
Vina menatap suaminya dengan perasaan takut, bahkan seperti akan mendapatkan hukuman dari Bos galak.
"Ada apa ya, Pak?" tanyanya dengan pura pura tenang.
"Sudah jam siang, waktunya istirahat."
"Perasaan kita baru saja sarapan pagi, kenapa sudah jam istirahat?"
"Lihat baik baik jarum jam segede itu ada diangka berapa, hah?" Ucap Darma sambil menunjuk kearah jam yang berdiri kokoh di sudut ruangan kantor.
Vina yang melihat jarum jam hanya tersenyum malu dan sangat memalukan pastinya.
"Ah! iya, aku baru tahu. Aku kira masih jam sembilan pagi, tidak tahunya sudah siang."
"Iya, kamu sedari tadi sibuk dengan ponselmu. Awas saja, jika kamu berani beraninya bermain sosial media dengan laki laki lain. Jangan harap laki laki tersebut bisa panjang umur." Ucapnya mengancam dan menakutinya.
Vina yang mendengarnya pun tercengang dengan penuturan dari suaminya.
"Iya ya, pak. Aku hanya sedang mencari cara berpenampilan yang baik itu bagaimana? itu saja sih. Bukankah pak Darma sendiri yang memintaku untuk mengubah penampilanku." Jawabnya beralasan, berharap sang suami tidak mencurigainya.
Tanpa pikir panjang, Darma langsung menyambar ponsel milik istrinya. Kedua mata Vina terbelalak melihatnya, bibir bagian bawah pun digigitnya menahan rasa cemasnya.
"Pak, kembalikan ponselku. Percaya deh, tidak ada apa apa didalam ponselku. Aku tidak pernah berhubungan dengan laki laki, yakin." Ucap Vina merengek, berharap ponselnya dikembalikan dan tidak banyak pertanyaan dari sang suami.
"Kodenya berapa, cepat." Perintah Darma sambil melirik istrinya yang sedang duduk dengan ekspresinya yang terlihat cemas. Sedangkan Darma hanya tersenyum tipis melihatnya.
"Kodenya xxxx," jawabnya sambil meremas remas bajunya karena menahan rasa malu dan juga takut pastinya.
Darma pun tersenyum mengembang, saat dirinya dapat membuka layar ponsel istrinya dengan kode yang diberikannya. Seketika itu juga, Darma kaget saat membuka layar ponsel istrinya.
'Rupanya kamu sedang mencari tahu tentangku, dan pastinya kamu sangat penasaran denganku. Apa jadinya jika kamu mengetahui kebenarannya, aku yang duda dua kali. Aku yakin, kamu tidak akan pernah memaafkan aku. Bahkan kamu akan membenciku selama lamanya, dan tidak lagi akan mengenalku.' Batinnya sambil menatap layar ponsel istrinya.
__ADS_1
"Ini, ponsel kamu. Kenapa kamu tidak bertanya langsung kepada orangnya, kenapa kamu mesti mencari tentangku lewat media sosial." Ucapnya sambil meletakkan ponselnya didepan istrinya, kemudian segera keluar dari ruangan kerjanya.
Sedangkan Vina masih diam mematung dengan posisinya yang masih duduk sambil mengatur pernapasannya.
'Pak Darma kenapa ya? kenapa berubah begitu, saat aku ketahuan mencari tahu tantangnya. Apakah dia merasa tersinggung? yang benar saja.' Batinnya yang merasa tidak enak hati.
Vina pun langsung membereskan meja kerjanya, kemudian mematikan laptopnya dan segera menyusul suaminya.
"Vina! tunggu." Serunya memanggil, Vina pun menoleh kebelakang.
"Ada apa, Hen?" tanya Vina dengan lesu.
"Kamu mau ke kantin, 'kan?"
"Tidak tahu, aku mau keliling keliling kantor ini. Aku penasaran saja dengan kantor sebesar ini, disapa tahu saja ada tempat santainya." Jawabnya beralasan, padahal Vina sendiri sedang mencari keberadaan suaminya.
"Oooh! ingin mencari tempat untuk bersantai? ada sih! tapi milik pak Darma. Biasanya pak Darma menghabiskan jam istirahatnya ditempat santainya, tapi hanya pemilik perusahaan ini yang dapat memasukinya."
"Boleh, kamu tinggal belok kanan terus lurus dan belok ke kiri. Nah! nanti kamu akan melihat tempatnya, tapi jangan masuk. Nanti kamu bisa bisa dipecatnya, dan kamu akan kesulitan untuk mencari pekerjaan di tempat lain."
"Segitukah kejamnya pak Darma? sampai sampai berbuat seperti itu terhadap karyawannya."
"Namanya juga Bos, apapun bisa dilakukannya."
"Terimakasih, sudah memberi tahuku. Aku pergi duluan, ya."
"Vina, plis! kamu jangan masuk keruangan santainya pak Darma. Aku tidak mau kamu dipecat, nanti kamu tidak bisa bekerja lagi."
"Kamu tenang saja, percaya saja padaku."
Vina pun langsung pergi meninggalkan Hendi, dirinya benar benar sudah tidak sabar ingin menemui suaminya dan meminta maaf atas kesalahannya yang telah lancang mencari tahu tentang suaminya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Hendi merasa khawatir akan keselamatan Vina akan pekerjaannya.
"Sayang, ayo kita pergi ke kantin." Ajaknya sambil menggandeng tangan calon suaminya.
"Lepaskan! aku mau menyusul Vina, dia dalam bahaya." Ucapnya berusah melepaskan tangannya yang sedang digandeng calon istrinya.
"Vina lagi, Vina lagi. Kenapa sih, kamu peduli banget dengannya." Ucapnya dengan kesal.
"Karena aku hanya mencintai Vina, bukan kamu." Jawabnya dengan sorot matanya yang tajam dan dengan kuat Hendi melepaskan tangan milik calon istrinya, yang tidak lain adalah klara. Hendi pun langsung mengejar Vina dengan langkah kakinya yang begitu cepat.
Sedangkan Klara sendiri hanya berkacak pinggang saat melihat Hendi yang tengah mengejar Vina.
'Kalau begini terus, yang ada aku sakit hati. Aku akan meminta dengan ayah dan ibu untuk mempercepat pernikahanku, mau tidak mau harus di parcepat.' Batinnya berdecak kesal.
Sedangkan Vina sudah sampai di tempat yang Hendi tunjukkan. Dan benar saja, suaminya kini sedang duduk santai didalam ruangan kaca yang didesain sangat nyaman untuk duduk santai. Ditambah lagi ditemani oleh orang yang dicintai, pastinya akan terlihat sangat romantis.
Karena pintu tidak di kunci, dengan santainya Vina memasuki ruangan tersebut.
"Pak Darma, bapak kenapa ada disini?" tanya Vina dengan percaya diri. Bahkan nasehat dari temannya pun tidak dipercayainya, dengan pelan mendekati suaminya. Meski sedikit cemas dan takut, namun Vina segera membuang pikiran buruknya. Vina yakin, bahwa dirinya tidak akan dipecatnya. Karena statusnya yang kini sudah menjadi suami sahnya, tidak akan mungkin seorang Darma akan bersikap kasar dengan istrinya sendiri, pikir Vina dengan tenang.
"Kamu sendiri ngapain datang kesini?" tanyanya balik tanpa menoleh kearah istrinya.
"Aku kira bapak mau bun*uh diri, soalnya tiba tiba pergi begitu saja sih." Jawabnya asal, Darma pun segera menoleh kearah sang istri dan menatapnya dengan tajam. Bahkan tajamnya pisau masih kalah dengan tajamnya tatapan matanya sang suami.
"Kamu gi*la apa, menyangka suamimu ini bunuh diri. Sebelum mendapatkan hakku, aku belum mau bu*nuh diri. Tapi siapa juga yang mau bunuh diri, sekerdil itukah pemikiranku. Percuma aku nikah, tidak dapat apa apa." Jawabnya menyindir sambil meninggikan alisnya.
Vina yang mendengar penuturan dari suaminya hanya bergidik ngeri dan menelan Salivanya, ditambah lagi mengenai hal dan kewajiban. Benar benar membuat Vina menjadi kikuk dibuatnya.
"Kalau begitu, aku permisi." Ucap Vina berusaha untuk menghindari suaminya, namun sayangnya gagal. Darma tidak akan pernah menyia nyiakan yang sudah masuk dalam kandangnya.
"Temani aku makan siang, aku sudah sangat lapar." Perintah suaminya yang langsung bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1