Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Kesialan terulang kembali


__ADS_3

Setelah menikmati es buah yang rasanya sudah tidak karuan karena suasana hatinya, Vina segera menbayarnya dan langsung pergi dari tempat tersebut.


Vina masih melangkahkan kakinya entah kemana tujuannya. Sambil menunggu balasan dari temannya, Vina mencoba berpikir sejenak untuk menenangkan pikirannya.


'Kemana lagi aku harus melangkah, apa iya aku balik saja. Tapi bosen dirumah, tidak ada yang bisa aku kerjakan.' Batinnya sambil berdiri dipojok taman.


Tiba tiba ada mobil angkutan berhenti dihadapannya. Sontak saja, Vina kaget dibuatnya saat bunyi klakson yang mengganggu telinganya. Namun, pandangan Vina tetap lurus kedepan tanpa menoleh kesamping.


"Woi! Vina." Teriak seorang laki laki di jendela mobil. Vina pun langsung menoleh ke sumber suara.


"Bimo, ngapain kamu." Jawabnya jutek, dan kembali keposisi semula. Sedangkan Bimo langsung turun dari mobilnya.


"Kamu ngapain disini? kenapa kamu tidak narik? sepi nih mobilku."


"Bodoh amat! aku tidak lagi kerja jadi kernet. Aku mau cari kerjaan lain, sekarang antar aku pulang." Jawab Vina, kemudian langsung masuk kedalam mobil bagian belakang.


"Turun, duduk di depan. Memangnya aku ini supir pribadi kamu, apa? ogah!"


"Yeee! nanti aku bayar. Tenang saja, aku masih ada dwit kalau untuk bayar ongkos."


"Bukan itu maksudku, aku tidak bisa jelasin ke kamu. Sekarang turun, dan pindah kedepan."


"Aku tidak mau, kamu itu biangnya usil. Aku mau duduk dibelakang saja, kalau tidak boleh aku akan turun. Dan aku sumpahin, aku gak bakalan naik mobil kamu lagi."


"Eeetdah! sadis banget kamu sekarang. Baru tiga hari tidak narik, sudah banyak kesadisan. Apa jangan jangan sudah jadian nih sama Hendi. Secara ..... dia sekarang sudah sukses, sudah punya mobil bagus dan kerja di perusahaan dari keluarga ternama." Ucapnya sambil memegangi setir mobilnya.


"Tidak! aku tidak jadian sama si Hendi, aku hanya berteman dengannya. Jangan asal menebak, apalagi menuduh."


"Iya, iya.. putriku, cintaku ...."


"Tidak lucu, cepetan jalan."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak menikah saja denganku."


"Uhuk uhuk uhuk." Vina terbatuk batuk mendengar ucapan Bimo yang asal bicara seenaknya sendiri.


"Tidak segitunya juga kali, Vin. Emangnya aku ini virus, hem! aku hanya ingin mengajakmu seriusan. Biar kamu tidak susah susah bekerja. Biar aku yang cari uangnya, kamu tinggal duduk manis dirumah menunggu suami pulang kerja."


"Aku masih belum kepikiran untuk menikah, cita citaku masih panjang. Aku masih ingin meraih cita citaku seperti orang orang sukses pada umumnya." Jawab Vina dengan enteng, tanpa ada rasa tersipu malu atau berbunga bunga saat ada seorang laki laki yang mengajaknya menikah. Tapi tidak untuk Vina, justru Vina menanggapinya dengan sangat santai.


"Maraih cita cita jangan terlalu tinggi, Vin. Sakit kalau jatuh, bisa membuat orang prustasi yang berkepanjangan."


"Tenang, Bim. Aku siap menerima resikonya, aku sudah kebal. Karena aku sudah terbiasa sehari tidak makan."


"Baiklah, terserah kamu." Ucapnya, kemudian Bimo melajukan mobilnya dengan pelan. Berharap akan mendapatkan penumpang yang banyak seperti biasa saat narik bersama Vina, semua orang banyak yang berebut untuk naik mobil milik Bimo.


Karena banyaknya penumpang, mau tidak mau Vina pindah tempat duduknya didepan. Sedangkan Vino tersenyum penuh kemenangan.


Senyum sumringah kini benar benar dikuasai Bimo, hari ini benar benar seperti menang lotre. Tidak memakan waktu lama, penumpang semakin bertambah.


Dengan pelan, Bimo menghentikan mobilnya. Agar tidak membuat penumpang teriak histeris. Namun tidak bagi Vina, tiba tiba kedua bola matanya mendadak melotot tidak percaya. Berkali kali Vina mengucek ngucek kedua matanya, seperti mimpi tetapi kenyataan. Begitu juga dengan laki laki tersebut, yang ikut geram saat bertemu Vina. Karena butuh tumpangan, mau tidak mau harus naik angkot.


"Minggir Vin, aku mau bertanya. Lumayan tambah satu penumpang."


"Tapi ini sudah penuh."


"Nanti duduk depan disebelah kamu."


"Aku tidak mau, lebih baik aku turun." Jawab Vina sedikit kesal. Sedangkan Bimo langsung menahan Vina untuk tidak kabur, Vina sendiri akhirnya nurut begitu saja.


" Maaf Pak, ada apa ya?" tanya Bimo dengan semangat.


"Masih ada tempat?" jawabnya sambil melihat ekspresi Vina yang terlihat sangat lucu menurutnya.

__ADS_1


"Masih, buka saja pintunya."


"Baiklah." Jawabnya, kemudian langsung membuka pintunya dan duduk disebelah Vina.


Sedangkan Vina sendiri merasa engap saat dipepetnya, ditambah lagi ditengah tengah seorang laki laki. Vina semakin cemas dibuatnya.


"Minggir, aku mau turun saja." Ucap Vina yang merasa tidak nyaman untuk bernafas.


Tanpa pikir panjang, Vina langsung dipindah kepangkuan laki laki tersebut. Vina mendadak melotot dan tercengang. Kemudian, Vina digeser untuk duduk disisi pinggir pintu.


"Jangan kepedean, aku hanya memindahkan kamu untuk duduk disisi pinggir. Tidak baik seorang wanita duduk ditengah laki laki, ngerti." Ucapnya sambil menoleh kearah Vina.


Sedangkan detak jantung Vina sudah tidak karuan, karena baru pertama kalinya duduk dengan jarak yang sangat dekat dengan seorang laki laki. Ingin turun, tidak mungkin. Vina hanya pasrah dan berdoa, agar laki laki yang ada disampingnya segera turun dari mobil tersebut.


Sedangkan Bimo, nafasnya terasa sesak dan panas saat melihat Vina dengan posisi duduknya yang begitu dekat bahkan nempel dengan laki laki tersebut. Mau marah, tidak mungkin. Bimo hanya fokus dengan setir mobilnya dan berkali kali melirik kearah Vina yang terhalang oleh laki laki yang tidak dikenalinya.


Sedangkan Darma masih dengan kekesalannya, dan mengutuki dirinya sendiri.


'Sialan! sudah istri diambil Raska, ban mobilku bocor, ponselku mati. Ini lagi, bertemu wanita sialan berkali kali. Bikin tambah kesal saja, sampai aku bertemu dengannya lagi ... aku tidak segan segan aku akan mengirimkannya ke planet paling terkecil.' Batinnya sambil menyilangkan kedua tangannya pada dada bidangnya.


'Mimpi apaan aku semalam, sampai sampai aku bisa bertemu dengan Jaka sembung berkali kali. Kalau sampai aku bertemu dengannya lagi, maka aku tidak akan Segan segan untuk mengirimnya digunung merapi, biar mateng ini orang.' Gumamnya karena sudah sangat bosan dan kesal bertemu berkali kali dengan laki laki yang sudah pernah mengacaukan makanannya.


"Stop!" ucap Vina yang sudah merasa risih karena duduk berdekatan dengan seorang laki laki yang sudah membuatnya kesal.


"Rumah kamu masih jauh, Vin." Tanpa menghiraukan Bimo, Vina langsung turun dari mobil.


"Vina, jangan turun." Panggil Bimo berkali kali, tetap saja tidak direspon. Sedangkan Bumi pun menyesali karena sudah menerima penumpang.


"Tunggu, aku pun mau turun." Ucapnya, kemudian segera membayar ongkos.


"Pak, ini kembaliannya."

__ADS_1


"Buat kamu saja, atau.. buat pacar kamu tadi." Jawabnya, kemudian segera turun. Sedangkan Bimo tidak mempunyai waktu lagi untuk menghampiri Vina, dikarenakan banyak penumpang yang juga ingin segera sampai ketujuannya masing masing.


__ADS_2