Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Berusaha kuat dan tegar


__ADS_3

Arsy dan Hanum menikmati sarapan pagi bersama anak anak yang lainnya, Tara yang melihat suasana yang biasanya riuh riuh kesana kemari membuatnya bising, kini berubah menjadi lebih tenang. Tidak hanya itu, setiap sudut terlihat begitu rapi dan rajin. Awalnya yang banyak barang berserakan dan juga terlihat kurang rapi. Kini dalam waktu sekejab seperti sulap, sungguh diluar dugaan Tara.


Hanum yang melihat Tara berdiri mematung sambil melihat anak anak menikmati sarapan pagi, Hanum langsung mendekati Tara.


"Kak Tara mau sarapannya?" tanya Hanum mengagetkan.


"Tidak, habiskan saja makanannya. Kakak tidak mau ada yang masih kurang, dan kakak bisa beli nasi goreng didepan." Jawab Tara beralasan.


"Kak Arsy masak banyak kok, kak.. jadi masih sisa untuk kakak. Dan kak Arsy sudah menyisihkan untuk kakak selesai masak. Hanum ambilkan ya, kak.." ucap Hanum, sedangkan Tara mengangguk.


Tidak lama kemudian, Hanum membawa satu piring nasi goreng buatan Arsy.


"Ini kak, nasi gorengnya. Enak loh rasanya, bahkan Restoran mahal kalah enaknya." Ucap Hanum sambil memberikan nasi gorengnya. Tara pun menerimanya dan langsung masuk ke ruang pribadinya, Hanum sendiri segera pergi dan melanjutkan sarapannya.


Didalam ruangannya, Tara mencoba mencicipi masakan Arsy yang katanya tidak kalah dengan masakan di Restoran. Dengan pelan Tara menyuapi mulutnya dengan nasi goreng, pelan pelan untuk mengunyahnya. Icip demi icip, nasi goreng satu piring buatan Arsy benar benar menggugah selera makan Tara.


Ternyata enak juga masakannya, tapi sayang bukan istriku. Batin Tara dengan asal.


Setelah selesai sarapan pagi, Tara langsung pergi keluar.


Tiba tiba Tara berpapasan dengan Arsy yang juga mau pergi untuk mengurus perceraiannya dengan Darma. Meski berat, Arsy tetap akan mengurusnya.


"Kak Arsy," seru Hanum memanggil.


"Ada apa sayang?" tanya Arsy penasaran.


"Kak Arsy mau kemana? nanti kembali kesini lagi, kan?" jawabnya balik bertanya.

__ADS_1


"Kak Arsy ada urusan sebentar diluar, nanti kak Arsy balik lagi kesini. Hanum jangan khawatirkan kakak, karena kakak mau mencari pekerjaan." Jawab Arsy tersenyum meyakinkan.


"Janji ya... kak Arsy jangan tinggalkan Hanum." Ucap Hanum memohon, Tara yang melihatnya pun terharu. Karena kedatangan Arsy memberi efek positif untuk Hanum dan juga anak anak lainnya.


"Janji, karena kak Arsy tidak mau makan gratis terus. Kak Arsy juga pingin ikut membantu kak Tara, doakan kakak ya... semoga kakak mendapatkan pekerjaan." Jawab Arsy tersenyum.


"Iya, kak. Hanum berdoa untuk kakak, agar diterima mencari pekerjaan." Ucap Hanum kemudian memeluk Arsy.


Kalau begitu, kakak berangkat ya.. kamu dan teman teman kamu harus belajar yang rajin. Jangan malas malasan, nanti kakak ajari setelah kakak pulang." Jawab Arsy kemudian langsung pergi meninggalkan Hanum.


Tepatnya didepan pintu gerbang, Arsy sedang menunggu angkot lewat. Namun tetap saja tidak ada yang lewat. Arsy hampir putus asa, namun kemudian apa yang sudah ditunggu tunggunya kini telah datang.


Arsy pun sangat lega, dan kiini Arsy benar benar mengulangi kehidupannya dari nol. Yang dimana dirinya tidak pernah naik mobil angkot, dan kini Arsy merasakannya. Udara yang bercampur polusi, tanpa AC dan juga sangat sesak.


Sedangkan Tara sendiri naik motor buntutnya, padahal mobil apa saja bisa dibelinya. Namun entah kenapa dirinya lebih nyaman menjadi orang biasa.


Tidak lama kemudian, Arsy telah sampai di tempat yang dimana tidak pernah diduga nya dan dipikirannya. Namun nasib berkata lain, pernikahan hanya sebuah cambuk untuknya. Bukan untuk seumur hidupnya, Arsy benar benar tidak menyangkanya. Jika usia pernikahannya hanya sebatas setatus, tidak lebih.


Benarkah pernikahanku sampai disini? haruskah aku menjadi tuli untuk menghilangkan pendengaranku. Haruskah aku menjadi buta, agar aku tidak melihatnya lagi. Dan haruska aku menjadi tuna wicara, agar diriku tidak lagi untuk menjelaskan. Sungguh, aku tidak sanggup. Gumam Arsy tanpa diminta menitikan air matanya, tidak ada yang bisa dijadikan sanggahan. Arsy harus menopang hidupnya sendiri, meski hatinya hancur dan rapuh sekalipun.


"Bagaimana aku bisa mengurus perceraianku, uang saja aku tidak punya. Surat surat pun tidak ada ditanganku, lantas untuk apa aku datang dikantor ini. Aku harus menemui mas Darma, aku mau minta untuk berpisah." Gerutunya dan kemudian segera pergi meninggalkan gedung yang sangat dibencinya.


Tiba tiba Arsy bertemu dengan sosok yang tidak asing baginya, tidak hanya itu saja, tetapi sosok yang begitu menjijikkan dimata Arsy.


"Sayang...." seru Darma memanggilnya. Namun Arsy segera berlari, tetapi dirinya teringat akan meminta cerai dengan sang suami. Akhirnya Arsy memutuskan untuk berhenti.


Darma berlarian mengejar Arsy diikuti Zelyn dibelakangnya yang ikut lari kecil.

__ADS_1


"Kamu kenapa ada disini?" tanya Darma menatap lekat istrinya.


"Kamu sendiri kenapa ada disini? hah?" ucap Arsy balik bertanya. Darma pun bingung untuk menjelaskan.


"Ooooh... kamu mau menceraikan aku rupanya, talak aku sekarang juga. Terserah kamu mau menalakku berapa kali, 100 kali pun aku bangga." Ucap Arsy lagi yang sudah tidak sabar ingin lepas dari belenggu sang suami. Zelyn yang mendengarnya pun tersenyum sinis.


Darma yang mendengarkan ucapan Arsy pun terasa tidak kuasa, yang dimana harus menerima kenyataan pahit.


Maafkan aku, sayang.. jika aku harus mengatakannya. Gumam Darma dengan pikirannya yang kacau.


"Aku mentalak kamu, dan aku akan menceraikan kamu." Ucapnya sedikit berat.


"Kurang keras, ucapkan lagi!" bentak Arsy sambil menutup telinganya.


"Aku mentalakmu, dan kita akan berpisah." Ucapnya berat.


"Aku minta satu kali lagi, ucapkan. Agar rasa sakitku lunas." Pinta Arsy sambil jongkok dan menutup kedua telinganya dan menunduk sambil memohon.


"Aku mentalakmu. Sekarang kamu bebas atasku." Ucap Darma lalu menjatuhkan tubuhnya sambil berjongkok dan mengepalkan kedua tangannya.


"Urus perceraiannya, aku siap melepaskan kamu. Ingat! jangan mengganggu kehidupanku. Jangan pernah urusi kehidupanku, aku sudah muak melihat wajah kalian berdua. Dan aku pun tidak akan pernah mengganggu kehidupanmu. Biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri." Ucap Arsy, lalu pergi meninggalkan tempat yang dimana sangat Arsy benci.


Semoga ini adalah yang terakhirnya aku mendatangi tempat terkutuk ini. Aku tidak akan mengulanginya kembali. Gumamnya dalam hati sambil melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan gedung yang menakutkan.


Arsy berjalan kaki untuk menghemat ongkosnya, sembari berjalan kaki Arsy mencari pekerjaan.


Lelah, namun Arsy tidak menyerah untuk memulai kehidupannya yang baru. Arsy benar benar merasakan bagaimana hidup sebatang kara, tidak memiliki sandaran hidup selain kedua kakinya yang bisa menjadi penopang hidupnya.

__ADS_1


Arsy berusaha kuat dan sabar, meski hatinya begitu hancur menghadapi kenyataan yang begitu pahit.


__ADS_2