Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Mencari pengganti sekretaris baru


__ADS_3

Setelah mengganti pakaiannya, Darma segera duduk di kursi kerjanya. Sedangkan Vina sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya.


'Kasihan istriku, seharusnya kamu tidak perlu ikut bekerja. Cukup menemaniku diruang kerja saja, itu sudah lebih cukup. Aah! iya, lebih baik aku meminta Riko untuk kembali ke kantor ini. Aku yakin, pasti mendapat izin.' Batinnya penuh harap.


Tok tok tok, suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Darma. Dengan cepat, Darma segera menekan tombol untuk membuka pintunya.


"Pagi, Bos ... apa kabarnya?" sapa seorang laki laki mengejutkan Darma.


"Riko!!"'seru Darma kegirangan, seraya mendapatkan harta karun yang berlimpah.


"Wih ... pak Darma, makin betah saja. Sudah ada sekretaris baru, jadi semangat nih." Ledeknya sambil tersenyum lebar.


"Hem!!! jangan gangguin, dia ngeri. Sekali marah, jari jari tangan kamu bisa patah." Jawab Darma menakut nakuti.


"Wah! kalau ada wanita yang seperti itu, salut saya pak. Boleh dong, untuk saya. Kebetulan, saya jomlo tidak selesai selesai, pak." Ucapnya yang terus berusaha membuat Darma untuk berkata jujur.


Vina yang mendengar obrolan dari suaminya terasa sangat membosankan, akhirnya dirinya memilih untuk menutup telinganya dengan cara mendengarkan suara hujan disertai suara petir dan kodok ngorek. Berharap, bisa tidur pulas meski masih belum waktunya untuk istirahat.


Lama lama, Vina tertidur pulas. Darma sendiri tidak begitu memperhatikan istrinya yang mungkin saja sudah bermimpi jauh entah kemana.


"Pak Darma, sekretaris bapak tidur kah? wah ... tidur saja terlihat cantik, pantas saja pak Darma memilih sekretaris yang buruk penampilannya." Ucap Riko yang masih terus meledek.


"Diam! kamu, Rik. Dia istriku, bukan sekretarisku. Tunggu sebentar, aku akan memindahkannya ke kedalam."


"Apa? istri, yang benar saja. Kapan menikahinya, perasaan tidak ada kabar dari tuan Nugraha. Lagi ngelantur kali, ya. Takut, jika sekretarisnya aku ambil dan ku jadikan istri." Gerutu Riko yang masih belum percaya dengan pengakuan dari Darma.


Dengan sangat hati hati, Darma menggendong istrinya didalam ruangan khusus untuk beristirahat. Darma tersenyum saat melihat istrinya yang tertidur pulas, kemudian segera keluar dan kembali mengobrol dengan mantan sekretarisnya.


"Rik, ada perlu apa kamu datang kemari. Bukankah kamu tidak ada pacar di kantor ini?"


"Memangnya datang ke kantor ini harus ada seseorang yang dicintainya? hem! saya hanya melakukan tugas, katanya pak Darma dan sekretaris barunya itu mau pergi ke luar kota. Ada acara apa sih, Pak Darma?"


"Bulan madu, puas."

__ADS_1


'Tambah sableng saja nih, pak Darma.' Batinnya tidak percaya.


"Yang benar saja, Pak. Mau bulan madu? apa saya tidak salah dengar?"


"Kamu salah dengar, jika aku tidak mengakui sekrerarisku adalah istriku." Jawab Darma dengan serius.


'Benarkah yang dikatakan pak Darma? tapi, ada benarnya juga sih. Kalau bukan istrinya, mana mungkin berani menggendong wanita dan dipindahkan ke ruangan peristirahatannya.' Batinnya yang masih penasaran, dan berusaha menebaknya sendiri.


"Rik! ngelamun lagi. Cepetan nikah, nanti keburu tua loh." Ledek Darma tersenyum melebar.


"Hem! jadi benar nih, pak Darma sudah menikah? selamat ya, Pak. Semoga kebahagian selalu menyertai rumah tangga pak Darma." Ucap Riko memberi ucapan selamat.


"Duduklah, tugas apa yang diberikan oleh papaku."


"Tugas menggantikan posisinya pak Darma, tapi saya kurang yakin jika saya bisa menggantikan pak Darma."


"Kurang yakin? maksud kamu?"


"Hem!! aku tahu maksud kamu itu, sekretaris cantik dan seksi, kan?" ucap Darma mencoba menebak.


"Pak Darma tahu saja." Jawabnya, sambil senyum senyum malu.


"Das*ar! mes*um juga kamu. Tidak aku izinkan sekretaris seksi berada di kantorku, aku akan mengizinkan kamu mendapatkan sekretaris yang penampilannya jauh lebih buruk dari waktu itu yang kamu pilihkan untukku. Bahkan penampilan yang sangat hancur, sekalipun. Aku akan menyetujuinya, kamu mengerti."


"Aaah! berat sekali persyaratannya. Pak Darma kan sudah ganteng, dapat yang pas pasan tidak menjadi masalah. Lah kalau saya, tidak boleh memperbaiki keturunan." Jawab Riko beralasan yang berharap permintaannya akan dipenuhi.


"Kalau tidak mau, cari sekretaris laki laki. Bukankah ada Hendi, yang juga tidak kalah pintarnya denganmu." Ucap Darma memberi pilihan.


"Baiklah, akan saya pertimbangkan kembali pilihan dari pak Darma." Jawabnya sedikit tidak bersemangat.


'Apa boleh buat, jika aku harus mengikuti jejak pak Darma. Mencari sekretaris yang jelek, penampilan buruk, burikan, bahkan hancur sekalipun. Ada ada saja, pak Darma.' Batinnya sambil geleng geleng kepalanya.


"Heh!" Brak!!!! Darma mengagetkan Riko.

__ADS_1


"Kamu ini, malah angguk angguk geleng geleng, kamu tidak lagi kambuh, 'kan Rik?" Ucap Darma setelah menggebrak mejanya.


"Saya sudah menemukan jawabannya, pak Darma. Bahwa saya akan melakukan penyeleksian sekretaris baru, seperti yang bapak lakukan waktu itu." Jawab Riko yang menyerah, sedangkan Darma hanya tertawa kecil mendengar jawaban dari Riko.


'Tidak masalah jika sekretarisnya ancur sekalipun penampilannya, dari pada Hendi. Aku jadi tersingkirkan, apes! ape!' Batin Riko yang sudah pasrah.


"Sudahlah, Pak. Saya permisi, ada tugas yang belum saya selesaikan." Ucap Riko berpamitan.


"Pergilah, siapkan dirimu untuk mencari sekretaris untuk dijadikan istri. Nanti akan aku hadiahkan rumah untuk pernikahan kamu."


"Iya, Pak. Tenang saja, aku pastikan akan mendapatkan kedua duanya. Sekretaris dan juga istri sekalipun." Jawabnya berdecak kesal sambil membuka pintu. Darma yang mendengarkannya pun kembali tertawa lepas.


"Ejek terus ..." gerutu Riko setelah menutup pintu.


"Kenapa lagi kamu, Rik. Dapat hukuman lagi? atau ... suruh mencarikan sekretaris baru." Tanyanya.


"Sok tahu banget kamu, tapi ada benarnya juga yang kamu katakan. Pak Darma suruh mencarikan sekretaris baru, dan sangat sulit untuk dicari." Jawab Riko sambil berjalan beriringan dengan teman kerjanya.


"Memangnya seperti apa yang dicari pak Darma, burikan lagi?"


Riko tertawa lepas sambil menyesali basibnya sendiri. "Iya, yang burikan dan ancur penampilannya. Aku harus mencari dimana lagi, coba." Jawab Riko semakin prustasi, dirinya takut dalam waktu tiga hari tidak mendapatkan sekretaris baru. Dan, mau tidak mau yang akan menjadi sekretarisnya adalah Hendi.


"Lah sekretaris Vina dikemanain, Rik?" tanyanya penasaran.


"Ikut pindah di luar kota dan pastinya tidak bisa ditinggal di kantor itu, Vina."


"Wah, sayang sekali ya. Padahal anaknya sekarang makin cantik, dan juga mudah berteman." Ucapnya yang tanpa sadar telah didengarkan oleh Hendi.


"Rik, yang benar saja. Vina mau ke luar kota?" tanya Hendi yang masih penasaran.


"Benar, Hen. Pak Darma mengajak sekretarisnya untuk ikut ke luar kota, ada tugas yang sangat banyak. Jadi, sekretarisnya diminta untuk menemani pak Darma."


'Padahal mereka tidak hanya urusan pekerjaan, lebih tepatnya bulan madu.' Batin Riko.

__ADS_1


__ADS_2