang lainnya.
Dengan terik panas matahari Arsy masih melangkahkan kakinya, tiba tiba badannya terasa lemas. Tubuhnya pun sempoyongan, dirinya kesulitan untuk menopang tubuhnya. Kedua matanya pun berkunang kunang.
Brug... Arsy terjatuh, namun dengan sigap ada seseorang yang menangkapnya.
__ADS_1
"Aduh... pingsan lagi." Gerutu seorang laki laki.
"Tolong.. tolong.." seru laki laki tersebut meminta tolong.
Warga sekitar segera ikut menolong Arsy, kemudian membawa Arsy ke puskesmas terdekat. Kemudian Arsy diperiksanya, Arsy masih juga belum sadarkan diri. Namun tiba tiba Arsy mencoba membukakan kedua matanya dengan sempurna.
Arsy celingukan ke setiap sudut ruangan. Arsy bingung dengan keadaannya sendiri.
"Aku ada dimana?" tanya Arsy sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Mbaknya tadi pingsan di jalanan, dan ada seorang laki laki yang menemukan mbak jatuh pingsan. Kemudian memanggil warga sekitar, lalu membawa mbaknya ke puskesmas." Jawab salah satu perawat yang bekerja di puskesmas.
"Maafkan saya Sus, saya sudah merapat orang lain." Ucap Arsy tidak enak hati.
"Oh iya, sepertinya mbak kehausan dan juga lapar. Jadi... mbaknya jatuh pingsan. Dan ini ada makanan dan minuman untuk mbaknya. Silahkan dimakan, saya tinggal untuk meneruskan pekerjaan saya." Jawab si suster.
"Terimakasih banyak Sus, kalau begitu saya mau makan." Ucap Arsy merasa dirinya sangatlah memalukan. Karena baru pertama kalinya merasa kelaparan dan sampai jatuh pingsan.
"Boleh saya tau tidak Sus, lelaki yang menolong saya namanya siapa? siapa tahu suster mengenalnya." Tanya Arsy penasaran.
"Saya tidak mengenalnya mbak, dan saya rasa bukan warga sini. Karena terasa asing orangnya, mungkin saja orang yang lewat dan melihat mbak jatuh pingsan." Ucapnya menjelaskan.
"Oooh.. begitu ya, Sus. Kalau begitu maafkan saya yang sudah banyak tanya. Karena saya sangat berhutang budi terhadap orang yang sudah menolong saya." Jawab Arsy dan suster pun segera ke luar dari ruangan.
Arsy pun menikmati makanannya, karena Arsy terasa sangat lapar. Bagaimana tidak, sedari pulang dari tempat tujuan berjalan kaki dan tidak makan maupun minum bahkan istirahat pun tidak.
Setelah Arsy merasa sudah kenyang dan tubuhnya tidak lagi terasa sempoyongan, Arsy segera beranjak pergi dari puskesmas. Karena Arsy tidak ingin pulang terlambat, Arsy takut akan mendapatkan hukuman.
Karena sudah merasa lebih baik, Arsy langsung keluar dari ruangan. Dan setelah itu menghampiri salah satu suster. Namun sebelumnya kedua mata Arsy celingukan dengan pandangannya ke setiap sudut diatas.
__ADS_1
Kedua mata Arsy terbelalak dan tersenyum mengembang, karena apa yang Arsy cari telah dapat ditemukan.
"Suster, saya boleh bertanya dan meminta tolong tidak." Tanya Arsy penuh harap.
"Boleh, silahkan jika mau bertanya." Jawab suster.
"Di puskesmas ini ada CCTV nya, kan?" tanya Arsy penuh selidik.
"Ada mbak.. kenapa ya? jawab Suster menjawabnya dengan jujur karena dirinya tidak diberi kode oleh temannya.
" Boleh tidak, jika saya ingin melihat rekaman CCTV nya jam xx tadi. Saya penasaran, karena tiba tiba saya bisa berada di puskesmas ini." Ucap Arsy sambil memohon.
"Sebentar ya, mbak.. saya tunjukkan rekamannya." Jawab suster tersebut dan menunjukkannya kepada Arsy.
Dengan senyum mengembang, Arsy sangat senang karena pada akhirnya bisa mendapatkan informasi yang dicarinya.
Dengan seksama Arsy menatap layar tersebut dengan lekat tanpa berkedip. Detik berganti menit, Arsy menunggunya dengan sabar. Dan tiba tiba kedua mata Arsy terbelalak saat melihat seseorang yang menggendongnya. Arsy pun menatap layar tersebut penuh keheranan dan tentunya sangat shok.
"Apa.....!!!" seru Arsy mengagetkan semua suster yang tidak jauh jaraknya dari Arsy. Karena kurang percaya, Arsy melihatnya semakin dekat pandangannya ke layar. Suster yang melihatnya pun heran.
"Jadi laki laki ini yang sudah menolongku, tapi kenapa bisa kebetulan. Tidak mungkin, pasti laki laki ini mengikutiku. Karena sedari aku menunggu angkot, laki laki ini belum juga pergi. Tetapi kenapa dia mengikutiku? apa benar benar takut jika aku kabur? aaaah jangan jangan dia juga menyaksikan pertengkaranku dengan mas Darma. Oooh tidak! apa kata dia. Pasti dia mentertawakan aku yang begitu menyedihkan. Apa jadinya jika aku pulang nanti, apa yang harus aku katakan. Pasti aku akan dihukum dan ditertawakan sepuasnya. Ditambah lagi aku belum mendapatkan pekerjaan lagi. Setiap tempat aku datangi semua menolakku." Gerutu Arsy yang tidak sadar telah diperhatikan oleh beberapa suster yang ada di dekatnya.
Arsy yang merasa kikuk oleh sikapnya sendiri, kemudian dirinya segera pergi meninggalkan puskesmas.
Setelah keluar dari puskesmas, Arsy bingung untuk pulang. Haruskah berjalan kaki atau naik angkot, sedangkan Arsy sedang mencari pekerjaan.
Namun Arsy tidak ingin jatuh pingsan lagi, akhirnya menunggu angkot lewat.
Disudut bibir Arsy tersenyum mengembang, Arsy merasa lega karena mobil angkot yang ditunggunya telah datang. Tanpa pikir panjang Arsy langsung naik angkot.
__ADS_1
Didalam perjalanan Arsy tidak ada henti hentinya mengingat rekaman CCTV di puskesmas. Arsy teringat dirinya saat digendong seorang laki laki.