Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Di klinik


__ADS_3

Didalam perjalanan, Arsy bersandar dipintu jendela kaca mobil. Sedangkan Raska masih fokus dengan setir mobilnya, keduanya sama sama terdiam tanpa bersuara.


Sssttttttt, Raska menghentikan mobilnya secara mendadak.


DUG! "aaaw!!" Arsy meringis kesakitan sambil mengusap usap keningnya yang dirasa sedikit nyeri.


"Maaf, sayang. Aku benar benar tidak sengaja, sakit?" ucap Raska merasa bersalah.


"Sedikit, kenapa kamu menghentikan mobilnya. Ada masalah?" tanya Arsy dengan keheranan.


"Tidak ada apa apa, tadi ada yang menyebrang begitu saja. Membuatku kaget dan mendadak menghentikan mobilnya. Maafkan aku ya, sayang ..." jawab Raska merasa bersalah. Dirinya sudah membuat sang istri kesakitan dan cemas pastinya.


"Aku kira kamu ada masalah, hingga membuatku merasa cemas. Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalan kita." Ajak Arsy yang masih mengusap keningnya.


"Sini, aku lihat keningmu. Sepertinya sedikit merah, aku akan mengajakmu pergi ke klinik terdekat. Aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu, jangan protes."


"Tidak perlu ke klinik, aku tidak apa apa. Aku sudah sering terbentur seperti ini, aku baik baik saja." Jawab Arsy berusaha memohon, karena dirinya tidak ingin menjadi bahan tawa saat berada di klinik.


"Sudah diam, jangan banyak bicara. Aku akan mengobati kamu, aku tidak rela istriku tergores sedikitpun." Ucap Raska yang masih terlihat khawatir akan kondisi istrinya.


"Suamiku tidak lagi kambuh, 'kan? apa dia tidak melihat dengan jelas. Keningku saja tidak ada bekas luka, untuk apa aku diperiksakan. Bikin malu saja, apa kata orang orang di klinik nanti. Oooh! no! semua pasti akan tertawa terpingkal pingkal saat melihat drama suamiku yang terlihat sangat konyol. Mukaku mau ditaroh mana? laci meja kerja? jangan gile dong.' Gumam Arsy menerka nerka jika telah sampai di klinik tersebut.


Tidak lama kemudian, Reska membelokkan setirnya kearah klinik yang akan dituju.


Reska segera memakirkan mobilnya, setelah itu langsung melepas sabuk pengamannya. Begitu juga dengan Arsy, yang juga tengah melepas sabuk pengamannya dengan perasaan was was. Bukan karena takut, melainkan rasa malu yang harus siap menerima karena ulah suaminya yang terlihat konyol.


"Diam! jangan bergerak." Ucap Raska menahan istrinya agar tidak keluar duluan dari mobil. Arsy yang mendengarnya pun merasa takut, dirinya hanya mengga


"Ada apa lagi sih, sayang. Jangan berlebihan gitu dong, aku tidak apa apa." Jawab Arsy berusaha meyakinkan, agar sang suami tidak bersikap berlebihan. Namun, sikap Raska tetap saja berlebihan. Hingga membuat Arsy bingung untuk mengingatkannya.


"Aku akan menggendongmu, aku tidak ingin kamu tersandung." Ucap Raska yang masih pada pendiriannya, sedangkan sang istri merasa risih dengan sikap suaminya yang tiba tiba berubah menjadi aneh. Bahkan Arsy tidak dapat mengartikan maksud dari sikap suaminya itu.

__ADS_1


"Sayang, jangan berlebihan. Apa kata orang orang yang berada di dalam klinik, semua akan mentertawakan kita." Rengek Arsy yang masih terus berusaha untuk memohon suaminya.


"Tidak akan ada yang berani mentertawakan kita. Jika ada yang berani, maka aku akan menyumpalnya dengan kapas." Ucap sang suami semakin aneh menurut sang istri.


"Baiklah, aku menyerah." Jawab Arsy pasrah dengan apa yang akan dilakukan suaminya sendiri.


Arsy hanya bisa berkomat kamit didalam hatinya, dirinya berharap tidak akan terjadi sesuatu yang memalukan.


Raska pun langsung turun dari mobilnya, kemudian segera membuka pintu mobil. Tanpa pikir panjang, Raska menggendong istrinya.


Arsy merasa malu saat dirinya digendong dalam keadaan baik baik saja, ditambah lagi banyak orang orang yang memperhatikannya yang terlihat baik baik saja.


Dengan pelan, Raska segera menurunkan istrinya ke tempat duduk untuk mengantri.


"Tunggu disini, aku akan mendaftar dan mengambil nomor urut."


"Kita pulang saja, lihatlah orang orang yang ada disekitar kita. Mereka semua tengah memperhatikan kita, percayalah denganku. Aku tidak merasakan sakit, dan aku baik baik saja." Pinta Arsy yang merasa tidak nyaman, ditambah lagi banyak yang berbisik membicarakan dirinya dan juga suaminya.


Sedangkan Arsy hanya celingukan kesana kemari, tidak ada seorang pun yang bisa diajaknya untuk mengobrol. Arsy hanya memilih untuk diam dan tidak membuka suara, dirinya takut jika akan mendapatkan berbagai macam pertanyaan.


Raska masih mengantri sambil berdiri untuk mendaftarkan istrinya.


"Maaf, Pak. Siapa yang sakit?"


"Istri saya yang sakit," jawabnya singkat.


"Sakit apa ya, Pak?"


Raska bingung untuk menjawabnya, pasalnya sakit yang dirasakan istrinya hanya nyeri pada keningnya karena benturan dari jendela kaca mobilnya yang mendadak berhenti begitu saja.


Raska masih diam, sampai sampai yang ada dibelakangnya pun sudah tidak sabar. Karena tidak hanya Raska saja yang ingin mendaftar dan mengambil nomor urut antrian.

__ADS_1


"Pak! cepetan dong. Lama banget, gantian. Apa bapak tidak lihat dibelakang bapak banyak yang sedang mengantri, kita kita juga ingin cepat cepat berobat." Ucapnya sambil menepuk punggung milik Raska.


Raska yang merasa mendapat omelan orang yang ada dibelakangnya pun sedikit geram, rasanya ingin menonjoknya. Namun, Raska sendiri pun menyadari bahwa dirinya memang sudah membuat orang lain untuk menunggunya.


"Maaf, sebentar lagi." Jawabnya singkat.


"Iya, cepetan!" ucapnya yang sudah tidak sabar.


"Bu, intinya sakit istri saya sakit nyeri. Cepetan beri saya nomor urut antrian." Ucap Raska yang ikut ikutan tidak sabar, dan langsung diberi nomor urut antrian.


Setelah mendapat nomor urut antrian, Raska kembali ke tempat istrinya menunggu.


"Maaf, sayang. Kamu lama menunggu, ya."


"Tidak hanya lama, sangat membosankan. Sampai kapan kita akan menunggu nomor urut antriannya, hah?" ucap Arsy yang juga ikut geram karena sikap suaminya yang semakin aneh.


"Sabar, sayang. Tidak lama lagi kamu akan dipanggil."


"Terus, kapan kita akan menikmati jalan jalannya ? aku sudah sangat lapar." Ucap Arsy dibuat cemberut.


"Kesembuhan kamu jauh lebih penting, sayang ..." jawab Raska berusaha meyakinkan. Sedangkan Arsy hanya menelan salivanya.


"Sayang, kepalaku kenapa tiba tiba pusing dan seperti bermain komedi putar." Ucap Arsy sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berat.


"Tuh, kan ... aku bilang apa, pasti benturan tadi bermasalah dengan kepala kamu."


"Tidak mungkin, itu hanya pendapat kamu saja. Bisa jadi aku masuk angin, karena perutku merasa mual dan seperti diaduk aduk rasanya."


"Kamu masih tidak percaya, jelas jelas itu ada hubungannya dengan benturan tadi. Kita pindah ke rumah sakit saja, bagaimana? aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


"Aaah! aku tidak mau, aku mau periksa di klinik ini saja. Aku tidak apa apa, percayalah kepadaku."

__ADS_1


"Aku tidak bisa percaya begitu saja denganmu, sudah jelas jelas kepala kamu terbentur." Ucap Raska yang masih pada pendiriannya, dan tidak bisa di goyahkan.


__ADS_2