Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Rumah Baru


__ADS_3

Pernikahan yang begitu singkat, hanya dihadiri keluarga sendiri. Kini Vina benar benar sudah sah menjadi istri Darma, perasaannya hancur sehancur hancurnya. Vina terus menangis dalam pelukan sang adik, Ibunya Darma dan adiknya bernama Yona pun pergi meninggalkan tempat yang sudah dijadikan kenangan pahit untuk Vina. Sedangkan sang Ayah masih setia menunggu anak dan menantunya didalam mobil tanpa disadari oleh Vina maupun Darma. Namun, karena tidak sabar untuk menunggu. Tuan Nugraha segera memanggil Darma dan Vina untuk segera keluar dari ruangan.


Vina mengusap kasar wajahnya, tersirat kebencian yang mendalam pada benak pikirannya. Darahnya pun seketika terasa mendidih, otaknya benar benar sudah tidak dapat mencerna kenyataan yang tengah dihadapinya.


"Meski aku sudah sah menjadi istrimu, jangan harap aku akan tinggal satu rumah bersamamu. Aku akan tetap tinggal bersama adikku di rumah orang tuaku, dan aku tidak akan lagi menginjakkan kakiku di kantor kamu." Ucap Vina terang terangan dihadapan Darma.


Darma yang mendengarnya pun terasa geram, dirinya pun ikut kesal dengan pernikahan yang tidak masuk akal didalam pikiran warasnya.


"Terserah kamu, aku juga tidak mau tinggal bersama kamu. Wanita galak seperti Nyi Jantur, bawel dan cerewet."


"Darma!! jaga bicara kamu, sekarang kamu tidak lagi lajang. Kamu sudah beristri, dan kamu harus perlakukan istri kamu dengan baik. Papa sudah siapkan tempat tinggal untuk kalian berdua, tidak ada kata pisah rumah. Dan untuk adik kamu, sudah saya jamin kebutuhannya."


Vina masih saja diam, dirinya enggan untuk menatap sosok laki laki paruh baya yang kini sudah menjadi Ayah mertuanya. Sedangkan Darma hanya mengangguk, dirinya pun malas untuk menjawabnya.


"Kamu akan tetap bekerja menjadi sekretaris Darma, kamu tidak dapat menolaknya." Ucapnya mengingatkan, sedangkan Vina masih memasang muka masamnya. Tuan Nugraha sendiri tidak memperdulikan perasaan putranya maupun menantunya. Dalam pikiran Tuan Nugraha hanya untuk kebahagiaan putranya, dan dapat melupakan mantan istrinya.


Tuan Nugraha sangat berharap, jika sosok Vina mampu membuat Darma jatuh cinta padanya, dan tidak lagi untuk merebut mantan istrinya dari Raska. Yang tidak lain adalah sepupu Darma sendiri, hanya itu harapan Tuan Nugraha.


Sedangkan Vina, mau tidak mau tetap menuruti permintaan Ayah mertuanya.

__ADS_1


Vina maupun Darma sudah dalam perjalanan rumah yang sudah di siapkan untuk keduanya. Rumah yang cukup mewah dan tentunya penuh harapan pada Tuan Nugraha dan juga istrinya, berharap Putranya menemukan kebahagiaan. Meski dalam pernikahannya sangat susah untuk dicerna oleh pikiran warasnya, namun harapan yang baik selalu dipanjatkan dalam doa doanya.


Selama dalam perjalanan, Vina maupun Darma hanya bisa saling diam. Bahkan keduanya mengunci rapat rapat mulut mereka masing masing.


'Sungguh menyakitkan, aku bersuamikan dengan laki laki aneh seperti ini. Bahkan aku sendiri tidak tahu seperti apa suamiku ini, bisa saja banyak wanita simpanan.' Batinnya penuh kesal.


Setelah memakan waktu cukup lama, tidak terasa sudah sampai di rumah yang sudah disiapkan untuk Darma dan istrinya. Keduanya segera turun dari mobil, kedua mata Afna tercengang saat melihat rumah yang begitu bagus dan terlihat sangat mewah.


'Benarkah ini rumahnya? aku tidak lagi dijadikan tawanan, 'kan? aku takut jika aku dijadikan tumbal pesugihan. Bagaimana ini, aku kabur saja apa, ya? sungguh aku sangat takut jika kenyataannya bahwa aku dijadikan tumbal pesugihan. Diki ... tolong kakak kamu ini ... kakak tidak mau dijadikan tumbal pesugihan. Kakak masih ingin hidup, kakak ingin menggapai cita cita kakak.' Batinnya dengan pikirannya yang kacau.


"Nak Vina, sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Nugraha. Kamu sudah sah menjadi istri Darma, semoga kamu betah tinggal bersama suami kamu. Percayalah, Darma bukan orang jahat maupun suka ganti pasangan. Papa mau pulang, Papa dan Mama akan datang kesini besok malam. Itupun jika tidak ada halangan, untuk sekarang lebih baik kamu dan suami kamu segera masuk kedalam dan beristirahatlah. Mungkin kalian berdua butuh menenangkan diri, agar pikiran kalian menjadi lebih tenang." Ucap ayah mertua menjelaskan, sedangkan Vina hanya mengangguk. Perasaannya masih menyimpan kekesalan, dan tentunya amarahnya belum juga reda. Namun, Tuan Nugraha tetap bersikap santai. Dirinya mengerti akan kekesalan pada menantunya yang tiba tiba harus menikah secepatnya.


Tuan Nugraha pun langsung pulang, karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat putra dan menantunya.


Dengan santainya, Darma langsung masuk kedalam rumah. Dirinya tidak perduli dengan sosok wanita yang sedang berdiri mematung didepan rumah.


Karena merasa sendirian di depan rumah, Vina langsung masuk kedalam rumah. Dengan terpaksa, Vina mengikuti langkah kaki suaminya yang seakan akan tidak mempunyai beban maupun masalah.


"Hei!! tunggu!" seru Vina menghentikan langkah kaki milik Darma. Dengan cepat, Darma langsung menoleh dan membalikkan badannya.

__ADS_1


"Mau ngapain, hah?"


"Aku ingin buang air kecil, dimana ruangannya."


"Mana aku tahu, ini kan rumah baru." Jawabnya beralasan, padahal mencari kamar mandi sangatlah mudah. Namun, Darma sengaja mengerjai istrinya dengan berbagai alasan.


"Cepetan dong, carikan kamar mandinya."


"Iya, sabar. Nih, aku sedang buka satu persatu ruangan kamar yang kosong." Jawabnya sambil membuka ruangan yang disangkanya kamar.


Berkali kali Darma membuka ruangan yang disangkanya kamar, namun masih saja salah. Justru yang Darma temukan hanya ruangan seperti untuk duduk santai.


'Ini, papa dan mama memang sengaja apa, ya? dari tadi aku buka ruangan tidak ada kamar. Lantas, kamarnya ada dimana? apa Iya cuman ada satu kamar. Lalu, jika kamarnya cuman satu aku tidur dimana? aku tidak mau tidur bareng Nti Jantur. Aku benar benar tidak sudi untuk satu atap dengannya, perempuan galak dan cerewet lagi.' Batinnya sambil berpikir mencari kamar yang sebenarnya.


"Kamar mandinya sudah ada, belum? aku sudah tidak tahan. Cepetan, dong ..." tanya Vina sambil menahannya. Sedangkan Darma tersenyum puas dibelakang Vina yang sudah tidak tahan untuk menahannya.


"Sepertinya ada diatas, aku mau melihatnya." Jawab Darma sambil menapaki anak tangga, sedangkan Vina mengikutinya dari belakang sambil berdecak kesal.


'Ini rumah apaan sih? kamar mandi saja tidak ada. Apa iya, semiskin ini rumahnya. Tidak jauh beda dengan rumah bapak, hanya mempunyai kamar mandi satu. Itupun ngantri untuk masuk kedalam.' Batinnya sambil menapaki anak tangga. Sedangkan Darma memulai membuka setiap ruangan yang disangkanya tempat tidur.

__ADS_1


Lagi dan lagi, Darma selalu sial jika membuka ruangan yang dikiranya kamar tidur, dan tidak tahunya hanya ruangan santai.


"Mana? sudah ada belum kamar mandinya. Aku benar benar sudah tidak tahan ..." tanyanya lagi yang merasa prustasi.


__ADS_2