Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Menikmati sarapan pagi bersama suami


__ADS_3

Raska segera memberikan amplop tebal pada bang Soni untuk dibagikan kepada teman temannya.


"Bang Soni." Panggilnya dan menghampiri bang Soni yang sedang mencuci mangkok.


"Ada apa, nak Raska?" tanya bang Soni sambil menaruh mangkoknya.


"Ini, seperti yang saya janjikan barusan kepada bang Soni. Ini ada rizki yang tidak seberapa dari saya, saya berharap cukup untuk mereka mereka dan untuk bang Soni juga tentunya." Ucap Raska sambil memberikan amplop tersebut kepada bang Soni.


"Nak Raska, kenapa kamu repot repot selalu memberi kami rizki. Kami semua masih bisa mencarinya, tidak perlu diberi seperti ini."


"Jangan menolak, Bang. Saya ikhlas, kok. Saya mohon, diterima ya Bang."


"Baik, Nak Raska. Sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak atas rizki yang nak Raska berikan kepada saya. Semoga semua akan menjadi berkah, saya doakan selalu untuk nak Raska dan sekeluarga agar selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan."


"Aamiin .... terimakasih ya, Bang. Kalau begitu, saya pamit pulang. Kasihan istri saya yang sudah menunggu lama, permisi." Ucap Raska berpamitan.


Setelah berpamitan, Raska segera kembali ke mobil. Dilihatnya sang istri yang masih memasang muka masamnya sambil meremas remas pakaiannya karena kesal menunggu.


"Sayang, maaf jika kelamaan. Kamu marah, ya? jangan gitu dong. Aku habis berbagi dengan mereka mereka yang membutuhkan, agar kita tidak menjadi orang yang tamak." Ucap Rasis menjelaskan sekaligus menasehati.


Arsy pun segera menoleh kebelakang, dan ditatapnya wajah suaminya yang terlihat senyum mengembang.


"Maafkan aku, karena aku tidak mengetahuinya jika kamu sedang berbagi. Tidak pernah aku tahu, jika kamu suka berbagi. Yang aku tahu cuman perhatian dengan anak anak jalanan, rupanya dugaanku salah."


"Makanya, sebelum memvonis seseorang itu harus dilakukan penyelidikan. Jangan main menuduh, itu tindakan yang sangat tidak baik. Bisa jadi, orang yang kita cerca dan kita pojokkan adalah orang yang pernah menolong kita."


"Iya, aku mengerti. Aku sangat beruntung bisa menjadi istrimu, ternyata kamu benar benar suami idamanku." Jawab Arsy kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Ayo, kita pulang. Aku pun juga sudah sangat lepat, demi mereka aku rela untuk menahannya. Karena penghasilan mereka berbeda dengan penghasilan kita, jadi apa salahnya kita yang menahan lapar. Buktinya, tidak lama kita langsung pulang. Mereka orang, masih menunggu dagangannya habis baru pulang Terkadang juga tidak habis. Mau bagaimana lagi, pemiliknya yang harus menghabiskannya."


"Benar, sekali." Jawab Arsy, kemudian langsung menarik tangannya dan mengajaknya untuk masuk kedalam mobil.


Sebenarnya rumah Raska tidak jauh dari tempat orang orang berjualan, tetapi karena kondisi istrinya yang sedang hamil muda. Raska tidak tega melihat istrinya kelelahan, ditambah lagi sedang mengandung calon anaknya. Raska semakin tidak tega untuk membiarkan istrinya berjalan kaki sampai rumah. Raska pun tidak ingin terjadi apa apa terhadap calon anaknya, apapun itu akan dilakukan oleh Raska demi calon anak dan istrinya.


Tidak memakan waktu yang lama, kini Raska dan Arsy telah sampai didepan rumah milik Raska. Keduanya segera turun dari mobil dan tentunya sudah tidak sabar untuk menikmati bubur ayamnya yang sudah menggugah selera makannya.


Sesampainya di ruang makan, Arsy dan Raska segera mencuci tangannya. Kemudian, Raska pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"Sayang, kamu mau minum jus buah atau air putih?" tanya Raska yang teringat bahwa istrinya sedang hamil, dan harus dijaga pola makannya.


"Jus alpokat ya, sayang ..." jawab Arsy sambil menbuka bungkusan bubur ayamnya.


"Biar saya saja yang membuat jus buahnya, Tuan." Ucap salah satu pelayan yang sudah berada di dapur.


"Baik, Tuan. Akan saya ingat jadwal Nona meminum vitamin dan susu." Ucapnya, kemudian segera membuatkan jus Alpokat sesuai permintaan Arsy.


Sedangkan Arsy dan Raska kini sedang menikmati bubur ayamnya.


"Bagaimana rasanya bubur ayamnya, enak?" tanya Raska sambil menyuapi istrinya.


"Sangat enak, bahkan aku merasa ketagihan. Besok kita beli lagi ya, sayang ..." jawab Arsy sambil menikmati bubur ayamnya.


"Apa sih yang tidak untuk kamu, sayang ... bahkan andai saja kamu menginginkan isi dunia ini, aku akan menyerah." Ucap Raska tersenyum melebar. Arsy yang mendengarnya pun tertawa lepas.


"Permisi, Nona .. dan Tuan ... ini jus alpokatnya. Untuk vitamin dan susunya, kapan Nona muda akan meminumnya?" tanyanya dengan lembut.

__ADS_1


"Mbak Yuli tidak perlu repot repot melayaniku untuk meminum vitamin atau minum susunya. Biar aku saja yang membuat susunya, mbak Yuli cukup melakukan pekerjaan mbak Yuli saja. Terkecuali aku meminta tolong sama mbak Yuli. Lain kali tidak perlu ya, mbak ..." Jawab Arsy dengan lembut.


"Baik, Nona. Saya permisi ..." ucapnya, kemudian segera pergi dari hadapan majikannya.


"Apq kamu yang menyuruh mbak Yuli untuk melakukannya?" tanya Arsy dengan tatapan yang serius.


"Iya, sayang ... aku hanya ingin memperlakukan kamu dengan baik. Selagi aku masih bisa menggaji mereka, kenapa tidak."


"Tapi aku tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, selagi aku masih bisa melakukannya sendiri bagiku tidak masalah."


"Iya, aku tahu. Aku hanya ingin memperlakukan kamu dengan baik, makanya aku tidak ingin melihat kamu kecapekan. Aku ingin menebus kesalahanku yang sudah membuatmu menghadapi kehidupan yang pahit." Jawab Raska yang teringat saat dirinya meninggalkan janji yang sudah dijanjikan. Hingga membuat wanita yang dicintainya kini harus menanggung penderitaan.


"Aku sudah melupakan masa lalu yang pahit itu, aku tidak mempermasalahkan akan janjimu dulu. Yang terpenting, sekarang kita sudah hidup bersama. Itu sudah membuatku bahagia, sayang ..." ucap Arsy meyakinkan suaminya.


"Terimakasih, sayang ... sekarang aku sudah lega mendengar penjelasan dari kamu."


"Kamu berjanji, jangan lagi pergi meninggalkan aku begitu saja. Aku tidak ingin terulang kembali seperti dulu, aku sudah banyak kehilangan harapan."


Raska segera menggeser posisi duduknya, kemudian merangkul istrinya. Dengan lembut, Raska mencium kening istrinya.


"Aku tidak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya, cukup dengan kebodohanku waktu itu. Dan aku akan selalu menjagamu, meski nyawaku taruhannya." Ucap Raska sambil merangkul istrinya dengan posisi duduk berdampingan.


"Terimakasih ya, sayang ... aku benar benar bahagia saat ini. Semoga akan terus bahagia bersamamu, dan juga bersama calon anak kita ini." Jawab Arsy sambil menggenggam tangan milik suaminya.


Arsy mendongakkan wajahnya dan mengsngkatnya, kemudian dengan lembut Arsy mencium pipi kiri milik suaminya.


"Aku mencintaimu, sayang ..." bisik Arsy di dekat telinga suaminya. Raska yang mendengarnya pun tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2