Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Merasa tersindir


__ADS_3

Raska masih diam tanpa bersuara dengan posisinya yang masih tengkurap, sedangkan Arsy mencari ide agar sang suami tidak lagi cemberut dengannya.


Dengan pelan, Arsy mendekati suaminya. Berharap suaminya tidak lagi marah maupun memperlihatkan kekesalannya.


"Sayang, geser sedikit dong ... aku ingin tidur dipeluk kamu. Apa kamu tidak kasihan dengan calon anak kamu ini, yang harus tidur tanpa pelukan dari papanya." Rayu Arsy sambil mengusap punggung suaminya berkali kali.


'Aaah! murahan sekali caraku ini, sangat menyakitkan kalau tidak mendapatkan respon darinya.' Batin Arsy sambil merayu suaminya.


Raska langsung membalikkan badannya, kemudian mensejajarkan posisi duduknya dengan sang istri.


Raska langsung merangkul istrinya yang berada di sampingnya, kemudian mencium kening istrinya penuh mesra. Arsy pun tidak menyangkanya, jika suaminya tiba tiba kembali lunak dan sangat lembut.


"Jangan ulangi lagi, walaupun itu hanya sepele. Setidaknya kamu belajar jujur dengan kedua mata kamu, wajar jika aku cemburu. Kamu sudah menjadi milikku, bahkan hakku sepenuhnya. Seseorang memiliki cara pandang yang berbeda untuk memiliki pendapat dengan satu penglihatan. Satu gambar bisa menjadi banyak arti jika yang yang mengartikan banyak orang, terkecuali sudah ada penjelasan sebelumnya." Ucap Raska yang masih merangkul istrinya, Arsy yang merasa tersindir dirinya merasa bersalah atas perbuatannya yang memang bisa dikatakan sangat spele.


"Maafkan aku, karena aku tidak berkata jujur. Karena aku pikir, aku akan melukai perasaan kamu jika aku berkata jujur. Tetapi kenyataannya aku telah melukai perasaan kamu yang ternyata aku tidak berkata jujur, sekali lagi maafkan aku." Jawab Arsy yang benar benar merasa bersalah.


"Sekarang, tidurlah. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu tidur seorang diri, aku akan selalu memelukmu dikala kamu tidur."


"Terimakasih, sayang ... aku tidak akan pernah menyesal telah mencintaimu. Aku benar benar sangat beruntung memiliki suami sepertimu" Jawab Arsy yang kemudian mencium pipi milik suaminya dengan lembut.


"Jangan memancingku, malam ini aku sangat mengantuk. Besok kita akan pergi ke Asrama, sekarang tidurlah."


"Iya, sayang. Cepetan geser sedikit, aku ingin tidur berada di dekapan kamu."


Raska pun segera menggeser badannya, kemudian Arsy tidur di sebelah suaminya dan berada di dekapan sangat suami.

__ADS_1


Karena rasa kantuk yang sudah tidak dapat ditahan, Arsy maupun Raska sudah terlelap dari tidur pulasnya. Keduanya berada dalam mimpinya masing masing.


****


Setelah melewati malam panjangnya, Arsy mencoba membuka kedua matanya dan mengeceknya berkali-kali.


Pagi yang masih petang, Arsy sudah bangun dari tidurnya. Dilihatnya sang suami yang sedang tidur pulas, Arsy memilih untuk bangun lebih dulu. Kemudian segera masuk ke kamar mandi, karena hajat kecilnya yang sudah tidak tertahan.


Merasa sudah cukup dan tidak lagi terasa mengganjal, Arsy segera keluar dari kamar mandi setelah selesai mencuci muka dan menggosok giginya.


Ceklek, brug!! "aww!!" Arsy kaget dibuatnya, kepalanya pun segera mendongak ke atas. Dilihatnya sang suami yang sudah berada di depannya, Arsy hanya tersenyum melebar.


"Senyum, lagi. minggir! aku sudah kebelet dari tadi, cepetan dikucir tuh rambut kamu. Setelah ini, aku akan mengajakmu jalan jalan pagi."


"Iya, sayang." Jawabnya, Raska sendiri segera masuk ke kamar mandi karena sudah tidak tertahan lagi.


'Bukankah semalam baru saja melarangku untuk berjalan kaki, lantas kenapa pagi pagi gini mengajakku untuk jalan jalan. Apakah sepanjang jalan nanti akan menggendongku, yang benar saja.' Batinnya yang masih terus mencerna ajakan suaminya.


Setelah keduanya sudah bersiap siap, Raska dan Arsy segera keluar dari kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamar, Raska teringat sesuatu.


"Tunggu! mau lewat mana, kamu? hem!"


Baru saja mau melangkahkan kakinya, suara Raska memaksanya untuk menghentikan langkahnya. Arsy segera menoleh kearah suaminya dengan memasang senyum lebarnya.


'Kalau tidak digendong, pasti lewat lif. Aku yakin, itu." Batin Arsy menebaknya.

__ADS_1


"Aku mau lewat udara, ya! lewat udara." Jawabnya meledek.


"Tidak lucu!" ucap Raska langsung menggendong istrinya.


"Turunkan aku, apa kata kakek nanti." Rengek Afna takut jika sang kakek melihat tingkah konyol dari cucunya.


"Diam! nanti kita bisa jatuh." Ucap Raska sambil menuruni anak tangga.


Setelah sampai di anak tangga paling bawah, keduanya tercengang saat melihat seseorang yang sudah berdiri tidak jauh pandangannya dari anak tangga.


Raska pun segera menurunkan istrinya, kemudian menggandeng tangan istrinya dan menghampiri sesorang yang sudah berdiri tegak yang tidak jauh dari pandangannya. Arsy pun sedikit shok dan juga kaget tentunya, dirinya tidak pernah menyangka akan dipertemukan kembali. Bahkan kini berada dihadapannya, sebisa mungkin Arsy untuk bersikap tenang.


"Apa kabarnya, Darma?" sapa Raska sambil mengulurkan tangannya.


"Kabarku baik, kamu?" jawabnya sambil mengulurkan tangannya. Keduanya kini saking menjabat, bukan untuk bertarung merebutkan sesuatu. Tetapi untuk saling menyapa dan bertanya kabar satu sama lain.


"Cepat sekali kamu pulang, apakah kamu pergi hanya untuk berlibur? atau... hanya kunjungan saja ke luar Negri." Tanya Raska basa basi, sedangkan Arsy hanya diam. Dirinya tidak berani membuka suara, walau hanya sepatah katapun.


"Aku hanya berlibur, tidak lebih. Kakek yang memintaku untuk pulang, karena aku harus kembali ke perusahaan. Dan kamu Arsy, bagaimana kabar kamu?" jawab Darma dan menyapa mantan istrinya.


"Oooh! cuman itu. Kabar istriku seperti yang kamu lihat, istriku baik baik saja." Ucap Raska yang langsung mewakilkan istrinya, sedangkan Arsy sendiri hanya bisa diam. Dirinya tidak ingin suaminya akan salah paham seperti yang sudah sudah. Arsy lebih memilih diam untuk menghadapi sikap suaminya. Darma yang mendengar ucapan dari sepupunya pun merasa tersindir, ditambah lagi mantan istrinya hanya diam tanpa bersuara.


"Syukurlah, kakek dimana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Darma ..." seru kakek memanggilnya. Ketiganya menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya sang kakek yang sudah bau wangi dan terlihat segar sambil berjalan untuk menghampiri kedua cucu laki lakinya.

__ADS_1


"Tumben, kakek sudah mandi. Bau wangi lagi, seperti anak muda sajak nih kakek. Jangan jangan kakek lagi kasmaran, ya?" ledek Raska yang heran dengan penampilan kakeknya.


"Enak saja kamu bicara sama kakek kamu ini, Raska ...." kakek ini lelaki yang setia. Kakek tidak akan pernah tergiur dengan wanita lain, apalagi hanya datang sebagai pengganggu. Kakek tidak segan segan untuk mengusirnya, karena rasanya dinomor duakan itu sangat sakit. Dan kamu, Raska dan Darma. Jangan sia siakan wanita yang benar benar mencintaimu. Karena jika kalian menyia nyiakannya, maka kalian akan menyesal dikemudian hari." Jawab sang kakek menasehati, sedangkan Darma merasa teriris hatinya. Dirinya benar benar tersindir dari ucapan kakeknya, ditambah lagi mantan istrinya ada dihadapannya. Tidak hanya itu, mantan istrinya kini menjadi istri sepupunya sendiri.


__ADS_2