Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Pusat perhatian


__ADS_3

Selesai menikmati sarapan pagi, Darma dan Vina kembali merapihkan penampilannya. Sambil menunggu jemputan, Darma menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Begitu juga dengan Vina, dirinya pun ikut sibuk dengan ponselnya.


Darma yang baru saja memperhatikan istrinya dengan ekspresi senyum senyum, membuatnya penasaran. Darma segera mendekati istrinya karena rasa penasarannya.


"Ehem ehem!" suara Darma mengagetkannya.


"Eh! sayang, kenapa? batuk berdahak?" tanya sang istri yang tidak mengerti maksud dari suaminya itu.


"Kenapa kamu tersenyum senyum sendiri tidak jelas begitu, ada yang lucu?" tanyanya balik.


"Tidak, tidak ada yang lucu. Cuman gemes aja, kenapa."


"Aw!! mulai berani sekarang, ya." Ucap Darma kegelian karena ulah istrinya yang jail.


"Berani dong, kan suami sendiri." Jawabnya tersenyum lebar.


Tidak lama kemudian, mobil milik Darma pun sudah datang menjemputnya. Para tetangga berdecak kagum melihat mobil mewah mendatangi rumah Vina.


"Sayang, ayo berangkat. Kita sudah dijemput, cepetan ayo keluar." Ajak Darma yang sudah berdiri didekat istrinya, sedangkan Vina langsung menyambar tas miliknya. Kemudian, keduanya langsung keluar dan Vina sendiri mengunci pintu rumahnya.


"Vina, mau berangkat kerja?" sapa tetangga Vina yang sama usianya dengannya.


"Eh! iya, Nung. Aku mau berangkat kerja bareng suami, aku pamit dulu, ya ..." jawab Vina senyum ramah.


"Sukses deh buat kamu,Vin. Semoga nular ke aku, hati hati dijalan, Vin." Ucapnya, sedangkan Vina segera berangkat. Dirinya tidak ingin disangka yang tidak tidak oleh karyawan lainnya jika dirinya sering terlambat.


Didalam perjalanan, Vina dan Darma banyak mengobrol. Disamping Vina yang suka mengobrol, Darma pun merasa tidak kesepian. Kini dirinya sedikit demi sedikit dapat melupakan mantan istrinya yang pernah masuk dalam kehidupannya.


"Sayang, kamu yakin nih. Semua karyawan tidak akan mentertawaiku karena penampilanku ini." Tanyanya sedikit merasa gelisah, karena baru pertamakalinya Darma berpakaian warna yang cukup cerah. Ditambah lagi tidak memakai jas kerjanya, membuatnya merasa sedikit takut menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


"Tidak, tenang saja. Aku akan menemanimu sampai didalam ruangan kerja, jika ada yang berani membicarakanmu akan aku patahkan jari jemarinya." Jawab Vina tersenyum lebar.


"Hem!! jangan menunjukkan kekuatan kamu itu didepan karyawan lainnya. Nanti semua ketakutan melihatmu, nanti kamu akan ditakuti." Ucap Darma yang seketika itu juga dirinya teringat saat jari jemarinya diremas yang sangat kuat hingga tangannya memerah.


"Tidak lah, aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin melakukannya, jika tidak bersikap kasar terhadapku."


"Hem!! lalu, kenapa dulu kamu melakukannya padaku. Apa aku begitu kasar terhadapmu, aku rasa tidak."


"Hem! apa kamu lupa, ada kalimat kotor yang kamu ucapkan." Jawabnya, kemudian Darma baru teringat akan kesalahannya sendiri.


"Ah iya, mungkin kalimat itu yang menjadikan kita sepasang suami-istri. Buktinya kalimat itu sudah kita nikmati bersama, bahkan kamu sangat ..." ucapnya, Vina pun segera membungkam mulut suaminya agar tidak kebablasan.


"Malu, ah. Ada pak Bejo, tidak baik ngomongin yang begituan." Ucap Vina mengingatkan.


"Iya ya, sayang." Jawabnya, pak Bejo yang melihatnya dari kaca pun hanya tersenyum tipis sambil fokus dengan setirnya.


Tidak terasa sudah memakan waktu yang cukup lama, mobil yang ditunggangi Darma dan istrinya telah sampai didepan kantor. Semua tidak ada yang tidak melewatkan kedatangan Bos tampannya, siapa lagi kalau bukan Darma Nugraha.


Saat Darma keluar dari mobil mewahnya, semua karyawan terpenganga saat melihat penampilan Bosnya yang tidak pernah disangka sangkarnya. Semua karyawan berbisik saat melihat Bosnya mengenakan pakaian yang cukup berwarna, dan tidak serba gelap. Ditambah lagi tanpa mengenakan jasnya, semua menjadi terpesona melihatnya.


Namun, tiba tiba pemandangan para karyawan berubah drastis saat melihat sosok Vina turun dari mobil Bosnya. Semua kembali kecewa dan merasa kesal, lagi lagi harus Vina yang turun dari mobil, pikirnya.


Sesuai janji Darma, dirinya telah berjanji kepada istrinya sendiri. Bahwa Darma akan menggandeng tangan milik istri tercintanya, meski Vina sendiri sedikit malu dan juga gugup. Vina berusaha untuk tenang, dan pastinya tutup telinga agar tidak merasa sakit hati ketika rekan kerjanya telah membicarakannya dengan terang terangan.


"Sini, aku gandeng tangan kamu. Sesuai janjiku denganmu, aku akan membuktikan kepada mereka mereka. Bahwa kamu adalah wanitaku, bukan wanita orang lain." Ucap Darma meyakinkan.


"Kamu yakin? nanti banyak yang menghinaku, bagaimana?"


"Akan aku beri pesangon, bagaimana? beres, 'kan?"

__ADS_1


"Hem! kasihan tau, sama saja menghambat rizki orang lain."


"Salah sendiri, mulutnya ember."


Tanpa pikir panjang, Darma langsung menggandeng tangan milik istrinya. Semua karyawan tercengang saat melihat Vina digandeng tangannya, semua yang tidak menyukai Vina berdecak kesal, saat melihat Bosnya tengah menggandeng tangan Vina terlihat mesra.


Berjalan dengan santai, meski bercampuraduk rasanya. Vina berusaha untuk tenang, berharap untuk tidak mudah terpancing emosi saat mendengar cibiran cibiran dari orang orang yang tidak menyukainya.


'Ah! kenapa aku merasa terhakimi oleh semua karyawan, mana tatapannya seperti burung hantu lagi.' Batinnya sambil berjalan beriringan dengan suaminya.


Tidak lama kemudian, Vina dan Darma sudah berada di dalam ruangan kerja. Darma yang merasa risih karena bajunya yang terasa sedikit ketat dan sesak untuk bernafas, Darma segera mengganti pakaiannya.


"Sayang, kamu mau ngapain?" tanya Vina penasaran.


"Mau minta jatah sama kamu, kenapa?" jawab Darma menakut nakuti istrinya. Vina yang mendengarnya pun bergidik ngeri.


"Yang benar saja, bukankah semalam sudah?" tanya Vina semakin membuat Darma gemas.


"Aku mau mengganti pakaianku, baju adikmu terlalu kecil. Sangat sesak untuk bernapas, dan jugaan perutku jadi terlihat buncit. Sangat memalukan, 'kan?"


"Hem!! gitu, ya." Jawabnya sambil memassng muka masamnya, Darma pun segera mendekati istrinya.


"Jangan marah dong, sayang ... aku serius, aku tidak lagi bohong, sayang. Nanti temani aku untuk belanja pakaian, kamu yang akan memilihkannya untukku. Dan, aku akan mengenakan pakaian yang kamu pilihkan untukku. Kamu adalah istriku, kamu yang berhak mengatur penampilan suami kamu." Ucap Darma dan tersenyum, kemudian mengecup kening milik istrinya.


"Maafkan aku ya, sayang. Bukan maksudku untuk memaksamu mengikuti kehendakku, aku hanya ingin berbeda saja. Sekali lagi maafkan aku, dan aku tidak akan memaksamu lagi."


"Sudahlah jangan kamu bahas, aku tidak merasa diatur sama kamu. Justru aku merasa, bahwa kamu begitu perhatian denganku. Kamu begitu jeli dengan penampilanku, apalagi dengan yang lainnya. Aku yakin, kamu adalah wanita yang sangat teliti."


"Aah! jangan ngomong begitu, bajuku jadi terasa sangat engap dan susah untukku bernafas." Ucap Vina menyindir.

__ADS_1


"Aah sudah lah, kembali ke tempat kerja kamu. Aku mau mengganti baju sebentar, jangan ngintip." Perintah Darma sambil tersenyum menggoda.


"Das*ar me*sum."


__ADS_2