Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Mati Rasa


__ADS_3

Tidak terasa waktu pun sudah satu minggu, Arsy yang begitu sabar dengan suaminya yang telah berpamitan ke luar kota. Bahkan tidak ada sedikitpun rasa curiga Arsy terhadap suaminya.


Seperti biasa, Arsy hanya menyibukkan dirinya di taman belakang dan di dapur. Meski sebenarnya terasa sangat jenuh, namun mau bagaimana lagi. Arsy tidak pernah keluar rumah jika tidak ada keperluan, itupun keluar dengan Darma.


Pagi yang cerah, Arsy melihat sebuah ponsel yang tergeletak diatas meja. Hanya suara panggilan dari ponsel yang membuat Arsy merasa lega, tatkala sanh suami tengah menelfonnya.


Karena sudah merasa bosan, Arsy segera bersiap siap untuk pergi ke rumah mertua. Karena sudah hampir satu minggu juga tidak pernah bertemu sang mertua.


Dari pada aku jenuh, lebih baik aku datang ke rumah mertua. Lagian di rumah ini juga kesepian, siapa tahu saja mas Darma juga pulang. Batin Arsy tersenyum mengambang sambil bersiap siap untuk pergi ke rumah mertua.


Selain itu, Darma yang hanya tinggal berdua bersama Zelyn dirumah. Namun sikap Darma tidak berubah dengan Zelyn, yang dimana Darma sendiri tidak berani menyentuh Zelyn sedikitpun. Karena dibayangan Darma selalu terbayang wajah sang istri, meski sudah satu minggu tidak menemui sang istri. Namun, tetap saja Zelyn memiliki beribu cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Waktu untuk sarapan pagi pun telah tiba, yang dimana Zelyn sudah menyiapkan sarapan pagi. Entah ada angin apa Zelyn berusaha melayani suaminya, meski sang suami tidak memperdulikannya. Setelah sarapan pagi sudah tersaji dimeja makan, Zelyn segera menemui Darma untuk sarapan.


"Mas, aku sudah menyiapkan sarapan pagi. Ayo kita turun." Ajak Zelyn berusaha mendekati Darma. Tanpa bersuara untuk menjawab pertanyaan Zelyn, Darma langsung bergegas keluar dari kamarnya dan segera duduk di ruang makan.


Tanpa pikir panjang, Darma langsung menyapu bersih makanan yang berada di piringnya. Yang dimana Zelyn sudah menghidangkan sarapan pagi untuknya. Tidak hanya itu saja, Darma pun langsung menghabiskan minuman yang disuguhkan oleh Zelyn.


Bibir Zelyn pun tersenyum mengembang, yang dimana dirinya telah melihat sang suami sudah menghabiskan sarapan paginya tanpa tersisa dipiringnya. Zelyn begitu senang melihat sikap sang suami yang tanpa berkomentar akan masakannya.

__ADS_1


Tiba tiba keseimbangan tubuh Darma serasa sempoyongan, kepalanya pun terasa sangat berat. Darma berusaha mengingat istrinya, namun tetap saja sangat berat untuk membayangkannya. Dan tiba tiba ada sesuatu yang mengganjal pada dirinya, yang dimana merasakan sesuatu yang harus dipenuhi.


Darma segera menuju kamarnya, karena nafasnya tiba tiba terasa panas. Dan seperti menginginkan sesuatu, namun Darma berusaha menahannya namun tidak kuasa. Zelyn yang melihat suaminya yang terlihat sudah sempoyongan langsung menuntunnya masuk kedalam kamar. Yang dimana kamar tersebut adalah kamar milik Arsy dan Darma.


Tanpa mengunci pintu, Zelyn membiarkan kamar tersebut terbuka. Karena memang tidak ada satu orang pun yang berada di rumah selain para pelayan.


"Badanku sangat panas, leherku terasa tercekik. Minum, dimana air minumnya." Ucap Darma yang merasa badannya tidak karuan, ditambah gejolaknya yang sudah memburu.


Zelyn yang mendengarnya langsung mengambilkan air minum. Namun setelah mengambil air minum Zelyn segera mengganti pakaiannya berubah menjadi lingeria tipis, Zelyn sengaja memancing suaminya agar keduanya beradu dalam satu rasa.


Pandangan Darma semakin lama berubah menjadi tidak karuan, kini yang dilihatnya hanyalah wajah sang istri yang tidak lain adalah Arsy.


Tanpa pikir panjang, Darma langsung menyerobot aksinya. Karena dirinya benar benar sudah tidak tahan untuk memulai menerobos gawangan yang sudah lama dinantikan. Zelyn pun tersenyum puas, karena apa yang dinantikan kini sudah dia dapatkan.


Sedangkan didepan rumah sudah berdiri seorang diri yang berpenampilan tidak kalah cantiknya dengan istri seorang Tirta Danuarta dan Ganan Wilyam.


Dengan senyuman merekah terlihat diwajah berserinya. Arsy yang tersenyum bahagia, tatkala kedua bola matanya telah tertuju oleh sebuah mobil mulus yang dimana selalu dikendarai suaminya kini sudah ada di parkiran mobil.


Arsy pun merasa lega, apa yang dinantinya kini sudah berada di rumah. Dengan langkah kakinya yang pelan agar tidak menimbulkan suara, Arsy mengendap ngendap masuk kedalam kamar untuk memberi kejutan kepada sang suami.

__ADS_1


Senyumnya yang penuh bahagia, kini terpancar diraut wajah cantiknya. Dan tibalah Arsy dibawah anak tangga, dan memulai untuk menapaki anak tangga satu persatu hingga sampai didepan kamarnya.


Pelan pelan Arsy menapakinya, perasaannya pun sangat bahagia, karena apa yang dirindukan sudah hampir satu minggu lebih mungkin, Arsy tidak bertemu dengan sang Suami.


Dan tepat diambang pintu, butiran permata berbentuk air kini telah menganak sungai dipelupuk kedua matanya. Apa yang dilihatnya kini membuatnya terbungkam. Mimpi, iya mimpi buruk fikirnya. Namun lagi dan lagi yang dirasakan Arsy adalah kenyataan. Yang dimana orang yang benar benar dicintainya telah beradu candu dalam balutan kain putih tebal nan bersih serta wangi.


Arsy masih mematung menyaksikan kedua insan yang sedang menikmati candu dalam setiap nafasnya. Arsy berusaha sekuat mungkin untuk menerima kenyataan, meski tubuhnya sendiri sudah tidak seimbang dan kedua kakinya sudah tidak sanggup untuk menopang tubuhnya, Nafasnya yang begitu berat. Namun itulah kenyataan.


Setelah selesai dalam ritualnya, Darma mencari bercak merah namun tidak menemukannya disaksikan oleh istri yang dianggap istri tercintanya yang sudah berada diambang pintu.


"Dimana bercak merahnya? dimana!" bentak Darma dengan sorotan yang sangat tajam. Bahkan Arsy masih mematung diambang pintu kehancuran.


Zelyn maupun Darma yang juga belum menyadari ada seseorang yang sedari tadi menyaksikan keduanya dalam menikmati candu. Zelyn masih terdiam saat Darma menanyakan perihal segel kepemilikan Zelyn.


Dengan tubuhnya yang gemetar, Zelyn tetap menjawab pertanyaan dari sang suami.


"Aku dulu pernah mengalami kecelakaan hebat di Singapura, dan aku terpaksa harus kehilangan segelku. Sebenarnya aku ingin mengatakannya, namun aku takut mas Darma tidak percaya. Tapi mas Darma tidak perlu takut, aku masih menyimpan buktinya dari rumah sakit di Singapura." Jawabnya tanpa menyadari Arsy masih mematung.


"Awas saja kalau sampai kamu membohongiku, aku tidak akan segan segan membuatmu prustasi tentang hidupmu." Ucap Darma mengancam.

__ADS_1


Sedangkan Zelyn hanya mengangguk ketakutan, namun dirinya segera menepis rasa takutnya. Agar sang suami tidak mencurigainya.


Sedangkan Arsy masih mematung di ambang pintu, Arsy seakan sudah mati rasa cintanya terhadap sang suami. Dirinya hanya terdiam dan membanjiri kedua pipinya dengan air matanya.


__ADS_2