Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Perasaan


__ADS_3

Setelah turun dari mobil, Vina masih berdiri dipinggir jalan sambil nunggu mobil angkot selanjutnya. Begitu juga dengan Darma yang ikut berdiri dengan jarak yang tidak jauh pandangannya.


"Jaka sembung, kamu ngapain ngikuti aku. Pergi pergi pergi ...." usir Vina sambil mendorong tubuh Darma.


"Enak saja, siapa yang ngikutin kamu. Kepedean banget kamu, cih!"


"Kalau tidak ngikutin, ngapain berada disini." Ucap Vina sambil berkacak pinggang.


"Aku sedang menunggu mobil angkot. Kenapa emangnya, hah! mau ikut ikutan juga?"


"Idih .... sorry dari dulu aku naiknya angkot. Mau apa? marah? terserah aku dong." Ucap Vina langsung pindah tempat agar berjauhan, namun masih satu arah.


Sedangkan Darma pun ikut menunggu angkot lewat, meski terik panas matahari sekalipun.


Tidak lama kemudian, mobil angkot yang sudah ditunggu tunggunya kini berhenti didepannya. Vina pun segera masuk kedalam mobil, dan beberapa meter kedepan mobil pun kembali berhenti. Darma masih berdiri mematung, ingin masuk namun ada Vina didalamnya. Tidak masuk, dirinya ingin segera pulang. Mau tidak mau, Darma terpaksa naik mobil bersama Vina.


Darma celingukan didalam mobil, lagi lagi bangku yang tersisa ada disamping Vina. Dengan terpaksa, Darma duduk disamping Vina. Tidak hanya itu saja, keduanya pun duduk berdekatan dan sangat dekat.


"Apes bener aku hari ini, harus bertemu denganmu dua kali." Bisik Darma didekat telinga Vina. Dengan cepat, Vina langsung menoleh kearah Darma sambil melotot didepan Darma.


"Kamu pikir, aku tidak ngenes. Gara gara kamu, aku harus menahan lapar." Jawab Vina dengan terang terangan didekat para penumpang lainnya.


"Aduh, Mas. Jahat banget sih, istrinya sampai kelaparan begitu." Ucap salah satu ibu ibu yang duduk didepan Darma. Sedangkan Darma tidak perduli dengan ucapan ibu tersebut yang duduk didepannya.


"Pak sopir. Nanti sebelum perempatan berhenti ya, Pak."


"Iya Neng, sebentar lagi sampai." Jawab Pak sopir.


Tidak lama kemudian, mobil pun berhenti sesuai permintaan Vina.


"Sudah sampai, Neng." Ucap Pak supir setelah menghentikan mobilnya.

__ADS_1


"Ini pak, uang ongkos bayarnya." Jawab Vina sambil membayar ongkos angkotnya, setelah itu segera turun dari mobil yang ditungganginya.


Perasaan Vina dan Darma sama sama lega, karena keduanya tidak lagi bertemu.


"Akhirnya, aku bebas dari Jaka sembung. Meski aku harus jalan kaki untuk memasuki gang, syukur syukur ada abang ojek gratis." Gerutu Vina sambil tarik nafasnya.


Tin tin tin tin, suara klakson mobil tengah mengagetkan Vina yang sedang menyebrang jalan. Dengan cepat, Vina langsung menoleh kearah mobil tersebut.


"Vina, ayo ikut aku sekalian. Kasihan kaki kamu itu, ada kabar baik untuk kamu." Ucap Hendi menghentikan langkah Vina, sedangkan Vina segera menghampiri Hendi.


"Kabar baiknya kamu kirim lewat pesan saja ya, Hen. Aku tidak mau jadi gosip murahan, kamu tahu sendiri warga sekitar, 'kan?"


"Tenang, tidak ada yang mengetahui kamu. Cepatlah, sekali ini saja. Aku males menjelaskannya lewat pesan, capek harus nulis."


"Pake pesan suara lah, mudah kok. Aku minta maaf ya, Hen." Jawab Vina sambil mengatupkan kedua tangannya untuk meminta maaf telah menolak ajakan temannya.


"Vin, sekali ini saja. Besok besok aku tidak akan memaksamu, aku janji." Ucap Hendi memohon.


"Baiklah, ini yang terakhir kamu memaksaku." Jawab Vina, dan diangguki oleh Hendi.


"Nah, gitu dong .... kita sudah berteman dari dulu. Jadi untuk apa kita harus canggung, Vin."


"Bukannya begitu, Hen. Kamu kan tahu sendiri keadaan keluargaku dari dulu sampai sekarang, hanya punya penghasilan dari kernet. Sedangkan ibuku dulu hanya sebagai buruh cuci dan setrika." Jawabnya sedikit lesu.


"Kenapa kamu begitu lemah, seharusnya kamu itu jadi wanita yang lebih kuat dan juga lebih tangguh. Bukankah kamu dari anggota bela diri, mana ketangguhan kamu."


"Itu lain, Hen. Oh iya, cepetan katakan apa yang mau kamu sampaikan."


"Ini, sudah aku tulis dalam lembaran kertas. Kamu baca dengan teliti, dan jika kamu membutuhkan bantuan atau ada yang tidak tahu kamu bisa hubungi aku." Ucap Hendi sambil memberikan lembaran kertas.


Vina menerimanya, dan membacanya dengan seksama. Ada sedikit senyum disudut bibirnya, meski kenyataannya belum diterima kerja. Jangankan untuk diterima kerja, mendaftar saja belum dimulai.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Hen. Dari dulu kamu selalu membantuku, sedangkan aku selalu menyusahkan kamu." Jawab Vina merasa tidak enak hati.


'Karena dari dulu aku padamu, Vin. Setelah sukses nanti, aku akan melamarmu. Aku berharap, kamu mau menerimaku dan kita akan hidup bersama.' Batinnya sambil memandangi wajah cantik milik Vina dari samping.


"Hen, kamu melamun?" tanya Vina yang dapat menangkap pikiran Hendi yang tiba tiba terlihat kosong.


"Tidak, Vin. Hanya sedikit melamun, itu saja."


"Jangan banyak melamun, nanti kesambet loh."


"Tidak apa apa kesambet, asal kesambet kamu yang cantik." Goda Hendi dan tersenyum.


"Kalau begitu, kita pulang." Ajak Vina yang mulai risih berada di dalam mobil hanya berdua. Berbeda dengan Bimo, tidak ada rasa canggung meski berdua dalam mobil sekalipun. Meski Bimo sebenarnya juga memendam perasaannya terhadap Vina, hanya saja Bimo lebih suka ceplas ceplos dengan Vina. Agar kedekatannya tidak membuat curiga pada Vina.


Walaupun kenyataannya Bimo sering mengatakan cinta, tetapi Vina tidak perduli. Sedangkan Bimo pun berusaha untuk tetap menerimanya.


"Vin, bagaimana kalau kita beli makanan tempat ibu Asih. Sudah lama loh, kita tidak menikmati jajanan diwarung langganan kita."


"Aku lagi nipis, Hen. Jugaan kasihan adik aku, sebentar lagi Diki akan pulang dari les."


"Kamu sama adik kamu sama pintarnya, aku bangga melihatnya Vin. Kalian berdua sama sama tidak ada tuntutan, bahkan soal makanan sekalipun. Kamu tenang saja, nanti aku belikan juga adik kamu."


"Tidak, Hen. Aku tidak mau jadi bahan gosip, bukankah kamu mau dijodohkan dengan Klara?"


"Tau dari mana kamu? pasti ibu ibu berdaster."


"Tidak penting, jugaan Klara wanita cantik dan berkarir. Anak orang kaya lagi, kamu memang benar benar beruntung. Sudah sukses, dapat istri pun juga sukses. Doain aku juga dong, Hen. Agar aku bisa ketularan kesuksesan kamu, dapat suami sukses dan mertua baik."


'Kamu nyindir aku, Vin. Aku tahu kok, ibu aku tidak baik dan selalu merendahkan kamu. Tapi aku tidak seperti ibuku, Vin .... aku pun bisa untuk membatalkan perjodohan. Asal kamu mau menikah denganku, pasti akan aku lakukan.' Gumamnya dalam hati sambil memandangi wajah Vina dari samping.


Sedangkan Vina hanya terdiam, dirinya merasa tidak enak hati soal ucapannya tentang merta baik.

__ADS_1


__ADS_2