Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Pergi


__ADS_3

Darma mencoba pintu kamar yang terakhir, berharap tidak lagi ada kamar satupun.


'Semoga saja tidak ada kamar, dan papa lupa menyiapkan kamar untukku. Aku sama wanita itu akhirnya tidur dirumah masing masing.' Batinnya sebelum membuka pintu kamarnya.


Ceklek, Darma membuka pintunya selebar lebarnya. Dilihatnya kamar yang membuat Darma dan Vina bergidik ngeri melihatnya. Keduanya sama sama menelan salivanya masing masing dengan susah payah.


Darma masuk kedalam dan kedua matanya celingukan kesana kemari di setiap sudut ruangan.


'Tidak ada sofa maupun guling, yang benar saja. Ini sengaja apa memang lupa, menjengkelkan.' Batinnya penuh kesal.


"Aku masuk ke kamar mandi dulu, ya. Jangan ngintip, awas! kalau sampai ngintip." Ucap Vina sambil menunjukkan pukulannya di depan suaminya.


"Cih! ngintip, aku tidak sudi." Jawabnya ketus.


Vina tidak mempedulikannya, dirinya langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya. Sedangkan Darma menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, kemudian menatap langit langit kamarnya.


'Arsy, ini bukan rencana kamu, 'kan? kenapa sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kamu. Meski kamu sudah bahagia bersama Raska, tetapi aku baru tersadar. Bahwa aku masih mencintaimu, aku tidak bisa melupakan kamu. Arsy ... aku selalu berharap, Raska segera pergi dari kehidupanmu selama lamanya. Aku rela merawat anak kamu dari Raska, asal kamu hidup bersama kamu di kemudian hari.' Batin Darma sambil melamun.


"Pak! aku mau pulang, aku tidak mau tinggal disini. Aku tidak nyaman, kamarnya pun cuman satu. Aku pulang saja, tenang deh! aku bakal masuk kantor." Ucap Vina mengagetkan.


"Apa kamu bilang? mau pulang? sana kalau mau pulang. Aku tidak peduli, mau pulang kek, tidak kek. Bukan urusanku, aku menikah juga gara gara kamu yang hadir dalam hidupku."


"Enak saja, gara gara aku. Kamu tuh yang bikin sial, coba waktu itu kamu jalannya yang benar. Aku pastikan, kita tidak akan pernah ketemu.


"Nyalahin aku lagi." Ucap Darma langsung bangkit dari posisi yang terlentang.


"Kamu tuh, makan saja dipinggir jalan. Kamu pikir jalan itu, milik nenek moyang kamu. Dan kamu tiba tiba nyamperin aku minta tanggung jawab dariku."

__ADS_1


"Ya, benar dong. Emang aku salah, meminta tanggung jawab dari kamu. Memang kamu yang salah, masih saja tidak mau mengaku."


"Cara kamu berbicara yang tidak enak didengar. Minta, minta tanggung jawab. Semua orang pikirannya itu konslet. Pasti menjerumus pada anu, iya anu itu."


"Pokoknya aku mau pulang, titik." Ucap Vina, kemudian langsung pergi meninggalkan Darma.


"Iya, sana pulang. Terserah kamu, itu hak kamu. Aku pun tidak melarangmu untuk tinggal disini, semua terserah sama kamu." Ucap Darma kemudian kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Vina pun tidak peduli dengan ucapan dari Darma. Dirinya tetap pergi meninggalkan Darma.


Sambil jalan, Vina sambil mencari angkot lewat untuk pulang. Vina terus menyusuri jalanan, langkahnya semakin jauh dari rumah yang baru saja didatanginya.


"Vina!" seru seorang laki-laki memanggilnya.


Vina pun segera menoleh ke sumber suara, dan dilihatnya sosok laki laki tengah turun dari mobilnya.


"Vin, kamu dari mana saja. Dari tadi aku mencari kamu, tapi aku tidak menemukanmu. Apa kamu kabur dari Kantor?" tanyanya penasaran.


"Terus, kenapa kamu pulangnya jalan kaki. Kenapa kamu tidak diantar pak Darma sampai di perempatan yang bisa kamu turun dari mobil angkutan umum."


"Tadi ada musibah buruk, ban mobil pak Darma bocor. Jadi, aku pulang lebih dulu." Jawabnya beralasan.


'Tidak mungkin aku bilang, bahwa aku habis nikah sama pak Darma. Bisa bisa aku disangka sedang gila.' Batinnya sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Oooh! aku kira kamu ditinggal begitu saja dipinggir jalan. Kalau begitu, ayo pulang bareng."


"Aku tidak bisa, maaf. Aku tidak ingin kejadian seperti kemarin akan terulang kembali. Maaf ya, Hen. Aku mau naik angkot saja, maaf." Jawab Vina berusaha untuk menolaknya.


"Baiklah, aku akan menemani kamu sampai kamu benar benar naik angkot. Aku tidak ingin melihatmu menyusuri jalanan sampai rumah. Aku tahu, fisik kamu sangat kuat. Bahkan aku kalah denganmu jika untuk berlomba lari. Tapi, aku tidak ingin melihat kamu berjalan kaki menyusuri jalanan."

__ADS_1


"Terimakasih ya, Hen. Kamu dari dulu sangat baik denganku, sedangkan aku selalu menyusahkan kamu." Jawab Vina merasa tidak enak hati.


'Penghalang kita hanya ibuku, Vin. Andai saja, ibu menilai kamu dari sikap kamu dan sifat baikmu. Mungkin, aku sangat bahagia saat ini. Dan tentunya, aku sudah menikahi kamu. Tapi sayangnya, keluargaku begitu haus dengan materi.' Batin Hendi sambil memperhatikan Vina.


"Vin, kita tunggu mobil angkotnya jangan disini. Tidak ada tempat duduk dan juga sangat panas, bagaimana kalau disana." Ujar Hendi sambil menunjuk arah.


"Baiklah, aku jalan dulu."


"Jangan gitu dong, Vin. Mobil aku biar disini, aku akan temani kamu jalan. Sudah lama loh, kita tidak pernah jalan bareng. Jadi ingat saat kita sedang menjadi anak kampus baru, kita berlarian mengejar angkot." Ucap Hendi sambil berjalan beriringan dengan Vina, Hendi membuka kenangan bersama Vina saat masa muda dulu. Vina hanya senyum senyum saat mengingat tingkah konyolnya saat kuliah.


"Kenapa kamu cuman tersenyum, kamu pasti ingat masa lalu ya... si Hendi yang selalu meminta tolong saat dikeroyok temannya." Ucap Hendi yang teringat saat dirinya menjadi bahan keroyokan.


"Iya, dulu kamu kenapa tidak berani menghadapi anak anak yang suka mengganggu kamu."


"Dulu itu, aku tidak bisa berkelahi bukan berarti aku lemah. Aku hanya tidak bisa menahan nafasku, mengejar kamu saja aku tidak sanggup. Aku selalu kalah jika aku lomba lari denganmu." Jawabnya menjelaskan.


"Kenapa kamu baru jujur denganku, maafkan aku yang sering menantangmu dan mengejek kamu saat kamu kalah denganku." Ucap Vina merasa tidak enak hati karena perbuatannya dimasa lalu.


"Tidak apa apa, yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting kita tetap berteman iya, 'kan?"


Tidak lama kemudian, mobil angkutan sudah berhenti didepan Vina dan Hendi. Siapa lagi kalau bukan si Bimo, Hendi berubah sedikit kesal saat melihat mobil Bimo yang berhenti. Mau tidak mau, Hendi harus mengalah.


"Vina, ngapain kamu berada disini. Mau pulang atau tidak?" tanya Bimo sambil nongol di pintu mobilnya.


"Iya, Bim." Jawabnya, kemudian segera bangkit dari tempat duduknya.


"Hen, aku pulang dulu. Sampai bertemu lagi di kantor." Ucap Vina berpamitan.

__ADS_1


"Iya, Vin. Hati hati, maafkan aku yang tidak bisa mengantarkan kamu pulang sampai rumah kamu." Jawab Hendi merasa tidak enak hati, sedangkan Vina hanya mengangguk.


__ADS_2