
Vina terus melangkahkan kakinya, Darma sendiri hanya bisa mengekori istrinya dari belakang.
"Vina, kamu mau kemana?" tanya salah satu karyawan di kantor.
"Aku mau nyari sesuatu." Jawabnya beralasan, sedangkan Darma hanya berdiri tegak sambil lihat kesana kemari. Seolah olah dirinya sedang mengawasi karyawan karyawan lainnya.
"Oooh, aku kira mau pulang." Ucapnya.
"Tidak, aku hanya sebentar. Kalau begitu aku pamit pergi sebentar, ya. Jika pak Darma mencariku, bilang saja aku sedang keluar sebenar." Jawab Vina beralasan, kemudian segera pergi meninggalkan kantor.
Saat Vina mulai melangkahkan kakinya, Darma kembali mengikuti istrinya kemana arahnya pergi.
"Pak Darma." Seru salah satu karyawan memanggilnya, Darma tidak mempedulikannya. Darma masih terus berjalan mengikuti langkah kaki sbg istri.
Sesampainya di depan kantor, Vina menatap langit langit.
'Kenapa langitnya tidak berubah menjadi mendung, padahal aku sangat berharap ingin turun hujan yang sangat lebat dan angin yang kencang. Berharap, kesedihanku terbawa oleh arus angin dan air hujan.' Batin Vina yang begitu extrim.
Darma masih berdiri dibelakang istrinya, dirinya pun ikut menatap langit yang terlihat sangat cerah. Namun, tidak secerah nasibnya saat ini.
Darma benar benar tidak pernah menyangka, jika istrinya tengah mendapati foto masa lalunya bersama dengan mantan istrinya.
'Andai waktu dapat diputar, aku lebih memilih mengenalmu lebih dahulu. Tapi ... jika aku mengenalmu lebih dulu, bisa jadi kita tidak akan berjodoh. Bahkan, nasibmu akan jauh lebih buruk dari Arsy.' Batinnya dengan cemas, jika istrinya akan memintanya berpisah. Ingatannya terhadap Arsy kembali muncul, Darma teringat saat Arsy memintanya untuk berpisah sambil menangis tanpa seorang pun yang menguatkan.
Darma yang tidak sabar, dirinya segera mendekati istrinya yang masih berdiri sambil melamun.
"Kita pulang saja, bagaimana?" tanya Darma memberanikan diri. Meski ini tahu, bahwa sang istri sedang tidak lagi murah senyum. Tepatnya sedang marah besar, bahkan dirinya sendiri merasa bingung dibuatnya.
"Pulang saja sendiri." Jawab Vina dengan kesal, dan memasang muka masamnya. Vina pun terus melanjutkan langkah kakinya entah kemana arah tujuannya, Darma hanya bisa mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Selama dijalanan, Darma mulai kekurangan cairan. Tubuhnya terasa lemas dan tidak wajahnya terlihat sedikit pucat, sedangkan Vina sendiri tidak melihat kondisi fisik suaminya yang berjalan dibelakangnya. Darma masih terus berjalan mengikuti istrinya dari belakang, tanpa memikirkan kondisi fisiknya.
Jauh semakin jauh jarak langkah kaki milik Vina dan Darma.
"mbak, mbak." Seru seseorang memanggil Vina yang sedang berjalan, kemudian menoleh kesumber suara yang ada disampingnya.
"Ada apa ya, mas?" tanya Afna yang tidak teringat akan posisi suaminya ada dimana.
"Itu laki laki suami mbak bukan, ya?" jawabnya dan bertanya.Vina pun langsung menoleh kebelakang, dan dilihatnya sang suami yang sedang duduk
Seketika itu juga, Vina baru menyadarinya jika sang suami tengah mengikutinya dari kantor. Tanpa pikir panjang, Vina langsung mengejar suaminya yang terlihat sedang kelelahan sambil duduk dipinggir jalan.
"Kamu kenapa? sakit?" tanya Vina cemas, kemudian segera memeriksa suhu tubuhnya. Vina sangat ketakutan saat melihat wajah suaminya terlihat pucat.
"Ngapain kamu perduliin aku, bukankah kamu sedang kesal denganku. Bahkan sepertinya kamu sangat membenciku karena masa laluku, aku sadar diri akan siapa diriku. Aku ini hanya laki laki pecundang, aku tidak sebaik dirimu. Kamu pantas membenciku, kamu berhak marah terhadapku."
"Sudah, jangan kamu lanjutkan ucapan kamu itu. Sekarang diamlah, lebih baik kita tunggu angkot."
"Baiklah, aku akan menghubunginya. Berikan kepadaku nomor telfonnya, agar cepat datang." Jawab Vina, kemudian Darma memberikan ponselnya kepada istrinya.
"Cari saja nama pak Bejo, untuk soal sandi pada kunci layar ponselku ada pada tanggal lahir kamu." Ucap Darma setelah menyerahkan ponselnya kepada istrinya.
Vina merasa malu, saat dirinya menjadi spesial pada suaminya. Tanpa basa basi, Vina segera mencari kontak nomor supir suaminya.
Setelah menemukan nomor ponsel milik pak Bejo, Vina langsung menelfonnya untuk menjemput suaminya yang sedang dipinggir jalan.
Tidak lama kemudian, pak Bejo telah sampai.
"Maaf Tuan, Nona. Mari, saya bantu." Ucap pak Bejo yang sudah berjongkok didekat Darma, Vina pun membantu memapah suaminya untuk masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Kita pulang bareng, aku mohon." Pinta Darma sambil menahan lengan istrinya, berharap ikut pulang bersamanya.
"Aku maunya pulang ke rumahku, aku sedang tidak ingin pulang ke rumah kamu." Jawab Vina datar.
"Baiklah, kita akan pulang ke rumah kamu. Nanti biar pak Bejo yang mengirim pesan kepada pelayan dirumah untuk mengantar bukti buku pernikahan kita." Ucap Darma meyakinkan.
Sedangkan Vina baru menyadari, bahwa pernikahannya belum ada yang mengetahuinya termasuk para tetangga tetangganya sendiri.
Vina hanya mengangguk dengan posisi duduknya sambil memandangi luar jendela kaca mobil.
Selama perjalanan, keduanya sama dingin dan tidak berucap sepatah katapun. Darma sendiri menyandarkan kepalanya pada jendela kaca mobil sambil melamun.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah sampai di depan rumahnya. Vina segera membuka sabuk pengamannya, begitu juga dengan Darma yang dibantu pak Bejo untuk melepaskan sabuk pengaman nya dan membantunya untuk turun.
Pak Bejo memapah tubuh Bosnya dengan kesusahan, Vina yang baru turun dari mobil pun tercengang saat melihat kondisi rumahnya. Dirinya benar benar tidak percaya, bahwa rumahnya terlihat sangat bagus. Bahkan rumah para tetangganya kini jauh beda dengan miliknya.
Dengan pelan, Vina melangkahkan kakinya untuk menuju teras rumahnya.
"Nona, ini kunci rumahnya. Adik Nona yang bernama Diki sekarang tidak lagi tinggal di rumah ini, tetapi sudah pindah di luar Negri. Tepatnya di Toronto sedang mengenyam pendidikannya." Ucap pak Bejo sambil menyerahkan sebuah kunci rumah kepada Vina, sedangkan Vina kaget bukan main.
Dirinya benar benar tidak menyangka akan kebaikan dari keluarga suaminya, namun kini dirinya benar benar sedang diuji dengan status suaminya yang membuatnya tercengang tidak percaya. Meski terasa sangat menyakitkan, Vina berusaha untuk tenang. Berharap, dirinya tidak terlihat lemah. Walaupun kenyataannya tidak sesuai harapannya.
"Kenapa Diki tidak memberiku kabar, pak? apakah memang sengaja untuk membuatku kaget."
"Tidak juga kok, Nona. Sekarang, cepatlah dibuka pintunya. Kasihan suami Nona yang sedari tadi berdiri." Jawab pak Bejo sambil menyindir, padahal pak Bejo sendiri sudah terasa keram pada bagian tumitnya yang menyangga tubuh Bos laki lakinya.
Dengan cepat, Vina segera membuka pintu rumahnya karena merasa tidak enak hati dengan orang yang sudah menolongnya.
Setelah pintu berhasil dibuka, Vina segera menata tempat tidurnya. Berharap suaminya tidak kecewa dengan kondisi rumah yang sangat jauh beda dengan milik suaminya sendiri.
__ADS_1
"Mari, pak. Antarkan suami saya kedalam kamar." Perintah Vina yang merasa tidak enak hati.