Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
#Bonus Chapter #Kaget


__ADS_3

Setelah selesai melakukan ritualnya didalam kamar mandi, Darma dan Vina segera memakai pakaian gantinya.


"Apakah masih sakit?" tanya Darma sambil mengenakan baju kerjanya.


"Sedikit, dan tidak begitu sakit sih." Jawab Vina yang juga sambil mengenakan pakaian kerjanya.


"Jangan khawatir, nanti kamu bisa istirahat dikantor." Ucap Darma yang masih bersiap siap.


"Iya, aku mau bersiap siap terlebih dahulu." Jawabnya, kemudian duduk di depan cermin.


"Nah, penampilan kamu seperti ini kan terlihat anggun. Tidak seperti kemarin itu, menakutkan." Ledek sang suami dibelakang istrinya yang masih memoles wajahnya.


"Bukannya aku tidak bisa berdandan, hanya saja aku tidak menyukainya. Takut, akan banyak laki laki mendekatiku." Jawabnya bergurau dan tersenyum lebar.


"Iya ya, percaya ... seperti preman saja banyak yang ngantri, cie ... bapak supir itu." Ledek Darma yang tidak mau kalah.


"Apaan sih, aku tidak pernah menerima cinta dari siapapun." Jawabnya sambil mengerucutkan bibir manisnya.


"Iya ya ... aku percaya sama kamu, sayang." Ucapnya, kemudian membungkukkan badannya dan mencium pipi kiri milik istrinya dengan lembut.


"Sayang, udahan dong .. nanti penampilan aku acak acakan, bagaimana?" jawabnya sambil merapihkan penampilannya.


"Kita sarapannya di kantin saja ya, sayang."


"Nanti banyak yang curiga, bagaimana?"


"Biarin saja, aku sangat senang melihat orang orang penasaran dengan hubungan kita." Jawab Darma dan tersenyum lebar.


"Iya, seperti semalam dengan Klara. Untung ada kamu, sayang. Kalau tidak ada kamu, entahlah nasibku semalam." Ucap Vina sambil mengambil tasnya.

__ADS_1


"Aku sudah siap, sayang. Ayo, kita berangkat." Ucapnya lagi, Vina mulai tidak ada rasa malu untuk menggandeng suaminya ketika keluar dari kamarnya.


Beberapa pelayan dirumahnya pun ikut bahagia melihat majikannya yang sudah terlihat mesra.


"Naya, tidak perlu menyiapkan sarapan pagi. Aku dan istriku akan sarapan di kantor, kamu tidak perlu menyiapkan sarapan pagi. Oh iya, jangan lupa gannti sepreinya." Perintah Darma, sedangkan Vina sendiri merasa malu saat suaminya meminta pelayannya untuk menggantikan sepreinya.


"Baik, Tuan." Jawabnya, kemudian segera mengganti seprei milik majikannya.


Sedangkan Vina dan Darma segera berangkat ke kantor, didalam perjalanan kini tidak lagi seperti biasanya. Yang dimana keduanya saling diam, dan sekali berbicara tidak pernah sependapat.


"Sayang, nanti aku turunnya didepan kantor saja, ya." Pinta Vina sedikit takut menjadi bahan pembicaraan orang orang di kantor. Ditambah lagi dirinya pegawai baru, yang pastinya banyak cibiran dari karyawan lainnya.


"Iya, sayang. Terserah kamu saja, yang terpenting jaga kesopanan dan tidak perlu menanggapi omongan omongan yang tidak penting." Jawab Darma mengingatkan, Vina pun tersenyum mendengarnya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, Darma dan Vina telah sampai didepan kantor.


Dengan santai, Vina melangkahkan kakinya menuju ruangan kerjanya. Semua karyawan terkejut melihat penampilan Vina yang tiba tiba berubah 180°.


Begitu juga dengan Hendi, yang juga tidak menyangka akan perubahan wanita yang dicintainya. Hendi berdecak kagum dengan sosok Vina yang sekarang, terlihat cantik dan juga anggun.


Klara yang melihat penampilan Vina pun ikut kesal, seakan akan dirinya telah kalah cantik dengan Vina.


"Vina, kamu cantik banget sekarang. Wah ... pasti pak Darma bakal jatuh hati deh sama kamu. Sepertinya kamu juga dijemput pak Darma, 'kan? hayo ngaku."


"Apa apaan sih, tidak usah lebay deh. Aku lapar, belum sarapan. Aku tinggal dulu, ya." Jawab Vina yang tidak ingin mendapat cemoohan dari Klara, cukup didalam Restoran Vina mendapat hinaan dari teman kerjanya. Yang tidak lain adalah calon istri teman akrabnya sendiri.


"Yah ... padahal aku ingin diajarin dandan seperti Vina, biar tertular cantiknya." Ucapnya lirih.


"Vina, tunggu." Seru Hendi memanggilnya, Vina pun segera menoleh kebelakang. Dan dilihatnya teman akrabnya, siapa lagi kalau bukan Hendi.

__ADS_1


"Hendi, ada apa?" tanya Vina sedikit cemas. Dirinya sangat takut, jika suaminya mengetahuinya. Namun, mau bagaimana lagi. Semua orang belum ada yang mengetahui akan statusnya yang sudah menjadi istri Darma.


"Aku dengar kamu lapar, bagaimana kalau kita ke kantin bareng. Kebetulan, aku juga belum sarapan pagi." Ajak Hendi penuh semangat dan berharap Vina tidak lagi menolaknya.


"Tapi, Hen ... aku takut calon istri kamu akan memergokiku. Aku takut mendapat cibiran dari calon istri kamu, aku tidak berani." Jawab Vina beralasan, selain takut dengan cibiran Klara, Vina juga takut jika sang suami melihatnya. Sedangkan dirinya sudah diajak suaminya untuk sarapan pagi di kantin.


"Tenang saja, Klara tidak akan berani mengancam kamu atau memarahi kamu. Aku yang akan memberi penjelasan dengannya, kamu tahu sendiri jika aku tidak mencintai Klara. Aku hanya mencintai kamu Vina, hanya kamu yang aku cintai. Tidak ada wanita lain yang ada dihatiku, percayalah denganku. Apa perlu, aku berteriak untuk mengatakan cinta kepadamu. Agar semua orang yang ada dikantor ini tahu isi hatiku yang sebenarnya."


JEDUAR!!!!! kejujuran Vina terdengar jelas ditelinga Darma. Tanpa Vina dan Hendi sadari, bahwa Darma sudah mendengarnya.


"Ehem, ehem! kalian berdua sedang apa? hem!!"


JEDUAR!!! Vina yang mendengarnya pun terasa tersambar petir, seketika Vina tercengang saat melihat sosok suaminya yang sudah ada di depannya terlihat begitu jelas dan nyata.


Namun, tudak untuk Hendi. Sedikitpun tidak ada ekspresi ketakutan maupun gugup, Hendi tetap santai saat dipergoki Bosnya.


"Sekali lagi aku dapati kalian berdua ngobrol tanpa ada pihak ketiga, maka jangan harap nasib kalian akan lama bekerja di kantor ini." Ucap Darma mengancam, Hendi yang mendengarnya seperti tidak percaya. Hendi merasa seakan akan telah menggoda istri Bosnya, padahal itu semua tidak.


"Maaf, pak Darma. Kenapa pak Darma melarang kami mengobrol, padahal baru saja saya mengutarakan perasaan saya terhadap Vina."


"Bukankah kamu sudah memiliki tunangan, serakah sekali kamu. Tidak cukup dengan satu wanita, benar benar kamu ini." Ucap Darma mencari alasan.


"Saya hanya cinta dengan Vina, pak. Kalau soal Klara, itu hanya perjodohan. Dan saya akan memperjuangkan cinta saya terhadap Vina." Jawab Hendi dengan jujur, sedangkan Darma yang mendengarnya terasa ingin muntah.


"Sudah, sudah ... aku sudah sangat lapar. Lebih baik kamu kembali ke ruang kerja kamu, dan biarkan sekretarisku ini menemaniku sarapan pagi. Jika kamu lapar, ajaklah calon istrimu." Perintah Darma, kemudian langsung melangkahkan kakinya menuju kantin.


Vina yang merasa bersalah, cepat cepat mengejar langkah kaki sang suami yang begitu lebar langkah kakinya.


'Aku panggil sayang, apa panggil pak. Aaah! rumit sekali menjalankan dua peran, bahkan sudah seperti bintang film aja. Kira kira aku panggil pak Darma marah tidak, ya? ngeri sekali jika aku salah panggil.' Batinnya sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2