Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah memakan waktu yang cukup lama diperjalanan, Arsy dan suaminya telah sampai di pemakaman. Kemudian keduanya segera turun dari mobil, lalu Darma menuntun sang istri untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.


Dengan tubuhnya yang gontai, Arsy berusaha untuk kuat dan tegar menghadapi musibah ini. Dengan perasaannya yang berkecamuk, Arsy tidak sanggup membendung air matanya. Berkali kali Darma menghapus air mata istrinya yang terus terusan menitikan air matanya.


"Sayang... sudah, ya... kamu jangan menangis terus. Kasihan Mama dan Papa, ikhlaskan. Agar tenang dialam sana, kamu cukup mendoakan. Tidak perlu meratapi kepergian Papa dan Mama. Semua akan mendapatkan gilirannya masing masing, mungkin sudah seperti jalan kehidupan Mama dan Papa. Jangan menangis lagi ya, sayang..." Ucap Darma mencoba menenangkan istrinya, agar tidak sampai pingsan.


Tidak lama kemudian, Kedua orang tua Darma telah datang. Lalu menghampiri Arsy dan Darma. Nyonya Ferly segera duduk disamping menantunya berusaha untuk menenangkan pikirannya.


"Nak... jangan menangis lagi ya, sayang... ada Ibu dan juga Ayah. Kamu yang sabar, karena nantinya kita juga akan mengalaminya. Yang terpenting kamu harus kuat, kasihan dengan kesehatan kamu. Jika kamu terus terusan bersedih seperti ini. Nanti yang sedih tidak hanya kamu, semua ikut bersedih. Karena apa? karena memikirkan keadaan kamu yang belum bisa ikhlas dengan kepergian kedua orang tua kamu. Kamu mengerti maksud Mama, kan?" Ucap Nyonya Ferly berusaha menenangkan menantunya.


"Iya, Ma... Arsy mengerti." Jawabnya singkat


"Ya sudah, kita tunggu yang lainnya ya, sayang..." ucap Ibu mertua.


Setelah Nyonya Ferly berhasil menenangkan kegundahan menantunya, kemudian segera berdiri karena kedua Jenazah orang tua Arsy telah sampai. Tidak hanya Nyonya Ferly, tetapi Arsy berusaha untuk tegar dan kuat.


Badan Arsy masih disangga oleh sang suami agar tidak jatuh pingsan. Setelah sampai, kini kedua jenazah kedua orang tua Arsy akan segera dimakamkan.


Dengan lekat, Arsy melihat wajah sang Ayah yang tidak disangkanya kini telah berpulang lebih dulu. Arsy berusaha membungkam mulutnya agar tidak menangis histeris. Begitu juga dengan Darma yang berusaha menenangkan istrinya agar tidak jatuh pingsan. Setelah pemakaman Ayahnya selesai, kemudian lanjut pemakaman sang Ibu tercintanya.


Lagi dan lagi, Arsy melihat wajah sang Ibu dengan lekat dan tubuhnya yang sudah dikafani. Arsy benar benar tidak menyangka jika kedua orang tuanya kini telah meninggalkannya. Sekuat mungkin Arsy berusaha untuk kuat, namun apa dayanya Arsy yang hanya makhluk lemah. Seketika itu juga, Tangis Arsy pecah, Darma pun langsung menenangkan istrinya. Namun tidak dapat untuk dipungkiri, Arsy pun tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Dan Arsy pun menyerah dan akhirnya jatuh pingsan.


Dengan sigap Darma langsung menangkap tubuh istrinya yang tengah jatuh.


"Sayang, kamu kenapa sayang.. sayang, bangun sayang.." ucap Darma berulang ulang dengan kalimatnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Darma segera membawa istrinya ke rumah sakit. Karena kondisinya yang semakin pucat diwajahnya. Darma pun sangat khawatir akan kesehatan istrinya. Dengan kecepatan tinggi, sang supir melajukan mobil.


Masih dalam perjalanan, Darma semakin cemas memikirkan keadaan istrinya, dirinya takut jika harus kehilangan.


"Sayang... kamu yang kuat sayang... sebentar lagi kita akan segera sampai. Aku janji, aku akan menjagamu dengan baik. Kamu harus kuat, sayang..." ucap Darma sambil mengelus elus kedua pipi milik istrinya.


Tidak lama kemudian, Darma sudah berada di rumah sakit. Dengan langkah kakinya yang begitu cepat, Darma segera mencari sang Dokter untuk menangani istrinya secepat mungkin.


Dokter pun segera masuk keruangan untuk memeriksa keadaan Arsy. Setelah pemeriksaan, Dokter pun segera keluar dari dalam ruangan.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Darma dengan nafasnya yang tersengal sengal karena tengah memikirkan keadaan istrinya yang sangat mengkhawatirkan.


"Istri tuan tidak apa apa, hanya saja mengalami shok. Mungkin karena kesedihannya, coba Tuan untuk sering sering menghiburnya. Dan berikan pelayanan yang baik, tidak hanya pelayanan untuk kebutuhan fisiknya. Tetapi pelayanan untuk perasaannya, dan jangan membuatnya cemas ataupun khawatir. Karena bisa mengakibatkan fatal." Jawab sangat Dokter menjelaskan.


Maafkan aku sayang, jika aku sudah membuatmu bersedih. Apa mungkin ada hubungannya dengan ucapanku bersama Ibu dan Ayah. Hingga membuatnya kesal dan menyimpan kekesalannya. Batin Darma merasa bersalah.


Darma segera masuk kedalam ruangan untuk menemui sangat istri yang sedang berbaring yang juga belum sadarkan diri.


Setelah berada didalam ruangan, Darma serasa tidak tega jika harus melukai perasaan istrinya. Dengan pelan Darma mendekati istrinya yang belum juga sadarkan diri. Dan ditataplah wajah istrinya dengan lekat, ada rasa yang tidak tega jika harus menduakan istrinya.


Bagaimana aku bisa menduakan kamu, jika kamu menderita seperti ini. Sungguh kejam jika aku harus menyakiti perasaan kamu. Sedangkan kamu dalam keadaan yang benar benar butuh dukungan dan semangat untuk menjalani hari harimu. Batin Darma sedih.


Darma yang sedang melamunin istrinya tidak menyadari jika istrinya sedang berusaha membuka kedua matanya pelan. Dilihatnya sang suami yang sedang melamun.


"Mas, mas Darma..." ucap Arsy lirih. Dan saat itu juga Darma kaget saat mendengar suara istrinya yang tengah memanggilnya.

__ADS_1


"Sayang... kamu sudah sadar. Syukurlah.. aku sangat mengkhawatirkan kamu." Ucap Darma sambil memegangi kedua pipi istrinya.


"Mama... Papa..." ucap Arsy reflek.


"Iya, sayang.. ada apa? Mama dan Papa sudah dimakamkan. Waktu Ibu akan dimakamkan, kamu jatuh pingsan. Dan kamu aku larikan ke rumah sakit, tubuhnya sangat lemas. Ditambah lagi wajah kamu yang terlihat sangat pucat, membuatku sangat mengkhawatirkan kamu." Jawab Darma menjelaskan.


Arsy tidak kuasa membayangkannya, hingga dirinya menitikan air matanya kembali. Darma pun segera menghapus air mata istrinya.


"Sayang... jangan menangis.. aku akan selalu berada disampingmu, percayalah." Ucap Darma meyakinkan. Arsy pun mengangguk berusaha untuk kuat menghadapai kenyataan yang telah menimpanya.


"Sekarang kamu mau menginap di rumah sakit atau mau pulang. Aku tidak melarangmu, jika kamu mau tinggal dirumah kamu." Tanya Darma serius.


"Aku ingin pulang ke rumah Papa dan Mama, aku masih merindukannya." Jawab Arsy serius.


"Baiklah, aku akan menemani kamu. Kalau begitu kita bersiap siap pulang. Dan ingat, ikhlaskan dan kamu harus kuat untuk menghadapi kenyataan ini. Kamu mengerti, kan?" Ucap Darma mengingatkan.


"Iya Mas, aku mengerti." Jawabnya lesu.


"Kalau begitu, kamu tunggu disini sebentar. Aku mau mengurus administrasi, setelah itu kita segera pulang." Ucapnya.


"Aku ikut sekalian." Jawab Arsy.


"Nanti, kamu harus diperiksa kembali. Biar Dokter bisa memastikannya, jika kamu benar benar diperbolehkan untuk pulang. Tunggu disini sebentar ya, sayang..." Ucap Darma mengingatkan.


"Baiklah, aku akan menunggumu diruangan ini. Jangan lama lama ya, Mas..." jawabnya Darma pun tersenyum, kemudian segera pergi ke tempat administrasi.

__ADS_1


__ADS_2