
Vina benar benar merasa takut untuk menginjakkan kakinya didalam rumah suaminya.
Dengan malas, Vina melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.
"Aaw!!" Darma segera menangkap tubuh istrinya yang tiba tiba jatuh begitu saja.
"Kamu kenapa?" tanyanya sambil menyangga tubuh istrinya.
"Kakiku terkilir, aku tidak terbiasa memakai sandal model seperti ini. Sungguh, sangat menyiksa kakiku ini. Aw! sakit, aduh ..." jawabnya sambil merengek menahan rasa sakit pada kakinya.
"Sudah, diam. Biar aku gendong kamu, jangan protes." Ucapnya, tanpa perduli dengan istrinya yang memberontak ingin turun dari gendongannya. Darma terus berjalan dan menapaki anak tangga dengan cepat menuju kamarnya. Sesampainya didepan pintu kamar, Vina terus berusaha untuk segera turun. Namun, tenaga Darma kini sudah jauh lebih kuat dari sang istri.
"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri." Ucap Vina sambil memukul mukul dada bidang milik suaminya. Darma sendiri tidak memperdulikannya dengan sikap istrinya.
"Buka pintunya, cepat." Perintah Darma sambil menatap lekat istrinya, seakan menghipnotis sang istri. Vina yang mendapat tatapan dari suaminya sendiri terasa terpana dengan wajah tampan suaminya.
'Vina, kamu sadar. Kamu tidak boleh jatuh cinta dengan Bos kamu sendiri, kamu harus ingat." Batinnya mengutuki dirinya sendiri.
Darma dengan pelan menurunkan istrinya di atas tempat tidur, kemudian melepas sandal milik istrinya. Sambil menatap istrinya dengan lekat, Darma mulai menggoda istrinya dengan sentuhan lembutnya. Vina hanya pasrah dengan sikap suaminya itu, bahkan sedikitpun tidak ada penolakan dari istrinya.
Detak jantung milik Vina semakin bergemuruh, dirinya benar benar tidak dapat mengontrolnya.
'Yang benar saja ini, haruskah aku menyerahkan barang berhargaku untuk laki laki ini? aku benar benar sangat takut. Aku takut, jika aku hanya dijadikan mainannya.' Batin Vina berusaha untuk tenang, dan tidak dalam larut kesedihan.
Darma semakin mendekatkan wajahnya kewajah istrinya. Keduanya semakin dekat dalam baradu pandang, Vina mencengkram selimutnya dengan kuat. Seakan dirinya dapat mengendalikan emosinya. Semakin dekat, Darma menghembuskan nafasnya didekat istrinya. Vina pun dapat merasakannya, jantungnya pun masih berdegup kencang.
Vina berusaha mengontrolnya, namun pikiran kacaunya jauh lebih menguasainya. Vina yang merasa tergoda dengan sikap suaminya pun ikut terbawa dengan sentuhan lembut dari suaminya.
"Apakah aku ini suami kamu?" tanya Darma sangat lirih didekat telinga istrinya. Vina pun mengangguk.
__ADS_1
"Apakah aku memiliki hak darimu?" Darma terus bertanya, hingga dirinya benar benar mendapat jawaban yang pasti.
Disaat itu juga, Vina kaget mendengarnya. Dirinya sendiri dilema untuk memberi jawaban kepada suaminya.
"Aku takut." Jawabnya singkat penuh banyak arti.
"Apa yang kamu takutkan."
"Aku takut, jika kamu akan meninggalkanku. Setelah kamu bosan denganku, aku hanya dianggap bekas yang tidak berguna." Jawab Vina sambil menatap lekat pada suaminya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sejengkalkpun, aku akan selalu bersamamu." Ucap Darma meyakinkan istrinya. Kemudian, dengan lembut Darma mencium kening milik istrinya. Darma pun menatap lekat istrinya, Vina tidak berbuat apa apa selain menguatkan dirinya dan meyakinkan dengan keputusannya.
Dengan yakin dan tekadnya yang bulat, Vina mengangguk dan berusaha untuk tersenyum dan meyakinkan suaminya.
Darma yang mengerti maksud dari istrinya, dirinya pun ikut tersenyum melihatnya. Darma sendiri memulai aksinya, dirinya benar benar tidak lagi bisa mengontrol has*ratnya yang sudah berada dipucuk ubun ubunnya. Keduanya menikmati malam panjangnya diatas tempat tidur yang empuk, hingga tidak terasa keduanya terlelap dari tidurnya dalam balutan selimut tebalnya.
***
Pagi yang masih petang, suara kicauan burung pun tengah bersahutan. Darma yang merasa sudah cukup beristirahat, dirinya pun terbangun dari tidurnya. Dilihatnya sang istri yang sedang tertidur pulas, terasa berat untuk membangunkannya.
Dengan lembut, Darma mencium pipi kanan milik istrinya. Seketika itu juga, Vina terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi, kesayanganku." Sapa Darma dengan senyuman manisnya.
"Pagi juga, sayang ..." Vina pun membalasnya. Sedangkan Darma menunjuk dengan jari telunjuk nya ke pipi kanannya, berharap akan mendapat perlakuan manis dari istrinya.
Tanpa pikir panjang, Vina pun langsung mencium pipi kanan milik suaminya dan beralih ke bibir suaminya hanya mengecupnya.
"Sudah mulai berani sekarang, ya ..." ledek Darma yang kemudian menjahili istrinya.
__ADS_1
"Sudah, jangan dilanjutkan. Aku terasa geli, cukup." Ucap Vina yang terasa sangat geli karena ulah suaminya yang jahil."
"Terimakasih ya, sayang. Kamu sudah memberikan mahkotamu yang begitu sangat berharga untukku. Aku benar benar sangat beruntung memiliki kamu, Wo ai Ni." Jawab Darma serius, dan tersenyum mengembang.
"Bahasa apa itu, tadi. Bahasa Korea? bahasa thailand? atau... bahasa china." Tanya Vina yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan suaminya dengan bahasa asing.
"Bahasa China, sayang. Aku sering bertemu dengan orang China saat aku sedang liburan. Aku mencuri kosa kata indah yang dapat aku hafalkan." Jawabnya beralasan.
"Wah, pintar juga kamu. Ngomong ngomong, aku terasa sangat gerah. Aku mau mandi dulu ya, sayang." Ucap Vina yang sudah sangat risih dengan kondisinya yang terbalut selimut bersama suaminya.
"Aaaw!!" ringik Vina menahan sakit.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Darma cemas.
"Kenapa badanku terasa keram, dan juga terasa sakit semua. Aku berasa habis kerja rodi, bahkan terasa sangat tersiksa." Ucap Vina dengan polosnya, tanpa dirinya sadari dengan kejadian semalam yang sudah dilewatinya.
"Hem! apa kamu lupa, dengan kejadian semalam suntuk. Bahkan, kamu begitu menikmatinya. Kenapa kamu jadi mendadak amnesia, apa perlu aku mengingatkanmu untuk melakukannya lagi." Sindir sang suami sambil menggoda istrinya.
"Aah! iya, tenaga kamu begitu kuat. Bahkan aku tidak dapat mengimbangimu yang begitu sangat buas, aku sendiri terasa mendapat gempa bumi yang tidak beraturan pergeserannya. Aah! aku bukan dibidangnya geografi, aku tidak dapat menjabarkannya. Intinya gempa bumi, yang seperti orang orang bilang." Jawab Vina tanpa rasa malu malu terhadap suaminya.
Darma benar benar terasa sangat bahagia, mendapatkan sang istri yang begitu polosnya.
"Sudah, ayo kita mandi bareng. Aku akan membantumu menggosok tubuhmu yang susah untuk kamu jangkau." Ucap Darma, dengan sigap langsung menggendong istrinya menuju kamar mandi.
Vina hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Meski badannya terasa pegal pegal dan keram, Vina tidak memperdulikannya. Keduanya kini menikmati mandinya dengan berendam bersama dengan air hangat.
Darma dan Vina pun saling bergantian untuk menggosok bagian tubuhnya yang sulit untuk dijangkau. Kebahagiaan kini telah tercipta oleh kedua insan yang sedang mabok asmaranya.
TAMAT
__ADS_1