Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Tidak ada yang percaya


__ADS_3

Vina masih penasaran dengan orang orang yang tengah memperhatikannya.


"Maaf, Nona. Mungkin penampilan Nona yang kurang pas saja untuk di pandang." Jawabnya merasa tidak enak hati.


"Penampilan yang bagaimana? perasaan penampilanku baik baik saja, tidak ada yang salah." Ujarnya membela diri.


"Maaf, Nona. Coba Nona perhatikan penampilan Nona dari atas sampai bawah, mungkin Nona akan menemukan jawabannya." Ucapnya sambil mengisyaratkan.


Darma maupun Vina sendiri segera memeriksa penampilan Vina dari atas sampai. Dengan seksama, Darma memperhatikan penampilan istrinya dengan lekat. Berawal dari atas kemudian turun hingga kebawah sampai lantai.


Darma tersenyum lebar saat melihat penampilan istrinya sendiri, yang memang kenyataannya sangatlah unik dan langka. Sedangkan Vina sendiri mengerucutkan bibirnya didepan suaminya yang terlihat senyumnya yang mengejek.


"Tidak lucu, hem!!" ucap Vina sambil berkacak pinggang didepan suaminya.


"Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian, penampilan kamu saja terlihat sangat unik. Bahkan sangat langka, sayang." Ledek sang suami.


"Sudahlah, jangan kamu hiraukan. Nanti kita beli sandal, agar tidak menjadi pusat perhatian."


"Tidak perlu, biarin saja. Justru semua orang akan mengenalku, jadi tidak perlu memperkenalkan diri." Jawab Vina dengan santai, kemudian segera menarik tangan suaminya untuk mencari pakaian suaminya.


"Sambil berjalan dan bergandengan tangan, semua orang masih memperhatikan penampilan Vina yang terlihat sangat unik. Sedangkan Vina sendiri tidak memperdulikan orang orang yang tengah memperhatikannya. Vina tetap santai tanpa terasa terbebani dengan sandal jepitnya yang sedang dikenakannya.


"Sayang, silahkan pilih bajunya. Ingat! jangan kekecilan, susah untukku bernafas."


"Iya, nanti dicoba dulu lah. Apa iya, mau langsung dibawa pulang. Hem ..."


Vina segera memilih pakaian kerja untuk suaminya yang sekiranya tidak terlihat gelap. Vina sendiri sengaja ingin merubah penampilannya, berharap ada perubahan baik pada suaminya.


"Sayang, coba deh kamu coba baju yang ini. Sepertinya sangat cocok untukmu, aku ingin melihatnya." Pinta sang istri sambil memberikan bajunya, Darma pun menerimanya dan segera mencoba baju yang tengah dipilih istrinya sendiri.


"Didepan cermin, Darma mengganti pakaiannya. Setelah itu, dirinya segera keluar dan meminta penilaian dari sang istri.

__ADS_1


" Sayang, lihatlah. Apakah suami kamu ini semakin tampan? atau ... ketampanannya hilang." Ucap Darma sambil merogoh saku celananya.


"Terlalu tampan, nanti kalau banyak yang menaksir kamu bagaimana?" tanyanya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hem! bukannya kamu sendiri yang menginginkan merubah penampilanku, hem?" jawabnya sambil meninggikan satu alisnya.


"Tenang saja, akan aku keluarkan jurus jurusku didepan wanita penggoda. Bahkan akan aku jadikan perkedel pokoknya, jika berani beraninya mengganggu suamiku." Ucapnya dengan entengnya.


"Seram juga, kamu ini. Ah! sudahlah, cepetan kamu pilih. Aku sudah sangat lapar, dari tadi aku belum makan siang. Gara gara teman kamu dan wanita itu, membuatku gagal makan siang denganmu." Jawab Darma sambil melepaskan pakaiannya, kemudian segera memakainya kembali bajunya.


Setelah dirasa sudah cukup berbelanja, Vina dan Darma langsung membayar tagihannya ke kasir. Kemudian, segera keduanya keluar dari Mall tersebut.


"Sayang, kita mau beli makanan dimana?" tanyanya sambil masuk kedalam mobil.


"Aku akan mengajakmu makan siang ke Restoran, bagaimana?"


"Aku tidak mau, aku maunya makan bakso yang ekstra super pedas." Jawab Vina disertai senyumnya yang lebar.


Didalam perjalanan, keduanya selalu bersenda gurau. Apalagi sosok Vina yang mudah untuk berteman, membuat sang suami tidak merasa jenuh dan bosan. Dengan sifat sang istri yang sederhana, Darma mendapatkan pelajaran yang begitu berharga.


Tidak terasa, kini Darma dan Arsy telah sampai warung bakso yang dipadati oleh para pelanggan.


"Sayang, kamu yakin? lihat coba. Warungnya sangat ramai, bahkan terlihat sangat sempit." Ujar Darma sambil melepas sabuk pengamannya.


"Tenang saja, kita makannya dibawah pohon yang rindang itu, sepertinya sangat cocok. Ditambah lagi dengan angin yang begitu semilir, tambah nikmat kita menikmati baksonya. Oh iya, kamu mau ikut selera denganku atau tidak." Ucap Vina memberi pilihan kepada suaminya, sedangkan Darma sendiri bingung. Antara gengsi, dan juga harga diri. Darma berkali kali menimbang nimbangnya.


"Cepat, katakan. Mau pedas atau biasa biasa saja, atau ... super ekstra pedas."


"Biasa saja lah, sayang. Aku takut kepedesan seperti kemarin itu, sungguh menguras keringat." Jawab Darma dan tersenyum malu karena dirinya kalah beraninya dengan sang istri.


"Baiklah, aku akan memesannya. Kamu tunggu saja dibawah pohon itu, nanti aku akan memintanya untuk mengantarkannya dibawah pohon besar itu." Ucap Vina, dan dianggukin oleh suaminya. Kemudian, Vina segera memesan baksonya.

__ADS_1


"Bu, beli baksonya yang ekstra super pedas satu dan yang biasa satu. Minumnya teh hangat ya, Bu. Dan diantarkannya dibawah pohon gede disebelah warung ibu." Ucap Vina memesan.


"Iya, neng Vina. Ditunggu, ya." Jawabnya, kemudian segera meracik pesanan Vina.


"Tumben, kamu Vin. Biasanya beli satu, sama pacarnya ya?" ucap salah seorang yang mengenal Vina.


"Tidak, aku tidak punya pacar." Jawabnya singkat.


"Halah! palingan juga Bimo, siapa lagi. Teman mangkal disini kan cuman Bimo, 'kan?" ucap salah satunya lagi yang tidak lain seorang perempuan. Sedangkan Vina hanya diam, dirinya males menjawab pertanyaan yang tidak penting.


"Lihatlah penampilannya Vina, bajunya sih ok. Tapi sandalnya, sandal jepit, sayang sekali. Ingin bergaya tapi modal tidak punya, kasihan." Ucapnya yang tidak jauh dari pandangan Vina.


Vina pun segera pergi meninggalkan orang orang yang selalu menghina Vina ketika dirinya makan siang atau malam saat dirinya bekerja jadi supir maupun kernet.


"Sayang, kenapa muka kamu terlihat masam begitu. Kamu ditertawakan lagi? tadi bukannya aku sudah mengingatkan kamu, beli sandal. Kamunya sih, ngeyel."


"Bukan, hanya lagi kesal saja sama orang disana. Sukanya nyinyirin kehidupan orang, aku sadar diri sih. Aku memang bukan orang punya, bahkan cari makan saja sangat sulit. Tapi, ah! sudahlah, aku sudah sangat lapar." Jawabnya, kemudian segera duduk didepan suaminya.


Tidak lama kemudian, pesanannya pun telah datang. Namun, lagi lagi seseorang yang baru saja menghinanya yang mengantarkan baksonya.


"Oooh! ini pacar kamu, kenapa kamu mesti menutupinya loh, Vin."


"Pacar?" tanya Darma seolah olah kaget."


"Lah, memangnya siapanya?" pura pura bertanya dan berharap bukan pacar Vina.


'Wah, sepertinya Bosnya. Tampan lagi, terlihat orang yang sangat tajir.' Batinnya dengan percaya diri.


"Aku suami Vina, kenapa?" jawabnya dengan santai sambil menyruput teh hangatnya.


"Apa? suami Vina, tidak mungkin." Ucapnya tidak percaya.

__ADS_1


"Benar kok, Lis. Ini suami aku, aku tidak bohong." Jawab Vina dengan santai, sedangkan temannya sendiri segera pergi begitu saja.


__ADS_2