
Tidak terasa, sudah waktunya untuk makan siang. Vina yang merasa sudah cukup beristirahat, dengan pelan Vina membuka kedua matanya.
"Ehem ehem." Suara Darma mengagetkannya.
"Kita ada dimana? dihotel?" tanya Vina sambil melihat disekelilingnya.
"Iya, kita di hotel bintang kecil di kantor." Jawab Darma sambil meledek.
"Hem! tidak lucu." Ucap Vina, kemudian segera bangkit dari posisinya. Setelah itu, Vina mencuci mukanya agar tidak terasa lesu.
"Sayang, ayo kita makan siang. Di kantin, atau pesan makanan untuk diantar kesini."
"Aku mau dikantin saja, disana bisa makan bersama dengan karyawan lainnya. Disini yang ada aku tidak kenyang, adanya kekenyangan dengan gombal mukiyo." Ujar Vina sambil membenarkan penampilannya.
"Hem! gombal mukiyo, kenapa tidak gombal mukidi saja."
Vina tertawa lepas, saat mendengar suaminya berucap.
"Tertawa terus ... mukiyo mukiyo. Dulu Jaka sembung, sekarang ganti mukiyo, hem." Ucap Darma sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar peristirahatan, kemudian disusul Vina yang sudah selesai merapihkan penampilannya.
"Aku sudah siap." Ucap Vina sambil tersenyum, Darma yang melihat penampilan istrinya hanya mengernyitkan dahinya saat memeriksa penampilan istrinya.
"Yang benar saja, kamu ke kantin dengan penampilan seperti ini." Ucap Darma sambil memperhatikan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Memangnya ada yang salah?" tanya Vina yang merasa aneh dengan ekspresi suaminya.
"Lihatlah, kenapa kamu pakai sandal jepit. Apa kamu sengaja?" jawab Darma sambil menunjuk kearah bawah, Vina yang melihatnya pun tersenyum lebar.
"Aku lebih suka memakai sandal jepit, bagiku sangat nyaman dan kakiku tidak terasa sakit. Aku sangat tersiksa jika aku harus mengenakan sandal maupun sepatu yang bermodel. Aku lebih suka yang mudah aku lepas dan mudah aku kenakan." Ucap Vina berterus terang, Darma pun hanya mengangguk.
"Baiklah, aku tidak akan melarangmu. Asal kamu merasa nyaman, tidak masalah." Jawab Darma, kemudian segera menggandeng tangan istrinya untuk diajaknya pergi ke kantin.
__ADS_1
Meski sedikit malu, Vina berusaha untuk memberanikan diri.
"Sayang, sepertinya kamu berlebihan deh." Ucap Vina yang tiba tiba berhenti.
"Berlebihan yang bagaimana? kamu ini istri, kenapa mesti malu."
"Aku takut saja, jika aku akan dicemoohkan."
"Sudah, kamu jangan takut. Aku tahu, apa yang kamu takutkan. Hendi teman akrab kamu, 'kan?"
"Bukan!"
"Lantas?"
"Semua karyawan kamu, sepertinya sangat mengagumi kamu. Mereka semua terlihat berlomba lomba untuk mendapatkanmu."
"Kamu itu lucu, aku saja tidak pernah terpikirkan sejauh itu. Justru, aku tertuju dengan teman kamu yang bernama Hendi. Sepertinya sangat mencintaimu, itu yang aku lihat."
"Iya, aku selalu menolaknya. Ah! kenapa bahas itu, aku sudah lapar." Ucap Vina yang sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
Darma maupun Vina segera duduk di tempat yang sudah dipilihnya. Dengan tenang, Vina duduk santai berhadapan dengan suaminya. Tiba tiba ada yang datang menghampiri suaminya.
"Permisi pak Darma, maaf jika saya mengganggu." Ucap salah seorang karyawan.
"Tidak, katakan saja ada apa."
"Begini pak Darma, ada Bos besar yang datang ke kantor ini ingin bertemu dengan pak Darma." Ucapnya menjelaskan. Darma menarik nafas dengan berat, mau tidak mau Darma harus menemuinya.
"Baiklah, aku akan segera menemuinya." Jawab Darma, kemudian segera berpamitan dengan istrinya.
"Sayang, tidak apa apa, kan? jika aku tinggal sebentar untuk menemui kakek. Nant, jika urusannya sudah selesai, aku akan memperkenalkan kamu dengan kakek."
__ADS_1
"Oooh! tidak apa apa, salam buat kakek."
"Baiklah, jangan macam macam dikantin ini. Aku mengawasi kamu, jangan arogan." Ucap suaminya mengingatkan. Darma takut, jika ada salah satu karyawannya mendapat sasaran empuknya.
"Hem! iya ya, tenang saja. Aku tidak akan melakukan kekerasan, palingan juga ancaman." Ledek Vina tersenyum melebar, Darma hanya mengernyitkan dahinya dan pergi meninggalkan Vina yang berada di kantin sendirian ditempat duduknya.
Darma sedikit khawatir, jika akan ada salah satu karyawan laki lakinya yang mencoba menemani makan siangnya. Ditambah lagi dengan sosok Hendi, Darma benar benar cemas memikirkan istrinya yang takut ditemani laki laki lain.
Setelah suaminya pergi dan tidak lagi terlihat bayangannya, kini tinggal lah Vina yang sedang duduk sendirian sambil menunggu pesanannya.
Tidak lama kemudian, pesannya pun telah datang. Vina segera menikmatinya, meski sendirian. Saat baru menikmati beberapa suapan, Hendi datang dengan cara tiba tiba membawa makanannya.
"Hei, Vin. Sendirian saja, biasanya kamu ngekor terus sama Bos kamu itu." Ucap Hendi mengagetkannya, kemudian meletakkan porsi makan siangnya di meja.
"Eh! kamu, Hen. Aku kira siapa, rupanya kamu." Jawab Vina yang hampir tersedak.
"Kenapa kamu tidak ngekorin Bos kamu, tumben."
"Aku sangat lapar, dan juga tidak bisa menunda kelaparan pada perutku ini. Bukankah kamu tahu sendiri, bagaimana aku yang tidak bisa menahan lapar." Jawab Vina sambil menikmati makan siangnya.
"Kenapa kamu tidak makan siang bereng calon istri kamu. Nanti kalau marah, bagaimana? bisa bisa aku jadi sasarannya." Tanya Vina yang sedikit takut jika terjadi keributan, dan membuat suaminya ikut emosi.
"Bukankah aku jelasin ke kamu, aku tidak mencintai Klara. Bahkan, jika dia meminta putus sekalipun, aku sangat senang. Dan, aku akan bebas darinya. Aku bisa mendapatkan kamu, Vin." Jawab Hendi yang masih pada pendiriannya, sedang Vina bingung untuk menjelaskannya.
"Aku tidak bisa menerimamu, Hen. Aku tidak menyukaimu, aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai." Ucap Vina berusaha untuk meluruskan atas perasaannya, Vina takut jika Hendi terus terusan mengejar dirinya.
"Kamu bohong, aku saja tidak pernah melihatmu jalan sama laki laki lain selain dengan Bimo. Sedangkan kamu saja tidak mau menerima cintanya Bimo, lantas laki laki mana yang ada didalam hatimu. Sudahlah Vin, jangan beralasan. Kamu hanya takut mendapat hinaan dari kedua orang tuaku, 'kan?"
"Kamu kurang teliti sih, Hen. Aku sudah menikah sekarang, serius." Ucap Vina berterus terang pada akhirnya, sedangkan Hendi justru tertawa lepas saat mendengar penuturan dari Vina.
"Vina, Vina ... kamu jangan bermain dagelan. Tidak lucu tau, Vin. Sudah deh, jangan ndagel gitu. Aku sudah tahu siapa kamu, suka bercanda da juga suka jail." Jawab Hendi sambil tertawa saat mendengar penuturan dari Vina yang berusaha untuk berkata jujur.
__ADS_1
PROK PROK PROK PROK!! suara tepukan tangan tengah mengagetkan Vina dan Hendi yang sedang mengobrol sambil menghabiskan makan siangnya.
Sedangkan Hendi merasa kaget, saat dirinya sedang menikmati makan siangnya tiba tiba ada seseorang yang muncul dihadapannya begitu saja. Begitu juga dengan Vina yang juga kaget dibuatnya, makannya siangnya serasa tidak nikmat. Ditambah lagi kedatangan Hendi yang langsung duduk di hadapannya, membuat makan siangnya berubah rasa.