
Vina kembali masuk kedalam rumah, dan menguncinya kembali. Vina duduk dengan posisi yang semula, dirinya kembali menikmati nasi goreng buatan sang adik dengan telor separo. Dengan lahap, Vina menghabiskan nasi gorengnya tanpa sisa satu pun.
"setiap pagi selalu nasi goreng, kalau tidak nasi goreng, ya ... puasa. Itulah keseharian Afna bersama keluarga hingga saat ini, Afna maupun sang adik tidak pernah mengeluh dengan apa yang ada dan yang bisa dapat dinikmatinya.
"Kasihan Diki, sampai sekarang harus makan makanan seperti ini. Bahkan terkadang harus puasa jika aku tidak memiliki pendapatan, apa iya aku akan terus begini. Benar kata Hendi, aku harus merubahnya. Akupun harus mempunyai masa depan, dan aku harus semangat untuk mengejar cita citaku." Gerutu Vina sambil melamun.
Setelah tersadar dari lamunannya, Vina langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Hendi teman akrabnya.
Hendi, aku mau menerima tawaran dari kamu. Aku mau mendaftar di tempat kamu bekerja, beritahu aku apa syarat syaratnya.
Hendi yang baru saja sampai di tempat kerjanya langsung mengambil ponselnya yang berada di tasnya. Dan dilihatnya pesan masuk dari teman akrabnya, siapa lagi kalau bukan Vina.
Terlihat senyum mengembang pada kedua sudut bibir Hendi, apa yang sudah ditawarkan tidak sia sia.
Hendi segera membalas pesan untuk Vina, agar Vina tidak menunggu lama pesan darinya.
Kamu jangan khawatir, Vin. Setelah aku bertanya kepada atasan, aku akan mengabari kamu lagi. Balas Hendi dengan senyum mengembang.
"Woy! kesambet demit mana kamu, Hen. Pagi pagi sudah senyum senyum tidak jelas, ngeri bener kamu." Celetuk temannya yang juga baru datang di kantor tempatnya bekerja.
"Ah! kamu ganggu aku saja. Aku sedang bahagia, tau!"
"Cie .... lagi kasmaran dengan Sevi?"
"Enak saja, kamu. Buat kamu saja itu Sevi, aku sih ogah."
"Cie ... yakin, kamu?"
"Iya! puas."
"Puas, banget."
Setelah cukup lama saling beradu omongan, Hendi segera mempertanyakan syarat syarat pendaftaran untuk menjadi sekretaris Bosnya.
Di tempat lain, Vina pun tersenyum mendapat balasan dari temannya. Setelah itu, Vina segera bersiap siap keluar untuk cuci mata. Agar penat yang ada dalam pikirannya secepatnya menghilang.
Setelah merasa sudah rapi akan penampilannya, kini Vina segera berangkat entah kemana tujuannya.
__ADS_1
Didalam perjalanan, Vina hanya melangkahkan kakinya. Entah ada angin apa hingga Vina bisa sampai ditempat anak anak jalanan berkumpul.
Saat Vina tidak jauh dari pandangan anak anak jalanan, dirinya melihat sosok yang tidak asing dari penghlihatannya.
"Kak Vina ...." seru bocah gadis kecil yang tengah memanggilnya, bocah tersebut segera menghampiri Vina yang sedang berdiri mematung. Ingin lari pergi, Vina tidak kuasa untuk pergi begitu saja. Vina tetap mematung dan berdiam diri tanpa merubah posisinya.
"Hanum ..." panggil Vina kemudian memeluk bocah gadis kecil.
"Kamu sedang berbagi lagi?"
"Iya, kak. Hanum dan teman yang lainnya sedang berbagi dengan anak anak jalanan. Dan kak Tara alias kak Raska akan mengajaknya untuk tinggal di Asrama miliknya. Kak Vina, ikut Hanum kesana yuk?" ajak Hanum penuh harap.
"Tidak, Hanum ... kakak sekarang sudah punya pekerjaan. Dulu, karena kakak benar benar sangat butuh bantuan itu. Jadi, kakak terpaksa menerimanya."
"Jadi, kakak tidak mau nih bertemu dengan teman teman Hanum ..." ucap Hanum dengan sedih.
"Maafkan kakak ya, Hanum .... jika kakak ada waktu dan kakak sudah sukses, kakak akan datang menemui kamu dan teman teman kamu di Asrama.
"Janji ya, kak ... jangan sampai bohong. Kalau begitu, Hanum pamit pergi dan berkumpul dengan teman teman Hanum. Kakak Vina baik baik, ya ..."
Keduanya tersenyum dan menyilangkan jari kelingkingya satu sama lain.
Setelah itu, Hanum kembali bersama teman temannya ikut berbagi dengan orang orang yang membutuhkan.
"Hanum, tadi siapa?" tanya Raska penasaran.
"Tadi kak Vina, yang waktu itu pernah kita beri sebagian rizki dari milik kak Raska." Jawab Hanum dengan jujur.
"Kakak tidak mengingatnya, kenapa kamu tidak mengajaknya kemari."
"Katanya tidak mau, dan kak Vina sudah mempunyai pekerjaan."
"Oooh! syukurlah." Jawab Arsy ikut menimpali.
Setelah selesai berbagi, Raska dan istrinya beserta anak anak yang lainnya kembali ke Asrama.
Sedangkan Vina kini sedang berjalan entah kemana arah tujuannya. Dirinya masih berjalan kaki menyusuri jalan tanpa merasa lelah sedikitpun.
__ADS_1
Tidak terasa, Vina menghentikan langkahnya saat berada dipinggir taman yang lumayan cukup luas dan sangat indah penuh bunga bunga. Tiba tiba dirinya teringat kejadian semalam, saat dirinya menikmati makan malamnya walaupun hanya dengan sebungkus nasi. Namun, rasa nikmatnya tiba tiba hilang karena ulah dari laki laki yang tidak dikenalnya.
"Jangan sampai aku bertemu dengan si Jaka sembung itu lagi, sungguh membuatku kesal." Gerutu Vina yang teringat akan kekesalannya dengan laki laki yang tidak dikenalnya.
Saat tenggorokannya terasa kering, tiba tiba kedua mata Vina melihat pedagang es buah yang sangat mengodanya. Vina segera menghampiri penjual es buah tersebut untuk membelinya.
"Bang! es buahnya satu."
"Iya, Neng. Sebentar, ya."
"Baik, Bang." Jawab Vina, kemudian langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan. Namun, Vina merasa kurang nyaman duduk banyak orang. Akhirnya Vina mengangkat kursinya pindah di sisi lain.
"Ini Neng, es buahnya." Ucap penjual buah sambil memberikan satu mangkuk es buahnya.
"Terimakasih, Bang."
"Iya, Neng. Oh iya, duduknya geseran dikit Neng. Takut ada orang lewat nanti Neng terganggu. Begitu juga orang lewat tidak merasa nyaman."
"Oh iya, Bang. Terimakasih sudah mengingatkan." Jawab Vina, penjual es buah pun segera kembali ketempatnya.
"Ini tempat untuk orang lewat, bukan untuk menikmati es buah. Minggir! atau aku tabrak." Ucapnya mengagetkan Vina yang baru saja mau menggeser kursinya. Namun sialnya, belum menggeser sudah mendapat semprot dari seseorang yang mau lewat.
"Iya, maaf. Aku baru mau..." jawabnya pun terhenti begitu saja saat kedua matanya melihat sosok laki laki yang menurutnya begitu sangat menyebalkan. Vina pun langsung menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan.
Tidak hanya itu, seorang laki laki tersebut pun tidak kalah kagetnya saat melihat Vina yang tengah menatapnya.
"Kamu!!!" teriak keduanya sama sama nyaring."
"Ngapain kamu mengikutiku, mau cari gara gara lagi." Ucap Vina dengan kepedeannya.
"Cih! ngikuti kamu, seperti tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting."
"Buktinya kamu ada di taman ini, apa lagi kalau tidak mengikutiku."
"Kepedean banget kamu jadi orang, cih! asal kamu tahu saja, aku ke taman ini ada urusan tersendiri. Jadi jangan kepedean kamu, Nyi Jantur."
"Kamu bilang apa tadi, enak saja. Das*ar Jaka Sembung." Ucap Vina yang merasa kesal dan juga geram, sedangkan Darma tidak memperdulikan sosok Vina yang terus ngedumel komat kamit. Darma langsung pergi begitu saja, karena dirinya sudah cukup duduk santai di taman yang pernah ia membuat janji dengan mantan istrinya yang menggantikan posisi Raska kala itu.
__ADS_1