Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Sebuah Ancaman


__ADS_3

Darma masih menahan rasa sakit pada jari jemarinya akibat remasan dari tangan Vina yang begitu kuat.


"Neng Vina, pesan berapa bungkus?"


"Satu saja, Bu." Jawabnya singkat.


"Dua, Bu." Ucap Darma menimpali.


"Kok beda, yang benar berapa? satu atau dua?"


"Pilih aku atau dia, Vina?" Celetuk teman laki lakinya meledek.


"Diam!" bentak Vina kesal dan geram sambil menghentakkan kaki kanannya. Seketika itu juga, orang orang yang ada disekitarnya berubah ketakutan jika Vina sudah mengeluarkan emosinya.


'Rupanya, wanita ini jago juga. Sampai orang orang pada diam ketakutan, lucu sekali. Bahkan pertunjukan sirkus pun kalah.' Batin Darma sambil menahan rasa sakit, karena Vina masih terus meremasnya dengan kuat jika Darma terus berusaha untuk melepaskannya.


'Ini tangan wanita atau monster lah, benar benar menyakitkan.' Gumamnya lagi berusaha untuk tenang.


"Ibu Ningsih, cepetan dikit. Aku sudah sangat lapar, karena malam ini aku banyak pekerjaan." Pinta Vina yang sudah tidak lagi sabar.


"Iya, Neng. Sebentar lagi, tidak lama kok."


"Iya, Bu. Jangan lupa minumannya."


"Iya, Neng. Ditunggu sebentar, ya." Jawab ibu Ningsih, Vina pun mengangguk sambil meremas jari jemari tangan milik Darma. Sedangkan Darma kembali meringis kesakitan.


Tidak lama kemudian, pesanannya sudah dibungkus oleh ibu Ningsih.


"Ini Neng, pesanannya."


"Bayar, atau .... aku akan menghukummu lebih dari yang ini." Krekkk! Bisik Vina ditelinga Darma sambil meremasnya jauh lebih kuat lagi. Darma hanya melotot dan merogoh celananya mengambil beberapa lembar kertas, dan memberikannya pada Vina.


Tanpa pikir panjang, Vina segera membayarnya.


"Terimakasih, Bu ... permisi ..." ucap Vina berpamitan.


Vina masih menggandeng tangan Darma dengan kuat, tidak lama kemudian telah sampai berada di taman kecil. Namun tetap banyak orang yang lalu lalang mengitari taman tersebut.


"Lepaskan, tanganku! sakit." Ujar Darma yang merasa sakit pada jari jemari tangannya, Vina pun langsung melepaskannya.

__ADS_1


"Kamu lapar. ini, punya kamu dan air minumnya." Ucap Vina sambil memberikan satu nasi bungkus beserta air minumnya. Darma pun menerima dengan tatapan sedikit kesal. Sedangkan Vina langsung pergi meninggalkan Darma yang masih berdiri mematung.


"Hei!! tunggu!" teriak Darma memanggil dan berlari mengejar Vina yang masih berjalan dengan cepat.


Akhirnya, Darma berhasil mengejar Vina meski dengan nafasnya yang tidak teratur. Kemudian, Darma langsung menghadang Vina dengan cara merentangkan kedua tangannya.


"Minggir, kita sudah impas. Aku mau pulang, besok aku harus mencari pekerjaan." Ucap Vina yang berusaha mendorong tubuh Darma, namun kini tenaga Darma yang jauh lebih kuat.


"Tidak aku sangka, tenaga kamu kuat juga rupanya. Sekarang cepatan kamu minggir, aku mau lewat." Ucapnya lagi yang semakin geram.


"Sekarang giliran kamu yang harus membayar rasa sakit pada jari jemari tanganku, jika kamu tidak mau bertanggung jawab akan aku visum ini tanganku." Jawab Darma berusaha untuk mengancam.


Sedangkan Vina yang merasa dirinya tidak punya apa apa dan bukti akurat, dirinya bingung sendiri. Ditambah lagi, Ucapan Darma terlihat tidak main main akan ucapannya. Vina pun mendadak ketakutan, dan akhirnya dirinya menyerah untuk mencari titik aman.


'Sial! ini orang, kenapa juga mengerjaiku serius begini. Palingan juga disuruh mengantarkan pulang, tidak masalah. Setelah itu, aku bisa bebas.' Batinnya mencari jawaban.


"Baiklah, apa yang harus aku pertanggung jawabkan. Jika permintaan kamu sangat tidak baik, maka aku berhak untuk menolaknya.


"Tidak sulit permintaanku, cukup temani aku untuk menghabiskan makanan ini."


'Syukurlah, hanya menemaninya makan. Aku kira suruh mengantarnya pulang, ternyata bukan.' Batinnya sambil merasa lega.


"Terserah aku, Eh! enak saja kamu Panggil aku Nyi Jantur. Aku punya nama, Vina. Di ingat itu namaku, Vina."


"Terserah aku, dong! mau Nyi Jantur atau siapa. Cepat buka nasi bungkusnya, suapin aku." Seketika itu juga, Vina membelalakan kedua bola matanya.


"Aku tidak mau, kamu kan punya tangan sendiri."


"Apa kamu tidak lihat, bahwa jari jemari tanganku sedang sakit karena ulah kamu."


Vina pun baru tersadar, bahwa dirinya sudah meremas begitu kuat dan berkali kali hingga membuat Darma kesakitan.


"Baiklah, aku menyerah. Sini, aku suapin kamu. Jangan kepedean, ini hanya membayar impas."


"Iya iya iya! cepetan, aku juga sudah sangat lapar."


Dengan terpaksa, Vina membuka nasi bungkus milik Darma. Kemudian juga membuka nasi bungkus miliknya.


Tanpa melihat Darma, Vina menyuapinya dengan asal.

__ADS_1


"Yang benar saja kamu menyuapiku, nyuapinnya yang benar. Sekarang lihat aku, jangan menoleh kearah lain. Atau... aku bawa bukti tanganku ini untuk di visum." Ucap Darma sambil mengancam.


Vina yang mendengar ancaman dari Darma hanya bisa mengalah dan juga nurut, sedangkan Darma hanya tersenyum tipis.


Dengan talaten, Vina menyuapi Darma layaknya menyuapi anak umur 2 tahun. Kemudian, Vina juga menyuapi mulutnya sendiri. Berkali kali, Vina menyuapi Darma bergantian dengan dirinya sendiri.


Keduanya tidak bersuara, Vina dan Darma fokus menikmati makanannya. Setelah cukup lama menikmati makan malam dengan satu porsi nasi bungkus, kini hanya tersisa bungkusnya saja.


Setelah keduanya merasa kenyang, kini Vina langsung bangkit dari tempat duduknya. Tanpa berpamitan, Vina langsung pergi meninggalkan Darma yang masih duduk di pinggir taman. Sedangkan Darma tersenyum puas, saat dirinya dapat mengerjai Vina untuk menyuapinya.


"Das*ar wanita kampung, dengan Visum saja takut. Padahal aku saja malas membahasnya, dianya ketakutan." Gerutu Darma sambil berkacak pinggang. Tanpa disadari oleh Darma, dibelakangnya sudah ada yang juga ikut berkacak pinggang.


"Siapa yang mengajari kamu untuk jahil dengan orang yang sudah menyuapi kamu, hah?" ucap seorang laki laki paruh baya sambil menjewer Darma sedikit membuatnya meringis menahan sakit.


"Aw! ampun ampun ..." ucap Darma sambil memegangi telinganya yang dirasa sedikit sakit.


Darma segera menoleh kebelakang, dan disaat itu juga kedua bola matanya terbelalak melihat kedua orang tuanya yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Ayah, ibu ...." panggil Darma shok dan kaget dibuatnya.


"Sejak kapan ayah dan ibu berada disini, perasaan dari tadi tidak terlihat."


"Sejak kamu duduk disini dan menikmati suapan dari wanita itu, kenapa?"


"Apa ....!! yang benar saja, tidak mungkin."


"Sekarang, ayo pulang." Ajak sang ibu sambil menarik tangan milik putranya."


"Aw! pelan, Bu ... tangan Darma sakit." Ucap Darma tidak disengaja keceplosan telah berkata jujur.


"Tangan kamu, sakit?" tanya sang ibu dan memeriksanya.


"Kenapa dengan tangan kamu, Darma. Kenapa bisa terlihat memar begini, kamu habis berantem?" tanyanya lagi dengan cemas saat melihat jari jemari milik putranya yang sedikit memerah karena remasan yang begitu kuat dari Vina yang berulang ulang.


"Tidak apa apa kok, Bu. Ini hanya luka kecil."


"Siapa yang melakukan semua ini, katakan."


"Nyi Jantur, Ma." Jawabnya reflek begitu saja, tanpa disadari oleh Darma sendiri.

__ADS_1


"Nyi Jantur?" kedua orang tua Darma saling pandang penuh keheranan dengan jawaban dari putranya.


__ADS_2