Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Merasa bersalah


__ADS_3

Darma pun mengikuti langkah kakek Ganta menuju ruang makan, sedangkan Arsy dengan Raska masih berdiri ditempat.


"Sayang, maafkan aku. Bukan niatku untuk membuatmu kesal, aku hanya tidak ingin ada permusuhan diantara kalian. Bukankah kamu .." Ucap Arsy terhenti begitu saja, saat Raska menempelkan jari telunjuknya pada bibir istrinya.


"Tidak perlu kamu meminta maaf dan tidak perlu kamu membahasnya. Lupakan, aku tidak ingin ada kesalahan lagi. Aku minta maaf, karena emosiku kamu yang aku salahkan." Ucap Raska meminta maaf, kemudian langsung memeluk erat tubuh istrinya. Kemudian, Raska mencium kening istrinya dengan lembut.


Arsy pun tersenyum, kini suaminya tidak lagi memperlihatkan emosinya.


"Ayo, kita ikut makan malam bersama kakek dan yang lainnya." Ajak Raska, Arsy mengangguk dan tersenyum.


"Arsy, Raska. Silahkan duduk, sudah lama kamu tidak ikut makan malam di rumah ini." Ucap ibunya Darma dengan ramah, sedangkan Raska maupun Arsy kembali saling menoleh dan menatap satu sama lsin. Keduanya sama sama mencerna ucapan dari ibunya Darma, yang diantara keduanya saling berasumsi satu sama lain.


'Ini pasti menyangkanya tertuju padaku, aah! serba salah aku berada di rumah ini. Suamiku pasti mengira, bahwa ibunya Darma berbicara denganku yang sudah lama tidak ikut makan malam dirumah ini. Aku yakin itu, apa lagi coba.' Batin Arsy sambil menerka nerka yang ada dalam pikiran suaminya.


'Kenapa juga aku harus datang ke rumah ini, seakan aku yang jadi sasaran api panas. Mereka berdua pasti banyak kenangan indah di rumah ini. Aaaah! kenapa pikiranku jadi kotor pada mereka berdua, ingat Raska! ingat! kamu suami kedua.' Batin Raska yang semakin kacau jalan pikirannya.


"Ayo, kita nikmati makan malamnya." Ucap sang kakek sambil menyerahkan piringnya kepada putrinya untuk diambilkan porsi makannya.


Sedangkan Arsy bingung untuk mengambilkan nasi dan lainnya untuk suaminya. Bukan takut Darma cemburu, tetapi dirinya sedikit canggung dengan keadaan yang kini ingatannya harus diputar kembali.


Raska yang mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya, Raska yang mengambilkan porsi makanan.


Entah ada angin apa, Arsy tiba tiba terasa mual dan terasa pusing pada bagian kepalanya.


"Ini, sudah aku ambilkan. Makanlah, jangan sungkan." Ucap Raska sambil meletakkan piring yang berisi nasi dan sayur sop dan ayam goreng.

__ADS_1


Arsy tiba tiba menutup mulutnya dengan cepat, dirinya pun langsung bangkit dari tempat duduknya. Raska maupun Darma dan yang lainnya ikut heran dengan Arsy yang tiba tiba pergi keluar rumah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Raska sambil berlari. Begitu juga dengan Darma langsung meraih air mineral botolan kemudian ikut mengejarnya.


"Sayang, kamu masuk angin?" tanya Raska cemas dan mengusap usap pelan punggungnya.


Huwek, huwek, huwek, sorrr..... Arsy memuntahkan isi yang ada didalam perutnya. Wajahnya pun terlihat pucat, badannya pun menjadi lemas.


"Minumlah," ucap Darma sambil menyodorkan air mineral botolan kepada mantan istrinya.


Arsy tidak dapat berucap sepatah katapun, badannya terasa lemas. Kepalanya juga terasa pusing dan perutnya terasa tidak karuan.


Raska menatap Darma dengan tatapan tidak suka, Darma sendiri berusaha untuk mencairkan suasana.


"Jangan berprasangka buruk, apa kamu tidak kasihan dengan istrimu. Bukankah Arsy sedang hamil anakmu, berikanlah air minum ini pada istrimu. Aku yakin, istrimu sedang ngidam dan tidak dapat mencium aroma masakan." Ucap Darma kembali, Raska pun menerimanya meski dengan tatapan kesal. Kumudian, Raska segera meminumkan air mineral tersebut kepada istrinya. Sedangkan Darma langsung pergi meninggalkan Raska dan Arsy, ia kembali ke ruang makan dan duduk bersama yang lainnya.


"Arsy mual, mungkin karena dia sedang hamil muda." Jawabnya dengan lesu dan sedikit kecewa dengan pertanyaan dari ibunya.


'Seandainya, ibu dan ayah tidak memintaku untuk berpisah. Mungkin saja Arsy sedang hamil anakku, tapi kenyataannya Arsy sedang hamil anaknya Raska. Sungguh aku belum bisa menerima kenyataan ini, aku kira aku dapat melupakannya. Tetapi, semakin aku mencoba melupakannya semakin sakit hatiku semakin kuat.' Batin Darma dengan sedih dan juga penuh kesal.


Kedua orang tua Darma melihat raut wajahnya yang penuh sesal dan kesal menjadi satu, kedua orang tuanya merasa sangat bersalah terhadap putranya yang sudah memisahkannya.


'Maafkan ibu, Darma. Ibu mengerti akan perasaan kamu saat ini, kamu pasti sakit hati. Saat dirimu melihat Raska dan Arsy kini bahagia, sedangkan kamu masih sendiri. Ibu pun menyesal telah memisahkan kamu dengan Arsy, padahal kalian berdua sama sama mencintai.' Batin sang ibu yang merasa sangat bersalah atas perbuatannya terhadap putranya.


'Kasihan kak Darma, gara gara aku tidak ikut berpihak dengan kak Arsy. Kak Darma harus kehilangan orang yang dicintainya, pasti sakit rasanya. Sungguh, aku sangat menyesal telah berbuat jahat terhadap kakak aku sendiri. Maafkan Yona, kak ...' batin Yona yang juga merasa sangat bersalah atas perbuatannya.

__ADS_1


"Darma mau pergi keluar, kek ... ayah dan ibu." Ucap Darma yang langsung pergi ke garasi mobilnya lewat pintu samping.


"Jangan menghukum diri kamu, Darma." Ucap sang ibu yang khawatir pada putranya.


"Yona, temani kakak kamu." Perintah sang kakek.


"Baik, kek." Jawab Yona yang kemudian segera bangkit dari tempat duduknya untuk mengikuti langkah kaki kakaknya. Sedangkan Darma tidak mempermasalahkan Yona mengikutinya.


Setelah Yona dan Darma pergi dari ruang makan, Arsy dan Raska kembali ke ruang makan. Keduanya duduk kembali, Raska puji segera menghabiskan makanannya.


"Arsy, kamu hamil?" tanya ibunya Darma yang masih penasaran.


"Iya bu, saya sedang hamil." Jawabnya serasa tidak enak hati, Arsy pun teringat saat dirinya dinyatakan mengidap kanker rahim. Dirinya juga mulai diasingkan di keluarga Darma, semua menganggapnya seperti tidak ada.


Begitu juga dengan Kedua orang tua Darma, merasa sangat bersalah telah memisahkan putranya dengan Arsy. Dan merasa bersalah akan perbuatannya tentang penyakit kanker rahim yang dibuat buat.


"Selamat ya, Arsy. Semoga kamu dan juga calon anak kamu selalu diberi kesehatan dan dipermudahkan hingga persalinannya nanti." Ucap ibunya Darma memberi ucapan selamat.


"Jika kamu tidak menyukai bau makanan ini, kamu bisa makan buah dan lainnya yang kamu sukai." Ucapnya lagi.


"Terimakasih, Bu ..." jawab Arsy dan tersenyum.


Raska segera mengambilkan buah dan memberikannya pada istrinya, mau tidak mau Arsy menikmati buah yang sudah diambilkan suaminya.


"Paman, dimana Darma dan Yona?" tanya Raska penasaran. Sejak dirinya kembali ke ruang makan, Raska tidak melihat sosok Darma dan Yona tidak lagi duduk diruang makan.

__ADS_1


"Darma sedang mengantar Yona untuk pergi membeli sesuatu, biasa Yona. Selalu tergiur dengan barang baru, dan jika tidak diberi bisa ngambek berhari hari." Jawabnya beralasan.


__ADS_2