
Dipagi harinya, Arsy yang merasa khawatir akan keadaan sang suami langsung mengambil ponsel yang berada diatas meja. Sambil duduk didepan cermin, Arsy menelfon sang suami.
Tidak lama kemudian, Darma langsung mengangkat telfonnya. Perasaannya pun cemas dan juga takut tentunya.
"Halo, sayang.. sapa Darma dari seberang terlfon.
"Halo juga, mas.. bagaimana kabarnya?" jawabnya dan menyapa kabar.
"Kabarku baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya." Jawab Darma dengan senyum merekah.
Tiba tiba telfon pun dirampas oleh Zelyn, kemudian langsung dimatikan. Sedangkan Arsy bingung dibuatnya, karena tiba tiba sambungannya terputus begitu saja.
"Perasaan tidak ada kendala, kenapa bisa mati. Apa baterainya habis? aaah bisa jadi begitu. Biarlah nanti aku telfon lagi, sekarang aku mau mandi terlebih dahulu." Gerutu Arsy tanpa ada rasa curiga terhadap sang suami. Karena hubungan Arsy dan Darma selalu dilandasi dengan kejujuran, jadi Arsy tidak pernah berprasangka buruk terhadap suaminya sendiri.
Sedangkan Darma dan Zelyn sedang panas hati karena masalah menelfon.
"Kenapa kamu rampas ponselku, dan kenapa kamu mematikannya juga. Bukankah kamu sudah aku nikahi, dan sekarang kamu sudah menjadi istrku. Lantas apa lagi yang kamu inginkan?" Ucap Darma semakin kesal.
"Lupakan Arsy, dan cintai aku." Jawab Zelyn dengan tatapannya yang penuh kesal.
"Tidak mudah bagiku untuk mencintai seseorang. Asal kamu tahu, aku masih mencintai Arsy. Bukankah aku sudah mengatakannya kepada kamu, apa kamu bisa membuatku jatuh cinta denganmu? apakah kalimat tersebut kurang jelas? aaah sudahlah. Hari ini aku mau pulang, jika kamu mau ikut aku silahkan. Jika tidak mau ikut juga itu urusan kamu." Jawab Darma yang kemudian segera bersiap siap untuk pulang ke rumah orang tuanya. Zelyn hanya terdiam tanpa bersuara.
Mau tidak mau, Zelyn tetap mengikuti kemana Darma tinggal. Zelyn pun segera bersiap siap untuk mengikuti Darma.
"Nak Darma.. mau kemana?" tanya Ibunya Zelyn.
"Mau pulang, Bu.. ada pertemuan penting di perusahaan. Saya pamit, dan sampaikan salam saya kepada Bapa." Ucap Darma berpamitan.
__ADS_1
"Ma... Zelyn ikut pamit ya, ma... salam buat papa. Nanti Zelyn telfon mama setelah sampai dirumah mas Darma." Ucap Zelyn yang juga ikut berpamitan.
Dengan langkah kaki yang cepat, Zelyn langsung mengejar suaminya yang sudah berada di dalan mobil.
Selama perjalanan, Darma hanya terdiam tanpa sepatah katapun yang terucap di mulutnya. Entah apa yang dipikirkan oleh Darma, mungkin saja dirinya teringat akan istrinya yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Ditambah lagi malam ini Arsy akan tidur sendirian, sedangkan Yona beralasan ada acara di Kampusnya.
Sayang... sedang apa kamu sekarang? aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku yakin, kamu sangat khawatir soal ponselku yang tiba tiba sambungan terputus." Batin Darma sambil melamun.
Zelyn yang sedari tadi hanya cemberut tatkala Darma tidak memperdulikannya. Zelyn sesekali melirik sangat suami, namun Darma tidak sedikitpun meresponnya. Darma masih fokus pandangannya ke depan.
Tidak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Darma telah sampai di halaman rumah kedua orang tuanya. Kemudian Darma segera turun dari mobil tanpa memperdulikan Zelyn, lalu langsung masuk kedalam rumah diikuti Zelyn dari belakang sambil menenteng tas bawaannya yang berisi pakaiannya.
"Loh loh... kenapa kalian berdua sudah pulang, ada masalah?" tanya Nyonya Ferly penasaran, karena pulang diwaktu yang masih sangat pagi. Keduanya masih sama sama terdiam, Darma sendiri tidak merespon pertanyaan dari sang ibu. Justru dirinya langsung masuk kedalam kamar. Zelyn langsung mengekori sang suami.
Didalam kamar, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu Darma langsung menjatuhkan badannya ditempat tidur.
"Memangnya yang kamu mau itu, apa? hah!" jawab Darma sedikit membentak.
"Aku kan sudah menjadi istrimu, lantas kenapa kamu perlakukanku seperti ini." Ucap Zelyn tanpa ada rasa bersalah.
"Kamu lihat itu foto, tanyakan kepada foto itu. Sakit tidak jika diduakan? tanyakan! cepat!" bentak Darma semakin memuncak emosinya.
Zelyn hanya terdiam, dirinya tidak berani menjawab. Ditambah lagi Darma yang sedang dikuasai oleh emosinya.
"Kalau kamu merasa tidak punya malu, tidurlah dikamar ini. Kalau kamu masih punya rasa malu, keluar! dan cari kamar kamu sendiri dirumah ini." Ucap Darma yang masih dipenuhi emosinya.
Karena Zelyn merasa terpojok dirinya segera keluar dengan langkah kakinya yang begitu cepat. Kemudian dirinya segera menghambur kepelukan Nyonya Ferly dibarengi tangisnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Zelyn?" tanya ibu mertua penasaran.
"Mas Darma masih belum bisa menerima Zelyn, bu.." jawab Zelyn sambil pura pura menangis.
"Kamu sabar, ya... percayalah sama Ibu. Nanti Darma juga bakalan jatuh cinta denganmu. Karena Darma sudah terlanjur dengan Arsy, dan ditambah lagi Arsy tidak bisa memiliki keturunan. Jadi wajar, jika Darma sangat terpukul. Kamu yang sabar, ya..." jawabnya.
"Iya, bu.. tapi perasaan Zelyn sakit, karena mas Darma berubah menjadi keras." Ucap Zelyn sambil berpura pura menghapus air matanya.
"Sekarang lebih baik kamu ikut sarapan bersama mama. Pasti kamu belum sarapan, kan?" ajak ibu mertua.
"Iya, bu... karena tadi mas Darma buru buru untuk pulang. Padahal mama sudah menyiapkan sarapan pagi. Tapi mas Darma sudah bersiap siap untuk pulang, mau tidak mau Zelyn mengikuti mas Darma." Jawab Zelyn beralasan.
"Ya sudah, ayo kita sarapan." Ajaknya.
Sedangkan Darma didalam kamar merasa sangat prustasi akan statusnya yang beristri dua. Darma benar benar tidak bisa membayangkannya, bahkan diluar pikirannya memiliki istri dua.
Aku pulang ke rumah Arsy saja, apa ya... aku sangat merindukannya. Meski aku tidak bisa mendapatkan pelayanan yang normal. Tetapi aku merasa nyaman berada didekatnya, sikapnya yang lembut dan perhatiannya yang tidak diragukan lagi. Tapi.... aku sudah menyakiti perasaannya tanpa dia tahu. Batin Darma dengan perasannya yang berkecamuk.
Dilain sisi, Arsy masih duduk di ruang makan bersama Yona adik iparnya. Keduanya sedang menikmati sarapannya, tidak ada suara selain suara dentingan sendok yang saling beradu.
Setelah selesai sarapan, Arsy membereskan meja makannya dan dibantu salah satu pelayan rumah. Sedangkan Yona kini tengah bersiap siap untuk kembali kerumah orang tuanya. Dikarenakan Yona akan ada acara di Kampusnya, mau tidak mau Arsy akan tinggal dirumah sendirian. Dirinya hanya akan ditemani oleh pelayan rumahnya.
"Kak Arsy, maafkan Yona ya, kak... jika mulai malam ini Yona tidak bisa menemani kakak tidur dirumah ini. Kak Arsy tidak marah, kan? nanti jika acara di Kampus sudah selesai dan kak Darma belum juga pulang, Yona akan datang kemari untuk menemani kakak lagi." Ucap Yona berpamitan dan berjasa basi.
"Tidak apa apa, kakak tidak marah. Lagian dirumah ini banyak orang, dan kakak bisa meminta salah satu pelayan untuk menemani kakak tidur dikamar." Jawab Arsy berusaha tersenyum.
"Kalau begitu, Yona pamit pulang. Jaga diri kakak baik baik, jika ada sesuatu yang kakak butuhkan tinggal telfon Yona atau kak Darma." Ucap Yona kemudian langsung memeluk Arsy dan segera pergi meninggal rumah orang tua Arsy.
__ADS_1