Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Berterus terang


__ADS_3

Vina yang masih gemetaran, tubuhnya yang lemas tidak berdaya. Vina masih terdiam, pikirannya kosong.


Ceklek, pintu pun terbuka dari luar, Vina masih tidak meresponnya. Dirinya masih pada posisinya, diam membisu. Darma yang baru masuk pun bingung dibuatnya, dipandangi istrinya yang sedang duduk dikursi kerjanya sambil melamun.


"Sayang, kamu sedang ngapain?" tanya sang suami sambil mendekati sang istri. Dilihatnya sang istri yang sedang ngelamun tidak seperti biasanya.


"Lepaskan!" bentak Vina dipenuhi emosi.


"Sayang, ada denganmu? kenapa kamu jadi galak. Kamu sedang mengerjai ku? hem!" ucap Darma yang tidak mengerti maksud dari sang istri.


Vina yang masih kesal dan disertai emosi, dirinya segera bangkit dari tempat duduknya. Dengan lekat, Vina menatap sang suami yang sedang berdiri di depannya.


"Sayang, kamu jangan bercanda deh. Sudahlah, jangan mengerjaiku seperti ini. Hari ini aku banyak pekerjaan, sedangkan tiga hari lagi kita sudah akan pergi keluar kota." Ucap Darma yang belum dapat mengerti maksud dari istrinya yang tiba-tiba meluapkan emosinya.


"Kamu pembohong." Ucap Vina sambil menunjukkan kekesalannya disertai tatapan matanya yang tidak kalah sadisnya. Darma yang merasa istrinya sedang tidak bercanda, Darma segera berbicara serius terhadap istrinya.


"Maksud kamu mengataiku pembohong itu, apa?" tanya Darma yang juga menatap istrinya dengan tatapannya yang serius.


"Jangan pura pura tidak tahu, cepat! ngaku."

__ADS_1


Jawab Vina yang semakin terlihat kesal, Darma pun bingung dibuatnya.


'Istriku kenapa tiba tiba seperti ini, apakah ada yang sudah menghasutnya? bukankah tadi juga baik baik saja. Lantas, kenapa berubah seperti ini.' Batin Darma yang semakin bingung dengan sikap istrinya yang tiba tiba berubah drastis.


'Da*sar! semua laki laki sama, tidak cukup untuk satu wanita. Aku yakin, pasti tidak hanya satu wanita yang sudah jadi istrinya.' Batin Vina yang masih terasa kesal dengan suaminya.


"Sayang, katakan. Apa yang membuatmu jadi murka begini denganku, cepat beri tahu aku." Tanya Darma berusaha untuk tidak ikut terpancing dengan emosi istrinya.


"Berapa wanita yang sudah kamu tiduri." Jawab Vina balik bertanya.


"Apa! berapa banyak wanita yang sudah aku tiduri?" ucap Darma yang masih berusaha untuk mencerna pertanyaan dari sang istri. Pertanyaannya benar benar sangat memojokkan dirinya.


"Baik, aku akan jelaskan semuanya kepadamu. Aku akan jujur semuanya kepada kamu, sebelumnya aku meminta maaf perihal foto ini. Mungkin ini foto sangat menyakitkanmu, bahkan saat ini kamu sangat kesal dan benci denganku. Foto ini benar kenyataannya, Arsy istri Raska adalah mantan istriku. Baru saja, pernikahan usai. Arsy masuk ke rumah sakit, Dokter pun memvonis akan penyakitnya. Arsy divonis mengidap kanker rahim, dan tidak dapat disembuhkan. Hancur berkeping-keping perasaanku dan juga perasaan Arsy. Namun, kita berdua berusaha untuk tegar dan kuat. Tetapi ujian tidak kunjung berhenti, kedua orang tuaku memintaku untuk menikah lagi. Aku menolaknya, aku tidak ingin menyakiti perasaan Arsy. Aku tetap berusaha untuk menjaga rumah tanggaku tetap utuh, meski ujian selalu datang menghampiri. Tetapi, kedua orang tuaku tetap memaksaku terus untuk segera menikah. Berkali kali aku menolaknya tetap saja, kedua orang tuaku memaksaku. Dan disaat itulah aku melakukan kesalahan terbesar, aku berkhianat dengan istriku sendiri." Ucap Darma menjelaskan panjang lebar.


"Aku masih kurang puas dengan kejujuranmu." Jawab Vina yang masih kurang percaya terhadap suaminya sendiri, Vina sendiri merasa masih menginginkan kejujuran suaminya sepenuhnya.


"Baiklah, aku lanjutkan. Aku berharap, kamu tidak memandangku begitu hina. Meski sebenarnya aku ini terlalu hina untuk kamu kenal. Aku berkhianat dengan istriku sendiri, yang tidak lain aku menikah tanpa sepengetahuannya. Disaat Arsy sedang berduka kehilangan kedua orang tuanya. Aku menikah secara diam diam, hanya keluargaku saja yang dapat mengetahuinya. Aku pun membawa istri keduaku kerumah orang tuaku. Tempat tidurku bersama istri pertamaku harus aku berikan untuk istri keduaku. Disaat itu, aku sedang bercum*bu mesra dengan istri keduaku. Arsy secara tiba tiba pulang kerumah dan mendapatiku yang sedang berduaan didalam kamar. Percayalah, aku hanya melakukannya kepadamu. Aku mohon, jangan kamu ungkit lagi masa laluku itu. Begitu sulit untuk mencernanya, aku ingin memulai hidupku yang baru bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu. Sekalipun kamu tidak dapat memberiku keturunan, aku tetap akan bersamamu." Jawab Darma menjelaskan dan mengutarakan perasaannya.


Vina yang mendengarkannya pun terasa sakit, bila mana dirinya diposisi Arsy. Pastinya sangat menyakitkan, mempercayai suami yang hatinya tertutup dengan nafsu. Sedangkan Vina sendiri, masih terasa sakit mendengar pengakuan dari suaminya. Ingin mempercayai, namun sulit untuknya menerima kejujuran dari sang suami.

__ADS_1


Vina masih dengan diamnya, bibirnya begitu sulit untuk berucap sepatah kata. Kekecewaan yang benar benar terdengar jelas di telinganya, dan kedua matanya yang melihat foto pernikahan yang menjadi perpisahan.


"Aku sedang ingin sendiri, jangan ganggu aku. Biarkan aku untuk menenangkan pikiranku ini, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." Ucap Vina berusaha untuk tenang, kemudian segera melangkahkan kakinya meraih tasnya. Setelah itu, Vina segera keluar dari ruangan kerjanya. Berharap, dirinya mendapatkan udara segar diluaran sana, pikirnya.


"Sayang, aku mohon ... jangan pergi dulu. Temani aku disini sebentar saja, setelah itu aku akan menemani kamu kemanapun kamu mau." Ucap Darma sambil menarik tangan milik istrinya.


"Lepaskan, aku ingin keluar mencari udara baru. Kamu tidak perlu khawatir, aku baik baik saja." Jawab Vina sambil menatap lesu suaminya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan kamu. Aku akan ikutimu kamu sekarang juga, aku tidak ingin terjadi apa apa denganmu." Ucap Darma yang masih berusaha menahan istrinya.


"Terserah kamu, aku jalan kaki dan naik angkot. Jika kamu mau naik mobil silahkan, mau ikut jalan kaki bersamaku juga terserah." Jawab Vina, yang kemudian langsung keluar dari ruangan kerjanya.


Begitu juga dengan Darma, dirinya mengikuti langkah istrinya keluar dari ruang kerjanya sambil mengirim pesan kepada suruhannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Kini, Darma yang kecapekan mengikuti langkah kaki istrinya yang entah kemana arah tujuannya. Semua karyawan di kantornya keheranan melihat Bosnya dan sekretaris bosnya seperti sedang lomba jalan cepat.


Tidak ada yang tidak membicarakan keduanya, semua sibuk membicarakan Bosnya yang terlihat sedang mengejar langkah kaki Vina.


Hendi yang melihat langkah kaki Vina yang begitu cepat pun ikut keheranan, ingin rasanya mengikutinya. Namun, dirinya masih banyak tugas yang harus dikerjakan.

__ADS_1


__ADS_2