Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Terluka


__ADS_3

Vina maupun Hendi hanya menelan salivanya, saat melihat siapa yang berada dihadapannya.


"Rupanya kamu tidak ada kapok kapoknya, ya. Mengganggu calon suami orang, da*sar wa*nita murahan. Kemarin itu kamu masih beruntung, ada pak Darma di Restoran."


"Klara!! jaga ucapan kamu itu, Vina bukan wanita murahan. Vina adalah wanita baik baik dari pada kamu, ngerti."


"Kenapa kamu belain Vina, sih. Asal kamu tahu ya, Hen. Vina itu memang benar benar bukan wanita baik baik, dia pernah ketahuan berdandan menor di Restoran mahal, ngapain lagi kalau bukan janjian sama om om." Ucap Klara dengan entengnya.


"Cukup Vina! kamu itu sangat keterlaluan. Jangan harap, aku akan menuruti kemauan kedua orang tua kita."


PLAKK!!! dengan kuat Klara menampar Vina.


"Klara!! keterlaluan kamu. Sekarang juga kita putus, puas! kamu." Ucap Hendi yang hendak menampar Klara, namun niatnya diurungkan. Dirinya tidak ingin memperpanjang masalah, dan akan menambah runyam permasalahannya.


Sangat perih dan terasa panas, pipi Afna berubah kemerahan akibat tamparan kuat dari Klara. Semua karyawan maupun pekerja lainnya tengah menyaksikan kejadian yang sangat menghebohkan ruangan kantin. Semua berbisik tentang Vina, Hendi, dan juga Klara. Banyak yang menyayangkan sikap Klara kepada Vina yang tidak lain sekretaris Bosnya.


Tidak hanya itu, ada seseorang yang sedari berdiri menyaksikan perdebatan antara Klara dan Hendi. Sedangkan yang hanya diam mendapat imbasnya.


"Sekarang, juga! kamu angkat kaki dari kantorku, cepat! aku tidak sudi menerima karyawan recehan dan kotor sepertimu menyakiti istriku. Dan, kamu Hendi, sekali lagi kamu mengganggu istriku atau mendekati istriku tidak lebih dari tiga orang. Maka aku tidak akan segan segan mengusirmu dari pekerjaan kamu. Dan, aku pastikan kamu untuk kesulitan mencari pekerjaan di luaran sana." Ucap Darma mengancam sambil menatap tajam ke arah Klara dan Hendi.


Sedangkan Vina hanya bisa diam, dirinya tidak ingin membuat suaminya semakin emosi jika dirinya ikut menimpali.


Klara maupun Hendi dan juga karyawan yang lainnya terkejut mendengar penuturan dari Bosnya sendiri. Apalagi Hendi, seperti tersambar petir mendengarnya. Tubuhnya lemas, pikirannya pun melanglang entah kemana. Percaya tidak percaya, Hendi belum dapat mencernanya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Klara, yang benar benar tidak menyangka. Jika ucapan dari Bosnya itu, benar benar tidak main main. Klara hanya mengira, bahwa Bosnya hanya sandiwara. Namun kenyataannya, ucapan pengakuannya benar benar dapat didengar yang kedua kalinya. Tubuhnya pun gemetaran, saat mendengar pemecatan dari kantor yang sudah lama dinanti nantikan. Selain gaji yang besar, peraturannya pun tidak begitu berat. Membuat semua para karyawan lebih nyaman dan tidak merasa bosan.


"Duh, kasihan sekali Klara. Udah diputusin, eeeh dipecat lagi. Habisnya, mulutnya ember. Sudah jelas jelas dari dulu Hendi tidak suka dengannya, masih saja ngejar. Sekarang mendapat malu sekaligus pesangon." Bisik teman kerjanya.


"Iya, ya. Kasihan sekali dengan Klara, nasib buruk sedang menimpanya. Sungguh kasihan, tidak mendapatkan apa apa. Yang ada justru kehilangan semuanya, cinta dan juga pekerjaan." Jawab yang satunya.


"Eeh! tapi benar, ya. Jika Vina itu istri pak Darma, aku masih belum percaya. Beruntung sekali tuh, Vina. Jika memang benar istri pak Darma, tajir dadakan tuh Vina." Ujar yang satunya lagi ikut menimpali.


Masih banyak lagi para karyawan berbisik berjamaah, namun tidak begitu direspon oleh Vina maupun Darma.


Tanpa pikir panjang, Darma langsung menarik tangan istrinya untuk pergi keluar dari kantor. Keduanya menjadi pusat perhatian para karyawan lainnya.


Hendi hanya bisa menatap sosok wanita yang selama ini diharap harapkan untuk menjadi miliknya, namun takdir telah berkata lain.


Dengan penuh kekecewaan, Hendi kembali ke tempat kerjanya. Begitu juga dengan Klara yang ikut kembali ke ruang kerjanya untuk bersiap siap untuk meninggalkan kantor yang pernah menjadi kantor impiannya bekerja, kini pupus begitu saja.


Klara benar benar kesal dibuatnya, berharap dapat mempermalukan Vina. Namun, justru dirinya lah yang mendapat malunya sendiri.


Sedangkan di luar kantor, Vina dan Darma bingung mau pergi kemana. Ditambah lagi sudah siang, serasa malas untuk pergi kemana mana.


"Sayang, maafkan aku. Jika aku sudah membuatmu kesal dan menjadi masalah besar, sungguh aku tidak ada maksud untuk membuat ruangan kantin heboh."


"Aku tidak mempermasalahkan kamu, aku sudah melihatnya sendiri dan mendengarnya sendiri."

__ADS_1


"Maksud, kamu?" tanya Vina yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya itu.


"Hem!! sudahlah, tidak penting. Hari ini kita belanja baju, seperti yang kamu minta. Memilih pakaian kerjaku sesuai selera kamu, dan aku akan memakainya." Jawab Darma, yang kemudian segera menarik tangannya untuk masuk kedalam mobil.


Didalam perjalanan, Darma dan Vina saling bertukar pendapat. Namun, tidak membuat keduanya ingin menang sendiri. Justru, keduanya sama sama kompak.


Pak Bejo yang melihatnya dari kaca, hanya tersenyum tipis sambil fokus mengemudi mobilnya.


Tidak lama kemudian, Vina dan Darma telah sampai di Mall ternama. Keduanya segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.


Vina dan Darma segera memasuki Mall sambil bergandengan tangan, semua yang melihatnya sedikit menahan tawa saat melihat pasangan suami istri yang terlihat begitu unik. Pasangan yang sangat langka uniknya, sampai sampai Vina dan Darma menjadi pusat perhatian orang orang yang melihatnya.


"Sayang, kenapa mereka semua menahan tawa saat melihat kita. Memangnya kita ada yang lucu, ya. Aku kok merasa risih dilihatnya sih, sayang. Coba deh, kamu perhatikan orang orangnya. Tidak ada yang tidak memperhatikan kita, 'kan? dan semua tengah memperhatikan kita." Tanya Vina yang aneh dan risih, dan juga kaget dibuatnya.


"Kurang tahu, aku. Perasaan penampilan kita baik baik saja, ya. Atau mungkin saja, kita adalah pasangan suami istri yang satu cantum dan satunya sangat tampan dari yang lainnya."


Karena rasa penasarannya, Vina mencoba bertanya dan untuk memastikan dengan keadaan di sekitarnya.


"Maaf, mbak. Aku mau tanya boleh?" tanya Vina yang dipenuhi dengan rasa penasarannya.


"Iya, Nona. Katakan saja, siapa tahu saya bisa membantu Nona." Jawabnya dengan gugup dan juga takut mendengarnya."


"Kok semua orang pada ngeliatin ke saya, ada yang aneh ya, mbak?" tanya Vina yang masih dihantui dengan perasaannya yang penuh dengan rasa penasaran. Sedangkan Vina sendiri hanya bisa mencoba meneliti penampilan.

__ADS_1


__ADS_2