
Arsy masih terdiam, perasaannya sedang berkecamuk tidak menentu. Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin, namun apalah daya Arsy yang hanya bersabar dan bersabar.
"Sayang... besok kita pergi ke dokter lagi, ya?" pinta Darma memohon.
"Untuk apa? bukankah harapanku sangat tipis. Percuma juga aku pergi ke Dokter, hanya kekecewaan yang akan aku dapatkan. Entahlah, aku tidak mengerti tentang hidupku ini. Mungkin jika ada pilihan antara hidup dan mati, maka aku akan pilih berhenti untuk bernafas." Jawab Arsy pasrah.
"Tapi aku masih sanggup untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk kamu, sayang.. sampai ke ujung dunia pun akan aku cari obatnya demi kesembuhanmu." Ucap Darma meyakinkan.
"Kalaupun tidak ada hasilnya, lantas kamu mau berbuat apa, untukku?" jawab Arsy lesu dengan tatapan yang sangat menyedihkan. Darma yang melihatnya pun terasa begitu tidak tega.
Bagaimana jika aku tanpa sadar telah menyakiti perasaannya. Apakah istriku akan membenciku seumur hidupnya. Batin Darma dalam dilemanya.
"Bingung, kan? tidak bisa menjawabnya, kan? sudahlah, percuma melakukan ini itu jika tidak meyakinkan hasilnya." Ucap Arsy lagi dalam jiwanya yang hampa.
"Bukan begitu sayang... aku hanya..." tiba kalimatnya terhenti.
"Sudahlah, aku sudah mengetahui semuanya." Deg... jantung Darma seakan mau copot, tatkala sang istri tengah berucap yang tidak pernah diduganya.
"Maksud kamu?" tanya Darma yang juga belum mengerti.
"Aku sudah mendengarnya saat Ibu masuk ke kamar ini. Dan saat itu kebetulan aku ingin bangun untuk buang air kecil, namun aku urungkan. Dan saat Mas Damar keluar bersama Ibu, aku pun mengikuti langkah kamu, Mas... dan Aku mendengarkan semuanya dengan pintu yang aku buka sedikit." Jawab Arsy setegar mungkin.
__ADS_1
"Apa.....! jadi kamu...." ucapnya yang tiba tiba terhenti dan tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Bibirnya terasa kelu dan dengan perasaannya yang berkecamuk.
"Iya, aku telah mendengarkannya. Aku pasrah dengan apa yang akan mas Darma pilih, jika Mas Darma ingin segera memberikan keturunan untuk Ayah dan Ibu, maka aku tidak mempunyai hak atas semua itu. Karena aku sadar diri, bahwa aku tidak bisa menjamin untuk bisa memberimu keturunan." Ucap Arsy setegar mungkin, meski perasaan yang sebenarnya sangatlah sakit.
"Aku tidak akan melakukannya, sayang.. percayalah denganku. Aku sudah pernah berjanji untuk menjagamu dan juga menyayangimu. Kamu harus percaya denganku." Jawab Darma dengan pikirannya yang sedang tidak karuan.
"Tapi... itu mustahil bagiku. Aku tidak percaya bahwa kamu bisa menjaga nafsumu itu, mustahil." Ucap Arsy yang terus menunjukkan perasaan cemburunya sejak kedua orang tua Darma mau mencarikan wanita yang bisa memberinya keturunan.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu segera istirahat dan tidur. Kasihan badanmu, jika kamu terus terusan memikirkan sesuatu yang belum jelas." Jawab Darma.
"Aku belum mengantuk, aku masih ingin bersandar di tempat tidur ini." Ucap Arsy dengan perasaannya yang hambar.
"Bagaimana kalau kita jalan jalan keluar, siapa tahu saja bisa menghilangkan kepenatan kita." Ajak Darma.
"Terus mau kamu aku harus bagaimana? agar kamu percaya denganku. Jika aku tidak akan meninggalkan kamu, apa perlu kita pindah rumah saja? bukankah kamu menginginkannya, bukan?" ucap Darma sebisa mungkin untuk merayu istrinya.
Wajah Arsy tiba tiba bersemu merah merona, saat suaminya mengajaknya untuk tinggal satu rumah tanpa ada orang lain selain pelayan.
"Benarkah?" jawab Arsy semangat.
"Benar, sayang.. aku akan meminta sama Ibu dan Ayah untuk memberi izin kepada kita. Aku yakin, ini jalan yang terbaik." Ucap sang suami meyakinkan.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang..." jawab Arsy tersenyum bahagia.
"Ayo kita tidur, sayang.. biar tambah semangat besok pagi." Ajak Darma merayu, Arsy mengangguk dan tersenyum. Kemudian segera tidur dengan posisi dipeluk sang suami, dan duanya terlelap dari tidurnya.
Meski sudah terlelap dari tidurnya, Arsy terbangun kembali dari tidurnya. Entah kenapa Arsy masih terngiang ngiang dengan ucapan kedua mertuanya dengan suaminya. Arsy masih memikirkan, jika dirinya benar benar akan diceraikan oleh suaminya.
Benarkah, sebentar lagi aku akan diceraikan oleh suamiku mas Darma karena aku tidak bisa memberinya keturunan. Apakah aku bisa melewatinya, sungguh sangat sulit untukku pahami. Mama... Papa... Arsy kangen, Arsy ingin... sekali memeluk kalian berdua. Arsy butuh penyemangat dari kalian, bagaimana aku harus mengatakannya kepada Mama dan juga Papa. Jika kenyataannya seperti ini, yang dimana kedua mertuaku hanya memberi waktu satu minggu. Waktu macam apa itu, mana mungkin aku sembuh hanya waktu satu minggu. Batin Arsy sedih.
Air matanya pun jatuh tanpa dimintanya, seakan perasaannya hancur berkeping keping jika harus menerima perceraian. Arsy benar benar tidak bisa memecahkan pemasalahannya sendiri, Arsy hanya bisa pasrah untuk nasib yang akan diterimanya.
Karena merasa kedua matanya benar benar sudah tidak dapat untuk disangga, maka Arsy mencoba memejamkan kedua matanya. Berharap jika bangun nanti, penyakitnya hadir hanya sebuah mimpi. Hanya menguji kesabarannya dalam setiap masalah. Tapi sayangnya, itu semua adalah nyata. Yang dimana adalah ujian dalam rumah tangga untuk menerima kekurangan dari pasangannya, dan apakah benar benar tetap setia untuk mempertahankannya.
****
Pagi yang cerah, namun tidak secerah harapan Arsy yang diharapkan. Semua seakan hanya tipu daya dalam perasaannya.
Darma pun terbangun dari tidurnya, dan dilihat disampingnya hanya ada guling didekatnya. Darma celingukan mencari sosok Arsy disetiap sudut, namun kedua matanya tidak dapat menangkap sosok istrinya.
Namun, kedua telinga milik Darma dapat menangkap suara percikan air didalam kamar mandi. Keinginan yang sudah terpendam dan sudah ditahannya sejak malam pertamanya. Darma yang ingin langsung masuk ke kamar mandi tiba tiba teringat akan ucapan dari sang Dokter. Lagi dan lagi, Darma harus menahannya.
Apa aku mampu akan terus terusan seperti ini, bahkan harus bertahun tahun. Apa aku bisa menahannya, sakit.. iya, sakit tentunya. Apa boleh buat, jika aku harus menikah lagi. Iya, mungkin itu jalan satu satunya. Aku harus mencari cara agar tidak menyakiti perasaan Arsy didepannya. Biarlah aku yang akan menanggungnya, bagaimana mungkin aku harus menyiksa dilemaku. Maafkan aku, sayang.. jika suatu saat nanti aku bermain dibelakangmu. Meski menyakitkan sekalipun... aaaaarrrrggghhhh kenapa harus seperti ini pikiranku. Sungguh, aku tidak tahu diri. Gumam Darma dalam dilemanya.
__ADS_1
Darma yang pusing memikirkan hidupnya yang penuh ketidaknyamanannya menjadi seorang suami. Yang dimana harus menerima kenyataan pahit karena penyakit istrinya yang sangat ganas. Darma berusaha mengatur nafasnya yang terasa sangat sesak di dadanya. Jantungnya pun bergemuruh tidak karuan, ingin rasanya menghilang dimuka bumi ini. Agar terlepas dari kepenatannya, namun mau bagaimana lagi. Pikirannya pun sangat susah untuk di kontrolnya.