
Arsy dan Yona kini sudah berada di taman belakang sambil menikmati secangkir teh pahit dan makanan ringan.
"Kak, memangnya kakak tidak memiliki saudara?" tanya Yona penasaran.
"Tidak, kakak sebatang kara sekarang. Kakak tidak memiliki siapa siapa lagi selain mas Darma." Jawab Arsy sambil melihat bunga bunga yang bermekaran, dan juga kupu kupu yang berterbangan.
"Lalu bagaimana dengan perusahaan orang tua kakak?" tanyanya lagi.
"Kagak tidak tahu, mungkin saja sudah ada yang mengurusnya." Jawabnya datar.
"Lantas kenapa bukan kakak saja yang langsung terjun ke perusahaan. Bukankah kak Arsy juga pintar, dan kakak saja selalu mendapatkan peringkat. Kenapa tidak berusaha mencobanya, kak?" tanya Yona basa basi.
"Kakak sedang malas untuk berbuat apa apa, kakak sedang tidak memiliki semangat yang tinggi." Jawabnya.
"Kan, sayang dong kak... jika kakak tidak meneruskannya." Ucap Yona sambil meminum teh hangatnya.
"Mungkin nanti mas Darma yang akan meneruskannya. Kalau kakak sepertinya tidak mampu. Aaah sudahlah, kamu jangan membahasnya. Aku sedang ingin membahas yang lainnya, yang bisa membuat kakak bisa tersenyum kembali.
"Oh iya, kamu sudah besar dan juga sudah pantas untuk menikah. Kenapa kamu tidak segera menikah?" tanya Arsy menambah obrolan.
"Yona masih ingin menggapai cita cita kak, menikah muda takutnya akan kehilangan masa masa mudanya. Maka dari itu, Yona ingin menyelesaikan pendidikan Yona dulu, kak..." jawab Yona berusaha tersenyum.
"Benar, kata kamu. Sebaiknya kamu selesaikan tugas tugas kamu dalam belajar, jangan pemalas dan jangan mudah menyerah. Percayalah, kesuksesan akan datang dengan kegigihan kita dan juga tidak mengenal kata menyerah." Ucap Arsy mencoba menasehati adik iparnya, meski hanya didengar telinga kanan dan keluar ke telinga kiri.
__ADS_1
Setelah merasa sudah cukup mengobrol, Arsy dan Yona segera masuk kedalam rumah. Karena matahari pun sudah hampir tenggelam bersama waktu yang sudah berlalu.
"Yona, nanti kamu tidurnya bareng kakak saja. Karena kakak sendirian." Ucap Arsy sambil melangkahkan kakinya beriringan.
"Iya, kak.. tenang saja. Kak Arsy tidak perlu khawatir, Yona akan menjaga kakak untuk menggantikan kak Darma." Jawab Yona berusaha bersikap sebaik mungkin, meski kenyataannya perasaan kesal yang diumpatkannya.
Arsy pun tersenyum mengembang, rasa khawatirnya pun mulai sedikit berkurang. Arsy percaya, bahwa suaminya keluar kota benar benar ada tugas.
Sedangkan Darma kini sudah berada di rumah Tuan Nugraha. Posisinya sedang berada dikamar kamarnya, yang dimana akan menjadi kamar pengantin barunya bersama Zelyn. Darma tidak dapat membayangkan, jika dirinya benar benar akan menikah lagi. Perasaannya pun kini tidak karuan rasanya, dirinya pun teringat akan sosok istrinya. Yang dimana sudah bertahun tahun menjalani hubungannya. Dan kini rumah tangganya harus mengalami cobaan yang begitu berat.
Darma pun tidak dapat memejamkan kedua matanya untuk tidur dengan lelap. Pikirannya pun tertuju pada Arsy, yang dimana saat dirinya pertama kali jatuh cinta dengan istrinya. Darma berusaha menepis pikiran buruknya, namun tetap saja teringat dalam pikirannya.
"Darma... kamu belum tidur?" tanya sang Ibu yang mengagetkan putranya yang sedang berbaring.
"Ibu... kenapa mengagetkanku sih.. dan kenapa tidak mengetuk pintu dulu." Jawab Darma yang kemudian segera duduk dan bersandar.
"Darma sudah siap, dan Darma akan menuruti permintaan Ibu." Jawab Darma dengan raut wajah yang begitu cemas dan gelisah.
"Kamu tidak sedang bohongi Ibu, kan?" tanyanya yang masih menyelidik.
"Tidak, Bu... Darma sudah siap menerima resikonya. Jika Arsy pada akhirnya akan mengetahui, maka Darma siap menerima keputusan dari Arsy. Itu kan, yang Ibu inginkan?" jawab Darma dan balik bertanya.
"Iya, memang itu yang Ibu inginkan. Kamu segera mendapatkan keturunan, dan kita akan segera mendapatkan warisan dari kakek kamu. Apa kamu rela, harta warisan jatuh ke tangan Raska? tidak, kan?" ucap sang Ibu yang masih memikirkan harta warisan. Sedangkan Darma hanya bisa menggelengkan kepalanya heran.
__ADS_1
"Terserah Ibu saja, Darma nurut apa kata Ayah dan Ibu. Jika memang itu yang menbuat kalian berdua bahagia. Darma rela melepaskan Arsy jika memang kenyataannya Arsy yang memintanya." Jawab Darma dengan pikirannya yang kacau. Sedangkan sang Ibu hanya tersenyum puas akan jawaban yang diberikan dari putranya.
"Ibu tidak melarang Arsy untuk tidak meminta cerai. Namun jika Arsy memintanya, kamu harus melakukannya. Dan kamu sama Zelyn segera menikah menurut hukum. Apakah kamu mengerti?" ucap sang Ibu memberi perintah.
"Terserah Ibu saja, Darma sudah pasrah dengan Ibu dan Ayah. Jika memang keputusan kalian berdua yang terbaik. Maka lakukanlah, selagi Darma masih bisa membalas budi Ayah dan Ibu." Jawab Darma Pasrah.
"Kalau begitu, Ibu pamit keluar. Istirahatlah yang cukup, besok kamu akan menikah." Ucap sang Ibu langsung bergegas keluar dari kamar putranya. Sedangkan Darma segera mengunci kamarnya.
Pagi yang begitu cerah, Kedua orang tua Darma sedang sibuk bersiap siap. Berbeda dengan Darma, bangun tidur terasa berat meski sudah bangun dari awal. Darma yang malas untuk melakukan apapun hanya tidur lagi, karena pikirannya yang merasa benar benar kacau. Pernikahan yang sama sekali tidak diharapkannya kini telah menunggunya.
Tok tok tok.. suara ketukan pintu membangunkan Darma yang masih tertidur. Dengan pelan Darma membuka kedua matanya. Kemudian dirinya segera membukakan pintunya.
Ceklek, Darma membukanya. Dan dilihatnya sang Ibu yang sudah membawakan pakaiannya untuk menikah.
"Baju untuk siapa?" tanya Darma sambil menguap karena baru bangun tidur.
"Baju untukmu, Darma... cepetan mandi dan pakai pakaian ini yang sudah Ibu siapkan. Nanti kita terlambat." Perintah Ibunya, kemudian Darma segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah lumayan cukup lama berendam, kemudian Darma keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya pakaian lengkap untuk menikah, Darma teringat akan jiwa semangatnya untuk mendapatkan Arsy. Namun bahterai rumah tangganya kini seakan hancur tanpa Arsy mengetahuinya.
Darma pun merasa berat untuk memenuhi permintaan kedua orang tuanya. Darma sendiri serasa ingin menolaknya, namun lagi dan lagi Darma teringat akan kekurangan sang istri yang dimana tidak bisa melayaninya dengan baik. Hingga dirinya memutuskan untuk menerima tawaran dari kedua orang tuanya dengan cara menikah lagi.
__ADS_1
Dengan terpaksa, Darma langsung memakai pakaian yang sudah diberikan oleh sang Ibunya. Darma bercermin dan sambil merapihkan penampilannya, dirinya tidak menyangka jika akan menikah yang kedua kalinya.
Maafkan aku, istriku. Maafkan aku, jika aku telah melakukan kesalahan besar ini. Jika kamu tidak sanggup untuk menerimanya, maka aku tidak akan melarangmu untuk membenciku. Aku siap menerima jawaban seburuk apapun itu dari mulutmu. Aku tau ini salah, tapi akupun membutuhkannya. Maafkan aku, istriku.. batin Darma sambil bercermin.