
Vina yang mendapati banyak komentar dari teman temannya, dengan cepat segera menghapusnya. Dirinya tidak menginginkan ada hal buruk dalam rumah tangganya, meski Vina sendiri belum menerima pernikahannya sepenuh jiwanya. Sebisa mungkin, Vina ikut bertahan selagi suaminya tetap bertahan.
Baru saja, Vina meletakkan ponselnya. Tiba tiba dirinya dikagetkan dengan sosok dua wanita yang terlihat tidak asing dimatanya.
"Wow!! sejak kapan kamu merubah penampilan kamu ini, jangan jangan kamu jadi wanita panggilan. Menjijikkan sekali, kalau butuh uang itu kerja yang benar." Ucapnya dengan enteng,
"Untung saja, aku tidak menyetujui putraku menikah denganmu. Mau ditaruh dimana nama baik keluarga putraku." Ucapnya dengan enteng menghina tanpa melihat disekitarnya.
Vina yang merasa dihina begitu rendah pun sangat geram mendengarkannya. Dengan perasaannya yang sudah tidak dapat lagi ditahan, Vina langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Jaga omongan kamu Klara, hati hati dengan ucapan kamu. Kasihan sekali dirimu ini, tidak mendapatkan cinta dari calon suaminya sendiri." Sindir Vina yang sudah sangat geram.
"Dasar! wanita mu*rahan." Ucapnya menghina.
Byuuuur, satu gelas air minum tengah membasahi wajah klara. Tidak hanya Vina saja yang kaget, ibunya Hendi maupun Klara sendiri pun sangat kaget dibuatnya.
"Pak Darma, kenapa bapak menyiram saya. Salah saya apa, pak. Justru yang salah itu Vina pak, tadi Vina mengancam saya untuk menjauhi calon suami saya. Vina yang mau merebut calon suami saya." Ucap Klara penuh beralasan, tanpa Klara sadari dengan keberadaan Darma yang sedari tadi mendengar ucapan Klara dari awal sampai akhir.
"Iya benar, pak. Vina yang sudah mengganggu putra saya, padahal putra saya sudah menjadi calon suami Klara." Ucapnya ikut menimpali.
"Sekarang, minta maaflah dengan istriku." Ucap Darma dengan santai, Vina pun tercengang mendengarnya. Dirinya benar benar tidak menyangka akan mendengar pengakuan dari suaminya, bahwa dirinya dianggap sebagai istrinya.
Tidak hanya itu, Klara dan ibunya Hendi terasa tersambar petir. Keduanya sama sama bengong, terasa tidak percaya mendengar ucapan dari Darma. Keduanya pun benar benar tidak menyangka, jika Vina adalah istri dari seorang pemilik perusahaan.
__ADS_1
"Kenapa, tidak percaya? terserah. Yang pastinya, aku adalah suami sah Vina. Sebentar lagi, media pun akan segera meliput pernikahan kami berdua. Sekarang, pergilah dari tempat ini. Aku sudah muak melihat wajah sombong kalian, ternyata penampilan mewah seperti kalian tidak jauh beda dengan sampah. Aku masih punya waktu untuk kamu mengubah pikiran buruk kamu, jika aku melihatmu menghina istriku. Jangan harap kamu akan diterima kerja diperusahaan yang lainnya." Ucap Darma mengancam.
Klara yang mendengarnya pun masih terasa tidak percaya dengan penjelasan dari Darma. Sedangkan Vina sendiri terasa mimpi, dirinya benar benar mendapat pembelaan yang tidak pernah disangka sangkanya.
"Maafkan saya, pak. Permisi ..."
Dengan perasaan gugup, takut dan juga cemas pastinya, Klara benar benar sangat ketakutan jika dirinya sampai dipecat dari pekerjaannya. Dengan langkah kakinya yang begitu cepat, Klara dan ibunya Hendi segera pergi meninggalkan Restoran ternama.
"Klara, kamu yakin? jika Bos kamu itu adalah suaminya Vina. Ibu rasa bukan deh, mungkin saja hanya menggertak kamu." Ucap ibunya Hendi yang belum percaya sepenuhnya.
Klara sendiri masih merasa tidak percaya, jika Vina adalah istri Bosnya.
"Iya ya, Bu. Aku rasa juga begitu, tidak mungkin Vina adalah istrinya pak Darma. Mungkin saja hanya menolong Vina, agar rasa kesalnya terhadap kita tidak begitu kesal." Jawab Klara yang juga tidak percaya dengan penjelasan dari Bosnya sendiri.
"Aah! kenapa kita mikirin wanita yang tidak jelas seperi Vina, Bu. Lebih baik kita cari tempat Restoran yang lainnya, sebenarnya Restoran yang murah dan berkualitas bagus hanya milik keluarga Danuarta. Namun, mau bagaimana lagi. Pak Darma sendiri yang sudah mengusir kita." Ucap Klara sedikit kecewa, dirinya harus pindah tempat untuk menikmati makan malamnya bersama calon ibu mertuanya.
"Terimakasih, pak. Atas kebaikan pak Darma yang sudah menolong saya atas kejadian yang tadi." Ucap Vina merasa canggung, ditelinganya masih terngiang ngiang saat suaminya berkata jujur.
Darma yang sedari tadi dipanggil dengan sebutan bapak, Darma hanya bisa pasrah dengan nama panggilan dari sang istri.
"Jangan mengira aku tidak meminta timbal baliknya, hah? setelah pulang nanti aku ada pekerjaan untuk kamu. Ingat! dilarang menolak, karena dengan susah payah aku sudah mengusir dua wanita lam*pir tadi." Jawabnya sambil pura pura mengancam istrinya.
Vina yang mendengarkan permintaan dari suaminya, pikiran Vina entah sudah melancong kemana saja. Vina sendiri susah untuk menebak permintaan suaminya.
__ADS_1
'Semoga saja, pak Darma tidak meminta yang aneh aneh. Jika sampai haknya dia minta, aku harus bagaimana? apa aku sanggup untuk menyerahkannya. Aku rasa itu sangat sulit, yakin.' Batinnya penuh kegelisahan.
'Ini perempuan, pasti pikirannya menjerumus ke rumus rumus tersulit untuk dijangkauinya.' Batin Darma sambil menikmati makan malamnya.
Setelah porsi makan malamnya habis, Vina segera bersiap siap untuk merapihkan penampilannya. Kemudian, keduanya kembali bangkit dari tempat tidurnya.
"Kamu tunggu saja didepan Restoran ini, aku mau membayar tagihannya. Jangan khawatir, aku akan segera mengambil mobil di parkiran." Ucap Darma pamit dan segera membayar tagihannya.
Sedangkan Vina dengan posisinya yang sedang berada didepan Restoran hanya mematung dan berdiam diri. Tanpa disadari oleh Vina, bahwa suaminya sudah menunggunya didepannya.
"Mau jadi satpam?" ledek Darma dengan posisinya yang sudah nongol di jendela kaca mobilnya.
"Ah! iya, aku lupa." Jawab Vina yang kemudian segera masuk dan duduk didalam mobil di sebelah sang suami.
Didalam perjalanan, lagi lagi Vina teringat dengan pengakuan suaminya. Vina benar benar ingin mengetahui yang sebenarnya, bahwa perasaan suaminya itu seperti apa.
"Vina benar benar takut jika dirinya jatuh cinta dengan suaminya sendiri, sedangkan sang suami rupanya sudah memiliki wanita lain dihatinya. Ditambah lagi suaminya bukan orang sembarangan, maupun orang yang memiliki latar belakang biasa biasa saja dan seperti orang kampung lainnya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, Vina dan Darma telah sampai didepan rumahnya. Kemudian, keduanya segera melepas sabuk pengamannya.
Vina masih terbayang bayang dengan sosok suaminya jika sudah berada didalam kamar, Vina tidak dapat membayangkan jika permintaan suaminya benar seperti yang di tebaknya.
"Ayo, turun. Apa kamu mau tidur didalam mobil?" tanya Darma mengagetkan istrinya yang sedang melamun.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya sudah terasa sangat mengantuk." Jawabnya beralasan, berharap sang suami tidak mencurigainya.
"Oooh! aku kira sedang memikirkan sesuatu yang menurut kamu sangat susah untuk dipecahkan." Ucap Darma dan tersenyum tipis.