
Arsy yang kemudian bersandar dan meluruskan kakinya sambil bersandar diatas tempat tidur, Darma segera membuatnya teh hangat untuk sang istri agar bisa menghangatkan didalam tubuh istrinya. Tidak lama kemudian, Darma pun sudah membuatkan teh hangat untuk sang istri dan segera memberikannya kepada Arsy.
"Sayang, minumlah selagi hangat. Agar badanmu tidak terasa dingin, kasihan kesehatan kamu." pinta Darma sambil memberikan teh hangatnya.
"Tapi aku tidak haus, dan aku hanya merindukan Mama, Papa, dan juga kak Reno." Jawab Arsy sambil mengelus elus lututnya.
"Setidaknya kamu minum walau hanya seteguk. Percayalah denganku, suatu saat nanti pasti kamu dan kakak kamu akan bertemu. Mungkin belum waktunya, dan akan ada waktu yang lebih tepat untuk dipertemukan." Ucap Darma meyakinkan dan memberikannya lagi secangkir teh hangat buatan sang suami.
"Baiklah, aku nurut." Jawab Arsy yang kemudian langsung mengambil secangkir teh yang Darma berikan. Arsy pun segera meminumnya, karena sebenarnya juga merasa haus dan dingin. Namun Arsy sengaja tidak ingin merepotkan sang suami.
"Bagaimana perasaan kamu, apakah masih ada yang membuatmu cemas?" tanya Darma penasaran.
"Aku akan mencobanya untuk kuat dan sabar, aku pun ingin segera sembuh." Jawab Arsy setegar mungkin.
"Aku sudah membacanya semua. Kamu yang sabar ya, sayang.. aku akan membantumu untuk mencari informasi tentang kakak kamu." Ucap Darma meyakinkan.
"Lagi lagi aku harus berterimakasih dengan kamu, Mas... sekarang aku ini menjadi yatim piatu, dan sebatang kara." Jawab Arsy lesu.
"Aku ini suami kamu, jika sampai aku membuatmu terluka dan menangis, atau bersedih. Maka, akupun akan jauh lebih sedih." Ucap Darma mengingatkan.
__ADS_1
"Aku akan berusaha sekuat mungkin dan sesabar mungkin untuk melewati semua beban ini, terkadang aku ingin menyerah. Tetapi aku ingat akan panjang perjalananku untuk mencari kak Reno.
"Lalu bagaimana malam ini? apakah kita akan tidur dikamar ini?" tanya Darma yang tersadar masih berada dikamar kedua orang tua Arsy.
"Tidak, kita akan tidur dikamarku. Maksudku dikamar kita." Jawab Arsy lupa bahwa Darma sudah menjadi suaminya.
"Baiklah, ayo aku gendong." Ucapnya, tanpa pikir panjang langsung menggendong sang istri. Arsy pun tersenyum bahagia karena sikap Darma yang begitu perhatian terhadap istrinya.
"Didalam kamar, Arsy merebahkan tubuhnya dan memandangi langit langit kamar. Yang dimana sudah ia tinggalkan saat dirinya menjadi istri Darma. Begitu juga dengan Darma ikut berbaring disamping istrinya ditempat tidur, keduanya sama sama satu arah pandangan yaitu langit langit kamar.
"Mas, boleh tidak aku mengatakan sesuatu. Dan aku meminta sama mas Darma untuk menjawab dengan jujur." Tanya Arsy penuh harap sambil ganti posisi, hingga keduanya saling menatap.
" Benar ya, baiklah. Aku ingin bertanya sesuatu hal, apa yang akan aku katakan menyangkut hubungan rumah tangga kita. Bukannya aku tidak percaya dengan kamu, Mas... tapi.. aku ingin memastikan dan ingin mendengarnya sendiri dari mas Darma." Ucap Arsy sedikit cemas jika pertanyaannya akan menyinggung perasaan sangat suami.
"Katakanlah, aku akan menjawabnya dengan jujur." jawab Darma mencoba meyakinkan sang istri.
"Mas... seandainya aku benar benar tidak bisa memberimu keturunan, lantas apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arsy dengan pelan dan lirih.
Deg... terasa tersambar petir atas pertanyaan dari istrinya. Darma pun langsung terdiam, bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri. Darma berusaha mengatur pernafasannya, agar tidak terlihat gugup maupun tegang.
__ADS_1
"Aku akan melakukan yang terbaik untukmu, sayang.. aku akan tetap mencintaimu dan menerima kamu apa adanya. Kita bahagia tidak perlu memiliki keturunan, masih ada jalan lain yang bisa membuat kita bahagia. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu, aku akan selalu bersamamu. Kamu jangan larut dalam kesedihanmu." Jawab Darma dengan tatapan serius.
"Jika kedua orang tuamu tetap ingin memiliki seorang cucu, apa yang akan kamu lakukan. Apakah kamu akan menikah lagi?" tanya Arsy dengan pertanyaan yang seolah oleh mencari sela untuk mengetahui seberapa besar cintanya Darma terhap Arsy.
"Menikah lagi? sekejam itukah aku? yang jelas akan ada pertimbangan. Kamu dan Aku, itu sulit untukku menduakanmu. Aku tidak akan melakukan yang membuatmu terluka. Sudahlah, jangan membahas hal hal yang membuat kita menjadi salah paham. Lebih baik kita fokus akan kesembuhan kamu. Apakah kamu mengerti?" jawab Darma sebisa mungkin untuk meyakinkan Arsy. Agar sang istri tidak begitu mencemaskan akan kondisinya yang masih sakit.
"Aku takut disaat aku benar benar membutuhkan kamu tapi... kamu meninggalkan aku demi wanita lain. Aku tidak bisa membayangkan itu, aku tidak mempunyai siapa siapa lagi. Aku sebatang kara, yang dimana asal usulku saja aku tidak mengetahui." Ucap Arsy dan menitikan air matanya hingga berlinanglah air mata. Darma langsung menghapua air matanya, perasaannya pun tidak karuan.
Bagaimana bisa aku akan menyakitinya, sedangkan istriku saja dalam keadaan yang sangat miris. Ditambah lagi kedua orang tuanya sudah tidak ada, dan kakaknya pun entah dimana. Mungkinkah sudah tiada, atau.. masih hidup. Aku saja belum pernah melihatnya, semoga apa yang dicari dapat ditemukan. Batin Darma dalam kecemasannya.
"Kenapa kamu masih membahasnya, sayang... apa yang kamu inginkan dariku, katakan. Aku akan penuhi permintaan kamu dan aku akan berjanji untuk kamu." Jawab Darma meyakinkan istrinya seyakin yakinnya. Darma benar benar sudah tidak mempunyai jawaban lagi selain menerima permintaan dari sang istri. Sedangkan Arsy masih terdiam, dirinya pun bingung dan juga takut. Entah kenapa, Arsy tidak percaya dengan janji. Mungkin karena dirinya sudah mendengar pembicaraan kedua orang tua Darma saat membicarakan tentang keturunan.
"Kenapa kamu diam, katakanlah. Kamu tidak perlu cemas, aku akan memberi apa yang kamu inginkan." Ucap Darma yang mencoba menenangkan istrinya, meski dirinya pun bingung untuk memberi jawaban kepada sang istri.
"Aku tidak percaya dengan janji, semua bisa hilang dari ingatan." Jawab Arsy dengan perasaannya yang sedikit resah.
"Lantas apa yang bisa membuatmu percaya, sayang? katakan. Apa yang bisa kita lakukan, maka kita harus melakukannya. Jika memang kata janji tidak kamu percayai, lantas aku harus bagaimana?" tanya Darma semakin bingung menanggapi sang istri.
"Aku tidak tahu, aku hanya takut kehilangan kamu. Aku takut akan mimpi buruk yang berkepanjangan, aku takut semua itu. Aku tidak bisa melupakan ucapan ucapan dari kedua orang tuamu, sepertinya akan tetap memaksa kamu untuk menikah lagi." Jawab Arsy kemudian ganti posisi dan membelakangi sang suami, Arsy pun menangis lagi. Perasaannya terasa sakit, jantungnya bergemuruh. Arsy merasa hidupnya benar benar hancur, tidak memiliki harapan. Semua terasa sudah lebur bersama harapannya yang begitu membara.
__ADS_1
"Sayang... percayalah, aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku sangat mencintaimu..." bisik Darma sambil memeluk istrinya.