Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Merasa sendiri


__ADS_3

Darma kemudian melajukan mobilnya, perasaannya pun tidak karuan. Bahkan dirinya lupa akan istrinya yang mungkin saja sedang menunggunya.


"Apakah rumah kamu masih yang dulu?" tanyanya.


"Iya, Mas. Rumahku masih yang dulu." Jawabnya.


"Bagaimana kabar kedua orang tua kamu? apa masih tinggal di luar Negri?" tanya Darma basa basi.


"Baru pulang kemarin, katanya ingin liburan di Tanah Air." Jawab Zelyn beralasan.


"Oooh, kenapa kamu tidak ikut tinggal di luar Negri. Bukankah disana banyak bule?" tanyanya lagi.


"Aku tidak suka kehidupan di luar Negri, karena aku lebih suka di dalam Negri. Apalagi jika tinggalnya bersama mas Darma, aku sangat bahagia pastinya." Jawab Zelyn dengan rasa percaya dirinya.


"Benarkah?" tanya Darma penasaran.


"Kenapa mesti bohong sih, mas..." jawab Zelyn semakin manja. Darma yang mendengarkannya pun semakin tergoda.


Kenapa tidak dari dulu aku jatuh cinta dengan Zelyn. Mana cantik, seksi, dan juga sepertinya wanita mandiri dan bisa memberiku kepuasan. Aaaah kenapa aku sampai lupa dengan istri sahku. Apakah ini cobaan? batin Darma sambil menyetir.


Tidak lama kemudian, Mobil pun talah masuk kehalaman rumah Zelyn. Darma kemudian segera turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Zelyn. Perasaan Zelyn semakin kuat untuk mendapatkan Darma untuk dijadikan suaminya.


"Kita masuk kedalam dulu, mas. Sudah lama mas Darma tidak bertemu dengan Ayah dan juga Ibuku." Ajak Zelyn masuk ke rumah, Darma pun mengekori dari belakang.


"Zelyn... sayang.. Mama kangen sama kamu. Apa kabarmu, sayang?" sapa Ibunya sambil memeluk putrinya.


"Kabar Zelyn sangat baik dan bahagia." Jawab Zelyn tersenyum bahagia.


"Siapa laki laki ini?" tanyanya basa basi.

__ADS_1


"Dia mas Darma loh, Ma..." Zelyn mengingatkan.


"Darma putranya Tuan Nugraha?" tanyanya lagi.


"Iya, tante... aku Darma." Jawab Darma berusaha tersenyum.


"Sudah besar rupanya, sudah sangat lama tidak pernah bertemu dengan kamu. Apa kabarnya sekeluarga dirumah?" tanya Ibunya Zelyn.


"Semua baik baik saja, tante." jawabnya.


"Tante sampai lupa, silahkan duduk nak Darma. Dan kamu Zelyn, cepetan buatkan minuman untuk nak Darma." Ucap Ibunya Zelyn dan menyuruh putrinya. Darma pun segera duduk ditemani Ibunya Zelyn.


"Oh iya, tante kemarin ditelfon sama orang tua kamu. Katanya besok Kamu akan menikahi Zelyn, benarkah?" tanya Ibunya Zelyn.


"Benar tante, Tapi...." kalimatnya pun menggantung. Darma bingung untuk menjelaskan statusnya.


"Tante sudah mengetahuinya. Dan tante tahu bahwa kamu sudah menikah, dan istri kamu mempunyai penyakit kanker rahim. Dan dokter sudah memvonis istri kamu, bahwa istri kamu tidak bisa memberimu keturunan. Dan kamu sendiri dilarang untuk menyentuh istri kamu. Kamu sendiri merasa ada yang kurang, bukan?" tanyanya menebak secara detail.


"Tante tidak memaksamu untuk menikahi putri tante, lagian kamu pun belum pernah menyentuh istri kamu. Jadi tante tidak mempermasalahkannya, semua keputusan ada pada diri kamu. Jika kamu keberatan untuk menikahi Zelyn, tante tidak memaksakan kamu. Memang, tante akui bahwa Zelyn sangat mencintai kamu sejak Zelyn masih SMP." Ucap Ibunya Zelyn menjelaskan.


"Keputusan Darma ada pada Ibu dan Ayah, tante.. apa yang diinginkan Ayah dan Ibu berarti yang baik untuk Darma." Jawab Darma tanpa merasa berdosa pada sang istri.


"Berarti besok benar benar hari pernikahan kamu dengan putri tante. Tante akan serahkan sepenuhnya terhadap kamu. Dan kamu jangan pernah untuk menyakiti putri saya, karena tante takut jika setelah memiliki seorang anak kamu akan meninggalkan putri saya dan kamu kembali lagi dengan istri pertama kamu." Ucap Ibunya Zelyn.


"Tidak akan, tante.." jawab Darma mencoba meyakinkan. Ibunya Zelyn pun tersenyum mengembang atas jawaban dari calon menantunya.


Sedangkan dirumah kediaman orang tua Arsy, kini Arsy sedang beristirahat karena merasa dirinya kehilangan kebahagiaan.


Ma... Pa... sampai kapan Arsy akan terus terusan seperti ini? apa Arsy mampu? Arsy benar benar takut akan kesendirian dirumah ini. Mas Darma tidak segera kembali saja hatiku sudah sangat gusar. Bagaimana kalau benar benar meninggalkan aku, apakah aku akan sanggup untuk menghadapinya? sungguh aku tidak kuat. Batin Arsy dengan perasaannya yang berkecamuk.

__ADS_1


Saat dirinya hendak bangun dari tempat tidurnya, tiba tiba ponselnya terdengar seperti ada yang memanggil. Dengan sigap Arsy segera mengangkat telfonnya.


"Halo, mas Darma... ada apa?" sapa Arsy.


"Sayang, maafkan aku ya, sayang... aku ada tugas diluar kota untuk menggantikan Ayah. Jadi... mungkin aku ada satu mingguan diluar kota. Kamu tidak perlu khawatir, Yona akan menemani kamu. Aku akan menyelesaikan tugas dari Ayah secepatnya, agar aku bisa cepat pulang. Maafkan aku ya, sayang... Yona sebentar lagi sampai. Kamu tidak perlu takut dan khawatir." Ucap Darma berpamitan, sedangkan Arsy sedikit merasa sedih harus jauh dari sang suami.


"Aku tidak boleh ikut ya, mas?" tanya Arsy dengan lesu.


"Bukannya tidak boleh ikut, tetapi kamu tahu sendiri, kan? kamu sedang sakit sayang... aku tidak ingin kesehatan kamu akan menurun. Lain waktu saja, bagaimana? aku akan mengajakmu untuk berlibur. Kamu mau, kan?" jawab Darma mencoba menjelaskan.


"Baiklah, jika memang aku tidak bisa ikut." Ucap Arsy sedikit lesu.


"Kalau begitu, aku mau siap siap untuk berangkat. Dan jaga diri kamu baik baik, jika ada apa apa kamu bisa menelfonku. Bye bye, sayang..." ucap Darma berpamitan kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya.


Setelah menerima panggilan dari sang suami, Arsy kembali berbaring diatas tempat tidur sambil menatap langit langit. Arsy merasa sangat kesepian, ditambah lagi suaminya keluar kota memakan waktu yang lumayan cukup lama. Arsy pun terasa hambar untuk beraktivitas.


Tidak lama kemudian, terdengar suara wanita yang tidak asing baginya. Arsy pun segera menuruni anak tangga karena penasaran.


"Yona..." seru Arsy memanggil adik iparnya.


"Kak Arsy..." seru Yona yang juga menyebut namanya.


"Kak Arsy, apakah kak Darma sudah menelfon kakak?" tanya Yona beralasan.


"Iya, benar. Tadi mas Darma sudah menelfon kakak, dan katanya ada kepentingan diluar kota. Ditambah lagi ada satu mingguan, lama sekali." Jawab Arsy lesu.


"Iya, kak. Karena Ayah sedang tidak enak badan, jadi kak Darma yang harus menggantikan Ayah. Kak Arsy tau sendiri, kan? tidak ada yang bisa menggantikan Ayah selain kak Darma. Sedangkan aku saja belum memiliki suami, jadi.. siapa lagi kalau bukan kak Darma. Dan aku yang menjadi wakil kak Darma untuk menemani kak Arsy." Ucap Yona mencoba menjelaskan sebaik mungkin.


"Terimakasih ya, Yona... untung juga ada kamu. Kalau mas Darma tidak memiliki adik perempuan, mungkin kak Arsy sendirian dirumah ini." Jawab Arsy mencoba tersenyum, meski sangat berat.

__ADS_1


Sungguh kasihan, suami kamu itu akan menikah. Dan kamu akan segera disingkirkan dari keluarga Nugraha. Batin Yona dengan senyum mengumpat.


__ADS_2