
Raska masih tetap pada pendiriannya, bahwa sangat istri merasakan pusing karena akibat benturan yang lumayan cukup terasa sakit dan nyeri.
Setelah cukup lama menunggu nomor urut antrian, Arsy merasa bosan. Ditambah lagi terasa tidak nyaman dan kepalanya masih terasa pusing. Dan, tidak hanya itu saja yang dirasakan Arsy saat ini. Mual mual pada perutnya pun membuatnya tidak nyaman untuk duduk dan dengan posisi apapun.
"Sayang, sebentar lagi nomor urut kamu akan segera dipanggil. Kamu yang sabar ya, sayang ..." ucap Raska berusaha untuk menenangkan kecemasan pada istrinya.
Arsy sendiri merasa bingung saat mendapati sikap suaminya yang sangat berlebihan, menurutnya.
Tidak lama kemudian, nomor urut milik Arsy telah dipanggil sesuai dengan nomor urutnya.
"Sayang, kamu dipanggil. Ayo, aku temani untuk masuk kedalam. Aku tidak ingin terjadi apa apa terhadap kamu, aku akan tetap selalu berada didekatmu.
Perasaan Arsy semakin tidak karuan, rasanya panas dingin saat menghadapi sikap suaminya yang terbilang sangat konyol.
Dengan langkah kakinya yang sedikit pelan, Arsy berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Karena dirinya harus menyangga sakit kepala yang terasa sangat menyiksanya, ditambah lagi perutnya yang seakan seperti dikocok kocok hingga terasa sangat mual.
Raska yang melihat kondisi Arsy yang tiba tiba terlihat pucat semakin cemas dan gelisah. Dengan sigap, Raska langsung menggendong istrinya menuju ruang pemeriksaan.
"Silahkan masuk, Pak." perintah salah satu perawat yang sudah berada didepan pintu yang bertugas memanggil pasien dan menjaga pintu masuk dan keluar.
Raska pun segera masuk kedalam ruangan pemeriksaan untuk menemani sang istri.
Dengan pelan, Raska menurunkan istrinya ke tempat pembaringan khusus pasien untuk dilakukan pemeriksaan.
"Silahkan duduk, Pak. Saya harap kepada bapak untuk menunggu sebentar. Saya akan melakukan pemeriksaan untuk istri bapak, jika ada sesuatu yang penting akan saya panggil untuk menemui istri bapak." Ucap sang Dokter memberi arahan kepada suami Arsy.
"Baik, Bu. Saya nurut saja apa kata ibu Dokter, dan saya akan menunggunya disini." Jawab Raska berusaha untuk tenang.
Setelah itu, Dokter pun melakukan pemeriksaan kepada Arsy, dengan berbagai banyak pertanyaan dari sang Dokter. Arsy pun dimintai untuk tenang, agar tidak banyak pikiran.
__ADS_1
"Saya minta kepada ibu Arsy untuk menjawabnya dengan jujur, katakan semua yang benar adanya."
"Baik, bu Dokter. Saya akan menjawab pertanyaan dari ibu Dokter dengan jujur." Jawab Arsy berusaha untuk tenang, entah kenapa juga Arsy ikut cemas dan sedikit takut saat berhadapan dengan seorang Dokter.
"Tanggal berapa ibu Arsy telat datang bulan?" tanya ibu Dokter dengan tatapan yang sangat serius. Sedangkan Arsy berusaha untuk mengingatnya agar tidak salah menjawab.
Tiba tiba Arsy tercengang, dirinya pun baru teringat saat dirinya sudah lama tidak kedatangan tamu bulanan.
"Saya sedikit lupa, Dok. Saya mau lihat diponsel sebentar boleh, 'kan Dok?" Pinta Arsy sedikit malu.
"Boleh, silahkan." Ucap sang Dokter sambil memainkan mouse nya.
"Maaf, Dok. Tas saya berada di mobil." Jawab Arsy semakin tidak enak hati, Arsy segera turun dari tempat pembaringan untuk meminta suaminya mengambilkan tas miliknya.
"Sayang, aku mau minta tolong sama kamu. Ambilkan tasku di dalam mobil, tadi aku lupa membawanya. Aku harus mengecek tanggal datang bulanku ,sayang ...." pinta Arsy merayu.
"Bukankah yang sakit itu kepala kamu dan perut kamu, kenapa sampai datang bulan segala yang diperiksa. Yang benar saja itu, Dokter. Sudah aku bilang, kita pindah kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Kamu sih, dibilangin susah." Jawab sang suami yang tidak mengerti dunia kewanitaan.
Raska pun segera mengambilkan tas milik istrinya. Selama berjalan menuju mobil, Raska tidak henti hentinya mulutnya komat kamit tidak jelas.
"Sudah dibilangin masih saja susah, coba mau nurut dan percaya denganku. Semua tidak akan serumit ini, mau tidak mau harus nurut dengannya. Memang benar, seorang wanita memang ingin dimengerti. Meski susah untuk dimengerti, harus siap menerima konsekuensinya." Gerutu Raska sambil berjalan untuk mengambilkan tas istrinya.
Semua orang yang mendengarnya pun, hanya geleng geleng kepala saat melihat Raska yang tidak henti komat kamit.
"Sedang kehabisan obat kali, ya. Sampai segitu parahnya ngerometnya, padahal sangat tampan. Ternyata ketampanan dapat hilang hanya dengan kehabisan obat warasnya." Bisik salah seorang yang melihat dan mendengar Raska yang sedang menggerutu.
"Iya, benar. Sepertinya memang kehabisan obat. Sayang sekali, ya. Padahal orangnya sangat tampan, tetapi kurang 100%." Jawab satunya ikut membicarakan Raska.
Sedangkan Raska tidak dapat menangkap pembicaraan orang tersebut, dirinya tidak ingin ambil pusing. Raska langsung masuk ke ruangan pemeriksaan, karena takut sang istri sudah menunggunya.
__ADS_1
Setelah sampai didalam ruangan, Raska langsung memberikannya kepada sang istri.
"Sayang, ini tas kamu." Ucap Raska sambil memberikan tasnya.
"Terimakasih, sayang .... sekarang ikut aku untuk menemaniku masuk kedalam."
"Untuk apa, apakah kamu akan diperiksa yang lebih aneh lagi?" tanya sang suami semakin penasaran.
"Tidak, nanti kamu akan mengerti sendiri. Ayo, ikut aku masuk kedalam ruangan." Ajak Arsy menarik tangan suaminya untuk ikut masuk kedalam.
Arsy dan suami segera duduk dihadapan sang Dokter, Raska melihatnya pun sedikit curiga. Entah ada keanehan apa pada diri Raska, hingga membuatnya menjadi bahan tertawaan orang lain.
"Sebentar ya, Dok. Saya mau melihatnya terlebih dahulu, karena saya benar benar sudah lupa. Dan, maafkan saya yang sudah membuat ibu Dokter menunggu lama." Ucap Arsy yang merasa tidak enak hati dengan sang Dokter, karena dirinya sudah membuat ibu Dokter menunggu lama.
"Iya, tidak apa apa. Silahkan untuk mengeceknya kembali, karena harus benar benar sesuai pada bulan sebelumnya. Tidak boleh asal untuk mengira ngira, intinya harus benar."
"Baik, Dok." Jawab Arsy yang kemudian membuka tombol kuncinya, setelah itu segera mencari kalender yang dijadikan pengingat.
Tidak lama kemudian, Arsy melihat tanggal yang dijadikan pengingat. Arsy mulai mengingat berapa lama dirinya tidak kunjung datang bulan. Saat melihat tanggal yang dijadikan pengingat, Arsy langsung tercengang. Apa yang dilihatnya benar benar sangat jelas, terlihat senyum mengembang pada kedua sudut bibirnya.
Raska yang melihat ekspresi istrinya pun heran, ditambah lagi sang istri senyum senyum sendiri tanpa mengajaknya untuk ikut tersenyum.
"Sudah ketemu, Dok." Ucap Arsy dengan reflek begitu saja.
"Iya, katakan. Tanggal berapa ibu Arsy telat datang bulannya."
"Ternyata udah satu bulan Dok, jawabnya sambil menahan kepalanya yang lumayan terasa sedikit pusing.
"Satu bulan? kenapa ibu Arsy sampai lupa untuk mengingatnya. Baiklah, jawabannya sudah sangat jelas. Ditambah lagi ibu Arsy merasakan pusing dan juga mual, saya rasa alasan yang cukup jelas untuk dilakukan pemeriksaan yang lebih akurat. Sebelum dilakukan USG, saya akan meminta suami ibu Arsy untuk ikut melihat kebenaran yang mungkin saja sudah dinanti nantikan."
__ADS_1
"Maksud ibu Dokter saya hamil?" tanya Arsy tidak percaya dan mencoba menebak maksud dari ucapan ibu Dokter.