Kembalinya Cinta Yang Hilang

Kembalinya Cinta Yang Hilang
Salah paham


__ADS_3

Alia masih merasa takut jika kedua orang tuanya akan menceramahinya. Setelah menjelaskan semuanya, Alia pasrah dengan jawaban dari sang ayah ataupun sang ibu.


"Cepatlah kamu hubungi sahabatmu itu, ayah dan ibu tidak ingin melihat kamu mendaptkan masalah lebih besar lagi." Ucap sang ayah mengingatkan, ibunya pun mengangguk memberi isyarat untuk Alia.


"Baik pa, Alia akan segera menelfon Arsy. Kalau begitu Alia pamit untuk pindah ruangan." Jawab Alia yang kemudian segera pindah dari ruang keluarga menuju ke kamarnya.


Didalam ruangan, Alia sedang sibuk dengan ponselnya. Berkali kali Alia menelfon Arsy, namun nomor yang dihubunginya sudah tidak aktif. Alia pun semakin cemas, sedari tadi hanya mondar mandir didalam kamarnya.


"Arsy... kamu ada dimana sih? suami kamu ini loh, mabok di taman. Maafkan aku yang sudah lancang membawa suami kamu pulang ke rumahku." Gerutu Alia dengan cemas.


Aku harus bagaimana lagi, agar aku bisa memberitahu ke Arsy. Bahwa suaminya sedang menginap dirumahku. Gumamnya sambil menatap luar jendela kamar.


Sudah berkali kali Alia mencoba menghubungi Arsy, namun sama sekali nomornya tidak dapat dihubungi. Alia pun semakin cemas memikirkannya, dirinya takut akan menjadi bahan gosip yang tidak enak. Tapi mau bagaimana lagi, Alia tidak tega melihat kondisi Darma yang sudah hilang kesadarannya.


Alia merasa kedua matanya sudah tidak dapat diajaknya untuk kompromi, Tanpa ia sadari Alia sudah tertidur pulas.


Di tempat yang lain, Arsy sudah berada di tempat yang dimana ia tinggal. Arsy sedari tadi hanya mondar mandir dengan pikirannya yang tidak karuan. Dirinya tidak bisa membayangkan jika akan menikah dengan sepupu mantan suaminya diwaktu yang begitu sangat dekat.


Tiba tiba Arsy teringat akan sahabatnya, dengan sigap Arsy langsung menyambar ponselnya yang berada di atas meja.


"Aku telfon saja Alia apa, ya.. siapa tahu saja dia bisa bantu aku. Mana mungkin aku menikah dengan sepupu mantan suamiku sendiri. Ditambah lagi aku baru berpisah, pernikahanku saja yang dulu masih bisa aku hitung dengan jari. Lantas aku langsung menikah, itu tidak mungkin. Apa lagi laki laki itu, sangat dingin jika sedang kambuh. Aku rasa aku dan dia tidak bisa bertahan lama. Dan pasti dia akan bersikap baik hanya saat di depan sang kakek." Gerutu Arsy dengan pikirannya yang tidak karuan.


Arsy mencoba pola kunci ponselnya. Tiba tiba kedua bola matanya terbelalak saat melihat panggilan tidak terjawab yang begitu banyak jumlah panggilan di ponselnya.

__ADS_1


"Alia... ada apa dia menelfonku sebanyak ini panggilannya. Apa ada yang penting? sampai sampai menelfonku berkali kali." Gerutu Arsy dengan rasa penasarannya.


Arsy pun segera menelfon Alia, dirinya takut ada sesuatu yang penting yang akan disampaikan oleh sahabatnya.


Sedangkan Alia sudah tertidur pulas, namun tiba tiba dirinya dikagetkan suara panggilan dari ponselnya. Dengan sigap Alia langsung menyambar ponsel di atas mejanya. Kedua sudut bibirnya tersenyum mengembang tatkala nama Arsy muncul diponselnya.


Alia tanpa pikir panjang langsung menerima panggilan dari Arsy.


"Halo, Alia... ada apa kamu menelfonku?" tanya Arsy penasaran. Sedangkan Alia bingung harus menjawab apa, karena tidak mungkin jika langsung mengatakan bahwa Darma yang disangka masih suami Arsy tidur dirumahnya.


Alia mencoba mencari ide untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya yaitu Arsy.


"Alia... kenapa kamu diam, katakan ada apa kamu menelfonku tadi? dan maaf, tadi aku keluar tidak membawa ponsel." Ucap Arsy dan bertanya lagi.


"Alia... ceritakan kepadaku. Ada apa sebenarnya, katakan." Ucap Arsy dengan rasa penasarannya.


"Aku tidak bisa menjelaskannya, karena ini sangat penting. Aku mohon datanglah kerumahku, nanti kamu akan tahu sendiri." Jawab Alia dengan perasaan sedikit cemas dan takut. Jika Arsy akan salah paham dengannya kalau Darma berada di rumahnya.


"Baiklah, akan aku usahakan datang kerumah kamu malam ini juga. Tunggu ya, Alia.. bersabarlah." Jawab Arsy mencoba menenangkan Alia yang terdengar sangat cemas.


Alia merasa lega, meski masih ada perasaan yang membuatnya cemas dan juga takut. Alia berusaha menepis pikiran buruknya.


Sedangkan Arsy merasa bingung, apa yang harus ia lakukan agar dirinya bisa datang kerumah sahabatnya.

__ADS_1


Aku harus meminta bantuan siapa? tidak mungkin meminta bantuan laki laki dingin itu. Izin pamit pergi saja belum tentu diberi izin, lalu kenapa aku meminta bantuannya. Tapi.. suara Alia seperti benar benar sedang cemas dan membutuhkanku. Aku coba saja apa, ya. Batin Arsy mencari cara agar bisa datang ke rumah Alia.


Dengan nekad, Arsy langsung bersiap siap untuk berangkat ke rumah sahabatnya. Arsy tidak perduli antara diizinkan atau tidaknya. Dirinya tetap berusaha dan berharap mendapatkan izin dan bahkan mendapatkan pertolongan, pikirnya.


Dan tibalah Arsy didepan kamar milik Raska, perasaannya pun tidak karuan. Jantungnya tiba tiba berdegup kencang, seakan akan merasa mendapatkan masalah baru.


Mau tidak mau aku harus minta dengannya, soal mau atau tidak itu urusan belakang." Gerutu Arsy lirih.


Tok tok tok.. Arsy mengetuk ngetuk pintu. Sedangkan Raska yang baru saja ingin memejamkan kedua matanya tiba tiba dikagetkan dengan suara ketukan pintu.


"Siapa sih, ganggu saja orang mau tidur." Gerutunya sambil berjalan menuju pintu.


Ceklek, Raska membuka pintu kamarnya. Dan dilihstnya Arsy yang terlihat seperti mau keluar, Raska yang melihatnya merasa curiga.


"Mau apa, mau pergi jauh dari sini? sana kalau mau pergi. Bukan urusanku, kamu datang kesini juga bukan aku yang membawamu kesini. Jadi tidak perlu pamit denganku, aku mau tidur!" ucap Raska tanpa berpikir yang positif. Sedangkan Arsy bingung dibuatnya, dirinya benar benar tidak mengerti dengan ucapan dari Raska.


Raska yang merasa kesal saat melihat penampilan Arsy yang terlihat sudah bersiap siap akan pergi. Raska langsung menutup pintu kamarnya.


"Tunggu.... jangan ditutup pintunya." Ucap Arsy menahan pintu kamar Raska.


"Mau apa? kalau mau pergi jauh, sana pergi sendiri. Dan ingat! jangan pernah kembali memperlihatkan batang hidungmu didepanku." Jawab Raska terlihat kesal.


"Siapa yang mau pergi jauh, aku ada urusan. Sahabatku barusan menelfonku, dan aku harus datang kerumahnya. Sedangkan aku sendiri tidak tahu harus meminta tolong siapa untuk mengantarkanku. Aku pikir kamu bisa menolongku, tapi ternyata tidak. Baiklah, aku aku akan berangkat sendiri. Aku hanya minta izin denganmu. Aku pergi, pulangnya mungkin besok pagi atau malamnya lagi." Ucap Arsy sedikit lesu.

__ADS_1


__ADS_2