Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Sibuk memikirkan


__ADS_3

Waktu pun telah berganti, Saatnya Riko yang disibukkan dengan tugas yang telah diberikan oleh Bosnya sendiri. Apa lagi kalau bukan mencari sekretaris baru untuk dirinya, Riko benar benar prustasi dibuatnya.


"Hei, Rik. Kamu sedang ngapain? muka kamu kenapa terlihat masam begitu, apa ada masalah?" tanya temannya yang tidak sengaja mendapati Riko yang terlihat gelisah.


"Biasa lah, masih masalah yang kemarin itu." Jawabnya sambil memijat pelipisnya.


"Hem! turuti saja kemauan pak Darma, siapa tahu saja kamu mendapatkan hoki." Ledeknya tertawa lepas.


"Ejek terus ... bukannya untung, buntung mah iya."


"Lah, kenapa buntung. Siapa tahu saja nih ya, kamu mau mendapatkan hoki yang besar."


"Mana ada, yang ada mah apes berlipat lipat. Mana harus mencari yang lebih buruk, lagi. Memangnya tidak bikin pemandangan suram, kali ya."


"Sudahlah, ayo pergi ke kantin. Sambil menikmati makan siang, sambil memberi pemberitahuan. Bahwa kamu sedang mencari sekretaris baru, bila perlu sekalian istri." Ajaknya sambil meledek.


"Reseh, lu!" jawab Riko. Kemudian langsung pergi ke kantin untuk mengisi perut kosongnya.


"Riko, tunggu!! itu anak main pergi saja.


Sesampainya dikantin, Riko langsung memesan makanan untuk makan siang sekalian minumannya. Begitu juga dengan temannya yang barusan pun, ikut memesan makanan dan minuman. Setelah itu, ikut duduk dengan Riko.


"Riko, aku umumin saja di kantin ini, ya? biar semua pada daftar. Siapa tahu saja, kamu ada pilihan yang tepat di kantor ini." Ujarnya memberi ide.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau, aku mau nyari orang luaran saja. Bosan aku, karyawannya itu itu mulu." Jawabnya bergidik ngeri.


"Terserah kamu saja, Rik. Oh iya, memangnya mau berapa tahun tuh si Bos di luar kota. Sampai sampai kamu yang disuruh menggantikan posisi pak Darma.


"Aku kurang tahu, Ben! mungkin menetap diluar kota." Jawabnya menebak.


"Wah, bagus itu."


"Bagus apaan, hem."


Setelah cukup lama berbincang, pesanan makan siangnya milik Beni dan Riko telah datang. Kemudian, keduanya menikmatinya.


Tidak lama kemudian, Hendi duduk yang tidak jauh dari pandangan Riko. Karena penasaran, Riko memanggil Hendi untuk makan siang bersama satu meja.

__ADS_1


"Hendi," panggil Riko sambil melambaikan tangannya. Hendi yang merasa dipanggil, dirinya segera menghampiri Riko dan juga Beni sambil membawa porsi makan siangnya.


"Ada apa memanggilku?" tanya Hendi sambil membenarkan posisi duduknya.


"Tidak ada apa apa, aku hanya ingin mengajakmu makan bersama kita satu meja."


"Oh, aku kira ada apaan."


"Tumben, muka kamu dilipet kaya baju saja."


"Ada masalah?" tanya Beni ikut menimpali.


"Tidak, aku hanya merasa tidak bersemangat saja."


"Aku tahu," ucap Riko asal berucap.


"Sok tahu banget sih kamu, Rik." Ucap Beni menimpali.


"Kamu kenapa terlihat murung, Hen?" tanya Riko yang penasaran.


"Tidak, jangan dibahas. Nanti bisa membuat orang salah paham, Rik." Jawab Hendi sambil menyuapi mulutnya.


"Vina itu, istrinya pak Darma. Jadi, hati hati jika bertemu Vina. Bisa bisa pekerjaan kita bisa hilang, paham."


"Apa? Vina sekretaris baru itu, istrinya pak Darma?" tanya Beni tidak percaya.


"Iya, Ben. Vina, istrinya pak Darma. Tidak lama lagi, Vina dan pak Darma akan pindah ke luar kota." Jawab Riko menjelaskan, sedangkan Hendi yang mendengarnya pun terasa teriris hatinya. Dirinya segera bangkit dan meninggalkan kedua temannya, bahkan nafsu makannya pun hilang seketika.


"Hen, kamu mau kemana? apa kamu sedang ada masalah?" tanya Riko semakin penasaran.


"Lagi gelisah dia, bukankah sebentar lagi Hendi mau menikah dengan Klara. Karyawan yang terlihat cantik dan anggun." Ujar Beni ikut menimpali, sedangkan Riko langsung menendang kaki milik Beni dan mengagetkannya. Sedangkan Hendi tidak bersuara sepatah katapun, dirinya langsung pergi begitu saja.


"Kamu kenapa menendangku sih, Rik." Ucap Beni sambil mengunyah makanannya.


"Memangnya, kemarin itu kemana? ada berita heboh kamu tidak tahu."


"Berita heboh? maksud kamu apaan sih, Rik." Tanya Beni yang semakin penasaran.

__ADS_1


"Panjang, aku bukan wanita penggosip. Yang jelas, Hendi telah memutuskan hubungannya dengan Klara."


"Wah! yang benar saja, wanita cantik dan seksi seperti Klara diputusin, sayang sekali."


"Sana, buat kamu kalau mau. Aku sih, ogah! sama sekali tidak berminat." Ujar Riko sambil menyuapi mulutnya yang terakhir.


"Iya, kamu kan yang paling dekat dengan pak Darma. Sepertinya seleranya pun juga sama, hayo ngaku."


"Cih! sembarangan kamu nuduh aku, lihat saja nanti. Aku pastikan, aku akan mendapatkan wanita yang cantik pastinya."


"Seksinya ketinggalan, Rik."


"Ogah gue, punya istri cantik dan seksi didepan umum. Enakan mata laki laki yang lain, nonton gratis. Susah susah aku biayain dengan modal gede, nanti kamu yang tinggal nikmati penampilan istri tercinta ku. Cih! jangan harap, week." Jawab Riko sambil menjulurkan lidahnya, kemudian segera menghabiskan minumannya.


"Aaah! benar juga kata kamu. Pantas saja, pak Darma tidak memoles istrinya." Ucap Beni yang baru sadar dari ingatannya.


"Hem! kalau begitu, aku mau kembali ke ruangan kerjaku. Masih banyak tugas yang harus aku selesaikan." Ucap Riko, kemudian segera pergi meninggalkan kantin.


Disisi lain, Darma dan Vina kini sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Dikarenakan, tidak lama lagi akan pergi meninggalkan kantor yang lumayan cukup lama. Sampai sampai, keduanya lupa akan jam istirahatnya.


"Sayang, jam berapa ini?" tanya Darma yang malas untuk melihat jam.


"Sudah jam satu, sayang. Pantas saja, perutku terasa diobrak abrik. Ternyata aku sudah lapar, kita makan siang dulu, yuk ..." jawab Vina, kemudian membereskan meja kerjanya dan segera bangkit dari tempat duduknya.


Begitu juga dengan Darma, badannya pun sudah terasa sangat capek. Tidak hanya itu perutnya yang sedari tadi berbunyi seperti irama musik, Darma langsung membereskan meja kerjanya dan mematikan komputernya.


"Sayang, aku mau cuci muka terlebih dahulu. Agar terasa lesu dan mengantuk."


"Iya, sayang. Jangan lama lama, gantian." Jawab Darma sembari melepaskan sepatunya. Entah ada angin apa, Darma mengikuti gaya santainya Vina yang hanya mengenakan sandal jepitnya.


Vina yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa heran saat melihat suaminya yang mengenakan sandal jepit.


"Sayang, kenapa kamu melepas sepatu kamu? apa kaki kamu sedang sakit? katakan." Tanya Vina yang penasaran dengan perubahan pada suaminya itu.


"Aku melihatmu begitu nyaman saat mengenakan sandal jepit, aku rasa tidak ada salahnya jika aku mencobanya untuk mengenakan sandal jepitnya."


"Hem! nanti semua karyawan pada heboh, bagaimana?"

__ADS_1


"Biarin saja, viral. Bagus itu, dan pastinya kamu juga akan viral. Seperti yang kamu bilang kepadaku, tidak apa apa viral. Kita, tidak susah susah memperkenalkan diri kita dengan orang lain." Jawab Darma dengan santai dan tersenyum menggoda.


__ADS_2