
Disaat itu juga, Bimo benar benar shok saat membaca buku nikah milik temannya yang tidak lain adalah Vina. Bimo benar benar tidak menyangkanya, jika status Vina kini sudah menjadi istri laki laki yang ada didepannya.
"Jadi, kamu benar benar sudah menikah? aku kira hanya bohongan. Selamat ya, Vin. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, maafkan aku yang sudah lancang. Aku benar benar tidak mengetahuinya, maaf." Ucap Bimo sedikit kecewa, padahal dirinya sangat percaya diri untuk memenangkan hati Vina. Sedangkan Hendi sudah memiliki calon istri, pastinya Bimo yang akan memenangkan hatinya Vina, pikirnya. Namun, kenyataannya tidak seperti yang dibayangkannya. Justru Vina yang sudah menikah lebih dulu daripada Hendi, ditambah lagi suami Vina jauh lebih tampan dan juga lebih keren.
"Maafkan aku juga ya, Bim. Aku baru bisa memberimu kabar, bahwa aku sudah menikah."
"Tenang saja, nanti kamu aku undang pas acara pernikahan kami berdua." Ucap Darma ikut menimpali.
"Terimakasih. Kalau begitu aku pamit pulang ya, Vin, mas Darma." Ucap Bimo berpamitan, dirinya merasa tidak enak hati bethadapan dengan suami Vina.
"Loh, kopinya belum diminum." Ucap Darma sambil menunjuk kearah satu gelas minuman kopi milik Bimo.
"Buat mas Darma saja, biar melek." Sindirnya, sedangkan Darma hanya menelan salivanya.
Setelah Bimo tidak lagi kelihatan bayangannya, Vina dan Darma kembali masuk dalam rumah. Sedangkan Vina kembali masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Darma sendiri memilih duduk santai diruang tamu sambil menghabiskan minuman kopinya.
Sambil duduk santai, Darma sambil menyruput kopo pahitnya. Setelah merasa bosan dan capek duduk sendiri diruang tamu, Darma masuk kedalam kamar untuk ikut beristirahat bersama sangat istri. Berharap, sang istri tidak lagi merasa kesal terhadapnya.
Sesampainya didalam kamar, Darma mendekati istrinya dan duduk didekat sang istri yang terlihat sedang tidur pulas.
Dengan pelan, Darma ikut tiduran disamping sang istri. Tidak hanya itu saja, Darma memeluk istrinya dari belakang.
'Ngapain lagi sih, pakai acara peluk peluk segala.' Batin Vina sambil pura pura tidur. Berharap sang suami akan ikutan tidur, namun kenyataannya justru menggoda dirinya sendiri.
"Sayang, apakah kamu masih marah denganku?" tanya Darma didekat telinga dan sambil memeluk istrinya. Vina hanya menggelengkan kepalanya, seraya memberikan isyarat atas jawaban dari pertanyaan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, jawab dong pertanyaan suami kamu ini. Apakah seperti itu, sikap istri terhadap suaminya. Jika sedang marah, cara menjawabnya dengan isyarat?" tanya Darma yang masih dengan posisinya memeluk sang istri.
Vina yang tidak ingin beradu argumen yang begitu panjang dengan suaminya, akhirnya Vina membalikkan badannya untuk menghadap suaminya. Darma pun tersenyum mengembang, saat melihat istrinya tengah berhadapan dengannya.
"Maafkan semua kesalahanku terhadapmu ya, sayang. Maafkan aku yang selama ini tidak pernah berkata jujur terhadapmu. Sebenarnya aku ingin menceritakan semuanya kepada kamu, tetapi aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya. Jangankan untuk menjelaskannya kepadamu, pernikahan saja dadakan. Sekali lagi, maafkan aku. Aku sadar, bahwa aku telah jatuh cinta terhadapmu. Entah kenapa, perasaanku begitu kuat denganmu. Apakah kamu benar benar mau menerimaku sebagai suami kamu dengan segala kekuranganku." Ucap Darma meminta maaf dengan sungguh sungguh.
"Aku sudah memaafkan kamu, dan aku mengerti akan perasaan kamu. Aku sudah tidak lagi memikirkan masa lalu kamu, yang terpenting tidak akan kamu ulangi lagi. Aku tidak ingin, jika nasibku harus seperti kak Arsy. Karena aku tidak sekuat dan setegar kak Arsy. Mungkin bisa jadi aku gila di buatmu seperti mantan istrimu." Jawabnya dengan serius sambil menatap lekat suaminya.
"Terimakasih ya, sayang. Kamu mau menerimaku dengan segala kekuranganku, kamu benar benar istriku yang sangat istimewa. Aku sangat bahagia memilikimu, dan aku berjanji untuk tidak menyakiti perasaan kamu." Ucap Darma dan tersenyum, kemudian mencium lembut kening istrinya.
Vina dan Darma akhirnya tersenyum mengembang, kebahagiaan yang benar benar tercipta oleh keduanya. Darma yang sudah tidak sabar, dirinya segera merayu sang istri berbagai macam rayuan untuk menggoda istrinya. Entah apa yang dilakukan oleh Darma, hingga membuat sang istri lemas terkulai sampai tertidur pulas keduanya.
Di lain tempat, ada Raska yang sedang diuji kesabarannya. Raska kini benar benar tidak kuat menjalani peran wanita hamil. Apa lagi, kalau bukan Raska yang mengalami masa ngidamnya sang istri.
"Sayang, udah dong. Masa minta di elus elus terus ..." Ucap Arsy yang sudah bosan dengan kebiasaan suaminya.
"Tapi terasa gatal, sayang." Jawab Raska tersenyum manja.
'Suamiku semakin aneh deh tingkahnya, tidak jauh beda dengan ibu ibu hamil diluaran sana.' Batin Arsy sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sayang,"
"Hem!" jawab Arsy singkat.
"Kok hem! sih, sayang." Ucap Raska ikut datar.
__ADS_1
"Minta apa lagi, sayang?"
"Aku lapar, aku ingin makan bakso mercon."
"Perasaan tadi baru makan mie ayam deh, masih laper?" tanya sang istri penuh heran.
"Iya, masih laper." Jawabnya, kemudian tersenyum melebar.
"Baiklah, aku mau pesankan dulu lewat pak supir. Sepertinya belum pulang, sekalian dicatat. Agar tidak bolak balik belinya, kasihan pak sopir." Ucap Arsy mengingatkan.
"Ah! iya, kamu benar. Baiklah, ambilkan kertas dan penanya." Perintah sang suami.
'Mimpi apa, aku semalam. Mendapati sikap suami yang berubah 180°, sungguh membingungkan.' Batinnya, kemudian segera mengambil kertas dan pena. Setelah itu diberikannya kepada suaminya.
Raska segera mencatat sesuatu yang diinginkannya, entah sudah berapakali membeli makanan di luar sana. Pak supir pun merasa bosan bolak balik kesana kemari hanya menuruti permintaan Bosnya yang tengah ngidam.
"Ini, pesananku. Katakan sama pak supir, sambalnya yang banyak tapi dipisah." Ucap Raska sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan pesanan yang akan di beli.
"Siap! komandan." Jawab Arsy yang sudah bosan mendengar permintaan suaminya itu. Kemudian, Arsy segera menyerahkan secarik kertas tersebut kepada pak supir.
"Pak, tolong belikan makanan sesuai yang tertulis di kertas ini. Saya harap, bapak dapat memakluminya. Bapak mengerti maksud saya, 'kan?" ucap Arsy dengan sangat memohon.
Sebenarnya, Arsy merasa tidak enak hati terhadap supirnya. Namun, mau bagaimana lagi. Jika permintaannya tidak di kabulkan, maka suaminya bisa bertapa berhari hari didalam kamar. Entahlah, sikap Raska yang sering berubah ubah sesukanya secara tiba tiba. Membuat sang istri serba bingung, terkadang seperti anak kecil dan terkadang seperti orang tua kakek kakek.
Sedangkan Arsy sendiri tidak pernah merasakan keluhan keluhan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Semua keluhan yang merasakannya suaminya sendiri, meski terkadang membuat satu rumah sulit untuk mengatasinya.
__ADS_1