
Darma kini telah siap untuk berangkat kepernikahannya, dengan tubuhnya yang terasa lemas dan juga pikirannya yang sangat kacau. Darma menuruni anak tangga dengan raut wajahnya yang tidak bersemangat, entah kenapa perasaan Darma untuk menikah lagi terasa berat. Darma teringat akan sosok istrinya, dan teringat keadaan istrinya saat ini.
"Darma.. kenapa jadi kusut begitu muka kamu. Ayolah, kamu yang semangat. Apa kamu lupa, sekarang kamu akan menikah." Ucap ibunya.
"Darma rasanya malas untuk menikah lagi, sudahlah bu, kita batalin saja pernikahan ini. Kalau ternyata aku tidak bisa jatuh cinta dengan Zelyn untuk apa, bu?" jawab Darma tidak bersemangat.
"Sudah sudah... ayo kita sarapan, nanti kita terlambat. Kasihan yang sudah menunggu. Kamu tidak perlu memikirkan yang lainnya, cukup mengucapkan ijab qobul itu sudah cukup.
" Iya iya, bu..." jawab Darma yang kemudian segera mengambil porsi untuk sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan, kini Darma bersiap siap merapihkan kembali dari penampilannya. Karena merasa semua sudah siap untuk berangkat, Darma dan kedua orang tuanya segera naik mobil.
Didalam perjalanan, Darma masih teringat akan sosok istrinya.
Benarkah hari ini aku akan menikah lagi? tapi... kenapa aku begitu takut. Maafkan aku istriku, maafkan aku. Batin Darma sambil melamun melihat diluar jendela kaca mobil.
Sedangkan di jauh sana, ada seseorang yang sedang menerima kabar yang mengejutkan.
Tok tok... suara ketukan pintu yang terbuka. Ada seorang anak buah yang sedang berdiri diambang pintu sambil mengetuk pintu.
"Masuk!" perintahnya.
"Katakan kepadaku, ada berita apa lagi yang akan kamu sampaikan. Jangan bertele tele, katakan." Tanyanya.
"Maaf Tuan, ada kabar baru dari Keluarga Tuan Nugraha. Tepatnya hari ini, putranya yang bernama Darma Nugraha akan menikah lagi. Dikarenakan istri pertamanya tidak mendapatkan keturunan, istri Tuan muda Darma memiliki penyakit kanker rahim. Karena takut tidak akan mendapatkan bagian warisan dari keluarga Gantara, maka cara itulah yang membuatnya yakin untuk mendapatkan harta warisan." Jawabnya dengan tegas.
"Bed*bah keluarga Nugraha. Lihat saja akan usaha kamu, Nugraha.... jangan harap kamu akan berhasil dengan cara kejamnya kamu." Ucapnya sambil memukul meja dengan posisi membungkukkan badan.
"Sekarang, keluarlah. Ikuti terus tentang keluarga Nugraha." Perintahnya dengan tatapannya yang sangat tajam penuh emosi.
"Kurang ajar kamu, Nugraha. Berani beraninya kamu melabuhiku. Lihat saja, apa yang akan kamu terima setelah ini. Jangan harap cara kotormu itu akan berhasil. Darma... Darma... kasihan sekali hidupmu, hanya dipermainkan oleh orang tuamu. Das*ar laki laki tidak punya pendirian." Gerutunya sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Di tempat yang sudah dihadiri para saksi, acara pernikahan akan segera dimulai sambil menunggu kedatangan dari pihak mempelai laki laki.
Dan tibalah keluarga Nugraha didepan rumah Zelyn. Darma dan kedua orang tuanya kini segera turun dari mobilnya dan juga segera masuk kedalam rumah.
Dengan perasaannya yang tidak karuan, Darma berusaha menyeimbangkan badannya agar tidak terlihat gugup dan cemas.
Didalam ruangan, sudah banyak yang menunggu acara dimulai. Darma dan kedua orang tuanya disambut hangat oleh keluarga Zelyn. Ketiganya duduk dengan tenang, kemudian Darma duduk didepan pak penghulu dan ayah Zelyn.
"Apakah sudah bisa kita mulai?" tanya pak penghulu membuka suara.
"Bisa, pak.. silahkan." Jawab ayah Zelyn.
"Baik, kalau begitu kita akan mulai acaranya." Jawabnya, kemudian segera memulai acara ijab qobulnya.
Darma berusaha mengatur pernafasannya, agar dirinya tidak terlihat gugup. Meski sebenarnya dirinya sedikit ada rasa bersalah pada sang istri, Darma berusaha untuk tenang. Seakan dirinya tidak memiliki beban apapun.
Kalimat demi kalimat, ayah Zelyn mengucapkan kalimat ijab qobul kepada Darma. Meski berat, Darma tetap melakukannya.
"Saya terima nikahnya Arsy Kesuma binti Kesuma dengan mas kawin xxx dibayar tunai." Jawab Darma yang tanpa sadar telah menyebut nama istrinya. Semua orang yang ikut menyaksikan ijab qobul kaget dibuatnya. Zelyn nampak geram dan kesal mendengarnya.
"Darma, kenapa kamu salah mengucapkannya, apa ada masalah?" tanya pak penghulu.
"Maaf pak, yang saya ingat mantan pacar saya." Jawab Darma berbohong.
"Baiklah, buang mantan dari pikiran nak Darma. Sekarang diulangi lagi ijab qobulnya, ingat dengan nama calon istri nak Darma." Ucap pak penghulu mengingatkan. Darma pun hanya mengangguk dan berusaha tersenyum.
Bagaimana aku akan lupa, semua kenanganku bersamanya sangatlah banyak. Mana mungkin aku akan melupakannya, yang ada aku semakin berat untuk melakukan ini. Batin Darma dengan pikirannya yang masih kacau.
"Baiklah, kita akan memulainya lagi, untuk Bapak Suhanda silahkan untuk mengulanginya." Perintah bapak penghulu, ayah Zelyn mengangguk dan menjabat tangan calon menantunya. Kalimat demi kalimat telah terucap, Darma mendengarkan dengan serius.
"Saya nikahkan putri saya yang bernama Zelyn Suhanda binti Suhanda dengan mas kawin xxx dibayar tunai.
__ADS_1
"Saya terima nikahnya Zelyn Suhanda binti Suhanda dengan mas kawin xxx dibayar tunai." Jawab Darma dengan tidak bersemangat.
"Sah..." ucap pak penghulu.
"Sah..." jawab semua serempak.
"Alhamdulillah... ucapnya serempak.
Kini Zelyn benar benar sudah sah menjadi istri Darma menurut agama. Karena Darma belum menceraikan Arsy, maka Zelyn hanya bisa menikah menurut agama.
" Selamat ya, sayang.. akhirnya kamu sudah mempunyai suami." Ucap Ibunya Zelyn tersenyum kemenangan.
"Terimakasih, Ma..." jawab Zelyn senyum mengembang.
"Selamat ya, Zelyn.. ibu sangat bahagia. Akhirnya kamu menjadi menantu ibu. Dan kamu sekarang sudah sah menjadi istri Darma, meski masih sah menurut Agama. Tapi secepatnya ibu akan mengurusnya, agar kalian berdua sah menurut hukum." Ucap Nyonya Ferly mengucapkan selamat kepada menantunya. Zelyn tersenyum penuh kemenangan. Kini apa yang di harapkan telah tercapai.
Darma yang sedari tadi hanya berdiam tanpa ada ekspresi bahagia sedikitpun, Zelyn yang melihatnya segera menghampiri sang suami.
"Mas Darma, kenapa melamun? sedang memikirkan Arsy, ya?" tanya Zelyn dibuat cemberut.
"Tidak, aku hanya ingin istirahat. Apakah aku boleh istirahat?" jawab Darma bertanya.
"Tentu saja. Ayo mas, aku antar ke kamar." Ajak Zelyn.
Kini keduanya sudah berada didalam kamar. Zelyn segera menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Darma yang berada didalam kamar hanya berdua dengan Zelyn. Jantung Darma berdegup sangat kencang, perasaannya bercampur aduk. Darma tidak dapat mengontrol pikirannya, ditambah lagi Zelyn pun ikut mengganti pakaiannya tanpa ada rasa malu saat baru pertama kalinya bersama Darma dalam satu kamar.
Darma yang melihatnya hanya menelan salivanya, Darma segera mengganti pakaiannya kemudian segera tidur. Meski belum waktunya tidur siang, Darma segera memejamkan kedua matanya. Agar apa yang dilaluinya adalah sebuah mimpi.
Zelyn yang sudah selesai mengganti pakaiannya, kemudian dengan lekat menatap wajah polos Darma yang sudah sah menjadi suaminya. Zelyn tersenyum penuh kemenangan, apa yang direncanakan kini telah berhasil Zelyn dapatkan.
Satu langkah lagi, kamu tidak akan meninggalkanku. Aku yakin, kamu akan meninggalkan istrimu itu. Batin Zelyn penuh kemenangan.
__ADS_1