
Darma yang merasa bersalah, dirinya segera pergi meninggalkan istrinya. Darma sendiri bingung untuk menenangkan perasaan istrinya, dirinya terpaksa untuk menghindar dari Vina. Meski ada rasa kasihan dengan kondisi istrinya, namun Darma tidak dapat mengatasinya.
Sedangkan Vina sendiri pun merasa sangat kecewa akan sikap suaminya yang seenaknya mengambil kesempatan dalam situasi yang genting. Dengan cepat, Vina segera masuk kamar dan menguncinya. Dirinya takut jika sewaktu waktu ada seseorang yang masuk kedalam kamar begitu saja, sedangkan dirinya dengan posisi yang sedang bersedih.
Afna segera membuka lemari, berharap ada pakaian yang bisa dikenakan. Satu persatu lemari tersebut dibukanya oleh Afna, seketika itu juga Afna tercengang saat melihat kondisi lemari yang di penuhi berbagai macam baju untuk ini dan itu. Afna benar benar tidak percaya melihatnya, bahkan lemari pakaiannya sudah seperti butik.
"Ini lemari pakaian atau toko baju? yang benar saja, bahkan lemari pakaianku bisa dikatakan harga satu stel baju ini. Aku sedang tidak lagu dijadikan tumbal pesugihan, 'kan? semoga saja tidak." Gerutunya sambil memilih pakaian yang menurutnya cocok dan juga nyaman.
Setelah mendapatkan pakaian yang menurutnya pas, Vina segera masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya. Dirinya takut, jika suaminya tiba tiba masuk kedalam dan memaksanya dan meminta haknya. Vina benar benar tidak dapat membayangkannya, dirinya pun sangat takut jika hal itu terjadi.
Dengan cepat, Vina segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, Vina langsung mengenakan pakaiannya didalam kamar mandi dengan terpaksa. Kemudian, setelah merasa sudah lebih baik. Vina segera keluar dari kamar mandi dan beristirahat di tempat tidur. Tanpa ia sadari karena rasa kantuknya yang tidak dapat ditahan, Vina pun tertidur pulas.
Sedangkan Para pelayan bingung saat mendapati suasana rumah terasa sepi tanpa ada kedua majikannya bersuara.
"Sum, Tuan dan Nona kemana?" tanyanya penasaran.
"Aku juga tidak tahu, mungkin sedang istirahat dikamar. Bukankah pengantin baru lebih menyukai tempat tidur?"
"Ah iya, benar kata kamu. Nanti juga bangun sendiri kalau lapar, mending sekarang kita siapkan makan malam. Mau di makan atau tidak, itu urusan Tuan dan Nona. Yang terpenting kita sudah menyajikannya dengan sebaik mungkin."
"Iya, benar. Ayo, kita kembali ke dapur." Ajaknya dan keduanya kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Sedangkan Darma sedang berada disebuah taman yang dijadikan pertemuannya bersama Arsy, mantan istrinya yang kini sudah sah menjadi istri sepupunya sendiri.
__ADS_1
Darma masih menikmati minuman bersoda sambil menyesali perbuatannya terhadap istri barunya. Dirinya benar benar sudah membuat istrinya merasa kecewa terhadap sikapnya yang menurutnya sangat senonoh. Namun, mau bagaimana lagi. Dirinya benar benar laki laki normal pada umumnya, ditambah yang ada didepannya ada istri sahnya.
Darma sendiri masih merasa enggan untuk kembali pulang, dirinya takut melihat sang istri yang masih kecewa dengan sikapnya. Namun, jika dirinya tidak pulang tidak memiliki tempat tinggal. Darma tidak mungkin untuk kembali ke rumah orang tuanya, jika sampai pulang kerumah orang tuanya akan menjadi santapan ayahnya.
Mau tidak mau, Darma kembali pulang. Dirinya pasrah dengan resiko yang akan diterima. Meski mendapat cacian dari sang istri sekalipun, Darma tidak mempedulikannya. Sagi masih bisa berkata maaf, apa salahnya.
Didalam perjalanan, Darma melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap cepat sampai rumah, dan segera menyelesaikan masalahnya.
Tidak terasa, kini Darma telah sampai didepan rumah. Dirinya langsung melepas sabuk pengamannya, dan Darma segera turun dari mobilnya.
Perasaannya sedikit tidak tenang, karena pikirannya yang semakin kacau.
Dengan pelan, Darma menapaki anak tangga menuju kamarnya. Sesampainya didepan kamar, dengan ragu Darma membuka pintunya.
"Dikunci? hem ...." gerutunya yang mengerti maksud dari istrinya. Darma segera merogoh kunci kamar di saku celananya, Darma pun tersenyum mengembang. Dirinya segera membuka kunci kamarnya dengan sangat hati hati, agar istrinya tidak mendengarnya.
Setelah sampai didalam kamar, Darma kembali menguncinya. Dilihatnya sang istri yang sedang tertidur pulas tanpa selimut. Darma mengambilkan selimut disampingnya, dan menyelimutinya hingga sampai didadanya.
'Benarkah ini pernikahanku yang sesungguhnya, aku merasa takut untuk memulainya. Aku takut akan mengalami kegagalan yang ketiga kalinya, aku takut akan melukai maupun akan terluka.' Batinnya merasa dilema akan perasaannya sendiri.
Karena dirinya sendiri merasa lelah dan tidak dapat menahan kantuknya, Darma mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disamping istrinya. Hanya saja, Darma tidak mengenakan selimut.
Kedua mata milik Darma yang terasa sangat mengantuk benar benar tidak dapat ditahannya, tanpa disadari Darma tertidur dengan posisi menghadap istrinya.
__ADS_1
Vina yang merasa sudah cukup beristirahat, dengan pelan Vina membuka kedua matanya. Dirinya belum menyadari jika sang suami sudah tertidur pulas disampingnya, Darma dengan posisinya menghadap istrinya dan tangan kanannya menindih perut milik istrinya.
"Tidak ......." teriak Vina sekencang mungkin. Darma langsung bangkit dari posisi tidurnya dan duduk sambil membuka kedua matanya dengan paksa.
"Kenapa kamu bisa berada di kamar ini, bukankah aku sudah menguncinya. Apa kamu memiliki kunci serep?" tanya Vina sambil menyilangkan kedua tangannya dibagian dadanya untuk menutupi bagian yang terlarang.
Darma yang melihat ekspresi sang istri hanya tersenyum tipis, sedangkan Vina hanya memasang muka masamnya.
"Iya, aku memiliki kunci serepnya. Dan aku sangat mengantuk, jadi jangan berpikiran aneh aneh. Aku hanya tidur layaknya orang yang sedang merasakan capek dan sangat mengantuk." Jawabnya berusaha menjelaskan, sedangkan Vina hanya diam tanpa berucap.
"Oh iya, kamu belum makan malam, 'kan? ayo kita turun. Jangan banyak alasan, aku yakin kamu pasti sangat lapar." Ucapnya mengajak.
"Aku lagi sedang tidak enak makan, lebih baik kamu makan saja dulu."
"Yakin, kamu sedang tidak enak makan? aku rasa kamu sedang belajar berbohong. Sudahlah, ayo kita makan dulu. Sudah malam ini, kasihan perut kamu. Aku tidak ingin dibilang suami tidak tahu diri, jika kamu kenapa kenapa maka akulah yang akan menanggungnya."
"Iya iya ... aku lapar." Jawabnya terpaksa.
Tanpa pikir panjang, Darma langsung keluar dari kamarnya. Vina pun akhirnya terpaksa mengikuti langkah suaminya menuju ruang makan.
'Inikah suamiku yang sesungguhnya, benarkah aku bersuamikan laki laki ini. Sungguh, aku tidak menyangkanya. Apa yang harus aku lakukan, aku benar benar tidak mencintainya.' Batinnya sambil menuruni anak tangga.
Setelah berada di ruang makan, Darma dan Vina segera duduk. Keduanya mengambil porsinya masing masing, Vina tidak perduli dengan suaminya. Vina tetap fokus dengan porsinya sendiri dan segera menghabiskannya. Keduanya tanpa bersuara, hanya suara sendok yang saling beradu dan menyapu piring hingga bersih tanpa sisa.
__ADS_1
Darma sendiri hanya melirik istrinya saat Vina sedang menikmati makan malamnya.
"Rupanya wanita ini tidak jelek jelek amat, hanya penampilannya saja yang membuatnya terlihat sederhana.' Batinnya yang tanpa sengaja telah memuji istrinya sendiri.