Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Merasa tidak percaya


__ADS_3

Setelah itu, Arsy segera masuk ke kamarnya. Perasaannya pun diselimuti rasa takut dan juga cemas. Arsy tidak bisa lepas untuk memikirkan nasib pernikahannya, Arsy masih merasa bahwa pernikahannya sudah diujung tanduk.


Sedangkan Darma kini segera menemui kedua orang tuanya di ruang privat, yang dimana tidak dapat orang lain untuk menguping.


Ceklek, Darma membuka pintu. Dan dilihatnya Ayah dan Ibunya yang sedang duduk santai sambil menunggu putranya.


"Ayah, Ibu, ada apa?" tanya Darma penasaran.


"Duduk dulu, Darma." Perintah sang Ayah, Darma pun segera duduk berhadapan dengan Ayah dan Ibunya.


"Katakan, ada apa memanggil Darma?" tanya Darma kembali.


"Ayah ingin menanyakan yang kemarin, apa kamu siap?" jawab sang Ayah balik bertanya. Sedangkan sang Ibu masih fokus mendengarkan obrolan putranya dengan suaminya.


"Maksud Ayah apa? menikah lagi?" tanya Darma sedikit bimbang.


"Iya, Darma. Apakah kamu mau? jika kamu bersedia menikah lagi, maka Ibu dan Ayah akan mencarikan calon istri untuk kamu." Jawab sang Ibu segera menimpali.


"Apa? tapi Bu..." ucap Darma cemas.


"Kamu dan Raska adalah satu keturunan. Hanya saja, Ibumu adalah adik dari Ayahnya Raska. Dan itu sudah menjadi ketetapan kakek kamu. Jika Ibumu ingin memiliki harta 50% maka kamu harus memiliki seorang anak laki laki. Tetapi jika kamu tidak berhasil, maka 75% adalah milik Raska." Ucap sang Ayah mengingatkan.


Darma hanya tertunduk diam, sebenarnya Darma tidak membutuhkan harta warisan 50%. Darma hanya menginginkan untuk menerima Arsy dengan keadaan apapun. Namun Darma sendiri tidak dapat memungkiri, jika dirinya pun juga membutuhkan kehangatan. Darma sendiri takut jika sudah menodai Arsy lalu menceraikannya. Pastinya akan membuat Arsy depresi.


"Ayo jawab, kenapa kamu diam?" tanya sang Ayah yang sudah tidak sabar dengan jawaban dari Putranya.


"Terserah Ayah, Tapi Darma meminta satu syarat sebelum satu minggu keputusan. Apakah Ayah akan menyetujuinya?" jawab Darma balik bertanya.


"Baiklah, katakan apa permintaan kamu." Tanya sang Ayah.


"Darma ingin pindah rumah dalam satu minggu. Apakah Ayah menyetujuinya?" jawab Darma meminta.

__ADS_1


"Baiklah, jika kamu gagal menunjukkan perkembangan istrimu dengan baik. Maka hari itu juga kamu akan menikah dengan wanita pilihan Ayah dan Ibumu." Ucap sang Ayah menantang.


"Darma siap dengan keputusan Ayah dan Ibu. Kalau begitu, Darma masuk kamar untuk bersiap siap pindah." Jawab Darma dan diberi anggukkan oleh kedua orang tuanya, lalu Darma segera keluar dari ruangan privat.


Arsy masih duduk berdiam diri didepan cermin, dengan lekat Arsy menatap wajahnya. Namun tiba tiba dirinya merasakan sesuatu dibagian perutnya, Arsy merasa bahwa perutnya tidak karuan.


Ada apa dengan perutku, kenapa rasanya begitu sakit. Mungkinkah penyakitku kambuh lagi. Batin Arsy sambil memegangi perutnya, kepalanya pun terasa pusing. Keseimbangannya pun tidak dapat menyangga tubuhnya sendiri.


"Mas Darma.... mas.. sakit..." ucap Arsy lirih sambil menahan sakit dan memegangi perutnya. Dan saat itu juga Darma tengah masuk di dalam kamar, dan dilihatnya sang Istri meringkuk kesakitan.


Darma yang melihatnya segera mendekati sang istri. Perasaannya pun cemas dan juga takut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Darma diikuti rasa cemas.


"Sa...kit, Mas." Jawab Arsy langsung tidak sadarkan diri. Darma pun segera menggendong istrinya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Sayang, kamu yang kuat sayang.. percayalah, kamu pasti akan sembuh." Ucap Darma berkali kali dalam perjalanan.


Darma yang sedang menunggu diluar, perasaannya pun tidak karuan. Darma sangat takut jika harus kehilangan istri tercintanya, Darma tidak ada henti hentinya berdoa untuk kesembuhan istrinya.


Setelah itu, Dokter pun keluar. Darma dengan cepat langsung menanyakan keadaan istrinya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Darma dengan cemas.


"Maaf, Tuan... kondisi istri Tuan sangat lemah. Saya tidak bisa memastikan hasil baiknya, tetapi saya akan terus berusaha untuk menyembuhkan istri Tuan." Jawab sang Dokter menjelaskan.


"Terimakasih, Dok..." jawab Darma lesu dan juga sedih.


Tiba tiba ponsel Darma mendapat panggilan, Darma pun segera menerima panggilan tersebut dari nomor telfonnya.


"Apa.....!!!! kecelakaan? tidak mungkin, ini pasti bohong." Jawab Darma saat menerima panggilan. Darma pun segera mematikan ponseknya.

__ADS_1


"Tidak mungkin, ini pasti bohong. Aku tidak percaya, jika kedua orang tua Arsy kecelakaan. Ini pasti penipu, tapi... jika benar?" gerutu Darma semakin tidak karuan didalam pikirannya. Ditambah lagi dengan kondisi istrinya yang semakin buruk. Dengan sigap Darma segera mencari keberadaan kedua orang tua Arsy, yang tidak lain dirumah sakit yang sama.


Sedangkan Arsy masih tertidur pulas karena obat biusnya. Dengan perasaannya yang begitu cemas, Darma berusaha untuk kuat menghadapinya.


Seperti apa jadinya jika Arsy mengetahui kabar ini. Aku benar benar tidak dapat membayangkannya. Batin Darma sedih.


Kedua mata Darma terbelalak saat melihat kerumunan, jantungnya bergemuruh dan nafasnya pun terasa sesak didadanya. Dengan pelan Darma segera menghampiri kerumunan para suster.


"Maaf, Pak. Ada musibah apa, Pak?" tanya Darma kepada salah satu orang di dekatnya.


"Itu loh, mas. Ada suami istri kecelakaan, dan kondisinya keduanya sangat kritis." Jawabnya.


Seketika itu juga, Darma tidak dapat menopang tubuhnya sendiri hingga terjatuh.


"Mas, mas... bangun Mas." Ucap Bapak bapak tadi segera mengangkat tubuh Darma dibantu oleh yang lainnya. Darma pun akhirnya duduk dan bersandar, seakan dunianya gelap.


"Tanyakan identitasnya Pak, aku mohon..." ucap Darma memohon.


"Baik, Mas. Akan saya tanyakan sekarang juga." Jawabnya.


Tidak lama kemudian, Bapak bapak yang tadi segera menghampiri Darma untuk memberikan informasi.


"Maaf Mas, lumayan lama. Korban kecelakaan di jalan Xxx adalah suami istri kisaran umur yang laki umur xxx dan yang perempuan xxx. Mereka berdua bernama Heninda dan Handoyo. Keduanya tidak dapat tertolong, Mas..." jawabnya.


Deg.... Darma seperti tersambar petir.


"Apa....!!!! tidak.........!!!!!" ucap Darma lantang dan sangat nyaring. Orang orang yang didekatnya pun sontak kaget dan menutup telinganya masing masing. Termasuk Bapak bapak yang sudah memberi informasi untuknya. Tubuhnya semakin tidak berdaya, dunianya terasa gelap. Entah apa yang harus disampaikan untuk istrinya, benar benar menyakitkan. Pikir Darma yang tidak tau harus berbuat apa, yang dimana istrinya masih terbaring di rumah sakit.


Berulang kali Darma mengatur pernafasannya agar tidak terasa sesak. Namun tetap saja, Darma benar benar tidak kuasa untuk menahan kesedihannya.


Dengan langkahnya yang gontai, Darma berusaha kuat untuk menemui jenazah kedua orang tua Arsy dan ditemani kedua Bapak bapak. Dan tidak lama kemudian, kini Darma sudah berada didepan dua jenazah yang sangat dia hormati. Dan kini kedua mertuanya sudah terbujur kaku dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2