
Darma dibantu pak Bejo sampai didalam kamar, sedangkan Vina kebelakang mengambilkan air minum untuk suaminya. Sesampainya didalam kamar, Vina meminta tolong pak Bejo untuk menyandarkan suaminya.
"Ini, diminum. Kasihan badanmu, nanti dehidrasi." Ucap Vina sedikit malas dan kaku, sedangkan Darma langsung meraih gelasnya dari tangan sang istri. Kemudian segera menghabiskan air minumnya, setelah itu Pak Bejo izin pamit untuk pulang. Dikarenakan merasa tidak enak hati berada didalam kamar milik majikannya.
"Maaf Nona, Tuan. Saya permisi, saya mau pamit untuk pulang." Ucap pak Bejo merasa tidak enak hati.
"Iya pak, tidak apa apa." Jawab Vina untuk tidak memperlihatkan kekesalannya terhadap suaminya. Sedangkan Vina sendiri bingung harus berbuat apa terhadap supir suaminya itu, tidak mungkin meminta suaminya untuk pulang. Vina sendiri tidak ingin menambah masalah yang lebih besar lagi. Ketidakjujurannya saja, Vina masih terasa sakit. Ditambah lagi mantan istrinya adalah orang yang dikenal baik olehnya, Vina semakin kacau dalam pikirannya sendiri.
Darma yang sedari tadi hanya pura pura untuk tiduran, agar dirinya tidak terusir dari rumah sang istri.
"Aku lapar, ada makanan?" tanya Darma membuka suara. Vina masih diam didekatnya sambil memasang muka masamnya, Darma yang melihatnya pun mengerti maksud dari istrinya.
"Sayang, aku lapar. Apa kamu masih marah padaku? aku mohon, maafkan aku. Aku harus bagaimana lagi, agar kamu dapat memaafkan aku. Apa perlu, aku berteriak didepan rumah kamu bahwa aku sangat mencintaimu. Baiklah jika itu yang membuatmu percaya, aku akan melakukannya." Ucap Darma, kemudian segera menelfon salah satu pekerja dirumahnya untuk mengantar Toa dan surat nikah.
Vina yang mendengar pembicaraan Darma pun tidak mempedulikannya.
'Halah, palingan juga hanya menakutiku. Pakai bawa Toa segala lagi, mana berani dia.' Batin Vina sambil membuang muka, Darma hanya tersenyum melihat ekspresi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
'Sayang, ayo dong ... jangan ngambek begitu. Nanti malam bagaimana dengan nasib suami kamu ini. Apa iya, nanti malam aku harus bertapa.' Batin Darma sambil mengacak acak rambutnya.
Vina segera keluar dari kamarnya, dirinya membuat teh hangat. Berharap, masalah yang sedang ia hadapi akan cepat terselesaikan. Sedangkan Darma didalam kamar memesan makanan kepada pelayan rumah untuk diantarkannya ke alamat rumah istrinya. Sambil menunggu pesanan datang, Darma memainkan game domino. Berharap, sang istri akan berubah pikiran saat dirinya mengungkapkan perasaan cintanya.
__ADS_1
Vina yang sedang duduk diruang tamu sambil menyruput teh hangatnya, tiba-tiba Vina merasa bersalah akan sikapnya terhadap suaminya sendiri. Tanpa pikir panjang, dirinya segera membuatkan teh hangat untuk suaminya.
"Ini, teh hangat. Jangan lupa diminum, maaf telat. Aku baru sadar, jika kamu ikut pulang bersamaku." Ucapnya beralasan, Darma pun tersenyum.
"Terimakasih, sayang. Meski kamu sedang marah denganku, namun kamu tetap peduli dengan suamimu. Sayangnya, kamu masih marah. Serasa pegal bibirku ini tidak menc*iummu." Jawab Darma sedikit merayu, berharap sang istri akan luluh dan tidak lagi marah dengannya. Sayangnya, sifat Vina yang bersikukuh akan keputusannya. Vina akan bersikap dengan secara tiba tiba, meski dirayu sampai capek pun tidak akan termakan dengan rayuan tersebut.
Vina sendiri kembali ke ruang tamu, dirinya teringat bahwa tehnya belum ia habiskan.
Vina kembali menyruput teh hangatnya sambil memainkan ponselnya. Alih alih Vina membuka medis sosial, dan dilihatnya aku temannya yang sedang pamer kebahagiaan bersama suaminya. Vina hanya menelan salivanya dan langsung mematikan ponselnya.
'Semua pada pamer kemesraan, lah aku.' Batinnya yang masih merasa kesal terhadap suaminya yang tidak tahunya duda dua kali.
'Sudah berapa banyak kecupan dia dengan mantan mantan istrinya, menjijikan. Tapi ... benarkah yang dikatakannya, hanya denganku dia melakukannya? kenapa aku masih belum bisa percaya. Yang benar saja, menikah sama sekali belum melakukannya.' Batinnya lagi yang masih penasaran.
"Jangan melamun, kesambet dengan cintaku nanti." Goda Darma didekat telinga istrinya sambil membungkukkan badannya, kemudian langsung mengecup bib*irnya lembut.
Vina pun tercengang mendengar dan merasakannya, tidak dapat dipungkiri jika dirinya pun sangat membutuhkan sen*tuhan dari suaminya. Detak jantung Vina pun kembali berdegup kencang dan tidak beraturan, hingga membuatnya seakan melayang layang pikirannya.
Ceklek, Darma membuka pintunya. Kemudian menerima pesenan sesuai yang sudah dipesannya, setelah itu pelayan rumahnya segera pulang. Darma kembali menutup pintunya dan tidak menguncinya.
Darma masih memiliki ide konyol yang belum dilakukan, dirinya terus berharap dengan triknya untuk mengatakan rasa cinta terhadap sang istri.
__ADS_1
Vina yang melihat Toa ditangan suaminya pun tercengang, dirinya benar benar tidak percaya jika sang suami tidak membohonginya dan akan melakukan apa yang sudah dikatakannya.
Darma segera meletakkan Toa, buku nikah, dan makanan yang sudah pesannya. Setelah itu, Darma kebelakang untuk mengambil piring, sendok dan juga air minum. Sedangkan Vina masih duduk sembari menatap buku nikah dengan speaker yang ada didepannya.
"Ayo, kita makan. Kamu pasti sudah lapar, apa aku suapin?"
"Aku masih kenyang, aku mau istirahat." Jawab Vina yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Apa kamu tidak melihat, suami kamu sedang memintamu untuk menemani makan. Segitukah rasa bencimu terhadapku? hingga kamu terlihat jijik terhadapku." Ucap Darma sedikit kecewa dengan sikap istrinya.
Seketika itu juga, Vina membalikkan badannya. Hingga kini keduanya saling menatap satu saja lain, dengan jarak yang tidak begitu dekat.
Dengan pelan, Vina kembali ke posisi semula. Vina kembali duduk dihadapan suaminya sambil mengambilkan porsi makan siang untuk suaminya.
"Jika kamu terpaksa, tidak perlu kamu melakukannya. Aku bisa melakukannya sendiri, jika kamu ingin istirahat, masuklah ke dalam kamar." Ucap suaminya yang tidak ingin merepotkan.
"Aku tidak terpaksa melakukannya, maaf jika sikapku barusan membuatmu sakit hati. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku, itu saja." Jawab Vina sambil menuangkan air minum di gelas untuk suaminya.
"Ayo, kita makan. Jangan dibiasakan telat makan, tidak baik untuk kesehatan." Ucapnya sambil memulai menyendok nasi dan sayur, sedangkan Vina hanya mengangguk. Kemudian, dirinya mengambil porsi makan siangnya.
Keduanya sama sama menikmati makan siang dirumah sederhana, suasana nampak tenang tanpa ada yang berucap sepatah katapun. Hanya suara sendok yang terdengar sampai selesainya makan.
__ADS_1
Setelah selesai menikmati makan siangnya, Vina membereskan mejanya dibantu sang suami. Kemudian Vina segera mencuci piring dan gelas kotornya di dapur. Sedangkan Darma mengambil buku nikahnya diatas meja untuk ditaroh nya di dalam kamar. Tiba tiba dirinya teringat dengan sebuah Toa yang sudah dijanjikannya sendiri, Darma sudah berjanji untuk mengatakan cintanya didepan rumah istrinya.