
Vina masih berdiam diri dengan posisinya yang masih berdiri sambil melamun.
"Vin, ayo kita masuk." Ajak Arsy mengagetkan.
"Kita masuk, kak? aaah ... aku terasa berat untuk kembali ke rumah ini. Aku tidak pantas tinggal dirumah sebagus ini, aku takut." Jawab Vina sambil memasang wajah memelasnya.
"Ini rumah suami kamu, jangan takut. Suami kamu orangnya sangat baik, dan juga tidak seburuk yang kamu bayangkan. Percayalah, suami kamu tidak sejahat yang kamu kira." Ucap Arsy meyakinkan. Sedangkan Raska hanya melirik dengan sedikit memasang muka masamnya.
"Ehem ehem." Raska yang pura pura batuk, Arsy yang merasa tersindir dengan ucapannya sendiri pun memilih untuk diam.
'Iya, aku percaya. Mantan suami, pastinya masih membekas pelukannya. Apalagi ya, ciuman bibirnya. Tapi kalau anu aku rasa belum, karena aku lah pemilik mahkotanya. Aah! kenapa pikiranku menjadi kotor tentang mereka berdua.' Batinnya dengan kesal.
"Tapi aku takut, mana orangnya tidak nyambungin lagi." Jawab Vina dengan entengnya, sedangkan Raska yang mendengarnya hanya menahan tawa.
"Kak Vina jangan takut, kan ada Hanum." Ucap Hanum ikut menimpali. Vina pun segera memeluk Hanum dengan erat, rasanya tidak ingin berpisah dengan Hanum.
"Iya, Hanum. Kakak tidak akan takut, terimakasih untuk Hanum. Karena Hanum mau mengantar kakak sampai di rumah suami kakak." Jawab Vina berusaha untuk tenang didepan Hanum, meski hati kecilnya menolaknya.
'Cih! suami, kenapa dengan mudahnya mulutku mengatakan suamiku.' Batin Vina mengutuki dirinya sendiri.
"Ayo kak, kita masuk." Ajak Hanum sambil menarik tangan Vina, sedangkan Vina sendiri tidak bisa melakukan penolakan pada Hanum. Mau tidak mau, Vina tetap mengikuti langkah kaki Raska dan Arsy.
Setelah sampai di ruang tamu, Vina sudah dikagetkan dengan adanya pelayan di rumahnya.
__ADS_1
'Perasaan tadi masih sepi, kenapa sudah ada pelayan. Kapan datangnya, dan kenapa rumahnya langsung terlihat adem. Bukannya tadi serasa panas dan tidak nyaman, kenapa sekarang sudah sangat berbeda.' Batin Vina merasa tidak percaya.
"Panggil suami kamu dong, Vin. Apa iya, aku yang harus memanggilnya?" Ucap Arsy, lagi lagi Raska melirik kearah istrinya dengan tatapan yang sangat tajam. Arsy yang mengerti maksud dari suaminya hanya melempar senyum manisnya, berharap sang suami akan reda emosinya.
"Tapi ... aku takut, bagaimana kalau kak Rasa saja yang memanggilnya." Jawab Vina beralasan.
"Dalam keluarga kami, seseorang yang bukan pemiliknya dilarang masuk ke kamar. Terkecuali, sang istri maupun sang suami. Karena kamar adalah aib, yang dimana harus dijaga dengan baik. Jadi .. aku tidak bisa menemui Darma di kamarnya, meski kita berdua sama sama laki laki. Tetapi, kamar tersebut kamar suami istri. Jadi, lebih baik kamu yang masuk dan memanggil suami kamu untuk turun. Katakan saja, ada Raska di ruang tamu bersama istrinya." Ucap Raska beralasan.
"Baiklah, kalau itu yang kak Raska minta. Aku akan panggilkan pak Darma untuk segera menemui kak Raska dan kak Arsy." Jawabnya dengan perasaan kesal. Mau tidak mau, Vina langsung memanggil suaminya yang sedang berada di dalam kamar."
Dengan pelan, Vina menapaki anak tangga. Meski sangat berat, dan dengan terpaksa. Setelah sampai di depan pintu kamar, dengan ragu Vina untuk membukanya.
'Kira kira didalam kamar sedang ngapain, ya? aku takut jika kenyataannya sedang duduk manis. Kemudian, menghakimi aku yang tidak tidak. Mana aku sudah berpamitan pulang, dan tidak menerima pernikahan. Kenyataannya aku sudah berada di rumah ini lagi, mam*pus aku.' Batin Vina sambil berkacak pinggang. Dengan terpaksa, Vina membuka pintunya dengan pelan.
Ceklek, Vina membuka pintunya. Kemudian, Vina langsung masuk begitu saja. Vina celingukan mencari keberadaan Darma di setiap sudut ruangan kamarnya. Namun, tetap saja tidak dapat ditemukan sosok Darma didalam kamar.
"Heh! Nyi Jantur. Ngapain kamu masuk ke kamar tidak permisi, kamu sengaja ingin melihatku yang tampan ini." Ucap Darma sambil mendekati Vina yang ketakutan. Posisinya pun masih tidak berubah, Vina masih menutup kedua matanya sangat rapat.
"Cepat pakai baju kamu, aku tidak mau melihatmu dengan penampilanmu yang seperti itu. Aku tidak ingin kedua mataku menjadi kotor karenamu." Ucap Vina yang masih menutup kedua matanya.
Dengan tenaganya yang kuat, Darma memaksa Vina untuk melepsskan kedua tangannya yang tengah menutupi kedua matanya.
"Aku mohon, jangan lepaskan. Lebih baik kamu kenakan pakaian kamu, aku tidak terbiasa melihat laki laki berte*lanjang dada." Ucapnya seraya memohon.
__ADS_1
"Makanya lepaskan, agar kamu terbiasa melihatku." Jawabnya dan berhasil melepaskan kedua tangannya.
"Sekarang sudah jelas, 'kan? ada apa tiba tiba kamu masuk ke kamar. Bukannya kamu tau pamit pulang, kenapa sekarang sudah ada disini?"
"Aku sudah pulang, bahkan sudah sampai didepan rumah. Tapi ....." ucapnya terhenti.
"Tapi, kenapa?"
"Kak Raska dan kak Arsy sudah menunggu didepan rumah, dan yang mengantarkan aku kembali kesini. Sekarang keduanya sudah menunggu Pak Darma diruang tamu." Jawabnya sambil menunduk, sedangkan Vina benar benar tidak berani menatap wajah suaminya. Ditambah lagi yang belum mengenakan pakaiannya, benar benar bikin jantungnya terasa mau copot, pikir Vina.
'Arsy? kenapa sih, kamu masih saja menunjukkan wajahmu dihadapanku. Kamu tahu, aku sangat kehilangan kamu, kenapa kamu hadir didepanku. Sungguh, aku belum bisa melupakan kamu. Meski kamu sudah bahagia dengan Raska, kenyataannya aku masih mencintaimu.' Batin Darma sambil melamun.
"Pak Darma, kenapa melamun. Cepetan pakai bajunya, kasihan kak Raska dan kak Arsy." Ucap Vina mengagetkan.
"Iya, katakan kepada mereka. Aku akan segera turun, sejarang lebih baik kamu temui mereka dan temani mereka." Jawabnya, kemudian segera mengambil pakaiannya didalam lemari. Sedangkan Vina segera turun, dan kembali menemui Raska dan Arsy.
Sedangkan Raska dan Arsy masih saling diam, keduanya sama sama hening. Karena merasa bersalah atas ucapannya, Arsy memulai membuka suara.
"Sayang, kamu kenapa cemberut. Kamu masih marah? aku kan hanya tidak ingin membuat Vina berprasangka buruk terhadap suaminya. Apa iya, aku harus menjelekkan sepupu kamu itu. Yang ada pernikahan Vina tidak bertahan lama, bahkan hari ini juga Vina sudah menggugatnya." Ucap Arsy lirih didekat suaminya.
"Iya, tapi jangan berlebihan gitu juga. Aku saja tidak pernah kamu puji didepan orang lain, lah Darma kamu puji puji begitu."
"Hem!! baiklah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan lagi memuji sepupu kamu itu, yang memujinya biar kamu saja sebagai sepupunya."
__ADS_1
"Tuh, kan ... modelnya. Hem! iya iya deh.Boleh memuji, tapi jangan berlebihan."
"Sama saja." Ucap Arsy singkat.